แชร์

Bab 6

ผู้เขียน: Yunaza
Setelah mengatakan itu, Ivy tertawa mengejek diri sendiri.

Bagaimana mungkin seorang tuan muda yang tak pernah menyentuh pekerjaan rumah tahu bahwa untuk menyiapkan semua ini, ayahnya harus bangun pukul 6 pagi, berjalan kaki lima kilometer ke pasar hanya untuk menghemat ongkos transportasi puluhan ribu, demi membeli bahan makanan yang paling segar.

Hal-hal sepele dan biasa seperti itu, di mata Theo jelas sama sekali tidak berarti. Jadi, untuk apa dia mengatakannya dan membiarkan orang lain mentertawakannya?

Tatapan Theo sedikit bergetar. Kata-kata yang belum sempat keluar dari mulutnya langsung terputus oleh suara pintu yang tertutup.

Theo tertegun sesaat, lalu malah tertawa kesal. Bagus, Ivy tidak pernah bersikap seperti ini padanya. Kali ini, dia ingin melihat berapa lama wanita itu bisa bertahan.

Ivy pindah kembali ke asrama perusahaan. Beberapa hari ini dia sibuk mengurus serah terima pekerjaan. Kelly sudah beberapa kali mengajaknya keluar, tetapi selalu gagal. Jadi, akhirnya dia langsung datang menunggunya di bawah gedung kantor.

"Kamu sudah mau pergi, nanti mau ketemu lagi bakal susah. Hari ini kamu harus temani aku."

Ivy tidak menolak. "Aku yang traktir, anggap saja perpisahan dariku. Mau makan apa?"

"Oke. Restoran hotpot yang baru buka itu saja, aku sudah lama ingin coba."

Ivy membuka pintu mobil dan duduk. Kelly menggeser-geser daftar lagu di layar kontrol, lalu bertanya dengan santai, "Sepertinya Roman sudah pulang ke negara ini, kamu tahu nggak?"

Jari Ivy berhenti sejenak, lalu dia menggeleng. "Sejak lulus SMA, kami sudah nggak pernah kontak lagi."

Kelly mendecak, tidak melanjutkan topik itu.

Mobil berhenti di depan sebuah restoran hotpot. Di dalam restoran ramai dan bising. Mereka asal memilih meja dekat jendela, lalu duduk.

Ivy dari awal sampai akhir hanya fokus makan. Setelah berkeringat deras, suasana hatinya yang muram selama beberapa hari ini akhirnya sedikit mereda.

Dulu dia sangat suka makan hotpot, tetapi Theo tidak suka bau asap yang menempel setelah makan. Jadi selama empat tahun bersama, dia hampir lupa rasa hotpot.

Ivy mengambil makanan yang baru matang dan meletakkannya ke mangkuk Kelly, tetapi pandangannya tiba-tiba bertemu dengan Theo yang baru saja masuk.

Tangan kanannya merangkul bahu Gaia, sikapnya santai. Bahkan saat menatap ke arahnya, dia mengangkat alis seolah-olah menantang.

Kelly melihat sosok yang familier, langsung melambaikan tangan dengan semangat. "Wah, sudah resmi ya? Nggak mau kenalin ke kami?"

Theo meminta persetujuan Gaia terlebih dahulu sebelum mengajaknya duduk. Ternyata pada orang yang benar-benar dia pedulikan, dia bukan hanya mau mengalah, tetapi juga sangat perhatian dalam segala hal.

Di depan Ivy, Theo tidak pernah menunduk. Selalu dia yang membujuk dan mengalah. Bahkan untuk hal yang dia suka, kalau Theo tidak suka, dia harus berhenti.

"Kamu ini pintar sekali nyembunyiin cewekmu. Dulu waktu sekolah banyak sekali cewek yang ngejar kamu, tapi kamu tetap jomblo." Kelly bercanda, "Katanya sampai ngejar ke luar negeri, setia banget ya."

Theo bersandar di kursi dan hanya tersenyum.

Sebaliknya, Gaia sedikit malu dan menyambung pembicaraan, "Kak Kelly, jangan goda aku lagi."

Dia berkedip. "Tapi jujur, aku juga nggak nyangka Theo yang biasanya dingin ternyata bisa seperhatian ini."

"Selama beberapa tahun di luar negeri, dia sering menjagaku. Bahkan saat aku datang bulan, dia sengaja cuti dan terbang ke sana untuk merawatku, menyiapkan air gula merah dan penghangat. Supaya aku bisa makan masakan kampung halaman, dia sampai belajar masak dari koki selama setengah tahun. Aku benar-benar dimanjakan ...."

Mendengar kisah manis mereka, Ivy yang mengira hatinya sudah tidak akan terpengaruh tetap saja terasa sakit.

Dia tak bisa menahan diri untuk mengingat setiap malam ketika dia tersiksa oleh nyeri haid, sementara Theo bermain gim di ruang tamu.

Pernah suatu kali dia kesakitan sampai pingsan di kamar mandi, Theo malah tidak menyadarinya.

Setelah sadar, dia menahan sakit dan merangkak kembali ke tempat tidur, lalu minum obat pereda nyeri baru bisa tidur. Namun, belum lama terlelap, dia sudah dibangunkan oleh Theo yang bilang lapar dan ingin makan mi buatannya.

Saat itu, dia benar-benar tidak bisa bangun. Theo hanya menatapnya dengan tidak sabar, kata-katanya penuh ejekan.

"Kak, kamu sudah sebesar ini, bisa nggak berhenti pura-pura lemah? Cuma haid doang, memangnya sakit banget?"

Dia dulu hanya mengira sifat Theo dingin dan tidak tahu cara merawat orang. Ternyata, bukan dia tidak bisa menyayangi orang, hanya saja orang yang dia sayangi bukan dirinya.

"Serius? Adikku melakukan semua itu? Ivy, menurutmu dia kerasukan nggak?"

Pikiran Ivy sudah tidak fokus pada percakapan, jadi dia tidak mendengar Kelly tiba-tiba memanggilnya.

Menyadari suasana di sekitarnya mendadak hening, dia tersadar dan tanpa sengaja bertemu dengan tatapan Theo.

"Kak Ivy lagi mikirin apa? Sepertinya kamu belum bicara dengan pacarku, tapi sudah punya prasangka buruk terhadapnya?"

Theo menyunggingkan senyuman santai, berkata dengan ringan, "Kak Ivy, aku selalu anggap kamu sebagai kakak. Kalau kamu nggak ikut meramaikan, aku jadi sedih."

Mengingat isi obrolan itu, lalu melihatnya masih bisa berpura-pura di depannya, perasaan sedih di hati Ivy perlahan memudar, digantikan amarah yang tiba-tiba menyala.

Dia meletakkan sumpit dan berdiri. "Theo, kalau kamu mau main sandiwara, cari saja teman-temanmu itu. Aku nggak punya waktu untuk ikut permainanmu."

Begitu kata-kata itu keluar, wajah Theo langsung menjadi suram.

"Jangan marah, Kak. Dia memang seperti itu, terlalu melindungi orang yang dia sayangi. Tapi dia nggak punya niat buruk." Gaia berpura-pura menenangkan, lalu ikut berdiri.

Meja sebelah sedang mengangkat panci. Saat Ivy berdiri, dia tanpa sengaja menabrak lengan pelayan yang membawa panci panas. Minyak panas langsung tumpah.

Ivy belum sempat bereaksi, dia sudah terdorong keras hingga jatuh ke lantai. Rasa panas yang menyengat menjalar dari lengan kanannya, membuatnya berteriak kesakitan.

Mendengar suara itu, Theo refleks menoleh, tetapi Gaia sudah meringkuk di pelukannya sambil berbisik, "Theo, sakit ...."

Theo langsung tak peduli pada hal lain. Dia menggendong Gaia dan bergegas keluar dari restoran tanpa menoleh lagi.

Kelly pun panik, tak bisa menahan diri untuk mengumpat pelan, "Sialan, sama-sama ke rumah sakit, kenapa nggak bareng saja? Aku belum pernah lihat orang sepilih kasih itu. Kalau Theo nggak buru-buru melindungi pacarnya sampai menabrakmu, kamu juga nggak bakal kena tumpahan minyak!"

Rasa perih di kulit terus menghantam saraf Ivy, membuat pandangannya menghitam. Dalam kesadaran yang mulai kabur, tubuhnya terasa ringan. Seseorang menggendongnya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 27

    "Bu Ivy, Pak Rico datang ke perusahaan, bersikeras ingin bertemu denganmu."Gerakan Ivy terhenti, dia mengangkat kepala dari tumpukan dokumen. Belum sempat membuka mulut, pintu kantor sudah didorong keras dari luar.Asisten yang hendak menghalangi langsung dihentikan olehnya. "Kamu turun saja dulu.""Baik."Ivy secara pribadi menuangkan segelas air untuk Rico, tetapi detik berikutnya, air itu langsung disiramkan ke wajahnya.Seolah-olah belum puas, sebuah tamparan keras langsung menyusul. Rasa amis darah langsung memenuhi mulutnya."Perempuan jalang!" Pria itu menunjuk hidungnya sambil memaki, "Siapa yang memberimu keberanian untuk mengakuisisi saham Grup Gunarso?!""Grup Gunarso sudah lama cuma jadi cangkang kosong. Daripada jatuh ke orang luar, dikasih ke siapa pun sama saja." Ivy mengambil beberapa lembar tisu, perlahan mengelap air di wajahnya."Lagi pula, sepertinya Pak Rico belum paham situasi. Sekarang sudah nggak ada lagi Grup Gunarso. Kalau aku mau, kapan saja bisa ganti naman

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 26

    Gaia tiba-tiba terduduk di lantai. Dia memandang Ivy seperti melihat hantu yang datang menagih nyawa.Begitu kabar bahwa pendiri Sunrise sekaligus pewaris masa depan Keluarga Abraham akan menikah dengan putri sulung Keluarga Gunarso tersebar, hampir seluruh kalangan atas terguncang.Semua orang tahu Keluarga Gunarso beberapa tahun terakhir terus merosot dan putri sulungnya bahkan baru saja membuat skandal di pernikahan hingga diusir oleh Keluarga Pramono.Tak ada yang mengerti kenapa Roman yang punya segalanya, baik itu nama, kekuasaan, ataupun bakat luar biasa, justru memilih wanita dengan reputasi buruk sebagai pasangan pernikahan.Bahkan Theo pun merasa bingung. Dia tidak mengerti apa yang sebenarnya direncanakan Roman.Sebelum Theo sempat bereaksi, tiba-tiba lagu "Wedding March" terdengar. Dia refleks mendongak, melihat pintu aula terbuka.Seorang wanita dengan gaun pengantin putih berjalan perlahan ke atas panggung. Begitu melihat wajah wanita itu, kepala Theo seperti meledak.Seg

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 25

    Tanpa memberi tahu siapa pun, Ivy langsung mengurus prosedur keluar dari rumah sakit. Dia pulang, menutup tirai, lalu menjatuhkan diri di sofa dan tertidur lelap.Entah sudah berapa lama dia tidur, suara ketukan pintu yang samar terdengar di telinganya. Dalam kondisi setengah sadar, dia tidak bisa bangun, jadi kembali tenggelam dalam tidur.Saat bangun lagi, ruangan sudah gelap. Hanya ada cahaya biru redup dari laptop di sofa tunggal di samping.Roman sedikit menunduk, menatap layar dengan fokus. Sepertinya dia sedang bekerja. Cahaya layar menyinari rambutnya, membuat seluruh dirinya tampak begitu lembut."Lapar?" Suara rendah pria itu menarik kesadaran Ivy kembali.Tatapan mereka bertemu, Ivy bertanya, "Gimana kamu bisa masuk?"Roman sedikit mengangkat kacamata berbingkai emas di pangkal hidungnya. "Maaf, aku khawatir, jadi langsung menyuruh orang buka kunci. Kalau kamu keberatan, aku bisa langsung pergi."Sambil berkata begitu, dia berdiri dari sofa. Saat melewati depan Ivy, tiba-tib

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 24

    Ayah Ivy tergeletak di lantai."Ayah!" Ivy langsung berlari mendekat, ujung jarinya gemetar saat memeriksa napasnya. Untungnya masih ada napas.Dalam kepanikan, dia tanpa sadar menekan nomor yang sudah sangat dia hafal. Nada dering bahkan belum sempat berbunyi dua kali, sudah diangkat."Roman, tolong aku!"Mobil melaju kencang, menerobos beberapa lampu merah. Setelah ayahnya dibawa ke ICU, tubuh Ivy baru terasa lemas. Sepasang tangan yang kuat langsung menopang pinggangnya."Aku di sini, jangan takut. Paman akan baik-baik saja."Ivy tidak menjawab, hanya menunduk dengan mata memerah.Entah berapa lama, pintu ICU akhirnya terbuka lagi. Ivy langsung menghampiri, menatap dokter dengan penuh harap. Dokter menghela napas pelan, lalu menggeleng."Pasien mengalami serangan jantung akut dan melewatkan waktu terbaik untuk penanganan ...."Telinganya langsung berdengung. Ivy merasa pusing, tubuhnya lemas. Dia tidak lagi bisa mendengar apa pun dengan jelas. Air matanya jatuh tanpa henti.Hati Rom

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 23

    "Theo, sekarang kamu pakai status apa untuk mengaturku?" Ivy mencibir dingin. "Mantan pacar tanpa status atau adik Kelly?"Mendengar itu, senyuman di sudut bibir Theo langsung meredup. Tangan yang berada di bahunya tanpa sadar mengendur.Ivy mengambil kantong dari tangan Roman, mengucapkan terima kasih dengan tenang, lalu berjalan menuju Bentley hitam yang terparkir tak jauh."Ivy, Keluarga Abraham nggak akan menerimamu. Nyonya Abraham nggak mungkin punya latar belakang sepertimu."Langkahnya sempat terhenti, tetapi Ivy seolah-olah tidak mendengar dan langsung masuk ke mobil.Saat mobil sudah melaju agak jauh, dia baru melirik lewat kaca spion. Theo masih berdiri di tempat dengan kepala tertunduk. Cahaya lampu yang redup memanjangkan bayangannya, membuatnya tampak sedikit kesepian.Hanya sekilas, Ivy sudah menarik kembali pandangannya dengan tenang. Roman menoleh padanya dan berkata dengan lembut, "Nggak perlu pikirkan omongannya."Ivy tersenyum mengejek dirinya sendiri, lalu berkata d

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 22

    Ivy sudah siap. Dia langsung menendang perut Gaia dari belakang hingga membuatnya membungkuk kesakitan."Kalian semua lihat baik-baik ya, ini pembelaan diri." Setelah itu, dia mendekat dan berbisik di telinga Gaia, "Katanya aku wanita kasar, 'kan? Ya sudah, aku selesaikan dengan cara wanita kasar.""Kalian suka memutarbalikkan fakta dan pura-pura nggak bersalah? Ya sudah, kalian pura-pura saja sampai puas."Sejak kecil, Ivy sering membantu ayahnya bekerja, jadi tenaganya tidak kecil. Menghadapi dua wanita manja seperti mereka bukan masalah besar. Satu lawan dua, tetapi dia sama sekali tidak kalah.Saat petugas keamanan datang, Ivy sedang mencengkeram rambut Gaia dengan tangan kiri, sementara kaki kanannya menginjak punggung Joy. Riasan mereka berantakan, wajah penuh air mata dan ingus.Gaia menutupi wajahnya sambil menangis. "Aku sudah tahu dari dulu kamu cuma pura-pura! Kamu pikir Theo dan Roman masih akan menginginkanmu setelah melihat wajah aslimu?!"Joy yang tergeletak di lantai be

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 10

    Seolah-olah sudah menduga dia akan menolak, Theo tidak menunjukkan reaksi berarti terhadap sikapnya.Dia mematikan rokok di ujung jarinya, lalu saat kembali menatap ke arah kamar di lantai tujuh, tatapannya menjadi suram."Ivy, kamu cabut laporan secara sukarela atau aku cari cara supaya kamu mencab

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 9

    Setelah menutup telepon, Ivy mematikan ponselnya, lalu menjatuhkan diri ke tempat tidur dan tertidur dalam keadaan setengah sadar.Sampai suara bel membangunkannya, dia baru sadar hari sudah gelap. Dengan kepala yang masih berat, Ivy berjalan membuka pintu.Baru saja terbuka sedikit, pintu tiba-tiba

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 8

    Begitu kata-kata itu terlontar, Theo seolah-olah tersadar dari mimpi, lalu langsung melepaskan tangannya.Ivy mengusap pergelangan tangannya, lalu berbalik dan pergi tanpa ragu sedikit pun."Kenapa? Sudah benar-benar jatuh cinta ya? Kalau begitu, perlu aku restui kalian? Soal anak, kamu juga nggak p

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 7

    Saat kesadarannya kembali, Ivy membuka kelopak matanya yang terasa berat dengan susah payah.Ruang rawat itu kosong dan sunyi, begitu sunyi sampai Ivy bisa mendengar suara Kelly berbicara di koridor."Sepertinya Ivy sebentar lagi bangun, kamu nggak mau masuk dan lihat?""Nggak perlu, jangan bilang k

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status