แชร์

Bab 7

ผู้เขียน: Yunaza
Saat kesadarannya kembali, Ivy membuka kelopak matanya yang terasa berat dengan susah payah.

Ruang rawat itu kosong dan sunyi, begitu sunyi sampai Ivy bisa mendengar suara Kelly berbicara di koridor.

"Sepertinya Ivy sebentar lagi bangun, kamu nggak mau masuk dan lihat?"

"Nggak perlu, jangan bilang ke dia kalau aku datang."

Kelly mendengus. "Kamu mau jadi pahlawan tanpa pamrih sampai kapan sih? Kenapa kamu nggak bilang saja ke dia ...."

Nada dering ponsel tiba-tiba memotong perkataannya. Pria itu menjawab telepon, lalu melangkah masuk ke lift. "Beberapa waktu ini aku harus pergi dinas. Kalau ada apa-apa, hubungi aku."

Kelly tak bisa menahan diri untuk memutar bola mata melihat punggung pria yang tinggi tegap itu, lalu berbalik masuk ke ruang rawat.

Melihat Ivy terbaring di ranjang dengan luka yang sudah dibalut, Kelly tak kuasa merasa bersalah hingga matanya memerah.

"Maaf ya, Ivy. Andai saja aku nggak maksa kamu pergi makan hotpot. Tenang saja, setelah keluar dari rumah sakit, aku akan bawa kamu ke klinik kecantikan. Pokoknya nggak boleh sampai kamu punya bekas luka."

Ivy tiba-tiba membuka mata dan tak bisa menahan tawa.

"Sudah begini masih bisa ketawa. Menurutku Gaia itu sengaja. Waktu itu jelas masih bisa menghindar, tapi dia malah sengaja nabrak. Lagi pula dia sama sekali nggak kena luka bakar, tapi masih pura-pura kesakitan. Aku merasa dia agak menargetkanmu ...."

Senyuman Ivy memudar. Setelah terdiam beberapa detik, dia berkata, "Dia adik perempuanku."

Kelly terkejut sampai membelalakkan mata. "Dia adik tirimu itu?"

"Berarti ibumu itu Nyonya Gunarso? Astaga, berita sebesar ini bahkan kamu sembunyikan dariku, kamu sudah anggap aku orang luar ya?"

Ivy hanya bisa menceritakan garis besar kejadian, tetapi menyembunyikan hubungannya dengan Theo.

Melihat Kelly yang membelanya dengan kesal, Ivy merasa hangat di dalam hati.

"Semua sudah berlalu, sekarang aku hidup dengan baik."

Tanpa bergantung pada siapa pun, dia tetap bisa bertahan sampai sekarang.

Selama dirawat di rumah sakit, Ivy tidak melupakan pekerjaannya. Sekarang dia hanya ingin segera menyelesaikan serah terima pekerjaan, lalu pergi dari tempat ini.

Beberapa hari ini Theo memang sempat datang sekali, tetapi pertemuan mereka berakhir tidak menyenangkan. Setelah itu, dia tidak pernah datang lagi.

Sampai suatu hari, saat Ivy keluar sambil membawa hasil pemeriksaan kehamilan, dia kebetulan bertemu Theo yang sedang menopang Gaia keluar dari bagian kandungan dengan hati-hati.

Saat mata mereka bertemu, ada kilatan panik di mata Theo. Hampir secara refleks dia melepaskan tangan yang sebelumnya merangkul pinggang Gaia.

Menyadari reaksinya, Gaia sedikit tidak senang, tetapi tidak menunjukkannya di wajah. Dia lalu berkata, "Beberapa hari lagi pesta ulang tahun Ibu. Kak, kamu juga datang ya. Selama ini Ibu selalu rindu sama kamu, sering nyebut namamu. Kalau kamu datang, dia pasti sangat senang."

Ivy tidak menjawab. Dia berbalik ingin pergi, tetapi pergelangan tangannya tiba-tiba ditarik.

"Kamu periksa apa?"

Ivy berusaha melepaskan, tetapi genggaman Theo justru semakin mengencang. "Jawab aku."

"Cuma nyeri haid. Sudah tua, jadi nggak kuat."

Jawabannya membuat Theo terdiam sesaat. Entah kenapa hatinya terasa kesal, bercampur sedikit kekecewaan yang tak disadari.

Dia sendiri tidak mengerti kenapa setiap berhadapan dengan Ivy, emosinya selalu lepas kendali. Mungkin karena dia tidak terbiasa melihatnya bersikap dingin seperti ini.

Bahkan tanpa sadar dia mulai merindukan tatapan Ivy dulu yang selalu tersenyum saat melihatnya.

Ivy menarik pergelangan tangannya. "Bisa dilepas sekarang?"

Melihat ekspresi penolakannya, jari-jari Theo yang tegas menekan kulit halusnya seperti elang mencengkeram mangsa.

"Permainan tarik-ulur ini mau kamu mainkan sampai kapan? Beberapa hal di dunia ini kalau sudah lewat, jadi nggak menarik lagi."

Ivy tak bisa menahan tawa kecil. "Kamu nggak rela melepaskanku ... berarti kamu masih punya perasaan padaku?"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 27

    "Bu Ivy, Pak Rico datang ke perusahaan, bersikeras ingin bertemu denganmu."Gerakan Ivy terhenti, dia mengangkat kepala dari tumpukan dokumen. Belum sempat membuka mulut, pintu kantor sudah didorong keras dari luar.Asisten yang hendak menghalangi langsung dihentikan olehnya. "Kamu turun saja dulu.""Baik."Ivy secara pribadi menuangkan segelas air untuk Rico, tetapi detik berikutnya, air itu langsung disiramkan ke wajahnya.Seolah-olah belum puas, sebuah tamparan keras langsung menyusul. Rasa amis darah langsung memenuhi mulutnya."Perempuan jalang!" Pria itu menunjuk hidungnya sambil memaki, "Siapa yang memberimu keberanian untuk mengakuisisi saham Grup Gunarso?!""Grup Gunarso sudah lama cuma jadi cangkang kosong. Daripada jatuh ke orang luar, dikasih ke siapa pun sama saja." Ivy mengambil beberapa lembar tisu, perlahan mengelap air di wajahnya."Lagi pula, sepertinya Pak Rico belum paham situasi. Sekarang sudah nggak ada lagi Grup Gunarso. Kalau aku mau, kapan saja bisa ganti naman

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 26

    Gaia tiba-tiba terduduk di lantai. Dia memandang Ivy seperti melihat hantu yang datang menagih nyawa.Begitu kabar bahwa pendiri Sunrise sekaligus pewaris masa depan Keluarga Abraham akan menikah dengan putri sulung Keluarga Gunarso tersebar, hampir seluruh kalangan atas terguncang.Semua orang tahu Keluarga Gunarso beberapa tahun terakhir terus merosot dan putri sulungnya bahkan baru saja membuat skandal di pernikahan hingga diusir oleh Keluarga Pramono.Tak ada yang mengerti kenapa Roman yang punya segalanya, baik itu nama, kekuasaan, ataupun bakat luar biasa, justru memilih wanita dengan reputasi buruk sebagai pasangan pernikahan.Bahkan Theo pun merasa bingung. Dia tidak mengerti apa yang sebenarnya direncanakan Roman.Sebelum Theo sempat bereaksi, tiba-tiba lagu "Wedding March" terdengar. Dia refleks mendongak, melihat pintu aula terbuka.Seorang wanita dengan gaun pengantin putih berjalan perlahan ke atas panggung. Begitu melihat wajah wanita itu, kepala Theo seperti meledak.Seg

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 25

    Tanpa memberi tahu siapa pun, Ivy langsung mengurus prosedur keluar dari rumah sakit. Dia pulang, menutup tirai, lalu menjatuhkan diri di sofa dan tertidur lelap.Entah sudah berapa lama dia tidur, suara ketukan pintu yang samar terdengar di telinganya. Dalam kondisi setengah sadar, dia tidak bisa bangun, jadi kembali tenggelam dalam tidur.Saat bangun lagi, ruangan sudah gelap. Hanya ada cahaya biru redup dari laptop di sofa tunggal di samping.Roman sedikit menunduk, menatap layar dengan fokus. Sepertinya dia sedang bekerja. Cahaya layar menyinari rambutnya, membuat seluruh dirinya tampak begitu lembut."Lapar?" Suara rendah pria itu menarik kesadaran Ivy kembali.Tatapan mereka bertemu, Ivy bertanya, "Gimana kamu bisa masuk?"Roman sedikit mengangkat kacamata berbingkai emas di pangkal hidungnya. "Maaf, aku khawatir, jadi langsung menyuruh orang buka kunci. Kalau kamu keberatan, aku bisa langsung pergi."Sambil berkata begitu, dia berdiri dari sofa. Saat melewati depan Ivy, tiba-tib

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 24

    Ayah Ivy tergeletak di lantai."Ayah!" Ivy langsung berlari mendekat, ujung jarinya gemetar saat memeriksa napasnya. Untungnya masih ada napas.Dalam kepanikan, dia tanpa sadar menekan nomor yang sudah sangat dia hafal. Nada dering bahkan belum sempat berbunyi dua kali, sudah diangkat."Roman, tolong aku!"Mobil melaju kencang, menerobos beberapa lampu merah. Setelah ayahnya dibawa ke ICU, tubuh Ivy baru terasa lemas. Sepasang tangan yang kuat langsung menopang pinggangnya."Aku di sini, jangan takut. Paman akan baik-baik saja."Ivy tidak menjawab, hanya menunduk dengan mata memerah.Entah berapa lama, pintu ICU akhirnya terbuka lagi. Ivy langsung menghampiri, menatap dokter dengan penuh harap. Dokter menghela napas pelan, lalu menggeleng."Pasien mengalami serangan jantung akut dan melewatkan waktu terbaik untuk penanganan ...."Telinganya langsung berdengung. Ivy merasa pusing, tubuhnya lemas. Dia tidak lagi bisa mendengar apa pun dengan jelas. Air matanya jatuh tanpa henti.Hati Rom

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 23

    "Theo, sekarang kamu pakai status apa untuk mengaturku?" Ivy mencibir dingin. "Mantan pacar tanpa status atau adik Kelly?"Mendengar itu, senyuman di sudut bibir Theo langsung meredup. Tangan yang berada di bahunya tanpa sadar mengendur.Ivy mengambil kantong dari tangan Roman, mengucapkan terima kasih dengan tenang, lalu berjalan menuju Bentley hitam yang terparkir tak jauh."Ivy, Keluarga Abraham nggak akan menerimamu. Nyonya Abraham nggak mungkin punya latar belakang sepertimu."Langkahnya sempat terhenti, tetapi Ivy seolah-olah tidak mendengar dan langsung masuk ke mobil.Saat mobil sudah melaju agak jauh, dia baru melirik lewat kaca spion. Theo masih berdiri di tempat dengan kepala tertunduk. Cahaya lampu yang redup memanjangkan bayangannya, membuatnya tampak sedikit kesepian.Hanya sekilas, Ivy sudah menarik kembali pandangannya dengan tenang. Roman menoleh padanya dan berkata dengan lembut, "Nggak perlu pikirkan omongannya."Ivy tersenyum mengejek dirinya sendiri, lalu berkata d

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 22

    Ivy sudah siap. Dia langsung menendang perut Gaia dari belakang hingga membuatnya membungkuk kesakitan."Kalian semua lihat baik-baik ya, ini pembelaan diri." Setelah itu, dia mendekat dan berbisik di telinga Gaia, "Katanya aku wanita kasar, 'kan? Ya sudah, aku selesaikan dengan cara wanita kasar.""Kalian suka memutarbalikkan fakta dan pura-pura nggak bersalah? Ya sudah, kalian pura-pura saja sampai puas."Sejak kecil, Ivy sering membantu ayahnya bekerja, jadi tenaganya tidak kecil. Menghadapi dua wanita manja seperti mereka bukan masalah besar. Satu lawan dua, tetapi dia sama sekali tidak kalah.Saat petugas keamanan datang, Ivy sedang mencengkeram rambut Gaia dengan tangan kiri, sementara kaki kanannya menginjak punggung Joy. Riasan mereka berantakan, wajah penuh air mata dan ingus.Gaia menutupi wajahnya sambil menangis. "Aku sudah tahu dari dulu kamu cuma pura-pura! Kamu pikir Theo dan Roman masih akan menginginkanmu setelah melihat wajah aslimu?!"Joy yang tergeletak di lantai be

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 5

    "Mau dinas lagi?"Theo tidak memberinya kesempatan untuk berbicara. Dia maju dengan cepat, membungkuk, lalu langsung mengangkat Ivy ke bahu.Ivy refleks berteriak kaget. Di tengah rasa pusing yang berputar, tubuhnya dilempar ke sofa yang lembut, membuat kepalanya terasa kosong.Belum sempat dia sada

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 4

    Saat tersadar kembali, barulah dia menyadari ponselnya sedang berdering. Dia meletakkan tespek begitu saja di atas toilet, lalu bangkit dan mengangkat telepon."Ayah?""Ivy, pagi-pagi Ayah sudah ke pasar beli banyak bahan makanan. Kalian langsung datang saja, nggak usah beli apa-apa lagi."Ivy menge

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 3

    "Bagus, bagus, anak muda yang punya semangat itu hal bagus. Ivy, perusahaan sangat menghargaimu, teruslah bekerja keras."Ivy menjawab singkat beberapa kata, lalu menutup telepon. Setelah itu, dia menekan kontak lain dan panggilan segera diangkat."Ivy, kenapa tiba-tiba menelepon Ayah?"Mendengar su

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 2

    Baru saja layar kunci terbuka, harapan terakhirnya langsung runtuh.Ivy terpaku menatap wallpaper ponsel Theo untuk waktu yang lama. Resolusi wallpaper itu buram, seperti hasil potongan dan perbesaran dari foto kelulusan bersama. Gadis dalam foto itu dikuncir ekor kuda, senyumannya cerah. Jika hanya

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status