INICIAR SESIÓNAku seorang introvert dan hanya berani berpacaran online. Di hari akhirnya aku ditemukan kembali oleh keluarga kandungku yang merupakan keluarga kaya raya, putri palsu itu menangis dan hendak mengembalikan pertunangan padaku. Aku buru-buru melambaikan tangan, “Nggak perlu, aku sudah punya pacar.” Usai aku mengatakannya, tiba-tiba muncul beberapa baris tulisan di depan mataku, [Kocak, pemeran wanita antagonis sekarang menolaknya tegas sekali. Tunggu sampai bertemu dengan pemeran utama pria, dia pasti akan menyesal.] [Hati pemeran utama pria hanya dipenuhi oleh pemeran utama wanita, si putri palsu. Dia malah akan membawa bukti-bukti chat dan terus mengejar-ngejar pemeran utama pria.] [Pada akhirnya, pemeran utama wanita dipaksa hingga mengalami depresi dan menyayat pergelangan tangannya. Pemeran utama pria begitu membencinya sampai mematahkan tangan dan kakinya, lalu mengurungnya di rumah sakit jiwa.] Omong kosong, aku yang begitu introvert, mana mungkin mengejar-ngejar orang asing? Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki dari luar pintu. Dengan mata memerah, putri palsu itu berlari menghampiri dan berkata, “Kak Peter, ini Kakakku. Dia tunanganmu yang sebenarnya.” Aku berbalik dan berhadapan dengan wajah yang begitu kukenal. Ternyata dia adalah Peter, pacar onlineku selama enam tahun.
Ver más“Peter.”“Ya.”“Aku nggak akan menikah seumur ini.”“Iya.”“Terutama menikah denganmu.”Dia menggenggam cincin itu erat-erat, lalu tersenyum. Matanya agak berkaca-kaca, tetapi dia tidak menangis.“Aku sudah menduganya.”Dia mundur selangkah dan memberi jalan.“Pergilah. Hati-hati.”Aku berjalan melewatinya. Langkahku terasa jauh lebih ringan daripada yang kubayangkan.Angin menerbangkan rambut ke wajahku. Aku mengangkat tangan dan menyibakkannya.Setelah berjalan cukup jauh, aku tidak menoleh.Namun, aku tahu dia masih berdiri di tempat.Aku tidak mendengar suara langkah kaki yang menyusul.Sesampainya di apartemen, aku berdiri di balkon menikmati hembusan angin.Lampu Menara Eiffel menyala satu demi satu.Ponselku berdering. Shella mengirim pesan.[Besok mau makan apa? Aku bawakan.]Aku mengetik, [Apa saja.]Angin malam Paris menerobos kerah bajuku. Aku merapatkan mantel.Puncak Menara Eiffel berkilauan di bawah langit biru tua, seperti sebatang bintang yang jatuh ke bumi.Aku bersand
Shella dan Liana duduk di baris tepat di belakangku. Keduanya saling menggenggam tangan, bahkan lebih tegang dariku.Pembawa acara di atas panggung berbicara lebar dalam bahasa swedia.Aku tidak terlalu memahaminya, tetapi mendengar namaku disebut.Saat berdiri, ujung rokku menyapu permukaan kursi. Aku menarik napas dalam-dalam, telapak tanganku sudah dipenuhi keringat.Jalan menuju panggung terasa begitu panjang.Kilatan lampu kamera membuatku sampai sulit membuka mata.Aku berdiri di depan mikrofon. Aula seketika hening, ratusan pasang mata tertuju kepadaku.Sifat introvertku tidak pernah benar-benar hilang.Jantungku berdegup begitu kencang sampai dadaku terasa sesak.Namun, aku tetap membuka suara.“Karya ini bernama ‘Sungai Gelap’.”Suaraku terdengar melalui mikrofon, sedikit bergetar.“Artinya adalah sungai yang mengalir dengan tenang di bawah tanah. Ia tidak terlihat, tetapi terus mengalir.”“Saat menulisnya, aku tidak punya keluarga, tidak punya kekasih. Aku hanya punya sebuah
Daftar panjang nominasi resmi Penghargaan Nobel Sastra akhirnya diumumkan.‘Sungai Gelap’ ada di dalamnya.Aku menatap tulisan bahasa Inggris di layar cukup lama.Perpustakaan begitu sunyi. Hanya terdengar suara lembaran buku yang dibalik dan dengung pelan mesin fotokopi dari kejauhan.Aku berdiri dan berjalan menuju jendela besar.Di luar, langit Paris tampak kelabu. Awan menggumpal tebal, tetapi cahaya matahari masih berhasil menembus celahnya.Aku teringat pada dini hari tiga tahun lalu.Dapur kontrakanku bocor dan suara tetesan air terdengar sepanjang malam. Aku meringkuk di kursi dengan memakai jaket tebal, mengetik kata demi kata untuk menulis [Bab 1].Peter mengirim pesan Whatsapp, menyuruhku menunjukkan padanya begitu bab pertama selesai.Sudut bibirku menajam.Aku menahan air mata agar tidak jatuh.Ponselku bergetar.Shella mengirim lebih dari dua puluh stiker orang berteriak. Di tengah-tengahnya terselip satu pesan, [Hei, kamu sudah lihat?!]Aku hanya membalas, [Iya.]Shella
“Ketrin, aku…”“Kamu pulang saja.”Aku melewatinya dan berjalan menuju pintu masuk apartemen.Saat melewati sisinya, aku berhenti sejenak.“Peter, yang kamu cintai sejak awal bukanlah aku. Yang kamu cintai adalah Tinta Larut Malam yang bisa membuatmu tertawa melalui layar, bayangan yang menciptakan mimpi untukmu melalui keyboard.”“Kamu bahkan malas melihat seperti apa diriku sebenarnya.”Aku tidak menunggunya menjawab. Aku menempelkan kartu akses dan masuk ke dalam gedung.Saat pintu tertutup di belakangku, aku mendengar kata “maaf” yang sangat lirih dari luar.Aku naik ke atas dan membuka jendela untuk melihat ke bawah.Peter masih berdiri di bawah pohon itu. Kepalanya tertunduk, bahunya agak merosot.Aku menutup tirai.…Keesokan harinya, dia datang lagi.Kali ini membawa sebuket mawar merah dan meletakkannya di depan pintu masuk apartemen.Saat turun, aku melihatnya dan memilih berjalan memutar.Hari ketiga, dia membawa mawar putih. Di kartunya tertulis, [Maaf.]Aku membungkuk, men


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.