Share

Bab 10

Author: Yunaza
Seolah-olah sudah menduga dia akan menolak, Theo tidak menunjukkan reaksi berarti terhadap sikapnya.

Dia mematikan rokok di ujung jarinya, lalu saat kembali menatap ke arah kamar di lantai tujuh, tatapannya menjadi suram.

"Ivy, kamu cabut laporan secara sukarela atau aku cari cara supaya kamu mencabutnya. Kamu cuma bisa pilih satu."

"Kalau aku nggak salah ingat, rumah sakit tempat ayahmu dirawat berada di bawah perusahaan keluargaku. Kamu memang berhak memindahkannya, tapi rumah sakit lain berani menerima atau nggak, itu belum tentu."

Dari ujung telepon terdengar suara wanita yang menggertakkan gigi, seolah-olah ingin mencabik-cabik dirinya.

Theo sama sekali tidak peduli, lalu berkata lagi untuk menenangkan, "Dalam hal ini, Gaia memang sudah keterlaluan. Tapi orang yang mengambil foto itu aku."

"Kalau kamu marah, lampiaskan saja amarahmu padaku. Aku yang akan bayar semua utangku. Dia tetap adik kandungmu ...."

Rasa mual langsung naik ke tenggorokan. Ivy langsung menutup telepon dan berlari ke kamar mandi untuk muntah.

Air mata dan ingus membasahi wajahnya. Dia jatuh terduduk dengan kacau dan akhirnya tak bisa menahan diri untuk menangis tersedu-sedu.

Dia tidak berani mempertaruhkan itu dan juga tidak bisa. Jadi, dia mengalah.

Setelah surat pencabutan laporan keluar, Gaia mengangkat alis dengan puas. "Ivy, gimana rasanya dibenci seluruh dunia? Setelah kejadian ini, Ibu juga pasti tahu kamu wanita murahan yang bisa dimiliki siapa saja. Kalau kamu mau pakai marga Gunarso, sepertinya nggak akan semudah itu lagi."

"Kamu juga nggak pantas memanggil ayahku sebagai ayah. Ayahmu yang sakit-sakitan itu memang pantas melahirkan anak perempuan sepertimu. Jaga saja baik-baik, jangan sampai akhirnya malah kamu yang bawa sial sampai dia mati."

Plak! Ivy mengangkat tangan dan menamparnya. Mungkin tidak menyangka dia berani melawan, mata Gaia sempat menunjukkan keterkejutan.

Begitu sadar, dia langsung mengangkat tangan untuk membalas. Namun, pergelangan tangannya ditangkap Ivy. Belum sempat dia melakukan apa-apa, Gaia justru tiba-tiba berlutut dan suaranya dipenuhi ketakutan.

"Kak, aku salah. Tolong jangan pukul aku lagi, aku masih hamil ...."

Ivy refleks melepaskan tangannya, tetapi lengannya langsung ditarik keras dari belakang. Jepit rambut di belakang kepalanya menghantam dinding, membuat kulit kepalanya terasa kebas.

Theo berdiri di hadapannya, menatapnya dengan marah. "Aku sudah bilang, kalau ada apa-apa, lampiaskan padaku. Kenapa kamu memukulnya?!"

"Karena dia kurang ajar ...." Belum selesai dia berbicara, sebuah tamparan keras kembali mendarat di wajah Ivy. Pipi kanannya langsung mati rasa, darah mengalir dari sudut bibirnya.

"Kalau begitu, sekarang kamu juga kurang ajar." Theo mengerutkan kening, tatapannya pada Ivy semakin dingin. "Aku nggak mukul wanita, tapi bukan berarti aku akan diam melihatmu menyakiti pacarku. Apalagi dia hamil."

"Kalau kamu mau balas tamparan hari ini, cari aku." Setelah mengatakan itu, Theo menggendong Gaia dan berjalan keluar tanpa menoleh lagi.

Ivy mengusap darah di sudut bibir, lalu tertawa pelan. Tenang saja, mulai sekarang dia tidak akan pernah mencari pria berengsek itu lagi.

Menjelang kepergiannya, Ivy menemani ayahnya makan sekali lagi, lalu berpamitan. Dia membereskan barang-barangnya semalaman, lalu membeli tiket penerbangan pagi ke Kota Selan.

Saat semua selesai, langit baru mulai terang. Ivy menarik koper dan pergi ke bandara.

Sebelum pesawat menembus awan, Ivy membuka profil Theo dan tanpa ragu memblokirnya. Mulai sekarang, dia akan menjauh sejauh mungkin darinya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 27

    "Bu Ivy, Pak Rico datang ke perusahaan, bersikeras ingin bertemu denganmu."Gerakan Ivy terhenti, dia mengangkat kepala dari tumpukan dokumen. Belum sempat membuka mulut, pintu kantor sudah didorong keras dari luar.Asisten yang hendak menghalangi langsung dihentikan olehnya. "Kamu turun saja dulu.""Baik."Ivy secara pribadi menuangkan segelas air untuk Rico, tetapi detik berikutnya, air itu langsung disiramkan ke wajahnya.Seolah-olah belum puas, sebuah tamparan keras langsung menyusul. Rasa amis darah langsung memenuhi mulutnya."Perempuan jalang!" Pria itu menunjuk hidungnya sambil memaki, "Siapa yang memberimu keberanian untuk mengakuisisi saham Grup Gunarso?!""Grup Gunarso sudah lama cuma jadi cangkang kosong. Daripada jatuh ke orang luar, dikasih ke siapa pun sama saja." Ivy mengambil beberapa lembar tisu, perlahan mengelap air di wajahnya."Lagi pula, sepertinya Pak Rico belum paham situasi. Sekarang sudah nggak ada lagi Grup Gunarso. Kalau aku mau, kapan saja bisa ganti naman

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 26

    Gaia tiba-tiba terduduk di lantai. Dia memandang Ivy seperti melihat hantu yang datang menagih nyawa.Begitu kabar bahwa pendiri Sunrise sekaligus pewaris masa depan Keluarga Abraham akan menikah dengan putri sulung Keluarga Gunarso tersebar, hampir seluruh kalangan atas terguncang.Semua orang tahu Keluarga Gunarso beberapa tahun terakhir terus merosot dan putri sulungnya bahkan baru saja membuat skandal di pernikahan hingga diusir oleh Keluarga Pramono.Tak ada yang mengerti kenapa Roman yang punya segalanya, baik itu nama, kekuasaan, ataupun bakat luar biasa, justru memilih wanita dengan reputasi buruk sebagai pasangan pernikahan.Bahkan Theo pun merasa bingung. Dia tidak mengerti apa yang sebenarnya direncanakan Roman.Sebelum Theo sempat bereaksi, tiba-tiba lagu "Wedding March" terdengar. Dia refleks mendongak, melihat pintu aula terbuka.Seorang wanita dengan gaun pengantin putih berjalan perlahan ke atas panggung. Begitu melihat wajah wanita itu, kepala Theo seperti meledak.Seg

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 25

    Tanpa memberi tahu siapa pun, Ivy langsung mengurus prosedur keluar dari rumah sakit. Dia pulang, menutup tirai, lalu menjatuhkan diri di sofa dan tertidur lelap.Entah sudah berapa lama dia tidur, suara ketukan pintu yang samar terdengar di telinganya. Dalam kondisi setengah sadar, dia tidak bisa bangun, jadi kembali tenggelam dalam tidur.Saat bangun lagi, ruangan sudah gelap. Hanya ada cahaya biru redup dari laptop di sofa tunggal di samping.Roman sedikit menunduk, menatap layar dengan fokus. Sepertinya dia sedang bekerja. Cahaya layar menyinari rambutnya, membuat seluruh dirinya tampak begitu lembut."Lapar?" Suara rendah pria itu menarik kesadaran Ivy kembali.Tatapan mereka bertemu, Ivy bertanya, "Gimana kamu bisa masuk?"Roman sedikit mengangkat kacamata berbingkai emas di pangkal hidungnya. "Maaf, aku khawatir, jadi langsung menyuruh orang buka kunci. Kalau kamu keberatan, aku bisa langsung pergi."Sambil berkata begitu, dia berdiri dari sofa. Saat melewati depan Ivy, tiba-tib

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 24

    Ayah Ivy tergeletak di lantai."Ayah!" Ivy langsung berlari mendekat, ujung jarinya gemetar saat memeriksa napasnya. Untungnya masih ada napas.Dalam kepanikan, dia tanpa sadar menekan nomor yang sudah sangat dia hafal. Nada dering bahkan belum sempat berbunyi dua kali, sudah diangkat."Roman, tolong aku!"Mobil melaju kencang, menerobos beberapa lampu merah. Setelah ayahnya dibawa ke ICU, tubuh Ivy baru terasa lemas. Sepasang tangan yang kuat langsung menopang pinggangnya."Aku di sini, jangan takut. Paman akan baik-baik saja."Ivy tidak menjawab, hanya menunduk dengan mata memerah.Entah berapa lama, pintu ICU akhirnya terbuka lagi. Ivy langsung menghampiri, menatap dokter dengan penuh harap. Dokter menghela napas pelan, lalu menggeleng."Pasien mengalami serangan jantung akut dan melewatkan waktu terbaik untuk penanganan ...."Telinganya langsung berdengung. Ivy merasa pusing, tubuhnya lemas. Dia tidak lagi bisa mendengar apa pun dengan jelas. Air matanya jatuh tanpa henti.Hati Rom

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 23

    "Theo, sekarang kamu pakai status apa untuk mengaturku?" Ivy mencibir dingin. "Mantan pacar tanpa status atau adik Kelly?"Mendengar itu, senyuman di sudut bibir Theo langsung meredup. Tangan yang berada di bahunya tanpa sadar mengendur.Ivy mengambil kantong dari tangan Roman, mengucapkan terima kasih dengan tenang, lalu berjalan menuju Bentley hitam yang terparkir tak jauh."Ivy, Keluarga Abraham nggak akan menerimamu. Nyonya Abraham nggak mungkin punya latar belakang sepertimu."Langkahnya sempat terhenti, tetapi Ivy seolah-olah tidak mendengar dan langsung masuk ke mobil.Saat mobil sudah melaju agak jauh, dia baru melirik lewat kaca spion. Theo masih berdiri di tempat dengan kepala tertunduk. Cahaya lampu yang redup memanjangkan bayangannya, membuatnya tampak sedikit kesepian.Hanya sekilas, Ivy sudah menarik kembali pandangannya dengan tenang. Roman menoleh padanya dan berkata dengan lembut, "Nggak perlu pikirkan omongannya."Ivy tersenyum mengejek dirinya sendiri, lalu berkata d

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 22

    Ivy sudah siap. Dia langsung menendang perut Gaia dari belakang hingga membuatnya membungkuk kesakitan."Kalian semua lihat baik-baik ya, ini pembelaan diri." Setelah itu, dia mendekat dan berbisik di telinga Gaia, "Katanya aku wanita kasar, 'kan? Ya sudah, aku selesaikan dengan cara wanita kasar.""Kalian suka memutarbalikkan fakta dan pura-pura nggak bersalah? Ya sudah, kalian pura-pura saja sampai puas."Sejak kecil, Ivy sering membantu ayahnya bekerja, jadi tenaganya tidak kecil. Menghadapi dua wanita manja seperti mereka bukan masalah besar. Satu lawan dua, tetapi dia sama sekali tidak kalah.Saat petugas keamanan datang, Ivy sedang mencengkeram rambut Gaia dengan tangan kiri, sementara kaki kanannya menginjak punggung Joy. Riasan mereka berantakan, wajah penuh air mata dan ingus.Gaia menutupi wajahnya sambil menangis. "Aku sudah tahu dari dulu kamu cuma pura-pura! Kamu pikir Theo dan Roman masih akan menginginkanmu setelah melihat wajah aslimu?!"Joy yang tergeletak di lantai be

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 9

    Setelah menutup telepon, Ivy mematikan ponselnya, lalu menjatuhkan diri ke tempat tidur dan tertidur dalam keadaan setengah sadar.Sampai suara bel membangunkannya, dia baru sadar hari sudah gelap. Dengan kepala yang masih berat, Ivy berjalan membuka pintu.Baru saja terbuka sedikit, pintu tiba-tiba

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 8

    Begitu kata-kata itu terlontar, Theo seolah-olah tersadar dari mimpi, lalu langsung melepaskan tangannya.Ivy mengusap pergelangan tangannya, lalu berbalik dan pergi tanpa ragu sedikit pun."Kenapa? Sudah benar-benar jatuh cinta ya? Kalau begitu, perlu aku restui kalian? Soal anak, kamu juga nggak p

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 7

    Saat kesadarannya kembali, Ivy membuka kelopak matanya yang terasa berat dengan susah payah.Ruang rawat itu kosong dan sunyi, begitu sunyi sampai Ivy bisa mendengar suara Kelly berbicara di koridor."Sepertinya Ivy sebentar lagi bangun, kamu nggak mau masuk dan lihat?""Nggak perlu, jangan bilang k

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 6

    Setelah mengatakan itu, Ivy tertawa mengejek diri sendiri.Bagaimana mungkin seorang tuan muda yang tak pernah menyentuh pekerjaan rumah tahu bahwa untuk menyiapkan semua ini, ayahnya harus bangun pukul 6 pagi, berjalan kaki lima kilometer ke pasar hanya untuk menghemat ongkos transportasi puluhan r

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status