Inicio / Romansa / Pesona Ayah Tiri / Gara-gara Daster Tipis

Compartir

Gara-gara Daster Tipis

Autor: Erumanstory
last update Fecha de publicación: 2026-10-29 00:07:52

Jarum jam dinding di ruang tengah menunjukkan pukul setengah dua malam. Suasana di dalam rumah itu terasa sangat sunyi dan senyap. Semua lampu utama sudah dipadamkan, menyisakan beberapa lampu tidur kecil yang memancarkan cahaya kekuningan remang-remang.

Di dalam kamarnya, Mentari terbangun dari tidurnya karena merasa tenggorokannya sangat kering. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali dalam gelap, lalu meraba meja kecil di samping tempat tinggalnya untuk mencari ponsel sekadar melihat j
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Pesona Ayah Tiri   Bertanya-tanya

    Mobil yang dikemudikan oleh sopir pribadi Bramantyo melaju. Di kursi belakang, Bramantyo duduk berdampingan dengan Natasha yang sibuk memainkan layar ponselnya.Di tengah perjalanan, pandangan Bramantyo tiba-tiba menangkap sebuah toko kue langganan yang cukup terkenal di sudut jalan. Lelaki paruh baya itu langsung teringat pada Ajeng. Semalam, obrolan mereka di telepon terasa sangat menyenangkan, dan Bramantyo ingin memberikan sedikit perhatian kecil untuk mempererat kedekatan mereka."Pak Udin, sebentar tolong tepikan mobilnya di depan toko kue itu ya," pinta Bramantyo kepada sang sopir.Natasha yang duduk di sebelah ayahnya langsung menoleh dengan kening berkerut. "Lho, Pa? Kenapa berhenti di toko kue? Nanti Papa bisa telat rapatnya gimana?""Nggak apa-apa, sebentar saja, Natasha. Cuma mau beli beberapa potong kue buat teman kantor," jawab Bramantyo beralasan, sengaja tidak jujur kalau kue itu untuk Ajeng karena ia belum siap memberitahu Natasha sekarang. Paling tidak menunggu hubun

  • Pesona Ayah Tiri   Berusaha Jaga Jarak

    Malam itu berjalan begitu panjang dan menyiksa bagi Mentari. Jarum jam di dinding kamarnya terus berputar, dan sekarang bmenunjukkan pukul dua pagi, tapi matanya sama sekali tidak bisa terpejam. Ia berbaring di atas tempat tidur dengan menatap kosong ke arah langit-langit kamar.Rasa cemburu yang menggelayut di dadanya terasa bagaikan racun yang perlahan-lahan menjalar ke seluruh tubuhnya, menimbulkan rasa sakit yang luar biasa sesak. Di luar sana, di tempat yang jauh dari penthouse tempatnya berada sekarang, Bramantyo mungkin sedang tersenyum ramah, menatap wajah Ajeng dengan penuh kelembutan, dan menyerahkan buket bunga mawar merah yang dipesannya khusus untuk wanita itu.Bayangan saat Bramantyo pergi membawa bunga tersebut terus berputar-putar di kepala Mentari, membuat air matanya kembali menetes membasahi bantal."Kenapa rasanya sesakit ini..." bisik Mentari parau di dalam gelap, meremas selimutnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih.Tapi, di tengah isakan tangisnya, Men

  • Pesona Ayah Tiri   Siksa Rasa

    Ponsel di dalam tas tangan Ajeng berdering saat wanita itu baru saja keluar dari area lobi kantor Bramantyo. Sambil berjalan menuju mobilnya di parkiran, ia merogoh tasnya dan melihat nama Eva tertera di layar.Tanpa buang waktu, Ajeng langsung menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya."Halo, Eva?" sapa Ajeng dengan nada suara yang masih terdengar bersemangat.Di seberang sana, suara Eva langsung menyambut dengan tidak sabar. "Halo, Ajeng! Gimana? Kamu udah ketemu sama Bramantyo? Ada kemajuan nggak dari rencana kita?"Ajeng tersenyum lebar sambil membuka pintu mobilnya, lalu duduk di kursi pengemudi sebelum menjawab. "Eva, kamu nggak bakal percaya sama apa yang baru aja terjadi barusan.""Maksudnya apa? Jangan bikin aku penasaran, deh!" desak Eva di ujung telepon, suaranya terdengar tegang. "Bramantyo marah pas kamu datang ke kantornya? Atau dia ngusir kamu?""Bukan diusir, Ev. Malahan sebaliknya," jawab Ajeng santai sambil meletakkan tasnya di kursi penump

  • Pesona Ayah Tiri   Menelan Cemburu

    Suara tawa kecil yang terdengar dari dalam ruang kerja utama membuat Mentari yang sedang duduk di meja asisten langsung mengangkat wajahnya. Jantungnya berdegup tidak karuan, seolah ada sesuatu yang tidak enak sedang merayap di dadanya.Tidak lama kemudian, pintu itu terbuka lebar.Bramantyo keluar dari ruangannya dengan langkah santai, berjalan berdampingan bersama Ajeng. Wanita berpenampilan anggun itu tampak tersenyum lebar sambil merapikan tali tas tangannya. Di sisi lain, Bramantyo menatap wanita itu dengan sorot mata yang jauh lebih hangat. Pemandangan yang belum pernah Mentari lihat sebelumnya saat bosnya itu berinteraksi dengan rekan kerja yang lain."Makasih ya, Mas Bram, udah meluangkan waktu buat ngobrol lama tadi. Obrolan kita seru banget, bikin aku bernostalgia ke masa-masa kuliah dulu," ucap Ajeng dengan nada suara yang terdengar begitu manis dan manja, memanggil pria di sampingnya dengan sebutan akrab sesuai rekues darinya.Bramantyo tersenyum ramah, menyambut ucapan it

  • Pesona Ayah Tiri   Menjadikan Pelarian

    Pintu ruangan terbuka perlahan. Resepsionis mengantar seorang wanita berpenampilan rapi, anggun, dan berbusana kerja modern masuk ke dalam ruangan. Wanita itu adalah Ajeng.Begitu melihat kedatangan Ajeng, senyuman lebar langsung terukir di wajah Bramantyo. Pria paruh baya itu berdiri dari kursi kerjanya dan melangkah menyambut kedatangan tamu sekaligus sahabat lamanya itu dengan hangat."Ajeng! Wah, tumben banget kamu mampir ke kantorku siang-siang begini," sapa Bramantyo riang sambil menjabat tangan Ajeng dengan akrab.Ajeng tertawa renyah, membalas jabat tangan itu dengan senyuman manis yang membuat wajahnya terlihat semakin menarik. "Iya, Bram. Aku lagi ada urusan di sekitar sini, jadi aku pikir kenapa nggak mampir sekalian sekalian nyapa kamu. Kangen juga udah lama kita nggak ngobrol santai.""Bener banget. Duduk, yuk," ajak Bramantyo ramah, lalu mempersilakan Ajeng duduk di sofa tamu yang ada di sudut ruangan.Di ambang pintu, Mentari yang berdiri membawa nampan berisi dua cangk

  • Pesona Ayah Tiri   Kedatangan Ajeng

    Mentari berjalan cepat kembali ke gedung kantor setelah dari butik pakaian yang letaknya tepat berada di seberang jalan. Tangannya menenteng sebuah kantong belanjaan kertas berukuran sedang yang berisi setelan jas lengkap, kemeja putih baru, dan celana bahan kain untuk Bramantyo. Jantungnya masih berdegup kencang kalau mengingat kejadian cangkir kopi tumpah dan sentuhan tidak sengaja di area sensitif lelaki itu tadi. Wajahnya bahkan masih terasa panas setiap kali bayangan itu melintas di kepalanya."Duh, semoga Pak Bramantyo sudah lupa soal kejadian tadi," gumam Mentari pelan sambil merapikan anak rambutnya yang sedikit berantakan karena tertiup angin jalanan.Begitu sampai di lantai ruang kerja utama, Mentari langsung masuk dan melihat meja kerja Bramantyo kosong. Kopi yang tumpah di atas meja tadi sudah dibersihkan oleh petugas kebersihan kantor. Mentari menduga Bramantyo pasti masih membersihkan diri di kamar mandi pribadi yang ada di dalam ruangan kerja tersebut.Mentari melangkah

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status