Accueil / Romansa / Pesona Ayah Tiri / Menjadikan Pelarian

Partager

Menjadikan Pelarian

Auteur: Erumanstory
last update Date de publication: 2026-10-31 00:52:50

Pintu ruangan terbuka perlahan. Resepsionis mengantar seorang wanita berpenampilan rapi, anggun, dan berbusana kerja modern masuk ke dalam ruangan. Wanita itu adalah Ajeng.

Begitu melihat kedatangan Ajeng, senyuman lebar langsung terukir di wajah Bramantyo. Pria paruh baya itu berdiri dari kursi kerjanya dan melangkah menyambut kedatangan tamu sekaligus sahabat lamanya itu dengan hangat.

"Ajeng! Wah, tumben banget kamu mampir ke kantorku siang-siang begini," sapa Bramantyo riang sambil menjabat
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Pesona Ayah Tiri   Siksa Rasa

    Ponsel di dalam tas tangan Ajeng berdering saat wanita itu baru saja keluar dari area lobi kantor Bramantyo. Sambil berjalan menuju mobilnya di parkiran, ia merogoh tasnya dan melihat nama Eva tertera di layar.Tanpa buang waktu, Ajeng langsung menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya."Halo, Eva?" sapa Ajeng dengan nada suara yang masih terdengar bersemangat.Di seberang sana, suara Eva langsung menyambut dengan tidak sabar. "Halo, Ajeng! Gimana? Kamu udah ketemu sama Bramantyo? Ada kemajuan nggak dari rencana kita?"Ajeng tersenyum lebar sambil membuka pintu mobilnya, lalu duduk di kursi pengemudi sebelum menjawab. "Eva, kamu nggak bakal percaya sama apa yang baru aja terjadi barusan.""Maksudnya apa? Jangan bikin aku penasaran, deh!" desak Eva di ujung telepon, suaranya terdengar tegang. "Bramantyo marah pas kamu datang ke kantornya? Atau dia ngusir kamu?""Bukan diusir, Ev. Malahan sebaliknya," jawab Ajeng santai sambil meletakkan tasnya di kursi penump

  • Pesona Ayah Tiri   Menelan Cemburu

    Suara tawa kecil yang terdengar dari dalam ruang kerja utama membuat Mentari yang sedang duduk di meja asisten langsung mengangkat wajahnya. Jantungnya berdegup tidak karuan, seolah ada sesuatu yang tidak enak sedang merayap di dadanya.Tidak lama kemudian, pintu itu terbuka lebar.Bramantyo keluar dari ruangannya dengan langkah santai, berjalan berdampingan bersama Ajeng. Wanita berpenampilan anggun itu tampak tersenyum lebar sambil merapikan tali tas tangannya. Di sisi lain, Bramantyo menatap wanita itu dengan sorot mata yang jauh lebih hangat. Pemandangan yang belum pernah Mentari lihat sebelumnya saat bosnya itu berinteraksi dengan rekan kerja yang lain."Makasih ya, Mas Bram, udah meluangkan waktu buat ngobrol lama tadi. Obrolan kita seru banget, bikin aku bernostalgia ke masa-masa kuliah dulu," ucap Ajeng dengan nada suara yang terdengar begitu manis dan manja, memanggil pria di sampingnya dengan sebutan akrab sesuai rekues darinya.Bramantyo tersenyum ramah, menyambut ucapan it

  • Pesona Ayah Tiri   Menjadikan Pelarian

    Pintu ruangan terbuka perlahan. Resepsionis mengantar seorang wanita berpenampilan rapi, anggun, dan berbusana kerja modern masuk ke dalam ruangan. Wanita itu adalah Ajeng.Begitu melihat kedatangan Ajeng, senyuman lebar langsung terukir di wajah Bramantyo. Pria paruh baya itu berdiri dari kursi kerjanya dan melangkah menyambut kedatangan tamu sekaligus sahabat lamanya itu dengan hangat."Ajeng! Wah, tumben banget kamu mampir ke kantorku siang-siang begini," sapa Bramantyo riang sambil menjabat tangan Ajeng dengan akrab.Ajeng tertawa renyah, membalas jabat tangan itu dengan senyuman manis yang membuat wajahnya terlihat semakin menarik. "Iya, Bram. Aku lagi ada urusan di sekitar sini, jadi aku pikir kenapa nggak mampir sekalian sekalian nyapa kamu. Kangen juga udah lama kita nggak ngobrol santai.""Bener banget. Duduk, yuk," ajak Bramantyo ramah, lalu mempersilakan Ajeng duduk di sofa tamu yang ada di sudut ruangan.Di ambang pintu, Mentari yang berdiri membawa nampan berisi dua cangk

  • Pesona Ayah Tiri   Kedatangan Ajeng

    Mentari berjalan cepat kembali ke gedung kantor setelah dari butik pakaian yang letaknya tepat berada di seberang jalan. Tangannya menenteng sebuah kantong belanjaan kertas berukuran sedang yang berisi setelan jas lengkap, kemeja putih baru, dan celana bahan kain untuk Bramantyo. Jantungnya masih berdegup kencang kalau mengingat kejadian cangkir kopi tumpah dan sentuhan tidak sengaja di area sensitif lelaki itu tadi. Wajahnya bahkan masih terasa panas setiap kali bayangan itu melintas di kepalanya."Duh, semoga Pak Bramantyo sudah lupa soal kejadian tadi," gumam Mentari pelan sambil merapikan anak rambutnya yang sedikit berantakan karena tertiup angin jalanan.Begitu sampai di lantai ruang kerja utama, Mentari langsung masuk dan melihat meja kerja Bramantyo kosong. Kopi yang tumpah di atas meja tadi sudah dibersihkan oleh petugas kebersihan kantor. Mentari menduga Bramantyo pasti masih membersihkan diri di kamar mandi pribadi yang ada di dalam ruangan kerja tersebut.Mentari melangkah

  • Pesona Ayah Tiri   Kopi Tumpah

    Di balik meja kerjanya, Bramantyo sama sekali tidak bisa fokus pada tumpukan berkas laporan keuangan yang ada di hadapannya. Sejak pagi tadi, pikirannya terus melayang dan menolak diajak kompromi.Setiap kali ia mencoba membaca baris demi baris angka di dalam dokumen, bayangan malam tadi tiba-tiba berkelebat di kepalanya. Visual saat Mentari berdiri di dapur dengan daster tidur tipis, kulit putih mulus, dan lekuk tubuh gadis itu terus menari-nari di ingatan Bramantyo. Hal itu membuatnya merasa tersiksa sendiri. Darahnya mendesir, dan napasnya mendadak terasa berat. Belum lagi dia harus merasakan miliknya yang memberontak di bawah sana. Bramantyo menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi kerja, lalu memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Ia benar-benar sedang diuji kali kni.'Sial... Kenapa bayangan itu nggak mau hilang dari kepalaku?' batin Bramantyo frustrasi.Merasa tenggorokannya kering dan kepalanya butuh sedikit kesegaran, Bramantyo menekan tombol interkom di atas mejanya u

  • Pesona Ayah Tiri   Solo

    Suara gemericik air di dalam kamar mandi masih terdengar, tetapi ternyata sama sekali tidak mampu mendinginkan gejolak panas yang membakar tubuh dan pikiran Bramantyo. Pria paruh baya itu masih berdiri di bawah guyuran air dingin, dengan kedua tangan menempel kuat pada dinding kamar mandi. Napasnya memburu tidak beraturan, sementara dadanya naik turun dengan cepat.Guyuran air itu ternyata tidak mampu meredakan gairahnya. Bayangan visual tentang Mentari yang berdiri di dapur sesaat tadi justru semakin jelas berkelebat di dalam kepalanya. Siluet tubuh gadis itu dalam balutan daster tipis, bahu mulus yang terekspos, serta kaki jenjangnya terus menghantui kesadaran Bramantyo tanpa ampun.Pria itu memejamkan matanya rapat-rapat. Ia menggertakkan giginya menahan gejolak gairah dan rasa bersalah yang berperang hebat di kepalanya. Otaknya terus meneriakkan peringatan keras bahwa gadis itu adalah anak dari almarhumah istrinya, anak tiri yang harus ia lindungi layaknya darah daging sendiri. Ta

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status