Mag-log inMalam itu berjalan begitu panjang dan menyiksa bagi Mentari. Jarum jam di dinding kamarnya terus berputar, dan sekarang bmenunjukkan pukul dua pagi, tapi matanya sama sekali tidak bisa terpejam. Ia berbaring di atas tempat tidur dengan menatap kosong ke arah langit-langit kamar.Rasa cemburu yang menggelayut di dadanya terasa bagaikan racun yang perlahan-lahan menjalar ke seluruh tubuhnya, menimbulkan rasa sakit yang luar biasa sesak. Di luar sana, di tempat yang jauh dari penthouse tempatnya berada sekarang, Bramantyo mungkin sedang tersenyum ramah, menatap wajah Ajeng dengan penuh kelembutan, dan menyerahkan buket bunga mawar merah yang dipesannya khusus untuk wanita itu.Bayangan saat Bramantyo pergi membawa bunga tersebut terus berputar-putar di kepala Mentari, membuat air matanya kembali menetes membasahi bantal."Kenapa rasanya sesakit ini..." bisik Mentari parau di dalam gelap, meremas selimutnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih.Tapi, di tengah isakan tangisnya, Men
Ponsel di dalam tas tangan Ajeng berdering saat wanita itu baru saja keluar dari area lobi kantor Bramantyo. Sambil berjalan menuju mobilnya di parkiran, ia merogoh tasnya dan melihat nama Eva tertera di layar.Tanpa buang waktu, Ajeng langsung menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya."Halo, Eva?" sapa Ajeng dengan nada suara yang masih terdengar bersemangat.Di seberang sana, suara Eva langsung menyambut dengan tidak sabar. "Halo, Ajeng! Gimana? Kamu udah ketemu sama Bramantyo? Ada kemajuan nggak dari rencana kita?"Ajeng tersenyum lebar sambil membuka pintu mobilnya, lalu duduk di kursi pengemudi sebelum menjawab. "Eva, kamu nggak bakal percaya sama apa yang baru aja terjadi barusan.""Maksudnya apa? Jangan bikin aku penasaran, deh!" desak Eva di ujung telepon, suaranya terdengar tegang. "Bramantyo marah pas kamu datang ke kantornya? Atau dia ngusir kamu?""Bukan diusir, Ev. Malahan sebaliknya," jawab Ajeng santai sambil meletakkan tasnya di kursi penump
Suara tawa kecil yang terdengar dari dalam ruang kerja utama membuat Mentari yang sedang duduk di meja asisten langsung mengangkat wajahnya. Jantungnya berdegup tidak karuan, seolah ada sesuatu yang tidak enak sedang merayap di dadanya.Tidak lama kemudian, pintu itu terbuka lebar.Bramantyo keluar dari ruangannya dengan langkah santai, berjalan berdampingan bersama Ajeng. Wanita berpenampilan anggun itu tampak tersenyum lebar sambil merapikan tali tas tangannya. Di sisi lain, Bramantyo menatap wanita itu dengan sorot mata yang jauh lebih hangat. Pemandangan yang belum pernah Mentari lihat sebelumnya saat bosnya itu berinteraksi dengan rekan kerja yang lain."Makasih ya, Mas Bram, udah meluangkan waktu buat ngobrol lama tadi. Obrolan kita seru banget, bikin aku bernostalgia ke masa-masa kuliah dulu," ucap Ajeng dengan nada suara yang terdengar begitu manis dan manja, memanggil pria di sampingnya dengan sebutan akrab sesuai rekues darinya.Bramantyo tersenyum ramah, menyambut ucapan it
Pintu ruangan terbuka perlahan. Resepsionis mengantar seorang wanita berpenampilan rapi, anggun, dan berbusana kerja modern masuk ke dalam ruangan. Wanita itu adalah Ajeng.Begitu melihat kedatangan Ajeng, senyuman lebar langsung terukir di wajah Bramantyo. Pria paruh baya itu berdiri dari kursi kerjanya dan melangkah menyambut kedatangan tamu sekaligus sahabat lamanya itu dengan hangat."Ajeng! Wah, tumben banget kamu mampir ke kantorku siang-siang begini," sapa Bramantyo riang sambil menjabat tangan Ajeng dengan akrab.Ajeng tertawa renyah, membalas jabat tangan itu dengan senyuman manis yang membuat wajahnya terlihat semakin menarik. "Iya, Bram. Aku lagi ada urusan di sekitar sini, jadi aku pikir kenapa nggak mampir sekalian sekalian nyapa kamu. Kangen juga udah lama kita nggak ngobrol santai.""Bener banget. Duduk, yuk," ajak Bramantyo ramah, lalu mempersilakan Ajeng duduk di sofa tamu yang ada di sudut ruangan.Di ambang pintu, Mentari yang berdiri membawa nampan berisi dua cangk
Mentari berjalan cepat kembali ke gedung kantor setelah dari butik pakaian yang letaknya tepat berada di seberang jalan. Tangannya menenteng sebuah kantong belanjaan kertas berukuran sedang yang berisi setelan jas lengkap, kemeja putih baru, dan celana bahan kain untuk Bramantyo. Jantungnya masih berdegup kencang kalau mengingat kejadian cangkir kopi tumpah dan sentuhan tidak sengaja di area sensitif lelaki itu tadi. Wajahnya bahkan masih terasa panas setiap kali bayangan itu melintas di kepalanya."Duh, semoga Pak Bramantyo sudah lupa soal kejadian tadi," gumam Mentari pelan sambil merapikan anak rambutnya yang sedikit berantakan karena tertiup angin jalanan.Begitu sampai di lantai ruang kerja utama, Mentari langsung masuk dan melihat meja kerja Bramantyo kosong. Kopi yang tumpah di atas meja tadi sudah dibersihkan oleh petugas kebersihan kantor. Mentari menduga Bramantyo pasti masih membersihkan diri di kamar mandi pribadi yang ada di dalam ruangan kerja tersebut.Mentari melangkah
Di balik meja kerjanya, Bramantyo sama sekali tidak bisa fokus pada tumpukan berkas laporan keuangan yang ada di hadapannya. Sejak pagi tadi, pikirannya terus melayang dan menolak diajak kompromi.Setiap kali ia mencoba membaca baris demi baris angka di dalam dokumen, bayangan malam tadi tiba-tiba berkelebat di kepalanya. Visual saat Mentari berdiri di dapur dengan daster tidur tipis, kulit putih mulus, dan lekuk tubuh gadis itu terus menari-nari di ingatan Bramantyo. Hal itu membuatnya merasa tersiksa sendiri. Darahnya mendesir, dan napasnya mendadak terasa berat. Belum lagi dia harus merasakan miliknya yang memberontak di bawah sana. Bramantyo menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi kerja, lalu memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Ia benar-benar sedang diuji kali kni.'Sial... Kenapa bayangan itu nggak mau hilang dari kepalaku?' batin Bramantyo frustrasi.Merasa tenggorokannya kering dan kepalanya butuh sedikit kesegaran, Bramantyo menekan tombol interkom di atas mejanya u







