LOGINArumi terus menatap Langit, menunggu pria dewasa itu menjawab pertanyaannya. Ia begitu penasaran, apakah suaminya memikirkan hal yang sama dengannya. Atau ada alasan lain?“Sama. Saya juga takut kamu salah paham tentang saya. Posisi saya waktu itu, benar-benar sulit, Arumi. Saya tidak mungkin mengatakan kalau saya suka sama kamu, kagum sama kepribadian kamu, sementara saya masih menjalin hubungan dengan Mama kamu. Yang ada, kamu malah pikir saya ini laki-laki seperti apa lagi,” jelas Langit.Arumi mengulum senyum jengah. “Jadi … apa yang buat Om Langit suka sama Arum?” selidik Arumi.“Hmm … apa ya? Mungkin sifat dan karakter kamu. Setiap kali saya datang ke rumah Mama kamu, saya selalu melihat kamu duduk di kursi kayu, dengan kaca mata besar, pulpen, dan tumpukan buku-buku. Kamu membuat saya penasaran sekaligus kagum.” “Maksud, Om Langit, Arum culun gitu?” Bibir Arumi mulai maju dua centimeter.Langit tertawa pelan. Lalu kembali menarik tubuh Arumi masuk ke dalam pelukannya. “Kamu ng
Mendengar pengakuan Arumi, Langit pun terdiam seribu bahasa. Tatapan matanya yang tadi penuh kilat jenaka dan menggoda, kini berubah menjadi dalam dan sangat intens. Jantungnya sendiri, yang tadinya ia pikir sudah sangat terkendali, mulai berdegup dengan irama yang tak beraturan lagi. Ia bahkan bisa merasakan hembusan napas Arumi yang pendek-pendek mengenai lehernya. Serta getaran tubuh kecil istrinya yang masih memejamkan mata rapat-rapat, seolah sedang menunggu vonis hukuman mati.“Kamu bilang apa?” tanyanya mulai penasaran.“Bilang apa, Om?” tanya Arumi balik.“Yang tadi, Arumi. Yang baru saja kamu ucapkan?” “Yang ‘kita bisa bicara baik-baik’, Om?” “Bukan, yang selanjutnya.”“‘Om salah paham’?” “Bukan juga.”Arumi kembali diam. Dalam posisi masih memejamkan mata, ia tetap terlihat seperti orang yang sedang berpikir. “Yang … “Arum udah lama suka sama Om Langit’?” tanyanya dengan suara rendah.“Iya, itu! Maksudmu apa?” tanya Langit lagi.Arumi menelan ludah. Keheningan yang pekat
Suasana yang tadinya penuh haru dan tawa, kini berubah menjadi momen kocak yang menyudutkan Langit. Kejujuran Arumi yang terlalu polos itu bak bumerang yang menghantam Langit tepat di wajahnya sendiri.Arumi menjawab dengan raut wajah tanpa dosa. Seolah tak sadar, bahwa kalimatnya barusan telah “menumbalkan” suaminya di depan mertuanya sendiri. Sebenarnya ia hanya ingin jujur, namun kejujurannya justru membuat posisi Langit semakin terpojok.“Tuh kan bener. Emang kamunya Langit, yang nggak jelas,” ucap Viola kesal.“Bun, Langit ngelakuin ini juga untuk melindungi Arumi.” Langit berusaha membela diri.“Melindungi dari apa?” “Yah … dari apa saja.”“Dari dirinya sendiri mungkin,” timpal Erlangga. Viola mengulum senyum. “Jadi beneran udah?” tanyanya penasaran.Pertanyaan Viola yang menggantung itu membuat suasana di ruang tamu mendadak berubah menjadi canggung tapi penuh selidik dan rasa penasaran. Viola menatap putranya dengan tatapan ibu-ibu yang sedang menginterogasi. Sementara Aru
Arumi mendadak membisu, tak tahu harus memulai dari mana untuk memberitahu kedua mertuanya tentang bagaimana awal mula ia dan Langit bisa menikah. Semuanya terkesan begitu rumit dan pelik.“Kenapa diam?” tanya Viola.“E, itu Bunda. Arum …,” ucap Arumi gugup.“Arumi itu calon anak tiri Langit …,” potong Langit cepat. Semua orang terkejut mendengar kalimat Langit. Seperti petir di siang bolong yang menyambar seluruh isi ruangan. Keheningan yang tadinya penuh kesedihan, kini berubah menjadi ketegangan yang mencekam.Dunia Arumi seolah berhenti berputar. Ia merasa seluruh oksigen di paru-parunya tersedot habis. Matanya yang sembab karena tangis kini melebar, menatap Langit dengan tatapan tidak percaya.“Om …,” bisik Arumi, nada suaranya penuh kegetiran. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Ia tak menyangka Langit akan meledakkan “bom’’ itu dengan cara yang begitu mentah dan tanpa persiapan. Rahasia yang selama ini ia jaga agar tidak melukai siapa pun, kini dihancurka
Langit dan Arumi masih duduk dengan perasaan yang tak tenang sama sekali. Mereka benar-benar terjebak, dalam ketidaksengajaan yang terjadi.Tadi, saat mereka sedang tidak di rumah, Erlangga masuk ke ruang kerja Langit dengan niat untuk sekedar melihat-lihat apa yang ada di sana. Namun tak disangka oleh Langit, dari sekian banyak tumpukan berkas di sana, ayahnya justru menemukan map berisi surat kontrak pernikahan bersama Arumi yang belum direvisi.Menyesalnya, kenapa setelah direvisi, tidak ia buang saja surat perjanjian itu.“Ada dua opsi yang bisa diputuskan dari masalah ini.” Erlangga kembali membuka suara. “Pertama, terhitung mulai hari ini sampai tiga puluh hari ke depan, kami sudah harus menerima kabar baik tentang kehamilan Arumi dari kamu, Langit.” “Astaga Ayah, syarat macam apa itu?” Langit tersenyum hambar. “Punya anak itu nggak bisa kita yang tentukan, Yah, tapi Tuhan.” “Menikah juga melibatkan Tuhan, Langit. Tapi lihat, kamu berani mempermainkannya!” ucap Viola dengan
Begitu mobil berhentikan di rumah, Arumi dan Langit langsung turun dan masuk menemui Viola dan Erlangga. Mereka sudah sangat penasaran, apa yang sebenarnya ingin pasangan tua itu bicarakan. “Ini dia udah pulang. Duduk kalian berdua,” titah Viola dengan ekspresi wajah datar dan tangan yang bersedekap di dada. Di sisi lain, Erlangga tampak duduk menyilang kaki dan menyadarkan punggung pada penyangga sofa. Tatapan mata pria paruh baya itu menyiratkan makna yang cukup misterius. Yang sulit diprediksi tak terkecuali oleh putranya sendiri. Arumi dan Langit tertegun sejenak. Lalu sama-sama menoleh dan melihat sekilas satu sama lain. Seolah mereka tengah berkomunikasi lewat bahasa telepati. Diam, tapi saling memahami. “Ada apa ya, Bun?” tanya Langit to the point, ia dan Arumi sudah duduk di sofa dengan posisi menghadap langsung ke arah Erlangga dan Viola. “Apa ini?” Erlangga meletakkan secarik map coklat ke atas meja dengan cara sedikit di banting. “A—apa ini, Yah?” tanya Langit.







