Mag-log inLangit dan Arumi saling melempar pandang satu sama lain. Dahi keduanya tampak bertaut bingung. Tak lama, Langit pun kembali melihat kepada Viola.“Bun, kan tadi kami udah ….,” ucap Langit menggantung.Viola tampak diam sejenak. “Astaga! Iya, maaf, maaf, Bunda lupa. Aduh, ini kepala, maklum … faktor usia,” cicitnya. Ia lalu beralih pandang kepada Arumi. “Maaf ya, Sayang. Bunda beneran lupa.” “Iya, Bunda. Nggak apa-apa.” Arumi tersenyum canggung dan langsung menundukkan kepala. Di kursi lain, Erlangga tampak menyenggol pelan lengan istrinya. Sebuah gerakan yang bermakna ketidaksetujuan atas sikap istrinya yang tak disengaja itu.“Bunda gimana sih? Arumi pasti tersinggung Bunda tanya seperti itu,” bisik pria tua itu.“Ya, gimana, Yah. Bunda juga nggak sengaja. Sumpah, Bunda beneran lupa,” jawab Viola sama berbisiknya.Ruang makan itu seketika berubah menjadi hening yang menyesakkan. Suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen kini terdengar jauh lebih nyaring, seolah-olah s
Handle bergerak turun, pintu kamar terbuka. Di ambang, tampak Viola berdiri dengan tatapan menyelidik. Ia langsung mencuri-curi pandang ke arah dalam, mencari sosok yang baru saja ia panggil namanya tadi.“Arumi mana?” tanyanya kepada Langit.“Oh, mandi, Bun.”“Mandi? Bukannya udah dari tadi ya dia mandi? Kok belum selesai juga?” “Hmm … itu, Bun, tadi Arumi luluran dulu. Terus, maskeran … makanya lama,” Alibi Langit. “Oh, ya udah. Nanti kalau dia udah selesai, tolong bilangin langsung temui bunda di dapur ya? Bunda bingung soalnya mau masak apa.” “Siap, Bunda. Nanti Langit sampaikan.”“Ok.” Viola tersenyum hambar, kemudian berlalu meninggalkan kamar putranya itu.Langit segera menutup pintu dan kembali mendekati ranjang tempat tidur. “Bunda udah pergi,” ucapnya kepada Arumi yang masih bersembunyi di dalam bedcover. Nada bicaranya rendah dan tenang, sangat kontras dengan badai yang baru saja dilewati Arumi.Arumi perlahan menyembul dari balik kain tebal itu. Wajahnya merah padam, b
Arumi terus menatap Langit, menunggu pria dewasa itu menjawab pertanyaannya. Ia begitu penasaran, apakah suaminya memikirkan hal yang sama dengannya. Atau ada alasan lain?“Sama. Saya juga takut kamu salah paham tentang saya. Posisi saya waktu itu, benar-benar sulit, Arumi. Saya tidak mungkin mengatakan kalau saya suka sama kamu, kagum sama kepribadian kamu, sementara saya masih menjalin hubungan dengan Mama kamu. Yang ada, kamu malah pikir saya ini laki-laki seperti apa lagi,” jelas Langit.Arumi mengulum senyum jengah. “Jadi … apa yang buat Om Langit suka sama Arum?” selidik Arumi.“Hmm … apa ya? Mungkin sifat dan karakter kamu. Setiap kali saya datang ke rumah Mama kamu, saya selalu melihat kamu duduk di kursi kayu, dengan kaca mata besar, pulpen, dan tumpukan buku-buku. Kamu membuat saya penasaran sekaligus kagum.” “Maksud, Om Langit, Arum culun gitu?” Bibir Arumi mulai maju dua centimeter.Langit tertawa pelan. Lalu kembali menarik tubuh Arumi masuk ke dalam pelukannya. “Kamu ng
Mendengar pengakuan Arumi, Langit pun terdiam seribu bahasa. Tatapan matanya yang tadi penuh kilat jenaka dan menggoda, kini berubah menjadi dalam dan sangat intens. Jantungnya sendiri, yang tadinya ia pikir sudah sangat terkendali, mulai berdegup dengan irama yang tak beraturan lagi. Ia bahkan bisa merasakan hembusan napas Arumi yang pendek-pendek mengenai lehernya. Serta getaran tubuh kecil istrinya yang masih memejamkan mata rapat-rapat, seolah sedang menunggu vonis hukuman mati.“Kamu bilang apa?” tanyanya mulai penasaran.“Bilang apa, Om?” tanya Arumi balik.“Yang tadi, Arumi. Yang baru saja kamu ucapkan?” “Yang ‘kita bisa bicara baik-baik’, Om?” “Bukan, yang selanjutnya.”“‘Om salah paham’?” “Bukan juga.”Arumi kembali diam. Dalam posisi masih memejamkan mata, ia tetap terlihat seperti orang yang sedang berpikir. “Yang … “Arum udah lama suka sama Om Langit’?” tanyanya dengan suara rendah.“Iya, itu! Maksudmu apa?” tanya Langit lagi.Arumi menelan ludah. Keheningan yang pekat
Suasana yang tadinya penuh haru dan tawa, kini berubah menjadi momen kocak yang menyudutkan Langit. Kejujuran Arumi yang terlalu polos itu bak bumerang yang menghantam Langit tepat di wajahnya sendiri.Arumi menjawab dengan raut wajah tanpa dosa. Seolah tak sadar, bahwa kalimatnya barusan telah “menumbalkan” suaminya di depan mertuanya sendiri. Sebenarnya ia hanya ingin jujur, namun kejujurannya justru membuat posisi Langit semakin terpojok.“Tuh kan bener. Emang kamunya Langit, yang nggak jelas,” ucap Viola kesal.“Bun, Langit ngelakuin ini juga untuk melindungi Arumi.” Langit berusaha membela diri.“Melindungi dari apa?” “Yah … dari apa saja.”“Dari dirinya sendiri mungkin,” timpal Erlangga. Viola mengulum senyum. “Jadi beneran udah?” tanyanya penasaran.Pertanyaan Viola yang menggantung itu membuat suasana di ruang tamu mendadak berubah menjadi canggung tapi penuh selidik dan rasa penasaran. Viola menatap putranya dengan tatapan ibu-ibu yang sedang menginterogasi. Sementara Aru
Arumi mendadak membisu, tak tahu harus memulai dari mana untuk memberitahu kedua mertuanya tentang bagaimana awal mula ia dan Langit bisa menikah. Semuanya terkesan begitu rumit dan pelik. “Kenapa diam?” tanya Viola. “E, itu Bunda. Arum …,” ucap Arumi gugup. “Arumi itu calon anak tiri Langit …,” potong Langit cepat. Semua orang terkejut mendengar kalimat Langit. Seperti petir di siang bolong yang menyambar seluruh isi ruangan. Keheningan yang tadinya penuh kesedihan, kini berubah menjadi ketegangan yang mencekam. Dunia Arumi seolah berhenti berputar. Ia merasa seluruh oksigen di paru-parunya tersedot habis. Matanya yang sembab karena tangis kini melebar, menatap Langit dengan tatapan tidak percaya. “Om …,” bisik Arumi, nada suaranya penuh kegetiran. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Ia tak menyangka Langit akan meledakkan “bom’’ itu dengan cara yang begitu mentah dan tanpa persiapan. Rahasia yang selama ini ia jaga agar tidak melukai siapa pun, kini







