Se connecterTerima kasih telah membersamai kisah-kisah Eliyen selama ini. Kali ini, Eliyen menghadirkan dunia interior perhotelan dan apartemen kepada para pembaca melalui kisah cinta segitiga Lala, Arvin, dan Arlo.
Tiga orang yang bersahabat sejak kecil, penuh suka dan duka. Aku berharap para Orbits bersedia membersamai ketiga sahabat ini menuju kedewasaan. Jangan lupa tinggalkan jejak di novel Pesona Kakak Tetangga yang Menggoda. Silakan kepoin juga medsos Eliyen di Eliyen Author. Dan ... selamat bergabung dalam Eliyenverse. Eliyen menunggu jejak cinta dari Orbits semua. ^^“Tak ada yang aku sembunyikan dari kamu.” Arvin mengecup bibir Lala. “Aku hanya tak ingin kamu dekat-dekat Sienna. Dia adalah pebisnis besar yang berhubungan langsung dengan Dirgantara Group. Jadi, lebih baik aku yang tangani pemilik vendor besar seperti dia.”Ada sesuatu di nada Arvin. Rasanya itu seperti bukan posesif biasa, lebih seperti kewaspadaan yang Arvin coba sembunyikan di balik nada santai. Lala nyaris menangkapnya, tetapi detik berikutnya rasa itu lenyap, kalah oleh logika yang lebih masuk akal. CEO versus CEO jelas lebih powerfull ketimbang dirinya yang cuma kroco di perusahaan.Namun, si kroco ini masih punya power yang bisa menaklukkan CEO Dirgantara Group. Jari-jari Lala bergerak turun ke celana Arvin.“Loh, udah keras lagi?” Lala mengangkat alis.Arvin berkedip. “Jika tak ingat ada pekerjaan, aku akan mengurungmu di kamar, La.”“Aduh, takut …,” rengek Lala manja. Detik berikutnya, dia mengusap tonjolan keras di balik celana Arvin.“Aku mau-mau aja dikurung sama kamu.
“Siapa dia, hah? Berani-beraninya dia malah bikin aku malu di depan Arvin!”Sienna membanting tas Chanel ininya. Bibir berlapis lipstik merah menyala itu mencebik keras.“Nona, saya sudah mencari tahu siapa lead designer yang menangani renovasi hotel Dirgantara Group di Seminyak.”Asisten pribadinya terlihat di layar laptop. Saat ini Sienna memang sedang mengadakan panggilan video dengan salah satu asisten pribadinya di Singapura, begitu dia kembali ke hotel setelah makan makan malam dengan Arvin dan Lala.“Namanya Nalani Shakila, 25 tahun, lulusan Desain Interior ITB.”Sienna mengangkat satu tangannya “ITB?” tanyanya tak percaya. “Dia?” “Benar, Nona. Saat masih berstatus mahasiswi, dia sudah menjadi junior desainer di Biro Madagaskar, salah satu biro arsitek dan desain yang cukup bonafide di Jakarta.”Sienna mengangguk. “Ada lagi?”“Nama Nalani Shakila juga tercantum dalam dua proyek heritage renovation di Jakarta dan Bandung. Itu termasuk pencapaian yang fantastis karena pengerjaan
“Mohon maaf, Nona. Tetapi tamu di Penthouse tidak bisa dihubungi,” ucap resepsionis setelah dua kali menelepon kamar Arvin Dirgantara. Sienna mengernyitkan dahi. “Coba you telepon lagi. Aku sudah ada janji temu dengan dia sejak siang tadi. Tapi sampai sore ini tidak ada kabar. Ponselnya juga tidak aktif. Aku takut terjadi sesuatu dengannya.” Resepsionis menghubungi nomor kamar penthouse lagi. Namun, tetap sama. Teleponnya tidak diangkat oleh penghuni kamar. Sienna hendak memberi perintah lagi, tetapi dua bayangan yang keluar dari lift seketika membuatnya terdiam seketika. Matanya menatap seolah tidak percaya. Arvin dan si desainer interior Dirgantara. Seharusnya itu pemandangan yang normal. CEO terkadang butuh bicara dengan pegawainya. Namun, hal itu jadi tak normal kalau Arvin sampai tertawa sambil menatap lekat-lekat kepada si wanita pendek itu. “Arvin?” panggil Sienna keras. Dia mengabaikan sikap tidak elegan yang diajarkan orang tuanya sejak kecil dan langsung berjalan cepa
“Bangun, tukang tidur.” “Lima menit lagi.” Lala menarik selimut lebih tinggi, hingga menutupi seluruh kepala. “Bangun sekarang atau kita bercinta lagi.” Senyap. Ada satu menit penuh Lala tidak menjawab. Namun, di detik ke-61 dia langsung menurunkan selimut dan berseru keras. “Ayo!” Arvin terperangah, tetapi tak dapat melawan. Lala sudah menyibak selimut dan naik ke badannya. Istrinya itu kini duduk mengangkangi Arvin. “Astaga, padahal udah dua ronde tadi. Masih ganas aja ini junior.” Lala menggoyangkan panggulnya, hingga bokongnya menabrak ereksi Arvin yang mengacung tegak. Arvin melemparkan kepala ke belakang. Tangannya mengangkat pinggang Lala, kemudian memasuki wanitanya pelan-pelan. Lala sudah basah. Ereksinya meluncur mulus di liang yang licin. Erangan keras wanita itu melecut gairah Arvin. “Oh, ya ampun!” Lala membeku. “Aku harus gimana, Vin?” Alis Arvin terangkat tinggi. “Yakin kamu tak tahu?” Pipi Lala merona. “Kamu masih perawan,” ucap Arvin sambil melirik bagian
Mata Arvin menggelap. “Lala, kamu yakin?” Lala mengangguk mantap. “Yakin. Aku istrimu. Kamu bebas mau ngapain aja ke aku.” Arvin terpaku beberapa detik. Hingga kemudian, dia melepaskan tangan Lala, dan mulai melucuti kemejanya. Hanya kemeja, tetapi efeknya sungguh luar biasa. Arvin didera rasa puas saat melihat Lala tak berkedip menatapnya. “Aku … aku mau sentuh perutmu ….” Arvin berdiri di tepi tempat tidur, mempersilakan Lala menyentuhnya. Saat jari-jari lentik wanita itu meraba-raba perutnya, Arvin menggeram lirih. “Kenapa?” tanya Lala polos. Tangan Arvin meraih dagu Lala. “Kamu cantik.” Biasanya Lala akan tersipu malu dengan pujian itu. Namun, kali ini Lala merasa sangat percaya diri. Pujian Arvin adalah pemantik keberaniannya. Kali ini Lala tak ingin menunggu. Tiba-tiba dia berdiri. Perlahan, dengan gerakan yang susah payah dihafalnya dari sebuah film, Lala mulai melepas satu demi satu pakaiannya. Kaus teronggok di lantai. Disusul rok pendek. Lala diam-diam bersyukur k
“Aku? Nangis karena kamu?”Lala mengulang pertanyaan Arvin dengan bernada. Dalam hatinya bicara keras-keras.[Tujuh tahun udah cukup aku nangisin kamu, Arvin. Ogah aku sekarang nangis buat kamu lagi.]“Pergi sana.” Lala mendorong badan Arvin menjauh dari ambang pintu.“Lala, dengarkan aku dulu.”“Nanti.” Lala berniat menutup pintu. Namun, ujung kaki Arvin sudah lebih dulu menahan daun pintu agar tidak menutup.“Arvin, pergi nggak?” ketus Lala.“Tidak.”Lala cemberut. Perasaannya benar-benar tidak dalam kondisi yang bagus untuk bercanda.Dia lapar karena berangkat pagi-pagi buta dengan penerbangan paling awal ke Bali. Belum juga sarapan, Lala langsung pergi ke Seminyak. Setiba di sini, dia malah mendapat pemandangan yang menyebalkan.Suara percakapan dalam Bahasa Inggris terdengar dari ujung koridor. Lala tersentak kaget. Bagaimana dia bisa lupa, jika sekarang sedang ada di area hotel?“Lala,” suara Arvin mengiba.Tanpa pikir panjang, Lala segera menarik pria itu masuk ke kamarnya. Ren







