Masuk[This chapter is 18+ only. If you're underaged, feel free to skip this one!]~~~Lala marah besar!Baru kali ini dia merasakan kemurkaan yang menyengat hingga ubun-ubun. Penyebabnya sepele.Dia gagal orgasme.Namun, bagi Lala, hal itu bukan sesuatu yang bisa diremehkan. Sepanjang jam kerja, sepanjang jam istirahat siang, dan menghabiskan sisa jam kerja mood-nya anjlok parah.“La, PMS? Makan cokelat, gih.” Salah satu rekan kerjanya yang kena dampak semprotan karena salah membawa maket dari drafter langsung memberi wejangan.Lala melirik sebal.“Atau mesra-mesraan sama Pak Arvin sana. Lo kalau mode tanduk setan nyeremin banget.” Rekannya kembali bicara.Lala menyipitkan mata dengan gusar. “Kenapa harus mesra-mesraan sama dia?”“Ya, dia kan, suami lo. Semua orang di sini juga tahu kali. Lo kalau udah dipanggil Pak Arvin pasti lama banget. Apa coba kalau nggak lagi mesra-mesraan?”Kalimat itu bukan meredam kemarahan Lala, melainkan justru memupuk kegusarannya. Dia hanya mendengkus dan ke
“Yang benar saja! Bagaimana caramu membujuk Lala? Kenapa malah dia ambil proyek remeh seperti ini?” Arvin meradang murka.Dilan tersenyum kecut. Wajahnya pucat.“Sumpah, aku sudah kasih tiga proposal itu ke Lala. Dia juga sudah mulai pilih-pilih. Terus Julian telepon–”“Siapa?” potong Arvin dengan suara sangat dingin.Dilan langsung merutuki lidahnya yang tak bertulang. Filternya jebol total. Bisa-bisanya dia keceplosan di depan orang yang sangat tak suka mendengar nama Julian.“Julian Vance tadi telepon Lala. Dia nawarin proyek ke Lala, tapi ditolak sama dia.” Dilan buru-buru menjelaskan sebelum kemarahan bosnya makin tinggi.“Lala juga menolak proyek yang aku berikan.” Arvin ketus.“Aku juga gak tahu kenapa bisa gitu. Padahal proyek-proyek yang kamu tawarkan prestisius semua. Portofolio Lala bakal nambah.”Dilan menghela napas panjang. Dari tiga proyek besar bernilai puluhan sampai ratusan miliar rupiah, Lala justru memilih satu proyek kecil bernilai kurang dari 100 juta rupiah.Pro
[Kenapa aku berasa kayak simpanan gini, sih? ML pas jam kerja, sembunyi-sembunyi, di hotel mewah pula.]Lala menatap langit-langit kamar hotel yang masih asing. Jam estetik di dinding menunjukkan pukul setengah empat sore.“Gila. Dua jam lebih,” gumam Lala.Perlahan dia beringsut turun dari tempat tidur. Dengan kaki lemah dan kulit yang terasa lengket, Lala pergi ke kamar mandi.Di bawah guyuran shower, dia memikirkan peristiwa yang baru saja terjadi. Setiap kali dia berusaha berdiri di atas kakinya sendiri, Arvin selalu punya cara untuk menariknya kembali. Entah lewat kata-kata, kekuasaan, atau seperti barusan tadi ….… lewat seks.“Gampangan banget hatiku ngobralin diri ke Arvin, sih.” Lala mengeluh.Setelah membilas diri dan mengganti pembalut, Lala kembali ke kamar. Tubuhnya segar berlapis jubah handuk bersih dan wangi. Langkahnya terhenti di ujung tempat tidur.Arvin-nya masih pulas tertidur. Lala tahu, di balik selimut yang menutupi setengah badan suaminya, ada tubuh telanjang d
~~~“Jujur saja, Lala. Selain istrimu, kamu adalah pegawai Dirgantara Group. Kontrakmu sah secara hukum. Dengan kata lain, kamu nggak harus nurut aku sebagai suamimu, tapi kamu harus patuh kepada atasanmu.”Lala membelalak. Jawaban yang menyebalkan sekali. Resiko jadi budak korporat seperti dirinya memang tidak akan pernah bisa melawan bos.“Kepatuhanku sebagai pegawai hanya berlaku di jam kerja, kan?” ketus Lala.Arvin terdiam beberapa saat. Istri kecilnya yang cerdas dan keras kepala itu punya seribu satu cara untuk melawan tindakannya. Dia harus berhati-hati menjawab agar tidak membuat Lala kabur lagi.“Secara teknis …, iya. Kecuali ada overtime.”Lala merampas tasnya dari tangan Arvin. “Nyebelin banget jadi lakik. Awas aja. Entar malem aku bakal balas dendam.”Arvin langsung menyambar pergelangan tangan Lala. “Tunggu, mau ke mana?”“Cari ojol.”“Macet sekarang, Lala. Hemat uangmu. Kamu ikut aku sekarang.”Lala membuka mulut lebar-lebar. Dia istri CEO. Dia pekerja dengan gaji 3x UM
“Proyek pribadi bareng kamu?” Lala mengangkat alis tinggi-tinggi.“Ya. Proyek kecil, sederhana, dan intim. Mendekorasi hunian pasangan suami istri baru,” jelas Julian. “Ini cocok denganmu. Bukankah kamu juga baru menikah? Kamu bisa merasakan nuansa percintaan yang masih panas menggelora.”Lala mengerjapkan mata. “Harus aku banget, ya?” tanyanya lirih.“Kenapa, Lala? Ini adalah kesempatan yang bagus untuk menambah portofolio-mu. Karena apartemen yang akan kamu rancang ini ada di Manhattan, milik salah satu aktris terkenal Hollywood.”“Kecil dan sederhana?” Alis Lala terangkat tinggi. “Yakin, nih?”“Yah, untuk ukuran Hollywood, apartemen mereka memang kecil.” Julian tertawa. “Berbeda dengan Al-Mansoor yang punya nota kerahasiaan, klienku kali ini bebas. Dia memperbolehkan mencantumkan proyeknya sebagai lampiran portofolio, asal tidak menyebut alamat lengkap saja.”“Tapi …, di Manhattan,” renung Lala.Pandangannya menyapu ke luar dinding kaca. Sekarang sudah jam setengah satu siang. Sesu
“Aku ….” Lala melirik ke kanan dan kirinya. “Aku sekarang nggak bisa,” putus Lala. “Masih ada kerjaan di kantor yang harus aku kelarin.”Lala terdiam sejenak. “Pulang kerja juga nggak bisa. Ada janji sama … sama Arvin,” jelas Lala memutuskan untuk berterus-terang.“Sebentar aja? Gimana kalau kamu datang ke kantor aja? Biar bisa enak ngobrolnya juga.” Lala menyarankan dengan nada percaya diri yang sudah kembali lagi.Dia berjanji nanti malam akan meminta salinan penyelidikan Arvin terhadap Julian. Namun, yang sekarang harus dia lakukan adalah menghindari bertemu berduaan saja dengan Julian.Itu karena Lala punya rencana besar yang harus diwujudkan. Dan pertemuan berdua saja dengan Julian hanya akan mengganggu rencananya.“Oh, begitu. Baiklah. Besok kita ketemu di kafe depan kantorku.” Lala mematikan panggilan telepon. Dia berkata kepada dua orang di kanan dan kirinya.“Nggak ada perselingkuhan. Aku juga nggak tahu apa yang mau Julian omongin. Tapi ….” Lala menatap dirinya sendiri di di







