INICIAR SESIÓN"Aku sudah tahu semuanya, aku sudah bertemu Slamet," Ana mendongak dengan wajah yang sudah basah oleh air mata. "Kenapa kayu tidak bilang kalau keluarga Adrian yang melakukannya? Kenapa kamu membiarkan aku menganggapmu monster? Kenapa kayu membiarkan aku menyakitimu semalam?"
Dalton menatap mata Ana dengan sorot mata yang melunak, namun tetap menyimpan luka. Ia perlahan mengangkat tangannya, mengusap air mata di pipi Ana dengan ibu jarinya yang kasar. "Karena faktanya tidaPagi terasa dingin, suasana di markas bawah tanah Obsidian terasa sangat mencekam. Dalton duduk dengan satu kaki menopang kaki yang lain. Tatapannya tajam menyayat setiap tarikan nafas Elena. "Kamu punya informasi apa?" Suara Dalton bagai petir di telinga Elena. Dengan tangan bergetar wanita berhidung bangir karna oprasi plastik ini menyerahkan sebuah drive kecil berisi data terenkripsi yang ia curi dari jaringan keluarga Sisilia. Dalton duduk menatap layar monitor besar yang menampilkan grafik logistik dan komunikasi rahasia. "Buka datanya, Daniel," perintah Dalton dingin. Saat enkripsi berhasil ditembus, deretan nama muncul di layar. Dalton terdiam, rahangnya mengeras hingga otot-otot di wajahnya menonjol. Daniel pun tampak terkejut, langkah kakinya mundur satu langkah seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat. "Ini tidak mungkin." bisik Daniel. Kenyataan pahit itu terpampang nyata, Pengkhianat yang bekerja sama dengan keluarga Sisilia bukan hanya orang luar, melainkan
Dalton beralih menatap Elena dengan tatapan yang bisa membunuh. Perlahan Elena mendekat bersujud mencium ujung sepatu Dalton. "Ampun, Dalton. Jangan bunuh aku, aku akan memperbaiki diri, tak akan lagi mengganggu kalian. Aku akan menganggap kita masa lalu.""Diam." Dalton menginjak jemari lentik Elena. "Jangan pernah lagi membicarakan hal itu apalagi di depan Ana." Elena meringis. menahan sakit jemari yang hampir hancur di injak lelaki ini. "Ampun ... Aku akan tutup mulut selamanya." ringis Elena.Ana menarik tangan Dalton, menyuruhnya duduk. Di bangku itu Dalton terdiam cukup lama. Keheningan itu terasa begitu menyesakkan. Ia benci kenyataan bahwa ia bisa luluh oleh Ana. Ia benci harus mengiyakan permintaan Ana untuk membiarkan wanita ini tetap hidup di bawah atap yang sama dengan dunianya. "Daniel," panggil Dalton tanpa melepaskan pandangannya dari Elena. "Ya, Bos?" "Bawa dia ke sel isolasi di markas bawah tanah. Aku ingin tau kesungguhan ucapannya untuk tak lagi membuat ula
"Elena." Mata mereka bertemu, Elena langsung berdiri. Tidak ada lagi keangkuhan di matanya, yang ada hanyalah ketakutan. "Ana..." suara Elena parau, hampir tidak terdengar. "Elena? Apa yang kau lakukan di sini? Dalton sudah membebaskanmu," ucap Ana, tetap menjaga jarak. "Dia memang melepas kan aku, tapi dia tidak mencabut target di punggungku!" Elena melangkah maju, tangannya gemetar. Ana melihat sekeliling, beberapa pasien dan staf yang berada di sana memperhatikan. "Ayo masuk keruangan ku." Ana berjalan menuju ruang kerjanya, di ikuti oleh Elena. Ana menutup pintu perlahan setelah mereka ada di ruangan itu. "Duduk." Ana mempersilahkan Elena duduk. Ana menatap wanita yang tubuhnya terlihat gemetar, "Mau aku pesankan makan? Kamu sudah makan?" Elena menggeleng. "Tidak usah, aku masih kuat walau sudah beberapa hari belum makan." Ana menatap Elena tak berkedip. Tubuh Elena di penuhi luka lebam. Terlihat miris, Anak buah Dalton pasti memperlakukan Elena sangat kej
Udara di Gudang Sektor 4 terasa berat, berbau oli, besi berkarat, dan ketakutan yang mencekam. Lampu-lampu gantung yang remang-remang berayun pelan, menciptakan bayangan yang menari di dinding beton yang lembap. Di tengah ruangan, tiga pria dari keluarga Sisilia duduk dengan angkuh, dikelilingi oleh pengawal bersenjata lengkap. Pintu besi gudang berderit terbuka dengan suara yang memekakkan telinga. Dalton masuk. Ia tidak lagi mengenakan kelembutan yang ia tunjukkan pada Ana beberapa menit lalu. Langkah kakinya berat dan berwibawa, jas hitamnya berkibar pelan, dan matanya, matanya sedingin es di kutub utara. Daniel berjalan di belakangnya, wajahnya menunjukkan kepuasan melihat Bosnya kembali ke mode predator. "Kau memilih tempat ini untuk pertemuan? Apakah kau sudah siap menyerahkan nyawa?" suara Dalton menggema di ruang sunyi ini. "Dalton," salah satu pria Sisilia, Brad, berdiri dengan senyum meremehkan.
Setelah pembicaraan tegang dengan Daniel, Dalton merasa ruangan kerjanya semakin menyempit. Daniel kini berani bersuara. "Lancang." Dalton mengepalkan kedua tangan. Jika Daniel berani berontak maka dia benar-benar dalam masalah. Asisten pribadinya ini sepertinya sudah mulai berani menginterupsi apa yang Dalton lakukan, pria ini menyugar rambutnya. isi kepalanya berfikir. Bukan, bukan Daniel yang mulai lancang tapi ini adalah efek kegelisahan Daniel karna Dalton kini mulai melemah. Lemah!! Ahh ... Anastasia!!! Prang. Dalton melempar botol whisky membentur pintu jati berukir hingga pecahan berhambur kemana-mana. Saat ini yang Dalton butuh keyakinan dirinya sendiri bahwa keputusannya untuk tetap menjadi 'manusia' demi istrinya bukanlah sebuah kesalahan. Tangannya menyentuh interkom, setelah itu masuk seorang bodyguard, dengan tampilan yang jauh dari kata seorang bodyguard. "Apa yang harus saya lakukan, Tuan." "Awasi Daniel." Hanya itu perintah yang keluar dari Dal
Pagi itu, aroma kopi kental dan roti panggang memenuhi ruang makan penthouse. Sinar matahari masuk dengan cerah, memantul di atas meja kaca tempat berbagai hidangan sarapan sudah tersaji. Dalton duduk di ujung meja, masih mengenakan kemeja hitamnya yang khas, namun ekspresinya jauh lebih santai setelah pergumulan semalam, lelaki berwajah tampan ini memperhatikan Ana yang sedang asyik menikmati Rosella tea-nya. "Ana," panggil Dalton pelan, membuat Ana mendongak. "Ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu. Anggap saja ini permintaan maafku yang sebenarnya atas semua kekacauan kemarin." Dalton menggeser sebuah map kulit berwarna hitam yang sangat elegan ke arah Ana. Ana mengerutkan kening, meletakkan cangkirnya. "Apa ini? Jangan bilang kamu membelikan pulau lagi untuk meminta maaf." Dalton tertawa kecil, suara tawanya rendah dan maskulin. "Buka saja, Principessa." Dengan tangan sedikit ragu, Ana membuka map tersebut. Matanya membela







