LOGINDi tengah ruangan galeri yang sepi, Mikail berdiri tegak menatap sebuah lukisan abstrak bertajuk 'The Silent Debt'. Tangannya bersedekap, auranya begitu dominan hingga pengunjung lain seolah segan mendekat.
Daniel melangkah perlahan, berdiri di sampingnya seolah ikut menikmati lukisan itu. "Lukisan yang bagus. Tapi sayangnya, sejarah di baliknya tidak seindah warnanya," ucap Daniel tanpa menoleh. Mikail tidak bergeming. "Kebanyakan orang di sini haDaniel melangkah menyusuri trotoar batu yang basah oleh embun malam. Di bawah lampu jalan yang temaram, ia mengeluarkan ponsel satelitnya, menekan serangkaian kode keamanan sebelum menghubungi Dalton di Jakarta. "Bos, Oprasi sudah selesai. Mikail sudah memakan umpannya," lapor Daniel tanpa basa-basi. "Bagus. Julian?" tanya Dalton di seberang sana, suaranya terdengar berat dan letih. "Aku akan mengirimkan data pertemuan dermaga ke Julian melalui jalur anonim perusahaan keamanannya malam ini. Dia pasti akan datang ke Jenewa begitu menyadari adiknya dalam bahaya. Sam tidak boleh mendapatkan akses ke satu pun dari mereka." Daniel masuk ke dalam sebuah mobil sewaan yang terparkir di sudut jalan gelap. Di dalam, ia sudah menyiapkan peralatan pemantauan tingkat tinggi—warisan dari teknologi Obsidian yang masih berfungsi sempurna. Matanya menatap layar laptop yang menampilkan peta digital dermaga pribadi di Danau Jenewa. "Kamu harus ber
Di tengah ruangan galeri yang sepi, Mikail berdiri tegak menatap sebuah lukisan abstrak bertajuk 'The Silent Debt'. Tangannya bersedekap, auranya begitu dominan hingga pengunjung lain seolah segan mendekat. Daniel melangkah perlahan, berdiri di sampingnya seolah ikut menikmati lukisan itu. "Lukisan yang bagus. Tapi sayangnya, sejarah di baliknya tidak seindah warnanya," ucap Daniel tanpa menoleh. Mikail tidak bergeming. "Kebanyakan orang di sini hanya melihat apa yang ingin mereka lihat, Tuan ...?" "Daniel. Hanya seorang kurir yang membawa kabar tentang sebuah aset yang mulai bocor ke permukaan," jawab Daniel tenang. Ia menyodorkan sebuah kartu kecil berwarna hitam dengan logo Obsidian yang sangat samar, nyaris tak terlihat jika tidak terkena cahaya dengan sudut tertentu. Mikail melirik kartu itu. Untuk pertama kalinya, otot rahangnya mengeras. Sebagai 'The Ghost', dia tahu persis logo itu—sebuah organisasi y
Angel melangkah tergesa keluar dari lift, napasnya memburu. Tas kerjanya terasa berkali-kali lipat lebih berat setelah sif panjang yang melelahkan di rumah sakit. Sambil merogoh kunci akses di dalam tas, ia berkali-kali merutuki Gunawan di dalam hati—pria itu yang dulu memaksanya menjaga Daniel, tapi sekarang malah Angel sendiri yang kelabakan karena takut pasien keras kepalanya itu kenapa-kenapa."Daniel, aku datang! Maaf ya terlambat, tadi ada pasien darurat—"Suara Angel menggantung di udara. Ia mematung di ambang pintu. Sunyi. "Daniel?" Angel melangkah masuk lebih dalam, meletakkan belanjaan berisi bahan sup segar di atas meja dapur.Ia memeriksa kamar tidur. Kosong. Tempat tidur sudah rapi, bahkan kaos oblong yang tadi pagi dia pakai sudah tergantung bersih di ruang laundry. Angel segera berlari ke sofa, merogoh kolong bantal tempat biasanya Daniel menyembunyikan tabletnya. Kosong."Bayi tua nekat!" umpat Angel, tangannya mulai geme
Di beranda belakang yang sunyi, Maria berdiri menatap taman dengan pandangan kosong. Di tangannya, sebuah foto usang teremas pelan. Langkah kaki lembut mendekat, Ana datang membawa secangkir teh Rosella hangat, mencoba mencairkan suasana yang membeku sejak keributan di ruang kerja tadi. "Ibu belum istirahat?" tanya Ana lembut sembari meletakkan cangkir itu di meja kecil. Maria menoleh, matanya sembab. "Bagaimana Ibu bisa tenang, Ana?"Maria memandang hamparan gelapnya malam dengan tatapan gundah. "Jangan di pikirkan, Bu." Ana berdiri di sebelah Maria menyentuh lengan wanita tua ini, lalu mengajak Maria duduk. "Aku buat teh Rosela, silahkan di minum, Bu." Ana menyodorkan cangkir berisi rosela. Maria mengambil cangkir dan menyesap teh itu perlahan. Setelah itu kembali berbicara, "Ini soal janji, Ana. Ibu tak mau hingga mati ibu belum mengenalkan mereka pada ayahnya. Bukan masalah janji pada Sam, tapi pada wanita itu, sekarang mereka sudah dewasa dan ibu semakin tua. Ini waktu yang t
Daniel memperhatikan data transaksi keuangan mereka. Selama bertahun-tahun, ada aliran dana rutin dari yayasan anonim milik Maria ke rekening pendidikan mereka di masa lalu. Rupanya Maria tidak hanya menjaga mereka, dia membangun 'senjata' tanpa disadari oleh siapapun. "Dua hari, Daniel ... kamu punya dua hari untuk sampai ke sana sebelum Sam mencium jejak ini," Daniel bergumam pada dirinya sendiri. Daniel mengirimkan file ini ke email Dalton. Mereka harus segera bergerak cepat sebelum Sam menemukan mereka dan menghasut dua putranya untuk terjun ke dunia gelap demi ambisi lelaki tua itu. Daniel mengeluarkan napas pelan, dia menyandarkan kepala ke sandaran sofa mulai berfikir strategi apa yang harus dia ambil, menghadapi dua pria matang seperti Julian dan Mikail butuh kondisi fisik yang prima juga butuh strategi matang agar dua pria ini percaya hidupnya tak akan aman jika memercayai Sam. 🌹Cahaya matahari pagi mulai mengintip dari celah tirai apartemen, membiaskan warna keemasan
Suasana apartemen yang biasanya sunyi kini dipenuhi aroma kaldu yang gurih. Angel sibuk di dapur, sesekali mengomeli Daniel yang mencoba mengintip dari sofa. "Duduk diam, Daniel! Atau aku tambahkan obat tidur di sup ini!" ancam Angel tanpa menoleh. "Aku kira kamu mau pesan makanan, kenapa masak, nanti kamu lelah, Dokter." Daniel berdiri di dekat kulkas melihat Anggel bergerak lincah mengaduk sup. "Aku pikir-pikir buat saja, lebih higienis, dan pastinya lebih bergizi," ujar Anggel menuang sup ke dalam mangkuk. Dia mencium aroma sup di dalam mangkok yang masih mengepul uap panas. "Kayanya enak banget, ayo kita makan." Wajah Anggel terlihat sumringah melihat hidangan yang dia masak sendiri. Ia meletakkan sup di atas meja, lalu mengambil nasi dari penanak nasi. "Ayo, Tuan. aku sudah sangat lapar." Anggel duduk di depan meja makan. Mengambilkan semangkuk sup dan sepiring nasi menaruh di hadapan Daniel. Hati lelaki ini merasa hangat, sepertinya sama hangatnya dengan sup di atas me
Matahari terik menyinari tempat di mana Ana berada kini. Ana mendekati Dalton yang sedang menggenggam cangkul di tangan. Ana memintanya membalik tanah agar kembali subur sebelum dia tanami lagi. “Dalton, ini minum. Istirahat dulu matahari sudah terik, sepertinya hari ini panas.”
Dalton keluar dari dalam rumah tendanya, langsung pergi ke belakang kandang ternak, di sana dia memiliki kamp rahasia bawah tanah yang tidak di ketahui Ana, Dalton membuka laptop militer dengan koneksi satelit yang tidak bisa dilacak, lalu terhubung dengan Daniel."Sambungkan ke ruang ra
Pagi ini Dalton sudah bisa duduk di tepi tempat tidur, meski wajahnya masih meringis saat otot perutnya menegang. Ana baru saja selesai mengganti perbannya dengan gerakan yang sangat telaten. "Kamu sudah jauh lebih baik, Dalton. Tapi jangan berpikir untuk berdiri dulu," peringat An
“Ayah Anda Aman, nyonya. Tua Obsidian. Menyamarkan identitas ayah Anda. Jadi beliau tidak akan terlacak musuh.” “Apakah kamu yakin?” Ana masih belum percaya 100% Daniel tersenyum “Aku yakin nyonya. Silahkan Anda masuk dan istirahat, pulihkan tubuh Anda, besok kita akan melakuk