MasukSeno tampak sesekali menatap Rindu yang sejak tadi memilih diam setelah kepulangan mereka dari rumah sakit beberapa menit lalu. Saat ini mereka tengah dalam perjalanan pulang. Dan seperti yang sudah bisa ditebak, tidak ada percakapan apapun yang terjalin di antara keduanya. Rindu masih terdiam, menatap kosong pada jalanan yang cukup lenggang siang ini. Pikirannya berkecamuk, antara senang, sedih dan juga gelisah. Seno yang sejak tadi menahan diri untuk tidak bersuara, lantas memberanikan diri untuk mengajak Rindu bicara. Dia ingin memastikan keadaan gadis itu baik-baik saja setelah mendengar kabar mengejutkan ini. "Apa yang kamu rasakan sekarang, Sayang?" tanya Seno sembari menggenggam tangan Rindu. Rindu menatap sejenak sang paman dengan raut sayu. Wajahnya masih terlihat pucat. "Entahlah, Paman. Rindu tentu senang mendengar kabar bahagia ini. Tapi di sisi lain Rindu juga merasa bingung dan sedih karena hubungan kita masih belum jelas." jawab Rindu dengan wajah sendu. Rindu jad
Seno memicing mendengar ucapan Rindu barusan. Pria itu merasa ada yang tengah Rindu sembunyikan darinya. Dan apa itu tadi? Kenapa Rindu menyebut nama Hanum di kasus kematian orang tuanya? "Apa maksud dari ucapanmu itu, Sayang? Kasus kematian? Hanum? Bukankah kematian Mas Heru dan Mbak Rinda murni karena kecelakaan?" cecar Seno bertubi-tubi. Yang Seno tahu, kematian kakak iparnya adalah murni karena kecelakaan mobil. Lalu kenapa Rindu dengan gamblang mengatakan jika mereka meninggal karena Hanum yang menjadi penyebabnya? Sebenarnya apa yang sudah terjadi dan tidak dia ketahui? Rindu menghela napas berat karena kecerobohannya yang tanpa sengaja membongkar rahasia yang selama ini dia tutup rapat dari Seno. Sepertinya ini memang sudah waktunya pria itu tahu tentang kebusukan sang bibi. "Sebenarnya Ayah dan Bunda meninggal bukan karena kecelakaan, Paman. Tapi mereka sengaja dihilangkan nyawanya oleh seseorang." kata Rindu dengan suara tercekat. Rasa sedih kembali menderanya begitu dia
"Terimakasih, Sayang." ucap Seno dengan napas berat sesaat setelah pergumulan panas mereka berakhir.Belum puas dengan permainan mereka semalam, Seno kembali mengg3mpur Rindu saat gadis itu masih terlelap dalam tidurnya. Membuat gadis itu terbangun dan dengan pasrah melayani sang paman. Pria itu benar-benar hyper.Pria itu mengecup kening Rindu yang dipenuhi dengan peluh. Lalu membaringkan dirinya di samping gadis itu. Napasnya masih tampak tersenggal, dengan netra yang menatap langit-langit kamar.Permainan panas yang berlangsung selama dua jam telah berakhir dengan Rindu yang terkapar tak berdaya di atas ranjang. Sang paman benar-benar mengg3mpurnya habis-habisan pagi ini.Seno memeluk pinggang ramping Rindu dengan posesif. Setelah menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka."Tinggal hari ini saja kita berada di sini." ujar Seno membuka suara.Rindu yang hampir terlelap karena kelelahan lantas membuka kedua matanya sayu. Lalu membalik tubuhnya agar menghadap ke arah Seno."Ap
Rindu menghela napas berat sebelum turun dari pangkuan Seno. Gadis itu mendudukkan dirinya di samping sang paman dan mulai bercerita mengenai Romi.Romi, yang merupakan putra dari Rudi sahabat ayahnya adalah teman masa kecilnya dulu. Sejak duduk di bangku kanak-kanak, mereka telah saling mengenal. Dan akhirnya menjadi sahabat sampai masa abu-abu.Awalnya persahabatan mereka berjalan dengan baik. Rindu dan Romi, keduanya saling mengasihi satu sama lain. Namun tanpa disadari, salah satu di antara mereka memiliki perasaan yang lebih dari seorang sahabat.Rindu, yang semasa itu tengah beranjak dewasa ternyata menyimpan perasaan pada Romi. Namun sebaliknya, Romi tidak merasakan getaran yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Rindu.Rindu yang tidak bisa membendung perasaannya lebih lama, akhirnya memberanikan diri untuk mengutarakannya pada Romi. Gadis itu yakin jika sahabatnya itu juga mempunyai perasaan yang sama seperti dirinya.Dengan pipi bersemu, Rindu mengajak Romi untuk bertemu di
"Kalau begitu Rindu pamit pulang, Paman." ujar Rindu sembari beranjak dari tempat duduknya. Rudi mengangguk kecil dan ikut berdiri mengantar gadis itu sampai ke pintu. Sedangkan Dika sudah pulang sejak beberapa menit yang lalu. "Sebenarnya Om lebih setuju kamu menginap di sini saja, Nak. Di sana kamu pasti sendirian." kata Rudi menyuarakan kekhawatirannya. Rindu tersenyum tipis merasa terharu dengan perhatian pria itu. Dari dulu Rudi memang telah dia anggap sebagai ayah keduanya setelah Heru. "Tidak apa-apa, Paman. Lagipula Rindu di sana juga tidak sendiri." jawab Rindu yang tak ingin membuat Rudi merasa khawatir. Pria itu mengernyitkan dahinya dan hendak kembali bersuara, saat tiba-tiba saja terdengar suara deru motor yang mendekat ke arah mereka. Seorang pemuda berparas tampan dengan jaket jeans yang melekat di tubuhnya baru saja menghentikan motor sportnya di depan teras rumah Rudi. Rindu yang mengetahui siapa gerangan itu mulai merasa tidak nyaman. "Sudah pulang, Rom?" sap
"Masih ada satu lagi bukti kunci yang Om dapatkan, Nak." seloroh Rudi begitu Rindu bertanya."Apa itu, Om?" tanya Rindu penasaran.Lagi-lagi Rudi tak langsung menjawab pertanyaan Rindu. Pria itu kembali memanggil Inah dan menyuruh wanita paruh baya itu untuk mengambil ponselnya.Dengan sedikit tergopoh Inah kembali ke ruang tamu dengan ponsel genggam yang ada di tangannya. Lalu menyingkir sendiri tanpa Rudi pinta.Rudi tampak menghubungi seseorang yang Rindu yakini sebagai seorang detektif yang pria itu sewa untuk menangani kasus kematian orang tuanya. Dari percakapan yang Rindu tangkap, Rudi menyuruh orang itu untuk datang ke sini."Kamu tunggu sebentar, Nak. Detektif yang menangani kasus ini akan datang ke sini sebentar lagi." kata Rudi tersenyum tipis.Rindu hanya membalasnya dengan anggukan ringan. Dan selama menunggu kedatangan sang detektif, Rindu memilih untuk bertukar pesan dengan Seno, sang kekasih.Tak sampai setengah jam, orang yang Rindu tunggu akhirnya datang juga. Dan ya
Pagi sekali Rindu sudah bangun dari tidurnya. Tak seperti biasanya yang dia akan dengan sengaja bangun siang, hari ini dia tampak sudah segar dengan wajahnya yang sedikit basah setelah mandi.Dengan kaos pendek berwarna sage dipadukan dengan rok mengembang sebatas lutut, Rindu keluar dari kamarnya.
Demi melancarkan aksi balas dendamnya, Rindu rela mengubur kekesalannya pada Seno. Setelah merenung di dalam kamarnya selama hampir satu jam, gadis itu akhirnya keluar dari kamarnya. Tujuannya saat ini adalah dapur. Dia ingin menarik perhatian Seno dengan membuatkannya secangkir kopi.Dengan raut w
Rindu terbahak-bahak setelah keluar dari ruangan pamannya, Seno. Gadis itu masih ingat bagaimana raut syok Seno setelah dia sempat mencium pipinya. Jujur saja Rindu merasa terhibur dengan segala reaksi yang pamannya itu berikan.Bersenandung kecil sembari memainkan kunci motor yang ada di tangannya
Seno dengan reflek menjatuhkan Rindu yang sejak tadi duduk di atas pangkuannya. Membuat gadis itu memekik dan mengaduh kesakitan karena bongkahan padatnya menghantam lantai dengan cukup keras."Aduhh.. Paman.." ringis Rindu.Seno yang tersadar sontak membantu Rindu untuk bangun. Lalu mendudukkan ga







