INICIAR SESIÓNPerjalanan yang seharusnya menghabiskan waktu 4 jam, hanya ditempuh selama 2 jam setengah oleh Seno. Selain karena mengendarai mobil sendiri bersama Rindu, mereka juga tidak sampai terjebak macet."Paman, Rindu lapar." rengek Rindu sembari mengusap perutnya yang keroncongan.Seno melempar senyum kecil mendengar rengekan gadis di sampingnya."Ya sudah, kalau begitu nanti kita berhenti di warung pecel yang ada di depan gang, ya." balas Seno menyebutkan warung pecel langganannya yang tempatnya berada di depan gang masuk desa mereka. Jaraknya tidak terlalu jauh dari posisi mereka sekarang. Rindu mengangguk setuju dan kembali menyamankan duduknya. Sedari tadi gadis itu tak memejamkan matanya sama sekali. Dia benar-benar menemani Seno berkendara sampai tujuan.Beberapa menit kemudian, Seno menghentikan kendaraannya di depan warung pecel sederhana yang tak begitu ramai. Keduanya lantas segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam warung milik wanita tua yang menjadi langganan Seno karena mas
"Kenapa tidak tidur lagi, hm?" tanya Seno lembut ketika melihat Rindu masih terjaga.Gadis itu menggeleng kecil sembari menyamankan punggungnya. Melirik Seno dengan tatapan teduh."Rindu sudah tidak mengantuk lagi, Paman." jawab Rindu.Sebenarnya kepalanya masih terasa berat karena kurang tidur. Rasa lelahnya juga masih belum hilang karena permainan panas mereka beberapa jam lalu. Tapi dia tidak ingin membiarkan Seno berkendara sendirian jika dirinya tertidur."Kamu pasti masih lelah, Sayang. Tidak apa jika kamu ingin tidur lagi. Paman akan mengemudi dengan hati-hati." ujar Seno yang seakan tahu apa yang tengah Rindu khawatirkan.Rindu mencebik karena Seno terlalu baik pada dirinya. Tapi bohong jika dia tidak merasa senang dengan perhatian yang pria itu berikan."Rindu tidak apa-apa, Paman Sayang. Rindu ingin menemani Paman. Sudah, lebih baik Paman fokus saja mengemudi." timpal Rindu menyudahi percakapan mereka.Seno mengangguk sembari tersenyum kecil. Netra jelaganya fokus pada jalan
PrangBunyi gelas pecah yang sengaja dilempar terdengar begitu nyaring memenuhi sebuah rumah yang terlihat sepi dan sunyi. Seorang wanita dewasa tampak terduduk di depan meja makan dengan dada naik turun menahan letupan emosi yang memenuhi hatinya saat ini."Kenapa kamu bersikap seenaknya seperti ini padaku, Seno." seru Hanum meluapkan kekesalannya. Netranya memicing menatap pecahan gelas kaca yang baru saja dia lempar ke lantai.Hanum merasa begitu frustasi karena sampai detik ini dia sama sekali tidak mendapat kabar dimana keberadaan Seno, suaminya. Pria itu juga tidak memberinya kabar apapun. Sudah ratusan kali Hanum mencoba menghubungi nomor pria itu, namun panggilannya selalu tidak tersambung. Bisa kalian bayangkan bagaimana kalutnya Hanum selama beberapa hari ini karena Seno.Setiap hari Hanum selalu datang ke bengkel Seno, berharap dapat melihat suaminya. Tapi sampai detik ini dia tidak kunjung menemukan batang hidungnya. Hanum juga mendesak Surya untuk mengatakan dimana kebera
Seno membawa Rindu menuju kamar gadis itu yang terletak di lantai dua. Sesekali keduanya terlibat aksi saling cium dengan begitu liar. Baik Rindu maupun Seno tak ingin mengalah satu sama lain. Membuat suasana di antara mereka semakin memanas. Pelukan Rindu di leher kokoh Seno terlepas kala pria itu membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Netra mereka saling bertemu dengan gairah yang sama-sama menggebu. Wajah Seno menunduk, menempelkan keningnya dengan kening Rindu. Lalu bibirnya bergerak menyesap bibir bawah gadis itu dengan lembut. Dan Rindu dengan senang hati menyambut ciuman tersebut. Tangan Seno dengan terampil melepaskan pakaian yang melekat di tubuh Rindu. Menyisakan gadis itu dalam keadaan yang benar-benar polos. Rindu yang tidak ingin kalah, lantas ikut membantu Seno melepaskan pakaiannya. Membuat keadaan pria itu kini sama dengan dirinya. Seno menyeringai lebar memindai tubuh Rindu dari puncak kepala hingga ujung kaki dengan tatapan penuh minat. Visualnya masih sama sepe
Rindu tidak dapat menahan senyum leganya setelah pulang dari rumah Rudi. Tadinya dia merasa takut dan ragu untuk mengatakan semuanya pada sahabat ayahnya itu. Tapi setelah Seno memberikan dukungan dan nasihat, Rindu akhirnya memberanikan diri untuk datang ke rumah Rudi. "Kamu terlihat bahagia sekali." celetuk Seno yang tengah menyeduh kopi untuk dia minum. Saat ini mereka tengah berada di dapur setelah pulang dari rumah Rudi. Sebelumnya Rindu sudah menawarkan diri untuk membuatkannya, tapi Seno menolak karena tidak ingin Rindu merasa kelelahan. Benar-benar protektif sekali paman satu ini. Atensi Rindu beralih menatap Seno yang berdiri di sebrang meja. Gadis itu menatap kekasih tuanya sembari mengulas senyum lebar. "Tentu saja, Paman. Rindu merasa lega karena sudah jujur pada Om Rudi. Apalagi beliau juga memberikan restu pada kita." tutur Rindu kembali tersenyum. Mengingat pertemuan mereka dengan Rudi beberapa waktu lalu. Seno menimpalinya dengan sebuah anggukan. Pria itu lalu mem
"Paman yakin kita langsung masuk saja?" tanya Rindu menatap ragu pada pintu rumah yang terbuka lebar di depannya saat ini. Seno mengangguk dengan mantap. Tidak ada keraguan di sorot matanya saat ini. Tekadnya sudah benar-benar bulat. Rindu menghela napas pelan sebelum masuk ke dalam rumah yang dua hari lalu dia singgahi. Tentunya bersama Seno yang mengekor di belakangnya. "Sore, Om Rudi." sapa Rindu ketika melihat kedatangan Rudi. Rudi mengangguk singkat tanpa suara, dahinya mengernyit ketika mendapati sosok yang tidak asing datang ke rumahnya bersama Rindu. "Kamu datang bersama Seno, Nak?" tanya Rudi heran. Rindu mengangguk kecil dengan senyum tipis. Gadis itu berusaha untuk tidak memperlihatkan raut gelisah di depan Rudi saat ini. "Ada yang ingin Rindu ceritakan pada Om Rudi." kata Rindu mencoba untuk bersikap tenang. Tak ada lagi balasan yang Rudi berikan selain mengangguk. Memberikan waktu Rindu untuk bercerita padanya. Rindu menatap ke arah Seno sebentar, sebelum memulai
Pagi sekali Rindu sudah bangun dari tidurnya. Tak seperti biasanya yang dia akan dengan sengaja bangun siang, hari ini dia tampak sudah segar dengan wajahnya yang sedikit basah setelah mandi.Dengan kaos pendek berwarna sage dipadukan dengan rok mengembang sebatas lutut, Rindu keluar dari kamarnya.
Demi melancarkan aksi balas dendamnya, Rindu rela mengubur kekesalannya pada Seno. Setelah merenung di dalam kamarnya selama hampir satu jam, gadis itu akhirnya keluar dari kamarnya. Tujuannya saat ini adalah dapur. Dia ingin menarik perhatian Seno dengan membuatkannya secangkir kopi.Dengan raut w
Rindu terbahak-bahak setelah keluar dari ruangan pamannya, Seno. Gadis itu masih ingat bagaimana raut syok Seno setelah dia sempat mencium pipinya. Jujur saja Rindu merasa terhibur dengan segala reaksi yang pamannya itu berikan.Bersenandung kecil sembari memainkan kunci motor yang ada di tangannya
Seno dengan reflek menjatuhkan Rindu yang sejak tadi duduk di atas pangkuannya. Membuat gadis itu memekik dan mengaduh kesakitan karena bongkahan padatnya menghantam lantai dengan cukup keras."Aduhh.. Paman.." ringis Rindu.Seno yang tersadar sontak membantu Rindu untuk bangun. Lalu mendudukkan ga







