MasukYamazaki duduk meneguk bir di tangan, dua hari setelah bertemu Asuki dan mengetahui hubungannya dengan Kento menyisakan penderitaan yang mendalam di hati Yamazaki.Pria berambut lurus dengan warna mentereng itu menangis sedih menikmati dingin malam kota Tokyo. Yamazaki belum kembali ke desa Shirakawago, dia masih butuh waktu memulihkan perasaannya. Mirae berulang kali menghubungi ponsel Yamazaki namun Yamazaki tidak berani mengangkatnya. Mirae tidak tahu Yamazaki ada di Tokyo, Yamazaki hanya mengatakan dia akan izin sehari tempo hari. Sampai saat ini ibu Asuki itu masih belum tahu kondisi Asuki yang terluka.Yamazaki mengusap pipi berulang kali, air mata terus jatuh meninggalkan bengkak dan lingkaran merah di mata monolidnya. Patah hati dan putus cinta ternyata sangat tidak enak, Yamazaki menangisi kekalahannya. “Yamazaki….” Miyano terkejut mendapati sahabatnya dan Asuki duduk tersungkur sendirian di lantai. Miyano sempat curiga melihat sosok pria yang tampak berantakan dengan bau
“Asuki….” Suara panggilan lembut membangunkan Asuki yang sedang tidur. Asuki membuka mata perlahan, merapatkan telinga mendengar suara yang terus memanggilnya. “Otousan (ayah)?” lirih Asuki menumbuk sosok yang tersenyum menatapnya. “Sudah waktunya bangun Asuki…,” ucap Shibasaki.Asuki terkejut dan langsung beranjak memeluk ayahnya. “Otousan…?” Shibasaki tersenyum membalas pelukan Asuki. “Ada apa Asuki? Kamu bermimpi buruk lagi?” tanyanya lembut. Asuki menggeleng, memeluk Shibasaki kuat. “Aku merindukanmu,” lirihnya sedih. Pelukan yang sudah sangat lama tidak pernah dirasakan Asuki merasuknya. Shibasaki mengusap punggung Asuki hangat. “Ya, aku disini sayang.” “Otousan kemana saja? Kenapa tidak pernah datang menemuiku? Aku sangat merindukanmu Otousan….” Asuki mulai menangis menumpahkan kerinduan yang terlalu lama ditanggungnya. Sapuan Shibasaki terasa kuat dan nyaman, dekapan pelindung terbesar di hidup Asuki begitu menenangkan. Asuki menangis pilu. “Jangan menangis Asuki, aku
Pagi kemarin saat Kento tiba di kantor polisi, Kento tidak sengaja bertemu dengan Kaori. Mereka berpapasan tepat di pintu masuk. Kento tidak tahu kenapa jadwal mereka bisa bertepatan begini, Kaori ikut dimintai keterangan oleh polisi. Melihat Kento, Kaori menyapa lebih dulu antusias. “Selamat pagi Kento.” Kento hanya mengangguk dan masuk lebih dulu, rasa malas dengan cepat menerpa Kento. Kaori tersenyum masam, Kento sepertinya masih menjaga jarak dengannya. Di dalam kantor polisi Kento dan Kaori dibawa ke ruangan yang berbeda. Mereka ditanyai sebanyak 12 pertanyaan dan menghabiskan waktu selama satu jam lebih. Kento dan Kaori keluar bersamaan dari ruangan. “Terima kasih atas kerjasamanya,” ujar petugas polisi membungkuk mengantar Kento dan Kaori pergi. Kento berjalan cepat sebelum Kaori menghampirinya lagi namun Kaori tidak membiarkan Kento menjauh, setengah berlari Kaori mengejar Kento. “Kento,” panggil Kaori. Kento berpura-pura tidak dengar, dia terus melangkah lebar di depan
Malam ini Asuki dibawa Kento ke kediaman pribadinya yang terletak di Kota Hakone Prefektur Kanagawa. Berjarak 1.5 jam dari Kota Tokyo, Kota Hakone terkenal dengan pemandangan Gunung Fuji yang menakjubkan, Danau Ashi serta Lembah Owakudani. Kota Hokane juga dikenal memiliki banyak resort yang di dalamnya terdapat tempat pemandian air panas atau Onsen. Kediaman pribadi Kento sendiri berada tepat di samping resort onsen yang juga termasuk dalam properti miliknya. “Asuki….” Kento membangunkan kekasihnya begitu mobil berhenti di depan kediaman. Asuki melenguh, membuka mata pelan. “Kita sudah sampai?” tanyanya serak. “Iya. Ayo turun.” Kento keluar lebih dulu memutari mobil dan membuka pintu untuk Asuki. Tangannya membantu Asuki memudahkan Asuki keluar dari mobil. Asuki mengamati sekitar sadar mereka tidak di basement apartemen. “Ini dimana?” “Kita ada di Kota Hokane. Aku membawamu ke kediaman pribadiku,” tukas Kento. “Kediaman pribadi?” Kento mengangguk. “Iya, ini hanya salah satu
Diluar ruang perawatan tepatnya di depan pintu Miyano berdiri mendengarkan pembicaraan dua sahabat yang saling melepas rindu. Miyano sebenarnya datang bersama Yamazaki, namun saat akan naik ke lantai vvip tempat Asuki dirawat, Miyano mendapatkan telepon dari pemimpin redaksinya. Miyano terpaksa meminta Yamazaki naik duluan meninggalkannya. Rasa bahagia memenuhi hati Miyano setelah memastikan Asuki dan Yamazaki sudah berbaikan, dia tahu mereka tidak saling berbicara berbulan-bulan lamanya. Yamazaki beberapa kali menghubungi Miyano menanyakan kabar Asuki, tapi Miyano tidak tahu alasannya kenapa dua orang sahabat sejak kecil itu bertengkar. Yamazaki tidak berkata apa-apa mengenai permasalahan mereka. Hari ini Miyano baru tahu kalau ternyata Asuki dan Yamazaki berselisih karena pernyataan cinta Yamazaki ditolak oleh Asuki. Mengetahuinya, ada bagian kecil dari diri Miyano berdenyut sakit. Yamazaki mencintai Asuki. Sesak dengan cepat menjalar dalam dada Miyano. Apalagi mendengar Yamaza
Empat hari dirawat dirumah sakit, Asuki sudah dibolehkan pulang oleh dokter. Sore ini Asuki menunggu Kento yang katanya akan pulang bersamanya. Aktor dan model itu pamit ke kantor polisi untuk diambil keterangan sebagai saksi karena kebakaran waktu lalu. Tangan Asuki masih dipasangi gips, luka di dahinya pun mulai mengering. Meski masih memakai perban tapi Asuki sudah bisa beraktivitas dan bangun dari ranjang dengan baik. Sembari menunggu Kento kembali sekretaris Hikari datang menemani Asuki. “Halo Nona Asuki,” sapa Hikari. Hikari menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat demi bisa menemui Asuki. Terakhir dia hanya kesana saat Asuki masih dirawat di ruang ICU. Asuki tersenyum bahagia begitu melihat sekretaris Hikari. “Bagaimana keadaanmu Nona Asuki? Gomen (maaf) aku baru bisa menjengukmu lagi sekarang,” sambung Hikari duduk bersama Asuki di sofa. “Tidak apa-apa, aku tahu kamu sangat sibuk Sekretaris Hikari. Aku senang kamu disini,” tulus Asuki. Dua wanita bak kakak adik itu berbinc







