FAZER LOGINSyuting hari pertama setelah peristiwa kebakaran waktu lalu dimulai. Jadwal tayang yang harusnya diadakan akhir bulan ini terpaksa diundur, tim produksi mengambil keputusan untuk mengganti lokasi syuting lanjutan mereka. Kento datang bersama Asuki lebih awal demi bisa beradaptasi dengan lokasi syuting yang baru. Ruang-ruang set dan properti kebutuhan syuting tertata rapi di sana. Kento dibawa tim kru ke ruang ganti dan istirahatnya. “Silahkan Tuan Kento….” Tim kru wanita membuka pintu. Kento masuk diikuti Asuki. Di dalam ruangan berpendingin udara dengan warna putih yang mendominasi terlihat lebih luas dari ruang istirahat Kento sebelumnya. Tim menyediakan ranjang kecil di dekat pintu menuju kamar mandi juga sofa panjang berwarna abu yang turut disediakan oleh mereka. Tim kru wanita yang membawa mereka pun pamit setelah Asuki membungkuk berterima kasih. Kento duduk di sofa, merebahkan diri sebentar sebelum di make up. “Ada yang ingin kamu makan?” tanya Asuki. Kento menggeleng,
Hari-hari Sebelumnya…“Kamu tidak pulang?” Miyano terkejut mendapati Yamazaki masih ada di apartemennya. Pria itu tampak berantakan dengan mata bengkak. Yamazaki hanya menjawab dengan gelengan kepala lemah. Miyano berdecak melepas mantel dan tas. Seperginya Miyano tadi pagi meninggalkan Yamazaki seorang diri di apartemen malah membuat Yamazaki kembali meratapi kesedihannya kehilangan Asuki. Miyano tidak menyangka kepahitan Yamazaki sampai begini. “Kamu sudah makan?” Yamazaki menggeleng lagi. Miyano membuka kulkas mendapati isi dalamnya kosong, dia belum sempat belanja bulanan akhir ini. “Bangunlah, kita akan pergi makan diluar,” perintah Miyano. “Aku tidak mau, kamu tidak lihat keadaanku?!” tunjuk Yamazaki pada dirinya. “Kenapa, apa orang patah hati tidak boleh makan!?” sindir Miyano. “Ck, bukan begitu. Aku malas keluar, aku tidak mau orang yang melihatku justru mengira kamu telah menindasku. Aku sedang tidak ingin bertemu orang banyak!” tukas Yamazaki beralasan. Miyano mendeng
“Apa yang kamu ingin bicarakan dengan Asuki?” selidik Kento. Mereka beriringan masuk ke dalam apartemen. Direktur Omega duduk di sofa menyilangkan kaki santai. “Ada yang penting, kamu bisa istirahat dulu sebentar,” sahut direktur Omega. Kento memicing, “Apa yang penting sampai aku tidak bisa tahu!?” “Kamu tidak perlu tahu karena ini bukanlah ranahmu! Aku bicara sebagai direktur agensi pada asisten yang aku gaji untukmu!” sarkas direktur Omega. Wajah Kento semakin menunjukkan aura tidak suka, melihat direktur Omega tiba-tiba datang ke apartemennya saja sudah membuat Kento kesal ditambah harus menghadapi sikap sok berwenangnya. Kento mengepal menahan emosi. “Tuan Kento, aku akan bicara sebentar dengan direktur Omega. Bagaimana kalau Tuan Kento mandi dulu dan aku akan menyiapkan makan malam juga untukmu dan direktur Omega?” tukas Asuki menengahi. Ditatapnya Kento penuh harap, meminta agar pria itu berhenti mengadu mulut dengan pemimpin Starlight, Co. Asuki tidak mau mereka berteng
“Okaasan (ibu)....” Asuki mendekap erat Mirae sebelum pergi. Hari ini Asuki dan Kento akan kembali ke Tokyo. Asuki mendatangi kedai mereka peninggalan Shibasaki. “Asuki Sayang, jaga dirimu di sana. Jangan sering terlambat makan. Aku akan mengirimmu makanan juga untuk nak Kento!” tukas Mirae mengingatkan.Sapuan lembut Mirae dipunggung melepas pelukan erat Asuki. Wajah yang kini dipenuhi keriput menatap Asuki penuh cinta. Asuki mengangguk dengan hati sendu, meninggalkan Mirae sendirian di desa memang bukanlah pilihannya. Tapi demi keinginan masa muda, Asuki rela mengambil langkah ini. Apalagi kini ada orang yang Asuki cinta, Asuki makin ingin bekerja mencari pengalaman sekaligus menempa asmara bersama Kento. Asuki tidak mau menyesal di kemudian hari jika tidak mengikuti kata hati. “Nak Kento, aku titip Asuki padamu,” sambung Mirae melirik calon menantunya.“Pasti Obasan (tante), aku akan selalu menjaga dan melindungi Asuki. Obasan tidak perlu khawatir,” sahut Kento meyakini. Mira
“Aku tidak ingin tidur sendiri Sayang,” keluh Kento. Asuki menyiapkan rumah sebelah tempat Kento menginap sebelumnya. Malam ini Kento akan tidur di sana sementara Asuki akan menginap bersama ibunya.Kento merangkul lengan Asuki, menggesek-gesekkan kepalanya manja. Ini pertama kali Kento akan tidur sendiri semenjak resmi menjadi kekasih Asuki. “Bagaimana kalau aku pindah ke sana pada tengah malam? Okaasan pasti tidak akan tahu,” usul Kento. Asuki mencebik, “Kamu pikir okaasan tidak akan curiga jika tidak melihatku saat pagi? Aku akan tidur bersamanya Sayang….” Kento cemberut, dia lupa Asuki akan menghabiskan malam panjang dengan Mirae. Keduanya memang sudah lama tidak bertemu, Asuki ingin menggunakan kesempatan ini bermanja-manja dengan ibunya sampai puas. Asuki rindu tidur disamping Mirae, mendengar cerita Mirae dan merasakan sapuan lembut tangan Mirae di punggungnya sampai tertidur. Kento tidak bisa berbuat banyak. “Huh … aku pasti tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini,” kel
“Kita mau ke mana?” Kento duduk di kursi kemudi mengendarai mobil bersama Asuki. Hampir empat jam mereka melakukan perjalanan dari kediaman Kento di Kota Hakone, tapi mereka belum juga sampai di tujuan. Asuki tidak tahu Kento akan membawanya ke mana. “Sebentar lagi Sayang, tidurlah dulu. Aku akan membangunkanmu begitu kita tiba,” sahut Kento lembut. Perjalanan panjang yang menghabiskan waktu berjam-jam lamanya disambut Asuki penuh pertanyaan. Semalam Kento tidak berkata apa-apa tentang perjalanan mereka hari ini. Kento sengaja ingin memberi Asuki kejutan. Asuki memejamkan mata tidak lama kemudian, Kento tancap gas menuju desa kediaman ibu calon mertuanya. “Sayang,” panggil Kento membangunkan Asuki. Asuki melenguh, membuka mata pelan. Matanya memicing menghalau cahaya matahari sore yang masuk. “Kita sudah sampai,” sambung Kento. Asuki mengangguk mengamati sekitar, dari dalam mobil Asuki mulai mengenali di mana mereka sekarang. “Ini—” “Kita di rumahmu Sayang,” potong Kento cepa
“Cu–cukup…,” desah Asuki. Kento masih bermain-main di bawah sana, bibir dan lidahnya memaksa masuk diantara lubang kecil, sempit Asuki. Rasa manis bercampur saliva yang disesap Kento meninggalkan candu yang menggetarkan mulut Kento. Sensasi itu membuat celana Kento sesak. Kento membuka kaki Asuk
Makan malam romantis sengaja diatur Kento diluar kediamannya. Lampu-lampu panjang ditarik memenuhi halaman dengan bunga mawar kuning diletakkan diatas meja. Kento mengajak Asuki keluar setelah memastikan semuanya selesai. Makan malam perdana mereka sebagai sepasang kekasih ingin Kento berikan deng
“Asuki, hati-hati!” Kento berteriak panik memanggil wanitanya. Asuki berjengkit mundur mendengar teriakan Kento. Pijakannya goyah dan tersungkur di tanah, Kento bergerak cepat menarik Asuki. “Kamu baik-baik saja?” cemas Kento. Tangannya membolak balikkan tubuh Asuki memeriksa Asuki cermat. “Aku
Yamazaki duduk meneguk bir di tangan, dua hari setelah bertemu Asuki dan mengetahui hubungannya dengan Kento menyisakan penderitaan yang mendalam di hati Yamazaki.Pria berambut lurus dengan warna mentereng itu menangis sedih menikmati dingin malam kota Tokyo. Yamazaki belum kembali ke desa Shiraka







