Share

Bab 44

last update publish date: 2026-07-15 01:44:04

Waktu merambat hingga jarum jam menunjuk tepat pukul satu pagi.

Di dalam ruang kerja pribadinya, Johan masih duduk tegak di balik meja jati besarnya.

Pria itu menempelkan ponsel pintarnya di telinga kiri, sementara tangan kanannya memegang sebuah gelas kristal berisi whiskey amber yang berkilau di bawah lampu meja.

Dia sedang tersambung dalam panggilan suara rahasia dengan Juan, asisten pribadi sekaligus tangan kanannya yang paling tepercaya.

"Laporkan apa yang sudah kamu dapatkan tentang pria
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 179

    Malam hari menyelimuti kediaman utama Banten dengan kehangatan yang amat menenangkan.Suasana tenang dan damai melingkupi ruang keluarga utama yang berhiaskan pendar lampu kuning keemasan.Usai menikmati santap malam bernutrisi tinggi yang disiapkan khusus sesuai panduan jurnal kehamilan, Johan dan Nadya memilih melepas lelah di atas sofa beludru bernuansa abu-abu gelap yang empuk.Sebuah televisi layar lebar menyala pelan menyajikan alunan musik instrumental, namun perhatian Johan sepenuhnya tercurah pada sosok wanita muda yang kini berada dalam pelukannya.Pria tegap itu mendudukkan Nadya di pangkuan hangatnya, melingkarkan kedua lengan kokohnya di sekeliling tubuh mungil Nadya seraya menyandarkan dagunya di bahu halus sang istri.Lengan tegapnya yang riap tak pernah absen mengusap lembut perut rata Nadya.Johan mengembuskan napas panjang, merapikan helai rambut halus Nadya yang terurai.Ada sebuah kejujuran yang harus ia sampaikan.Pria kaku itu telah berjanji pada dirinya sendiri

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 178

    Ruang rapat privat di lantai khusus itu terasa begitu hening, dingin, dan mencekam.Dinding-dinding kaca tebal bernuansa kedap suara mengisolasi ruangan megah tersebut dari riuk pikuk aktivitas kantor pusat.Di ujung meja rapat berbahan kayu mahoni yang mengilap, Johan duduk tenang dengan posisi tubuh tegap.Pria itu menyilangkan kakinya yang jenjang, menopang dagunya dengan satu tangan seraya menatap lurus melintasi udara.Raut wajah Johan teramat kaku dan dingin, bagaikan pahatan batu pualam yang tak memiliki celah emosi.Pendar mata kelamnya memancarkan aura dominasi mutlak, sebuah intimidasi alami dari penguasa kerajaan bisnis raksasa yang tidak menyisakan sedikit pun rasa kasihan atau nostalgia masa lalu pada wanita di hadapannya.Lyra, yang duduk beberapa meter di seberang meja, meremas jemarinya yang gemetaran hebat.Atmosfer dingin di ruangan itu seolah mencekik lehernya, membuatnya makin merasa kerdil dan tak berdaya."Kamu punya waktu kurang dari tiga menit, Lyra," ucap Joha

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 177

    Siang hari yang terik memantul anggun pada dinding-dinding kaca pencakar langit di kawasan bisnis tersibuk ibu kota.Di jantung megapolitan tersebut, berdiri kokoh gedung markas besar perusahaan raksasa milik Johan, sebuah simbol kekuasaan, pengaruh, dan kemewahan yang tak tergoyahkan.Di balik pintu kaca berputar lobi utama, lalu lalang para eksekutif berjas rapi menciptakan ritme kerja yang serba cepat dan disiplin tinggi.Namun, ketenangan lobi bernuansa marmer hitam tersebut mendadak terusik oleh hadirnya sosok wanita yang tampak memaksakan diri untuk tampil sempurna.Lyra melangkah melintasi pintu utama dengan balutan gaun formal.Meski riasan wajahnya dipoles semenarik mungkin demi menutupi keletihan dan wajah pucatnya, gurat kecemasan serta kerapuhan mental yang dalam tak bisa disembunyikan dari manik matanya yang liar.Dengan dagu terangkat memaksakan sisa-sisa gengsinya, Lyra berjalan lurus menghampiri meja resepsionis utama."Saya ingin bertemu dengan Johan sekarang juga," u

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 176

    Aroma pengharum ruangan beraroma vanilla musk menguar lembut di dalam ruang tamu sebuah apartemen mewah di kawasan Jakarta Selatan.Namun, kemewahan ruangan berlantai marmer itu sama sekali tak mampu meredam atmosfer kelam yang dibawa oleh Lyra.Dengan gaun yang tak lagi rapi, riasan wajah yang luntur akibat lelehan air mata, serta mata sembap yang memerah, Lyra terduduk lemas di atas sofa beludru milik Sandra, sahabat lamanya dari lingkaran sosialita ibu kota.Di hadapan Sandra, Lyra menceritakan seluruh tragedi pahit yang baru saja menimpanya di kafe Senopati, tentang kebohongan Kevin, keberadaan istri sah pria itu, hingga lenyapnya seluruh tabungan dan uang pesangon miliaran rupiah yang kini menguap tak bersisa."Semua uangku habis, San. Habis tak berbekas!" raung Lyra dengan suara parau yang bergetar hebat, menangkup wajahnya dengan kedua tangan yang gemetaran."Kevin itu iblis! Dia penipu! Dia merampas seluruh harta simpananku dan membual soal proyek fiktif itu!"Sandra yang dudu

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 175

    Suasana yang semula tenang seketika pecah ketika langkah kaki yang tak beraturan berpacu dengan suara jeritan histeris seorang wanita yang kehilangan seluruh akal sehatnya."Kevin! Jangan lari kamu, Kevin!" jerit Lyra dengan suara parau nan melengking.Dengan napas tersengal dan gaun mewahnya yang kini tampak tak rapi lagi, Lyra berlari mengejar Kevin yang tengah melangkah santai menuju mobil sedan mewah miliknya bersama sang istri sah.Sebelum pintu mobil Porsche hitam itu sempat dibuka, Lyra menyambar cengkeraman tangannya pada lengan kemeja Kevin secara paksa."Lepaskan!" cengkeram Lyra histeris, menyentak lengan pria itu hingga langkah Kevin terhenti.Kevin memutar tubuhnya perlahan. Wajah tampannya tak lagi menampilkan keramahan, melainkan kilatan kekesalan yang amat dingin.Istri sah Kevin yang berdiri di sampingnya hanya melipat tangan di dada, menyunggingkan senyum sinis yang sarat akan rasa jijik."Mau apa lagi kamu, Lyra?" bentak Kevin dengan nada suara yang teramat ketus."

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 174

    Pagi itu, Lyra melangkah melintasi pintu kaca kafe dengan penuh rasa percaya diri.Tampilannya teramat modis; mengenakan gaun terusan rancangan desainer ternama, kacamata hitam berbingkai tebal, serta tas kulit bermerek yang mencolok di lengannya.Ia berniat menemui seorang relasi bisnis demi membahas kelanjutan investasi yang selama ini ia banggakan.Namun, saat langkah kakinya berbelok menuju area outdoor yang asri dan agak tersembunyi, indra penglihatannya mendadak menangkap sebuah pemandangan yang menghentikan detak jantungnya seketika.Hanya berjarak beberapa meter dari tempatnya berdiri, di sebuah meja bundar berbahan marmer, duduk seorang pria tegap berjas kasual yang teramat dikenalnya: Kevin.Pria yang selama ini mengaku sebagai kekasih setia yang tengah memperjuangkan masa depan bersamanya.Akan tetapi, Kevin sama sekali tidak sendiri. Pria itu tengah merangkul mesra bahu seorang wanita muda yang berpakaian tak kalah mewah.Tangan Kevin mengusap lengan wanita itu dengan begi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status