Beranda / Romansa / Pesona Perawat Papa / Dipanggil Pak Harun

Share

Dipanggil Pak Harun

last update Tanggal publikasi: 2025-10-28 21:32:42

Ceklek.

Pintu terbuka. Laras berdiri di sana dengan tatapan yang kurang bersahabat. Sepertinya ia melihat Santi sebagai saingan, terlebih menyadari proporsi tubuh Santi yang tak kalah menarik darinya.

"Lo dipanggil ke ruangan Pak Harun," ucap Laras ketus.

"Ke ruangannya? Ada apa ya, Ras?" Santi bingung. Ia merasa tidak melakukan kesalahan apa pun, dan soal insiden pagi tadi, ia sudah berusaha melupakannya.

"Gue enggak tahu. Lo cuma dipanggil!" jawab Laras makin jutek sambil melipat kedua tangannya di dada.

"Uhm, oke." Santi hendak melewati Laras, namun langkahnya terhenti.

"Eh, awas aja lo ngomong macam-macam soal yang lo lihat tadi pagi," ancam Laras sambil mencengkeram lengan Santi.

"Iya, Ras, gue enggak akan banyak omong, kok. Lagian itu bukan urusan gue. Masing-masing saja," jawab Santi yang memang tidak mau ambil pusing.

"Ya sudah, sana. Nanti gue backup kasir lo sebentar," ucap Laras kemudian.

"Oke, thanks ya, Ras." Santi berjalan melewati Laras menuju ruangan manajer.

Di belakangnya, Laras tersenyum masam. Ia tidak suka jika hubungan gelapnya dengan Pak Harun diketahui orang lain. Laras selalu mencuri-curi waktu di pagi hari sebelum toko ramai untuk menyalurkan hasratnya, namun hari ini kedatangan Santi mengganggu kesenangan mereka.

Tok... Tok... Tok...

Santi mengetuk pelan pintu ruangan Pak Harun. Baru saja ia hendak memegang gagang pintu, Pak Harun sudah lebih dulu membukanya dari dalam.

"Masuk, San," ucapnya ramah, lalu tangannya dengan cepat mengunci pintu kembali setelah Santi masuk.

Di dalam ruangan tertutup itu, Pak Harun menatap Santi lekat-lekat. Ia baru menyadari bahwa lekuk tubuh karyawannya ini ternyata tak kalah menggoda dibandingkan Laras. Tubuh Santi yang mungil justru membuat aset kewanitaannya terlihat lebih menonjol di balik seragam kerja yang ketat.

"Duduk sini, San," Pak Harun menepuk sisi sofa kosong di hadapannya.

Mata laki-laki itu tak lepas dari bagian dada Santi. Dua kancing teratas seragam Santi yang sedikit terbuka seolah menjadi undangan yang sulit ditolak.

"San, tadi kamu lihat apa?" tanya Pak Harun. Tangannya terulur, berpura-pura merapikan anak rambut di telinga Santi.

"Umm... sa-saya enggak lihat apa-apa, Pak," jawab Santi gugup.

"Benar kamu enggak lihat apa-apa, San?" Jari-jari Pak Harun turun perlahan dari rambut ke bahu, lalu jempolnya mulai mengusap area di sekitar dada Santi.

"Be-benar... ah... Pak, saya... enggak lihat apa-apa." Suara Santi tercekat. Sentuhan itu membuatnya merinding, seolah ada aliran listrik yang menyengat sarafnya.

Pak Harun menelan ludah. Ia tak menyangka Santi akan memberikan respons desahan secepat itu. Hal ini membuatnya semakin berani menggeser duduknya lebih dekat.

"San, kamu mau coba enggak? Seperti yang kamu lihat tadi pagi," bisik Pak Harun tepat di telinga Santi. Ia tahu gadis itu sedang berbohong dan menyembunyikan rasa penasaran.

"Ah... Bapak bisa saja... enggak usah, Pak." Santi mencoba menolak, namun tubuhnya berkata lain. Ia hanya diam saat jemari Pak Harun mulai bermain di kancing bajunya.

"Kamu tenang saja, saya enggak akan bilang siapa-siapa, asalkan kamu juga tutup mulut," bujuk Pak Harun.

Satu per satu kancing terbuka. Napas Santi tertahan saat merasakan udara dingin AC menyentuh kulit dadanya, disusul sentuhan hangat tangan Pak Harun.

"Indah sekali, San. Apa sudah pernah ada yang menyentuh ini?" tanya Pak Harun parau, matanya menatap kagum pada keindahan di hadapannya yang kini terekspos.

"Be-belum, Pak... saya belum punya pacar," cicit Santi. Tanpa sadar ia merapatkan kedua pahanya, mencoba menahan desiran aneh yang berpusat di area kewanitaannya. Tubuhnya terasa panas, menginginkan sentuhan lebih. Bayangan Riki yang menggodanya pagi tadi kembali berputar di kepalanya, bercampur dengan sentuhan nyata Pak Harun saat ini.

Pak Harun tersenyum penuh kemenangan melihat wajah Santi yang memerah. Ia tahu gadis itu sudah terpancing.

"Wah, kalau begitu saya yang pertama, ya?" Tangan Pak Harun beralih mengusap paha Santi. Rok seragam yang pendek membuat tangannya leluasa menyentuh kulit mulus di sana.

"I-iya, Pak," jawab Santi lemah, pasrah pada sensasi yang memabukkan itu.

"Saya boleh buat kamu senang, kan, San? Kamu pasti bakal ketagihan," bisik Pak Harun.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Irma Ginting
bagus ceritanya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pesona Perawat Papa   Tidak Akan Goyah

    Langkah kaki petugas semakin menjauh.Suara borgol yang beradu perlahan menghilang bersama sosok Arka yang dibawa keluar dari gudang itu.Meski masih terselip kalimat terakhir yang mengerikan dari Arka, Santi tetap harus bangkit. Meski masa lalunya yang terbongkar membuat hatinya tidak karuan.Santi masih berdiri di tempatnya, memeluk Keenan dan Kinara erat. Tapi, tatapannya kosong. Napasnya tidak beraturan.“Sayang … kamu nggak apa-apa ?” suara Bimo pelan, mencoba menyentuh bahunya.Bimo harus menyakinkan diri kalau dia akan tetap ada bagaimanapun kondisinya. Tidak akan mundur karena dia benar-benar ingin semua kembali seperti semula. Pernikahannya tidak berantakan dan dia bisa membawa pulang Santi juga anak-anak ke keluarga besar Abdinegara.“Jangan,” bisik Santi. Bukan menolak. Tapi, dia seperti tenggelam dengan kenyataan beberapa saat lalu, “jangan ganggu aku dulu, bisakah kamu biarkan aku sendiri dulu!” Matanya perlahan terpejam.

  • Pesona Perawat Papa   Luka Lama

    Santi menatapnya dingin, dia benar-benar tidak menyangka sudah seperti ini pun Arka sepertinya tidak sadar. Padahal jika ditelaah, Arka sudah kalah. Baga berdiri tepat di depannya untuk pertama kalinya Arka benar-benar terpojok. Santi memeluk kedua anaknya erat. Bimo berdiri di sampingnya. Di tengah reruntuhan gudang tua itu semua akhirnya berubah. Tapi, satu hal jelas ini belum benar-benar selesai. Sirine semakin dekat. Merobek keheningan yang sejak tadi dipenuhi suara napas berat, tangisan bayi, dan dentuman sisa pertarungan. Arka tidak lagi melawan saat beberapa pria berseragam masuk dan langsung memborgol kedua tangannya. Anehnya, dia tetap tersenyum. Bukan senyum terpaksa ataupun putus asa, tapi senyum kepuasan. Santi yang masih memeluk Keenan dan Kinara merasakan sesuatu yang tidak beres. Hatinya yang sejak tadi kacau, kini justru terasa dingin. “Kenapa kamu senyum?” suaranya lirih. Arka

  • Pesona Perawat Papa   Game Over

    Arka terdiam sesaat. Bukan karena ragu melainkan karena dia menikmati momen itu. Tatapannya turun, menelusuri wajah Santi yang basah oleh air mata, lalu beralih pada dua bayi mungil yang tak mengerti apa-apa di dalam kereta dorong.“Selalu seperti ini …,” gumamnya pelan. “Kamu memang selalu memilih jadi martir.”Santi menggeleng cepat. “Ini bukan soal aku jad soki pahlawan atau apa pun. Ini soal menghentikan semua ini sekarang. Aku nggak mau siapapun terluka, apalagi ini karena diriku.” Arka terkekeh pelan, suara tawanya bergema di dalam gudang yang gelap. “Menghentikan?” Arka mendekat satu langkah, “kamu pikir ini bisa berhenti begitu saja?” suara Arka sedikit bergetar. Entah Santi merasa dia salah menilai atau itu juga perasaan luka yang Arka lukiskan dengan cara membabi buta seperti ini.Di layar, Bimo terpukul mundur. Tubuhnya nyaris jatuh, napasnya sudah tidak beraturan. Di sisi lain, Baga masih berdiri, tapi gerakannya mulai melambat. Jumlah lawan terlalu banyak.“Waktumu ham

  • Pesona Perawat Papa   Kisah Menakutkan

    Kali ini Santi tidak banyak berkomentar. Dia seperti pasrah saat mendengar ucapan dari Bimo. Semua yang dikatakannya memang benar, Baga belum pernah menikah ataupun memiliki anak.Santi merasakan dadanya sesak lagi memikirkan dua nyawa yang sedang terancam. Arka benar-benar kejam. Dia bahkan melakukan segala cara hanya untuk membawa Santi kembali ke sisinya. “Tolong jangan ribut lagi …,” suara Santi bergetar, tangannya juga gemetaran, “aku mohon … aku hanya ingin bertemu dengan anak-anakku,” Santi menatap keduanya.Kejadian ini sudah direncanakan dan Santi benar-benar tidak mengira pikirannya beberapa detik lalu sekarang malah menjadi bumerang yang menyerangnya balik. “Aku akan pergi menemuinya!” Santi sudah ingin meninggalkan mereka.“Tidak,” kata Baga tegas. Dia melarangnya karena merasa ini adalah jebakan yang disiapkan oleh Arka.“Nggak, aku harus segera menemuinya. Dia mau bertemu denganku dan anak-anakku, aku nggak mungkin tega membiarkan anak-anakku terancam,” hatinya semakin

  • Pesona Perawat Papa   Serangan Kata

    “Apa kalian akan terus ribut seperti ini?” Santi menatap mereka satu persatu. Tatapan yang juga penuh dengan kegelisahan.Dia juga tidak bisa mengingkari kalau masih ada perasaan takut dan campur aduk yang tidak bisa dijelaskan.“Apa aku benar-benar bisa mengakhiri semua?” batin Santi sedikit ragu apalagi dia habis merasakan serangan dadakan Arka yang mungkin saja akan menghilangkan nyawanya.“Kami bukan ribut sayang, ini hanya masukan kecil dari kami,” Bimo bukan sedang mencari pembelaan, dia hanya tidak ingin suasana kembali tegang setelah serangan baku senjata barusan. Dia yakin istrinya masih sangat syok.Tekad Bimo mengejar kembali cinta Santi sudah semakin bulat. Dia akan melakukan segala cara untuk memenangkan hati istrinya kembali. Bimo bertekad berkumpul kembali membina hubungannya yang sudah retak.Santi menghela napasnya sejenak, dia memang tidak pernah menyangka Arka akan melakukan penyerangan seperti tadi. Dunia Santi terasa seperti berada dalam sebuah acara realita tele

  • Pesona Perawat Papa   Hantu Gentayangan

    Mobil berhenti di sebuah rumah yang lebih tertutup dari sebelumnya. Rumah aman milik Baga. Begitu masuk, suasana langsung terasa berbeda. Lebih ketat. Lebih dijaga. Santi mengamati sekitar, dia benar-benar tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan seprotektif itu. Baga memang benar-benar memperlakukan seperti barang yang sangat berharga. Bimo hanya bisa mendengus, “Apa-apaan ini? Dia sedang pamer?” hatinya tidak bisa mengumpat hal seperti itu. “Mulai malam ini, kamu nggak akan sendirian ke mana pun,” kata Baga. Santi mengangguk. Dia yakin Baga bisa melindunginya dengan sangat baik. Namun, belum sempat mereka melangkah lebih jauh ponsel Santi bergetar. Nomor tak dikenal masuk lagi. Meski ada sedikit terkejut, tapi Santi menatap layar beberapa detik kemudian mengangkat. “Halo?” tidak ada jawaban dari ujung telepon. Kemudian suara itu muncul, “Aku suka pilihanmu tadi.” Tubuh Santi langsung menegang. Dia tahu suara itu. Dia sudah menghapal nya. Arka, dia benar-benar seperti hantu ge

  • Pesona Perawat Papa   Satu Wanita

    “Apa kamu yakin meninggalkan anak-anak?” Santi menggeleng pelan saat berada di dalam mobil. Dia hanya bisa bersandar di dada Baga. Bukan menyesal, dia lebih ingin segera menyelesaikan masalahnya.“Apa aku perlu mengerahkan anak buahku untuk mengambil kembali anakmu?” Santi tetap menggeleng mendeng

  • Pesona Perawat Papa   Peluru dan Darah

    “Beneran ini Pa? Santi akan menginap malam ini?" Bimo merasa mempunyai kesempatan untuk mendekati istrinya lagi.Kalau dia bisa mendekat, Bimo yakin Santi pasti akan luluh. “Tapi, Santi akan tidur sekamar dengannya. Papa sudah berjanji kamu nggak akan ganggu karena bapak masih ingin bermain bersam

  • Pesona Perawat Papa   Tak Mungkin Diubah

    “Kamu benar-benar tega mengatakan itu padaku, Bim!” seperti kekasih yang sedang ngambek, Danira tidak menyetujui ucapan Bimo. “Hey … sadar dirilah. Aku benar-benar nggak pernah maksa kamu. Apa yang kamu lakukan karena kamu juga mau dan aku sendiri itu memang karena kebutuhan. Jadi, nggak perlu mer

  • Pesona Perawat Papa   Harus bersih

    “Aku nggak akan pernah melepaskan kamu, Bim. Aku pastikan kamu juga ketagihan dengan milikku dan usahaku ini nggak akan aku biarkan berlalu gitu aja olehmu,” saat bergerak naik turun Danira terus memikirkan hal itu.“Ah ah kamu ini benar-benar perempuan nggak tahu malu!” maki Bimo, tapi tetap meni

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status