Share

Penasaran

last update publish date: 2025-10-28 21:32:11

Pagi itu, sinar matahari yang menerobos masuk ke ventilasi rumah kontrakan tidak mampu mencairkan ketegangan yang dirasakan Santi. Ia sengaja bangun lebih awal, berharap bisa menyelinap ke kamar mandi dan berangkat kerja tanpa harus berpapasan dengan penghuni kamar sebelah.

Santi keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan handuk yang membalut tubuhnya setinggi dada. Uap hangat masih mengepul dari kulitnya yang lembap. Namun, harapannya untuk menghindar pupus seketika.

Riki sudah duduk di ruang tengah, menyesap kopi hitamnya. Laki-laki itu bertelanjang dada, hanya mengenakan celana pendek santai, memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang terbentuk sempurna, sisa-sisa visual yang semalam sempat menghantui imajinasi Santi.

"Pagi, San," sapa Riki. Suaranya serak-serak basah khas orang bangun tidur, namun matanya tajam menatap Santi dari ujung rambut hingga kaki.

"Pagi, Rik," jawab Santi gugup. Ia mengeratkan pegangan pada simpul handuk di dadanya, refleks ingin menutupi diri. "Aku... mau ganti baju dulu."

Santi hendak melangkah cepat, namun suara Riki menghentikannya.

"Buru-buru banget? Mata lo kelihatan lelah tuh, San. Ada kantung matanya," komentar Riki santai, namun ada nada geli dalam suaranya.

Santi terhenti. Tangannya menyentuh bawah matanya dengan cemas. "Oh... iya, semalam agak susah tidur."

Riki meletakkan cangkir kopinya perlahan, lalu berdiri dan melangkah mendekat. Jarak mereka menipis. Aroma kopi dan maskulin menguar dari tubuh Riki, membuat napas Santi tercekat.

"Susah tidur kenapa? Gerah... atau gelisah?" tanya Riki dengan senyum miring yang penuh arti. Matanya menelisik wajah Santi, seolah mencari jejak-jejak dosa semalam. "Coba tadi malam lo terima tawaran gue. Tidur lo pasti nyenyak."

Darah Santi berdesir hebat. Wajahnya memerah padam seketika. Riki benar-benar terang-terangan menggoda Santi, padahal Rina masih ada di rumah ini.

"A-apa sih, Rik," kilah Santi terbata-bata, tak berani menatap mata Riki.

Riki tertawa kecil, tawa yang terdengar nakal di telinga Santi. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit, berbisik pelan, "Benaran. Kalau lo mau bantuan, gue bisa bantu."

Santi merasa lututnya lemas. "Aku duluan, Rik!" Tanpa menunggu jawaban, Santi setengah berlari masuk ke kamarnya dan membanting pintu pelan, lalu menyandarkan punggungnya di sana dengan jantung yang berdegup gila-gilaan.

Rasa malu bercampur debaran aneh itu membuatnya pusing. Riki tahu, dan bukannya marah atau jijik, laki-laki itu justru menikmatinya.

***

Santi tiba di toko kue pukul tujuh pagi dengan pikiran yang masih kacau. Ia sengaja datang jauh lebih awal dari jadwal buka, berharap kesibukan menata etalase kue bisa mengalihkan bayangan tatapan Riki tadi pagi.

Ruang absen karyawan terletak di lorong yang sama dengan ruang manajer. Saat Santi melintas dengan langkah cepat, sudut matanya menangkap sesuatu. Pintu ruangan Pak Harun, manajernya, sedikit terbuka.

Niat hati ingin menyapa sopan, langkah Santi justru terhenti mendadak. Telinganya menangkap suara yang kini mulai terasa akrab, namun kali ini nadanya berbeda.

"Ah... Pak... Bapak hebat banget... sssh..."

Itu suara Laras.

Tubuh Santi menegang. Rasa penasaran yang sama seperti semalam kembali menyergapnya, menepis rasa takutnya. Seperti ditarik magnet, Santi mendekat perlahan ke celah pintu.

Matanya terbelalak.

Di dalam sana, di atas meja kerja yang penuh berkas, Pak Harun dan Laras sedang melakukan hal yang tak sepantasnya dilakukan di tempat kerja. Pakaian mereka berantakan. Kemeja Laras terbuka, dan roknya tersingkap naik.

Pemandangan itu jauh lebih intim dan kotor dibandingkan apa yang ia lihat di kamar Rina yang penuh cinta. Di sini, ada aura kekuasaan, nafsu terlarang, dan adrenalin yang kental.

Tubuh Santi kembali bereaksi di luar kehendaknya. Alih-alih merasa jijik, ada sensasi hangat yang menjalar cepat di perut bawahnya. Menyaksikan adegan terlarang itu, risiko ketahuan, keberanian mereka, memicu adrenalin dan gairah aneh yang terpendam dalam diri Santi. Napasnya mulai memburu, seirama dengan gerakan di dalam ruangan itu.

Namun, kesialan terjadi. Saking fokusnya mengintip, sikut Santi tanpa sengaja menyenggol tempat sampah berbahan seng di dekat pintu.

Brak!

Suara gaduh itu memecah keheningan lorong. Aktivitas di dalam ruangan terhenti seketika. Hening yang mencekam.

Santi panik setengah mati. Wajahnya pucat pasi. Tanpa pikir panjang, ia berbalik dan berlari kencang tanpa suara menuju kamar mandi karyawan di ujung lorong, sebelum Pak Harun atau Laras sempat keluar dan melihat siapa pelakunya.

Santi menerobos masuk ke salah satu bilik kamar mandi, mengunci pintu dengan tangan gemetar, lalu bersandar lemas pada dinding keramik yang dingin. Napasnya tersengal-sengal, dadanya naik turun dengan cepat.

Bayangan Laras dan Pak Harun, dicampur dengan godaan Riki tadi pagi, terus menari-nari di pelupuk matanya.

"Gila... semua orang melakukan itu... di mana-mana..." gumam Santi lirih, meremas rok seragamnya.

Tubuhnya gemetar, bukan hanya karena takut, tapi juga karena gejolak yang tak tertahankan. Sensasi yang belum tuntas semalam, ditambah rangsangan visual yang bertubi-tubi pagi ini, membuat pertahanan diri Santi runtuh total.

Di tengah kesunyian kamar mandi, dengan keringat dingin membasahi pelipis. Ia butuh pelepasan. Ia butuh meredakan ketegangan yang menyiksa saraf-sarafnya.

Santi memejamkan mata, membiarkan imajinasinya liar. Ia membayangkan dirinya berada di posisi Laras, merasakan sensasi mendebarkan melakukan hal terlarang, namun dalam bayangannya, sosok prianya bukanlah Pak Harun, melainkan sosok yang menggoda imajinasinya sejak pagi... Riki.

Tok… tok… tok…

"San, San… Lo di dalam?"

Suara ketukan pintu membuyarkan segalanya. Santi terlonjak kaget. Jantungnya serasa mau copot.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesona Perawat Papa   Tidak Akan Goyah

    Langkah kaki petugas semakin menjauh.Suara borgol yang beradu perlahan menghilang bersama sosok Arka yang dibawa keluar dari gudang itu.Meski masih terselip kalimat terakhir yang mengerikan dari Arka, Santi tetap harus bangkit. Meski masa lalunya yang terbongkar membuat hatinya tidak karuan.Santi masih berdiri di tempatnya, memeluk Keenan dan Kinara erat. Tapi, tatapannya kosong. Napasnya tidak beraturan.“Sayang … kamu nggak apa-apa ?” suara Bimo pelan, mencoba menyentuh bahunya.Bimo harus menyakinkan diri kalau dia akan tetap ada bagaimanapun kondisinya. Tidak akan mundur karena dia benar-benar ingin semua kembali seperti semula. Pernikahannya tidak berantakan dan dia bisa membawa pulang Santi juga anak-anak ke keluarga besar Abdinegara.“Jangan,” bisik Santi. Bukan menolak. Tapi, dia seperti tenggelam dengan kenyataan beberapa saat lalu, “jangan ganggu aku dulu, bisakah kamu biarkan aku sendiri dulu!” Matanya perlahan terpejam.

  • Pesona Perawat Papa   Luka Lama

    Santi menatapnya dingin, dia benar-benar tidak menyangka sudah seperti ini pun Arka sepertinya tidak sadar. Padahal jika ditelaah, Arka sudah kalah. Baga berdiri tepat di depannya untuk pertama kalinya Arka benar-benar terpojok. Santi memeluk kedua anaknya erat. Bimo berdiri di sampingnya. Di tengah reruntuhan gudang tua itu semua akhirnya berubah. Tapi, satu hal jelas ini belum benar-benar selesai. Sirine semakin dekat. Merobek keheningan yang sejak tadi dipenuhi suara napas berat, tangisan bayi, dan dentuman sisa pertarungan. Arka tidak lagi melawan saat beberapa pria berseragam masuk dan langsung memborgol kedua tangannya. Anehnya, dia tetap tersenyum. Bukan senyum terpaksa ataupun putus asa, tapi senyum kepuasan. Santi yang masih memeluk Keenan dan Kinara merasakan sesuatu yang tidak beres. Hatinya yang sejak tadi kacau, kini justru terasa dingin. “Kenapa kamu senyum?” suaranya lirih. Arka

  • Pesona Perawat Papa   Game Over

    Arka terdiam sesaat. Bukan karena ragu melainkan karena dia menikmati momen itu. Tatapannya turun, menelusuri wajah Santi yang basah oleh air mata, lalu beralih pada dua bayi mungil yang tak mengerti apa-apa di dalam kereta dorong.“Selalu seperti ini …,” gumamnya pelan. “Kamu memang selalu memilih jadi martir.”Santi menggeleng cepat. “Ini bukan soal aku jad soki pahlawan atau apa pun. Ini soal menghentikan semua ini sekarang. Aku nggak mau siapapun terluka, apalagi ini karena diriku.” Arka terkekeh pelan, suara tawanya bergema di dalam gudang yang gelap. “Menghentikan?” Arka mendekat satu langkah, “kamu pikir ini bisa berhenti begitu saja?” suara Arka sedikit bergetar. Entah Santi merasa dia salah menilai atau itu juga perasaan luka yang Arka lukiskan dengan cara membabi buta seperti ini.Di layar, Bimo terpukul mundur. Tubuhnya nyaris jatuh, napasnya sudah tidak beraturan. Di sisi lain, Baga masih berdiri, tapi gerakannya mulai melambat. Jumlah lawan terlalu banyak.“Waktumu ham

  • Pesona Perawat Papa   Kisah Menakutkan

    Kali ini Santi tidak banyak berkomentar. Dia seperti pasrah saat mendengar ucapan dari Bimo. Semua yang dikatakannya memang benar, Baga belum pernah menikah ataupun memiliki anak.Santi merasakan dadanya sesak lagi memikirkan dua nyawa yang sedang terancam. Arka benar-benar kejam. Dia bahkan melakukan segala cara hanya untuk membawa Santi kembali ke sisinya. “Tolong jangan ribut lagi …,” suara Santi bergetar, tangannya juga gemetaran, “aku mohon … aku hanya ingin bertemu dengan anak-anakku,” Santi menatap keduanya.Kejadian ini sudah direncanakan dan Santi benar-benar tidak mengira pikirannya beberapa detik lalu sekarang malah menjadi bumerang yang menyerangnya balik. “Aku akan pergi menemuinya!” Santi sudah ingin meninggalkan mereka.“Tidak,” kata Baga tegas. Dia melarangnya karena merasa ini adalah jebakan yang disiapkan oleh Arka.“Nggak, aku harus segera menemuinya. Dia mau bertemu denganku dan anak-anakku, aku nggak mungkin tega membiarkan anak-anakku terancam,” hatinya semakin

  • Pesona Perawat Papa   Serangan Kata

    “Apa kalian akan terus ribut seperti ini?” Santi menatap mereka satu persatu. Tatapan yang juga penuh dengan kegelisahan.Dia juga tidak bisa mengingkari kalau masih ada perasaan takut dan campur aduk yang tidak bisa dijelaskan.“Apa aku benar-benar bisa mengakhiri semua?” batin Santi sedikit ragu apalagi dia habis merasakan serangan dadakan Arka yang mungkin saja akan menghilangkan nyawanya.“Kami bukan ribut sayang, ini hanya masukan kecil dari kami,” Bimo bukan sedang mencari pembelaan, dia hanya tidak ingin suasana kembali tegang setelah serangan baku senjata barusan. Dia yakin istrinya masih sangat syok.Tekad Bimo mengejar kembali cinta Santi sudah semakin bulat. Dia akan melakukan segala cara untuk memenangkan hati istrinya kembali. Bimo bertekad berkumpul kembali membina hubungannya yang sudah retak.Santi menghela napasnya sejenak, dia memang tidak pernah menyangka Arka akan melakukan penyerangan seperti tadi. Dunia Santi terasa seperti berada dalam sebuah acara realita tele

  • Pesona Perawat Papa   Hantu Gentayangan

    Mobil berhenti di sebuah rumah yang lebih tertutup dari sebelumnya. Rumah aman milik Baga. Begitu masuk, suasana langsung terasa berbeda. Lebih ketat. Lebih dijaga. Santi mengamati sekitar, dia benar-benar tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan seprotektif itu. Baga memang benar-benar memperlakukan seperti barang yang sangat berharga. Bimo hanya bisa mendengus, “Apa-apaan ini? Dia sedang pamer?” hatinya tidak bisa mengumpat hal seperti itu. “Mulai malam ini, kamu nggak akan sendirian ke mana pun,” kata Baga. Santi mengangguk. Dia yakin Baga bisa melindunginya dengan sangat baik. Namun, belum sempat mereka melangkah lebih jauh ponsel Santi bergetar. Nomor tak dikenal masuk lagi. Meski ada sedikit terkejut, tapi Santi menatap layar beberapa detik kemudian mengangkat. “Halo?” tidak ada jawaban dari ujung telepon. Kemudian suara itu muncul, “Aku suka pilihanmu tadi.” Tubuh Santi langsung menegang. Dia tahu suara itu. Dia sudah menghapal nya. Arka, dia benar-benar seperti hantu ge

  • Pesona Perawat Papa   Aku Cemburu

    Terdengar pintu diketuk, “Masuk!” ucap Irfan, tak lama OB yang disuruhnya mengambil pesanan makanan olehnya sudah kembali.Rina yang menyadari OB masuk, memelankan suara tangisnya. Sesegukan pelan, dipunggung Irfan. Dia ga mau kalau tangisan kencangnya sampai terdengar oleh OB tadi.“Letakan disit

  • Pesona Perawat Papa   Rina Putus

    "Fan, bolehkah aku turun di persimpangan jalan saja," pinta Rina.Rina masih enggan jika hubungan kontrak pacarannya dengan Irfan tersebar di kantor. "Kenapa? Kamu malu? Atau kamu takut si Tama dan si Gerry itu tahu hubungan kita, hah?" Suara Irfan sudah terdengar emosi ketika mendengar permintaa

  • Pesona Perawat Papa   Rasa Riki

    “Riki, aku beneran minta maaf, tapi soal aku bilang putus, itu benar-benar, Rik. Kita putus dan aku ga bisa mentolerir perselingkuhan kamu dengan Rina, Rik!”Santi masih mencoba mengatur intonasi suaranya. Dia ga mau terdengar meledak ledak atau emosi soal perasaanya. Ya meski pun benar adanya saat

  • Pesona Perawat Papa   Piala Kemerdekaan

    "Kak Bimo … hiiihh lama banget tau, ini sudah mau sore, mana cukup waktunya buat belanja dan nyalon!" protes Lana. Lana beranjak dari duduknya dan berkacak pinggang. Lana kesal, sebab hari ini dia sudah membayangkan perubahan pada dirinya, kacamata dilepas, rambut kepang dua dilepas dan tentu s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status