MasukPagi itu, sinar matahari yang menerobos masuk ke ventilasi rumah kontrakan tidak mampu mencairkan ketegangan yang dirasakan Santi. Ia sengaja bangun lebih awal, berharap bisa menyelinap ke kamar mandi dan berangkat kerja tanpa harus berpapasan dengan penghuni kamar sebelah.
Santi keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan handuk yang membalut tubuhnya setinggi dada. Uap hangat masih mengepul dari kulitnya yang lembap. Namun, harapannya untuk menghindar pupus seketika.
Riki sudah duduk di ruang tengah, menyesap kopi hitamnya. Laki-laki itu bertelanjang dada, hanya mengenakan celana pendek santai, memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang terbentuk sempurna, sisa-sisa visual yang semalam sempat menghantui imajinasi Santi.
"Pagi, San," sapa Riki. Suaranya serak-serak basah khas orang bangun tidur, namun matanya tajam menatap Santi dari ujung rambut hingga kaki.
"Pagi, Rik," jawab Santi gugup. Ia mengeratkan pegangan pada simpul handuk di dadanya, refleks ingin menutupi diri. "Aku... mau ganti baju dulu."
Santi hendak melangkah cepat, namun suara Riki menghentikannya.
"Buru-buru banget? Mata lo kelihatan lelah tuh, San. Ada kantung matanya," komentar Riki santai, namun ada nada geli dalam suaranya.
Santi terhenti. Tangannya menyentuh bawah matanya dengan cemas. "Oh... iya, semalam agak susah tidur."
Riki meletakkan cangkir kopinya perlahan, lalu berdiri dan melangkah mendekat. Jarak mereka menipis. Aroma kopi dan maskulin menguar dari tubuh Riki, membuat napas Santi tercekat.
"Susah tidur kenapa? Gerah... atau gelisah?" tanya Riki dengan senyum miring yang penuh arti. Matanya menelisik wajah Santi, seolah mencari jejak-jejak dosa semalam. "Coba tadi malam lo terima tawaran gue. Tidur lo pasti nyenyak."
Darah Santi berdesir hebat. Wajahnya memerah padam seketika. Riki benar-benar terang-terangan menggoda Santi, padahal Rina masih ada di rumah ini.
"A-apa sih, Rik," kilah Santi terbata-bata, tak berani menatap mata Riki.
Riki tertawa kecil, tawa yang terdengar nakal di telinga Santi. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit, berbisik pelan, "Benaran. Kalau lo mau bantuan, gue bisa bantu."
Santi merasa lututnya lemas. "Aku duluan, Rik!" Tanpa menunggu jawaban, Santi setengah berlari masuk ke kamarnya dan membanting pintu pelan, lalu menyandarkan punggungnya di sana dengan jantung yang berdegup gila-gilaan.
Rasa malu bercampur debaran aneh itu membuatnya pusing. Riki tahu, dan bukannya marah atau jijik, laki-laki itu justru menikmatinya.
***
Santi tiba di toko kue pukul tujuh pagi dengan pikiran yang masih kacau. Ia sengaja datang jauh lebih awal dari jadwal buka, berharap kesibukan menata etalase kue bisa mengalihkan bayangan tatapan Riki tadi pagi.
Ruang absen karyawan terletak di lorong yang sama dengan ruang manajer. Saat Santi melintas dengan langkah cepat, sudut matanya menangkap sesuatu. Pintu ruangan Pak Harun, manajernya, sedikit terbuka.
Niat hati ingin menyapa sopan, langkah Santi justru terhenti mendadak. Telinganya menangkap suara yang kini mulai terasa akrab, namun kali ini nadanya berbeda.
"Ah... Pak... Bapak hebat banget... sssh..."
Itu suara Laras.
Tubuh Santi menegang. Rasa penasaran yang sama seperti semalam kembali menyergapnya, menepis rasa takutnya. Seperti ditarik magnet, Santi mendekat perlahan ke celah pintu.
Matanya terbelalak.
Di dalam sana, di atas meja kerja yang penuh berkas, Pak Harun dan Laras sedang melakukan hal yang tak sepantasnya dilakukan di tempat kerja. Pakaian mereka berantakan. Kemeja Laras terbuka, dan roknya tersingkap naik.
Pemandangan itu jauh lebih intim dan kotor dibandingkan apa yang ia lihat di kamar Rina yang penuh cinta. Di sini, ada aura kekuasaan, nafsu terlarang, dan adrenalin yang kental.
Tubuh Santi kembali bereaksi di luar kehendaknya. Alih-alih merasa jijik, ada sensasi hangat yang menjalar cepat di perut bawahnya. Menyaksikan adegan terlarang itu, risiko ketahuan, keberanian mereka, memicu adrenalin dan gairah aneh yang terpendam dalam diri Santi. Napasnya mulai memburu, seirama dengan gerakan di dalam ruangan itu.
Namun, kesialan terjadi. Saking fokusnya mengintip, sikut Santi tanpa sengaja menyenggol tempat sampah berbahan seng di dekat pintu.
Brak!
Suara gaduh itu memecah keheningan lorong. Aktivitas di dalam ruangan terhenti seketika. Hening yang mencekam.
Santi panik setengah mati. Wajahnya pucat pasi. Tanpa pikir panjang, ia berbalik dan berlari kencang tanpa suara menuju kamar mandi karyawan di ujung lorong, sebelum Pak Harun atau Laras sempat keluar dan melihat siapa pelakunya.
Santi menerobos masuk ke salah satu bilik kamar mandi, mengunci pintu dengan tangan gemetar, lalu bersandar lemas pada dinding keramik yang dingin. Napasnya tersengal-sengal, dadanya naik turun dengan cepat.
Bayangan Laras dan Pak Harun, dicampur dengan godaan Riki tadi pagi, terus menari-nari di pelupuk matanya.
"Gila... semua orang melakukan itu... di mana-mana..." gumam Santi lirih, meremas rok seragamnya.
Tubuhnya gemetar, bukan hanya karena takut, tapi juga karena gejolak yang tak tertahankan. Sensasi yang belum tuntas semalam, ditambah rangsangan visual yang bertubi-tubi pagi ini, membuat pertahanan diri Santi runtuh total.
Di tengah kesunyian kamar mandi, dengan keringat dingin membasahi pelipis. Ia butuh pelepasan. Ia butuh meredakan ketegangan yang menyiksa saraf-sarafnya.
Santi memejamkan mata, membiarkan imajinasinya liar. Ia membayangkan dirinya berada di posisi Laras, merasakan sensasi mendebarkan melakukan hal terlarang, namun dalam bayangannya, sosok prianya bukanlah Pak Harun, melainkan sosok yang menggoda imajinasinya sejak pagi... Riki.
Tok… tok… tok…
"San, San… Lo di dalam?"
Suara ketukan pintu membuyarkan segalanya. Santi terlonjak kaget. Jantungnya serasa mau copot.
Mobil berhenti di sebuah rumah yang lebih tertutup dari sebelumnya. Rumah aman milik Baga. Begitu masuk, suasana langsung terasa berbeda. Lebih ketat. Lebih dijaga.Santi mengamati sekitar, dia benar-benar tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan seprotektif itu. Baga memang benar-benar memperlakukan seperti barang yang sangat berharga.Bimo hanya bisa mendengus, “Apa-apaan ini? Dia sedang pamer?” hatinya tidak bisa mengumpat hal seperti itu.“Mulai malam ini, kamu nggak akan sendirian ke mana pun,” kata Baga. Santi mengangguk. Dia yakin Baga bisa melindunginya dengan sangat baik.Namun, belum sempat mereka melangkah lebih jauh ponsel Santi bergetar. Nomor tak dikenal masuk lagi. Meski ada sedikit terkejut, tapi Santi menatap layar beberapa detik kemudian mengangkat.“Halo?” tidak ada jawaban dari ujung telepon.Kemudian suara itu muncul, “Aku suka pilihanmu tadi.” Tubuh Santi langsung menegang. Dia tahu suara itu. Dia sudah m
Seperti suasana berubah menjadi tegang. Arka seolah tidak bisa menerima keputusan Santi. Tiba-tiba saja anak buah Arka muncul dari bayangan. Perubahan yang terbilang drastis. Tatapannya kembali menggelap dan dingin.Tentu saja Baga langsung sigap. Bimo juga bersiap. Namun, Arka mengangkat tangan.“Tidak sekarang,” katanya dingin. Semua menuruti ucapan Arka. Berhenti. Dia menatap Santi sekali lagi. Lebih lama.Lebih dalam. Tatapan yang tidak bisa dijelaskan. Siapapun yang menatap pasti tahu kalau itu seperti ancaman yang tidak bisa diungkapkan.“Kalau kamu bukan milikku,” suaranya pelan, tapi benar-benar mengerikan, “maka tidak akan ada yang bisa memiliki kamu.” Santi tidak mundur. Tidak takut.Dia sudah bulat dengan keputusannya. Meski kali ini mungkin saja dia tidak akan selamat Santi sudah bersiap dan pasrah.“Aku bukan milik siapapun,” ketegangan semakin kuat. Suasana kembali hening. Beberapa detik terasa sangat panjang. Kemudian Arka tersenyum lagi, tapi kali ini bukan hangat.
Ingin rasanya detik itu juga Santi melarikan diri, namun lagi-lagi dia harus dibuka dengan keadaan yang membuatmu tidak berdaya. Tidak berdaya bukan karena dia tidak bisa melakukan apapun, semua yang terjadi seperti sesuatu yang sudah terencana tapi dia sendiri tidak bisa menebak Apa yang akan terjadi di depannya. Ada bagian yang hilang dari ingatan Santi, dan saat ini ingatan itu sedang menuntut apa yang seharusnya.“Aku ingat,” ucap Santi lirih. Senyum Arka melebar sedikit.“Aku tahu.” Santi menatapnya dalam.“Semua ini, kamu yang atur?” Arka berjalan mendekat. Perlahan. Tanpa rasa takut.“Sebagian,” jawabnya santai. Ada rasa dalam diri Santi yang tidak bisa digambarkan. Jawaban ringan itu membuat hatinya bergetar. Bukan getaran cinta, itu adalah bentuk dari suatu pertanggungjawaban yang terlupakan.“Kenapa?” suara Santi mulai bergetar, “kenapa harus sejauh ini?” Arka berhenti tepat beberapa langkah di depannya.Tatapan itu seolah menusuk ke jantung Santi. Tidak dapat menghindar
Arka duduk dalam ruangan gelap. Di tangannya, dia memegangi foto yang sama. Foto lama. Santi dan dirinya. Jarinya menyentuh wajah Santi di foto itu dengan lembut.“Santi …” gumamnya pelan. Terdengar masih memiliki perasaan namun, matanya tidak lagi hanya dingin. Ada luka di sana.Luka yang dalam.“Kamu bahkan lupa kalau kamu pernah mencintaiku.” Senyumnya muncul. Tapi, kali ini penuh kepahitan.“Aku sudah mati untuk dunia, tapi tidak untukmu.” Matanya perlahan berubah tajam, “apapun caranya aku akan buat kamu mengingat semuanya.” Dia berdiri perlahan. Aura membunuh kembali terasa.“Tapi, sebelum itu,” suaranya merendah, “Aku akan hancurkan semua yang mengambil tempatku.” tangannya terkepal dengan erat. Seolah ingin meremukkan semua hingga menjadi debu.Santi terduduk lemas. Air matanya terus jatuh. Semua mulai masuk akal. Obsesi.Cara Arka berbicara. Kenapa targetnya selalu dia.“Aku, alasan semua ini.” Bimo ter
Tidak ada yang tahu semuanya terjadi begitu saja. Santi dan hidupnya, dia juga tidak bisa memilih. Dalam kondisi saat ini dia benar-benar hanya ingin bebas dari rasa tertekan dan ketakutan.Langit malam terasa lebih sunyi dari biasanya. Santi masih berdiri di balkon. Angin yang berhembus tidak lagi terasa dingin justru membuat dadanya sesak. Perasaan itu datang tiba-tiba. Aneh. Menekan. Seolah benar-benar ada sesuatu yang mencoba keluar dari dalam ingatannya.Di belakangnya, Baga berdiri memperhatikan. Tatapannya tajam, tapi juga penuh kehati-hatian.“Ada yang mengganggu pikiranmu?” tanyanya pelan. Santi tidak langsung menjawab.“Aku merasa pernah mendengar nama itu sebelumnya,” bisiknya akhirnya.Baga langsung menegang, “Arka?” Santi mengangguk pelan, “Bukan cuma sekadar dengar, tapi sepertinya aku pernah mengenalnya.” ujar Santi.“Tapi, aku benar-benar nggak mengingat apapun. Aku nggak tahu dia dan tidak ada bayangan samar sebagai petunjuk,” kembali Santi menambahkan.Kalimat itu m
“Kau gila!” dengus Bimo tampak tidak setuju dengan keputusan Baga. “Itu harus tetap kita lakukan!” Baga yang ingin mengakhiri segalanya. Dia tidak ingin Santi terus dibayangi oleh laki-laki yang bernama Arka itu. Laki-laki yang terus mengincar kemenangan posisi yang tak seharusnya. Begitulah yang ada dalam benak Baga. Dia mana mungkin rela melepaskannya. Apalagi Baga tahu siapa Arka, dia mungkin saja satu aliran dengannya. Lebih berbahaya. Lebih licik. Baga tidak mau mengambil resiko. Dia takut kehilangannya. Ini bukan hanya sekedar ancaman semu. Apa yang buruk sudah terdapat di hadapannya. Rival terberatnya bukan Bimo lagi. Meski Bimo sudah berhasil mendapatkan Santi. Menikah dengannya. Bahkan memiliki dua anak. Untuk Baga, itu tidak mengubah apapun. Apa yang dia inginkan, dia harus tetap mendapatkan. Bukan hanya sekedar persaingan percintaan, tapi di lubuk hati Baga, Santi memang wanita yang pantas dipilihnya. Dia akan membantu segalanya. Menghilangkan semua rintangan
Danira mencoba melepaskan tangan Bimo. Laki-laki itu juga tersadar dan melepaskan perlahan. Danira menghirup udara sebanyak-banyaknya saat cekikan tadi dilepas.Dia tidak menyangka kalau Bimo tega berbuat seperti tadi padanya. Nira masih menganggap dia sebagai wanita yang dulu sangat dipuja Bimo.“
Santi sedikit kesulitan menggendong dua bayinya. Ini benar-benar pengalaman yang menakutkan. Kalau dia pernah diculik oleh dan disekap, tapi kali ini bukan banyak penyekapan. Ini penyerahan tiba-tiba. Dia bersembunyi di tempat yang mungkin saja bukan tempat yang aman, tapi setidaknya dia sudah men
“Jangan bercanda lagi, Aga! Aku nggak suka!” sekali lagi Santi mendengus dengan kesal.Dia merasa dipermainkan oleh keadaan. Sampai tidak punya kekuatan untuk melarikan diri atau mengubah keputusan. Santi merasa terbelenggu dengan keadaan yang tidak pernah diduga sebelumnya.Apa yang tidak pernah d
Pak Abdi mengira tadi hanya gertak sambal saja, tapi melihat sikapnya kali ini tidak main—main lagi. Ini serius. Dan Pak Abdi sudah bisa menebak nantinya anak bodohnya itu akan menyesal.“San … kamu … benar—benar nggak mau dipikirkan lagi. Kamu akan tinggal dimana?” Pak Abdi hampir berpikir sama de







