Home / Romansa / Pesona Presdir Dingin / Bab 1 Menyamar menjadi Wanita Gila

Share

Pesona Presdir Dingin
Pesona Presdir Dingin
Author: catatanintrovert

Bab 1 Menyamar menjadi Wanita Gila

last update Last Updated: 2025-06-02 11:23:53

“Tuan Dirga, apa kamu mahir memuaskan wanita?”

Detik pertanyaan tersebut mengudara, pria di hadapan Alisa langsung tersedak. Satu batuk, lalu dua, hingga dia buru-buru mengambil tisu dan menahan napasnya agar tidak terlalu memalukan.

Alisa hanya tersenyum santai, nyaris menikmati pemandangan itu.

Manik hitam legam pria bernama Dirga tersebut kini terarah lurus padanya. “Apa katamu?” tanyanya dengan nada tak percaya, menghapus ekspresi dingin yang sedari tadi mengintimidasi.

Dengan tenang, Alisa menyandarkan dagu di kedua tangannya. Senyumnya tetap menggoda, seolah pertanyaannya barusan hanyalah sapaan ringan di pagi hari. 

“Pertanyaanku tidak begitu sulit. Tapi kalau Tuan Dirga masih bingung, izinkan diriku memperjelas.”

Mata besar wanita itu menatap Dirga dalam-dalam. 

“Aku bertanya ... apakah kamu ahli bermain di ranjang?”

Hening. Denting sendok dan suara tawa dari meja lain terdengar jauh, seakan teredam atmosfer penuh ketegangan antara dua orang asing ini.

Walau ekspresi luarnya tampak sangat tenang, Alisa Bening Gunawan sebenarnya sedang sangat gugup dengan punggung berkeringat dingin. 

Bagaimana tidak? 

Saat ini, dia sedang duduk di restoran Ellowyn Hotel yang mewah, berhadapan dengan seorang pria tampan yang baru saja dia kenal, dan dengan kurang ajarnya menanyakan tentang kemampuan pria tersebut di ranjang!

Itu sangat konyol!

Tapi mau bagaimana lagi? Alisa harus melakukannya. Semua demi memenuhi permintaan sepupunya, Sabrina, yang menolak perjodohan paksa dengan putra kenalan sang ibu karena sudah memiliki kekasih.

Sayangnya, kekasih Sabrina bukan ‘pilihan ibu’, jadi Sabrina terlalu takut untuk mengatakan ‘tidak’ secara langsung. Maka, dia pun menyuruh Alisa, si penulis cerita cinta fiksi, untuk menyamar menjadi dirinya dalam kencan buta ini!

Kebetulan Alisa dan Sabrina memang seumuran. Menurut pandangan ibu Sabrina, dua puluh lima tahun adalah umur yang tepat untuk menikah. Namun, alih-alih ingin membangun rumah tangga, Alisa sendiri malah ingin membangun kariernya sebagai penulis fiksi menjadi penulis skenario.

Masih banyak yang harus Alisa kejar, dan jodoh … tidak Alisa letakkan di daftar utamanya. Alisa masih memerlukan waktu untuk bertumbuh menjadi dewasa muda dengan impian tinggi. Ya, Alisa cukup ambisius melakukan pekerjaannya.

Seperti sekarang, tugas Alisa sederhana. Dia membuat pria itu membatalkan perjodohan secara sukarela.

Sebagai imbalan, Sabrina akan mengenalkannya kepada seorang produser film ternama. Sebuah kesempatan langka yang bisa mengubah naskah-naskah di laptop Alisa menjadi film sungguhan.

Alisa sempat menolak, tapi akhirnya dia setuju, karena, hei ... siapa yang bisa menolak mimpinya sendiri?

“Pria itu dingin, kaku, dan super serius,” begitu Sabrina mendeskripsikan Dirga. “Kamu tinggal katakan sesuatu yang menjijikkan, dan dia pasti langsung kabur.”

Maka itulah sebabnya Alisa duduk di sini, memulai percakapan dengan pertanyaan yang tak layak dilontarkan pada pertemuan pertama.

Dan Alisa berharap, pria itu akan marah dan pergi.

Sayang memang, karena pria di depannya jauh dari kata ‘tidak menarik’. 

Manik hitam yang tajam dan penuh kontrol, rahang tegas yang memancarkan maskulinitas, dan tubuh atletis yang terbungkus kemeja pas badan. Jujur saja, Dirga mungkin adalah pria tertampan yang pernah Alisa temui secara langsung.

Andai mereka bertemu dalam situasi berbeda ... mungkin Alisa akan tertarik dan—

BRAK!

Suara gelas wine yang dibanting ringan ke meja membuyarkan lamunannya.

Alisa mengangkat pandangan dan mendapati Dirga kini menatapnya tanpa senyum.

“Ada masalah, Tuan Dirga?” tanyanya dengan nada seolah tak bersalah. “Mungkin … aku menyinggungmu?”

Diam-diam, Alisa menyembunyikan kesenangan dalam batinnya. ‘Sudah pasti pria ini tersinggung. Dia pasti langsung ingin membatalkan perjodohan. Good job, Alisa! Tinggal sedikit lagi, tugasmu selesai!’

Namun, ada kalanya hal yang sudah direncanakan tidak berjalan sesuai kenyataan. Karena alih-alih kemarahan maupun tatapan jijik seperti yang diharapkan, Alisa malah mendapati Dirga … tersenyum???

“Tersinggung?” Dirga menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, bahunya relaks, bahkan terlihat seperti menahan tawa kecil. “Sama sekali tidak. Kekhawatiran Nona justru bisa kumengerti.”

Hah?

Alisa mengerutkan kening, kaget. Dirga bukan hanya tidak marah, tapi dia malah terlihat... menikmati?

Sudut bibir pria itu terangkat. Dengan gerakan santai, dia menyilangkan tangan, lalu menatap Alisa seperti seorang predator yang baru saja menemukan mangsanya.

“Pernikahan itu seumur hidup,” katanya. “Dan jika Nona ragu aku bisa memuaskan, maka tentu itu masalah serius.”

Alisa menelan ludah. Ini bukan naskah yang dia siapkan. Ini… jauh di luar skenario!

“Jadi,” Dirga mencondongkan tubuh sedikit ke depan, suaranya turun satu oktaf, “Kalau Nona tidak keberatan ... mungkin, kita harus mengujinya malam ini juga?”

Tubuh Alisa menegang. Pria ini … bilang apa!?

****

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (9)
goodnovel comment avatar
wardah
senjata makan tuan ya Al wkwkwk
goodnovel comment avatar
catatanintrovert
hahahahah iyaa
goodnovel comment avatar
catatanintrovert
betul, Kakk
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pesona Presdir Dingin   Bab 141 Menginterview Perasaan Alisa

    Seperti yang diketahui, kedua–ralat, ketiganya resmi pergi berjalan-jalan: Dirga, Alisa, dan anak anjing pudel mereka. Langit sudah hampir gelap dan untungnya udara malam ini, di area jogging track tidak begitu dingin. Suasananya tidak sepi dan tidak juga ramai orang. Ada beberapa penghuni yang memang memilih lari dan berjalan-jalan saat malam hari. Diam-diam Alisa merasa takjub. Kepalanya mengangguk-ngangguk kecil. ‘Besok-besok aku ingin berjalan-jalan santai lagi,’ batinnya. Ekor matanya melirik ke arah Dirga. ‘Dengan atau tanpa Dirga juga tidak apa-apa,’ sambungnya. Toh Dirga sendiri yang mengatakan padanya untuk melakukan hal yang disukainya ‘kan? Alisa cukup menyukai lingkungan di kawasan perumahan tempat tinggal Dirga dengan berbagai fasilitas umum yang tersedia. Lagi-lagi dia merasa terus diuntungkan dalam pernikahannya dengan Dirga. Tanpa sadar, Alisa jadi terus menatap ke arah pria itu dari samping. Mata besarnya menyorot penuh kekaguman. Rasa kesal yang sempat bercoko

  • Pesona Presdir Dingin   Bab 140 Dirga, Tunggu Pembalasanku!

    Sekalipun bukan pilihannya, Alisa pada akhirnya pasrah saat Dirga mulai menyerang sisi lehernya dengan kecupan-kecupan ringan yang perlahan mengundang gairahnya. Refleks, kedua tangannya berakhir mendarat di pundak Dirga. “Nghh~” Sebuah erangan tak sengaja lolos dari bibirnya kala merasakan sapuan hangat bibir Dirga turun menuju tulang selangkanya. Ditambah lagi, pria itu menarik satu lengannya dan menelusuri kulitnya dengan gerakan pelan sehingga Alisa dibuat cukup merinding. Jari-jari tangan keduanya bertaut dan meremat seolah saling mengirimkan sinyal gairah yang dirasakan. Kepala Alisa dibuat pening. Napasnya tersengal. Alisa tak mengerti dengan tubuhnya sendiri yang mudah bereaksi setiap kali Dirga mendaratkan sentuhan. Pun, tak ada penolakan yang begitu signifikan darinya. Matanya terpejam menikmati kecupan Dirga yang semakin turun dari leher Alisa.Suara-suara kecupan itu mengisi ketenangan di kamar mereka. Mendengarnya, wajah Alisa terasa panas. Dia sibuk menggigit bibir

  • Pesona Presdir Dingin   Bab 139 Mengikuti Kata Otak

    Cemburu? Itu tercatat dalam kamus setiap pasangan yang menjalin hubungan. Tentu saja dalam kasusnya Alisa yang sudah menikah dengan Dirga, kata tersebut seharusnya berlaku bagi keduanya. "Y–ya," aku Alisa sedikit tergagap. Karena kurang terdengar jelas, Dirga sampai harus menunduk dan mensejajarkan wajahnya dengan Alisa. Dia menarik tangannya dari dagu sang wanita. "Aku tidak dengar kamu bicara apa." 'Masa, sih, tidak dengar?' batin Alisa merasa tidak yakin. Dan kenapa pula wajah Dirga harus berjarak sedekat ini dengannya? Demikian, itu yang membuat Alisa mendaratkan satu tangannya di dada Dirga dan mendorongnya agar sedikit menjauh. Tubuh Dirga kembali berdiri tegak. Namun, Alisa tak kunjung menarik tangannya. Alih-alih melepaskan, Alisa membiarkan jari-jari lentiknya meraba area dada pria tersebut. Sentuhan ringan itu mengirimkan gelenyar aneh pada tubuh Dirga sehingga dalam satu gerakan licin, dia menyambar pergelangan tangan Alisa. Manik hitamnya menyorot Alisa dalam

  • Pesona Presdir Dingin   Bab 138 Cemburu?

    Takut kehilangan kendali, Erick pun segera menyeret langkah kakinya untuk ke luar dari kamar hotel tersebut dengan napasnya yang memburu. Pria itu masih dikuasai amarah. Namun, yang bisa dia lakukan sekarang adalah memukul dinding di luar kamar sebagai bentuk pelampiasan. Rasanya ... Erick sudah lama tak pernah semarah ini. Erick kemudian menyugar rambutnya ke belakang selagi menunggu Sabrina menyusulnya. Pada menit ke empat, sosok adiknya itupun muncul dengan pakaian yang yang tampak sedikit kusut. Pun, rambut cokelat bergelombangnya. “Kak Erick …,” panggil Sabrina pelan. Pandangannya menunduk, tak berani menatap sang kakak. "A-aku bisa jelaskan terlebih dahulu, Kak." Erick menggeleng tegas. “Bagaimana ceritanya, kalian pada akhirnya berakhir di ranjang tidur bersama ‘kan? Jadi, kalian sama-sama melakukan kesalahan.” Dia menekankan, "tidak perlu penjelasan apapun lagi." Sia-sia saja. Semakin dijelaskan, Erick rasanya benar-benar ingin memberi pelajaran yang berat pada Leo.

  • Pesona Presdir Dingin   Bab 137 Memergoki Sabrina dan Leo

    Pertanyaan Alisa membuat ingatan Erick terbuka pada apa yang dia temukan beberapa jam sebelumnya. Senyum di bibirnya terlihat getir. “Kakak sendiri yang memergoki mereka.” Mata besar Alisa terbelalak. “A–APA?” Dalam hatinya, Alisa mengumpati Sabrina. Dia berpikir keras: apa jangan-jangan itu adalah bagian dari rencana Sabrina dan Utari yang ingin melibatkan Erick? Dengan mengetahui keduanya sudah tidur bersama, Erick akan meminta Leo untuk menikahi Sabrina. Bukankah seperti itu alurnya? Tak lama, Alisa tersentak saat Erick balik mengusap punggung tangannya. Dia menoleh dan punggungnya seketika menegak mendapati sorot manik hitam Erick yang memandangnya penuh keseriusan. Alisa menganggukkan kepalanya. “Kak Erick bisa membaginya denganku.” Yang dibalas anggukan dari pria tersebut. *Yang terjadi semalam Sepulangnya dari villa, Erick pergi ke tempat penginapannya yang berjarak dekat dari lokasi pembangunan hotel. Dia berniat beristirahat cepat karena harus kembali bekerja kee

  • Pesona Presdir Dingin   Bab 136 Sebuah Kabar ... Baik atau Buruk?

    Alisa tak tahu pasti alasan Dirga mengatakan itu. Tapi, yang jelas, debaran di dadanya sulit dikendalikan. Pun, pipinya yang sudah kembali memanas. Tenggorokannya gatal, ingin setidaknya berteriak karena … senang? Kali ini dia tak berusaha menyembunyikannya. Lebihnya lagi, ekspresi wajahnya memang mudah dibaca. “Dirga,” panggilnya dengan suara yang sedikit gemetar. Dipanggil namanya, Dirga menoleh. Pandangannya jatuh melihat ke arah lengannya yang kini dipengangi Alisa. “Aku belum sempat memberitahu kalau Kak Erick mau datang ke sini,” jelasnya. Begitu Dirga menaikkan pandangan dan balas menatapnya, Alisa lanjut mengatakan, “Tadinya Kak Erick memintaku bertemu di luar, hanya saja … aku tidak bisa meninggalkanmu dan Kak Erick saja yang datang ke rumah.” Semoga dengan penjelasan itu Dirga tak keberatan. Hanya dalam waktu singkat, sedikitnya Alisa seolah bisa mengenal apa yang Dirga sukai dan tidak. Dengan kepribadian suaminya itu yang sulit didekati, Dirga memang kurang–tidak men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status