แชร์

Bab 5 Sepupu adalah Maut

ผู้เขียน: catatanintrovert
last update วันที่เผยแพร่: 2025-07-17 17:39:43

Pertanyaan Alisa membuat alis Sabrina terangkat tinggi, tapi senyum yang terlukis di bibir wanita cantik itu tidak menghilang. “Kenapa memangnya? Apa ada masalah?”

Kali ini, emosi Alisa jadi tidak tertahan. “Apa ada masalah?” ulangnya. “Jelas ada masalah! Aku tidak pulang semalaman! Apa kamu tidak bingung atau khawatir sedikit pun alasannya apa?!”

Alisa mengepalkan tangan dan membuang muka, merasa malu dengan apa yang sebenarnya terjadi.

Namun, hatinya menginginkan jawaban, jadi dia kembali menatap Sabrina dan bertanya, “Intinya, aku curiga obat yang kamu berikan ke pelayan untuk Dirga bukanlah obat tidur!”

Di saat ini, ekspresi Sabrinalah yang berubah kaget. “Obat tidur?” ulangnya, sebelum kemudian … sudut bibirnya terangkat dan ekspresinya berubah menjadi agak mengejek. “Memangnya kapan aku pernah bilang ‘bala bantuan’ yang kukirimkan padamu adalah obat tidur?”

DEG!

Tubuh Alisa bergetar, ketakutan menyelimuti hatinya. “Jadi … kalau bukan obat tidur, obat yang kamu berikan adalah—”

Sabrina menggelengkan kepala dan sedikit tertawa. “Ya, obat yang bisa membuat seorang pria tidak rela melepaskanmu hingga pagi, apa lagi kalau bukan obat perangsang?”

Seketika wajah Alisa memucat, tubuhnya agak kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh kalau bukan karena tangannya memegang ujung meja.

“Apa katamu…?”

Hati Alisa bak tertusuk ratusan pisau. Dia tidak percaya, bagaimana bisa Sabrina–sepupu yang sudah dia anggap adik kecilnya sendiri–tega melakukan hal semacam ini!?

“Kenapa?!” teriak Alisa, satu tangan mencengkeram dadanya yang terasa sakit. “Walau aku meminta imbalan kecil, tapi aku berbaik hati ingin membantumu lepas dari perjodohan yang tidak kamu suka! Jadi, kenapa?!”

“Apa sih yang begitu sulit untuk kamu mengerti, Al?” balas Sabrina santai seiring berdiri dari kursi riasnya dan menatap Alisa lurus. “Ya, karena bukan hanya aku bisa lepas dari perjodohan konyol, tapi ini juga kesempatan emas untuk menyingkirkan duri dalam daging sepertimu!”

“Apa?” Alisa terperangah.

Sabrina melipat kedua tangannya. “Sudah bertahun-tahun semenjak Paman Haru dan Bibi Tasya meninggal. Kalau kamu sadar diri, harusnya sebagai anak angkat mereka, kamu sudah lama minggat dari kediaman ini, bukannya malah terus-terusan jadi parasit untuk keluargaku!”

Alisa tercengang.

Duri dalam daging? Benalu untuk keluarga Sabrina?

Kata-kata itu menusuk hati Alisa, memaksanya kembali menyadari status yang selama ini dia simpan rapat-rapat.

Ya, memang benar, Alisa hanyalah anak angkat yang ditemukan oleh Haru Gunawan dan Tasya Hanova di salah satu kamar hotel milik mereka, dua puluh lima tahun lalu.

Saat itu, Alisa masih bayi. Dia hanya dibalut selimut tipis, dengan kalung giok melingkar di leher kecilnya. Karena teknologi dan sistem informasi yang masih terbatas, tidak ada yang tahu siapa yang meninggalkannya di sana.

Di waktu yang sama, Haru dan Tasya telah lama menikah tanpa dikaruniai anak. Alhasil, mereka menganggap pertemuan itu sebagai titipan Tuhan dan tanpa ragu mengangkat Alisa sebagai putri mereka.

“Dia cuma anak angkat, tapi kalian perlakukan seperti permata. Kalian yakin dia tahu cara berbakti nanti? Anak kandung saja belum tentu, apalagi yang tidak sedarah!”

Itulah kalimat yang sering dilontarkan keluarga besar.

Namun Haru dan Tasya selalu membela Alisa. Mereka marah besar setiap kali ada yang menyinggung soal itu. Dan sejak saat itu, tak ada lagi yang berani membicarakannya—setidaknya tidak secara terang-terangan.

Sampai akhirnya, kecelakaan tragis itu terjadi.

Haru dan Tasya meninggal dunia saat Alisa baru berusia sepuluh tahun, meninggalkan warisan besar kepada putri angkat mereka.

“Haru mewariskan enam puluh persen saham hotel kepada anak angkat itu!? Apa dia sudah gila?”

“Tak hanya itu, Utari harus merawatnya kalau ingin bagian dari bisnis hotel? Sungguh tak masuk akal!”

Meski keluarga besar penuh keberatan, keputusan itu tak bisa dibantah.

Alisa akhirnya diasuh oleh sang bibi—Utari, adik kandung Haru—yang juga merupakan ibu dari Sabrina.

Pun Alisa tahu bibi dan pamannya merasa terbebani karena harus mengurusnya, tapi dia tidak pernah merasakan penolakan dari Sabrina.

Mereka tumbuh besar bersama. Bahkan sampai lulus kuliah, hubungan mereka terasa amat dekat.

Jadi, bagaimana mungkin Alisa bisa sadar kalau selama ini Sabrina menyimpan kebencian?

Yang lebih menyakitkan, rumah tempat mereka tinggal saat ini adalah milik orang tuanya. Kemewahan yang dinikmati Sabrina sejak kecil pun datang dari bisnis milik ayahnya.

Demikian, pun jika Alisa hanyalah anak angkat, dengan hak apa Sabrina, yang hanya keponakan Haru dan Tasya, menghakiminya sebagai benalu?!

“Pun kamu membenciku dan menganggapku benalu, tapi kenapa kamu begitu tega menjebakku dengan pria lain, Sabrina?!” Mencengkeram dadanya yang sesak, Alisa berseru, “Kenapa tidak secara terbuka mengusirku saja?!”

Melihat air mata terjatuh dari wajah Alisa, Sabrina hanya melipat kedua tangannya dan tersenyum dengan keji. “Tentu saja karena masih ada kegunaan lain dibandingkan mengusirmu begitu saja.”

“Kegunaan lain?” ulang Alisa dengan suara yang nyaris tak terdengar.

Sabrina mendengus. “Karena hanya dengan begitu, barulah Kak Leo bisa sepenuhnya melupakanmu dan menerimaku.”

Sontak, kening Alisa berkerut. Kenapa Sabrina mengungkit nama seniornya di masa kuliah itu?

“Apa hubungannya aku dengan Kak Leo?!”

Alisa tahu, Leo yang dimaksud oleh Sabrina adalah Leo Salvador, putra tunggal keluarga Salvador sekaligus teman baik kakak laki-laki Sabrina. Seorang pemuda tampan dengan prestasi cukup tersohor sebagai pengacara muda, sesuatu yang diteruskan dari didikan keras sang ayah yang merupakan seorang hakim ternama dan sang ibu yang adalah pengacara kondang.

Memang, Leo pernah menyatakan perasaannya pada Alisa dulu, tapi jelas dia sudah menolaknya!

Ekspresi Sabrina berubah marah. Iri dan benci terpancar jelas dari matanya.

“Karena sampai sekarang, Kak Leo masih mengejarmu! Apa kamu tidak sadar bagaimana dia selalu datang ke rumah di akhir minggu untuk bertemu denganmu?! Kalau kamu masih terus melajang, sampai kapan pun Kak Leo tidak akan bisa menerimaku!”

Alisa terperangah. Jadi … jadi hanya karena itu … Sabrina berujung menjebaknya agar tidur dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal?!

Bukan karena ingin kabur dari perjodohan saja, tetapi juga untuk mengusirnya dari rumah sekaligus Sabrina ingin menyingkirkan saingan cinta?!

Tangan Alisa mengepal kuat, matanya yang berkaca-kaca memancarkan kemarahan. “Kamu—!!”

BRAKKK

“SABRINA!”

Suara pintu yang dibanting terbuka dan juga teriakan nyaring yang mengikuti menghentikan kalimat Alisa.

Dia dan Sabrina menoleh, lalu mendapati sosok wanita paruh baya dengan make up tebal dan penampilan mewah berlari tergopoh-gopoh menghampiri mereka.

Itu adalah Utari, bibi angkat Alisa sekaligus ibu Sabrina.

“M–Mama?”

Sabrina tampak agak terkejut, begitu pula Alisa. Walau perdebatan mereka sempat mencapai puncak terpanas, tapi melihat Utari datang membuat mereka merasa sedikit was-was.

Apa wanita itu mendengar percakapan mereka?!

Namun, saat menyadari keberadaan Alisa, Utari malah mengerutkan dahi. “Alisa? Bukannya kamu pergi bersama teman-temanmu? Kenapa di sini?” tanyanya.

Ditanya begitu, Alisa sedikit tergagap. Dia melirik ke Sabrina, yang menatapnya tajam, seperti memperingatkannya untuk tutup mulut.

Tanpa disuruh, Alisa juga tahu untuk tidak berbicara sembarangan. Jadi, dia menjawab, “Acaranya dibatalkan, Bi. Jadi aku pulang lagi.”

“Oh …?”

Khawatir ibunya akan menyelidiki lebih jauh, Sabrina cepat angkat suara, “Mama tadi manggil aku. Kenapa?”

Pertanyaan itu menyadarkan Utari akan tujuan utamanya, lalu dia pun menoleh dan tersenyum lebar pada Sabrina. “Mama ada kabar bagus, sayang!”

Entah kenapa, melihat ekspresi Utari yang begitu berbinar, perasaan tidak enak menyelimuti hati Alisa.

Lalu, bom itu pun dijatuhkan.

“Keluarga Disastra ingin melanjutkan perjodohan dan mengundang kita semua makan malam ini!”

Sontak, wajah Alisa pun memucat.

****

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pesona Presdir Dingin   Bab 150 Jurus Terakhir & Pemberitahuan Hiatus

    Dirga pernah mendengar satu hal bahwa dua orang yang berjodoh memiliki kemiripan, entah dari fisik maupun hal-hal lain. Ucapan Alisa yang satu itu terus menempel di benaknya. Sesuatu yang nyaris tidak pernah Dirga pikirkan sebelumnya. Jadi, kemiripan apa yang dimiliki keduanya? Sementara Dirga sendiri merasa dia dan Alisa memiliki banyak perbedaan. "Hei." Panggilan lembut itu menyadarkan keterdiaman Dirga. Pria itu saat ini berdiri di ambang pintu kamar dan mata hitam legamnya menatap lurus pada Alisa yang tampaknya sudah siap dengan menenteng tasnya. Usai membicarakan gantungan ponsel Alisa yang hilang, keduanya sempat sarapan bersama Larissa, Anton, dan juga Clarissa. Meski yah, suasananya masih terasa sedikit canggung karena Clarissa terlihat belum bisa berinteraksi bebas dengan Alisa. Akan tetapi, suasana meja makan tadi terasa hangat. Dirga bisa melihat sendiri bagaimana Alisa berusaha mendekati putri kecil Sam itu secara perlahan. "Kamu tidak sakit lagi ‘kan?" tan

  • Pesona Presdir Dingin   Bab 149 Makna Tersembunyi

    Jujur saja, Alisa merasakan kejanggalan.Fokus utamanya tidak lagi memikirkan pada kemungkinan dia telah dibodohi sepupunya sejak awal, melainkan lebih kepada kebodohannya sendiri.Bisa-bisanya dia tidak memeriksa, bahkan sekadar mengkonfirmasi data pribadi pria yang kini telah menjadi suaminya?Padahal selama ini, riset sudah menjadi bagian dari pekerjaannya sebagai penulis cerita cinta fiksi. Namun, ironis kemampuan itu mendadak tidak terpakai ketika Alisa hendak menikahi Dirga.Jika ada yang harus disalahkan, Alisa akan menyalahkan dirinya sendiri karena begitu mempercayai Sabrina di awal. Dan sepertinya ... akal sehat Alisa ketika itu juga tidak bekerja.Satu tangan terangkat dan langsung menepuk keningnya cukup keras. 'Dasar bodoh!' makinya dalam hati.Bagaimana jika Dirga bukan manajer kantoran biasa, melainkan ternyata seorang mafia kejam?! Berbuat salah atau bahkan tidak menjadi istri penurut, Alisa yakin dia bisa mati ditembak.Seakan tombol imajinasinya dinyalakan, hal itu b

  • Pesona Presdir Dingin   Bab 148 Kesayangan Uncle Dirga

    Selagi Alisa masih berada di kamar mandi, Dirga yang sudah selesai bersiap-siap memutuskan cepat turun untuk menemui sang keponakan yang sudah dipastikan marah padanya. Pernah tinggal cukup lama di negara luar beberapa tahun lalu membuatnya lebih sering mengunjungi kediaman Sam dibandingkan Dirga pulang ke tanah air. Jadi, Clarissa memang cukup menempel padanya jika bertemu. Dan sikapnya yang kekanakan seperti tadi, Dirga bisa sedikit memakluminya. Tapi, tetap saja tidak bisa dibiarkan. Usai menuruni anak tangga terakhir, Dirga berniat berbelok menuju dapur. Namun, dia urung begitu melihat keberadaan ibunya tengah bersandar di pintu dengan tubuh Clarissa yang menghadap ke pintu seolah meminta keluar sambil menggendong tas besarnya di punggung. Larissa sepertinya tengah membujuk cucunya itu. "Kamu sudah berjanji akan bersikap baik jika Halmonie membawamu ke Uncle Dirga." "Jadi, ayo cepat lepaskan tasmu dan sarapan pagi." Namun, dengan sikapnya yang keras kepala Clarissa menolak,"

  • Pesona Presdir Dingin   Bab 147 Drama Pagi Part 2

    “Clarissa, tidak boleh bicara seperti itu,” tegur Dirga dengan nada yang tegas tapi lembut. Dirga kemudian menolehkan wajah, menatap Alisa lurus-lurus. “Tentu Uncle menyayangi kalian.” Alisa akui, dia senang mendengarnya. Tapi, siapa yang tahu isi hati Dirga yang sebenarnya? Bagaimana kalau jawaban Dirga hanya untuk tidak menyakiti siapapun? Detik itu, Alisa membenci dirinya sendiri. ‘Kenapa aku ikut bersikap kekanakan, sih?’ “Aunty Alisa tidak jahat,” bantah Dirga. Bahkan sebelum Alisa menyadarinya, Dirga melangkah mendekat dan menarik tangannya. Alisa tersentak saat merasakan Dirga menautkan jadi tangan mereka. “Perhatikan, dia wanita yang baik dan juga …,” jedanya sambil melirik Alisa. Refleks, Alisa sendiri ikut melirik ke arah Dirga, menunggu kelanjutan ucapan pria itu. “Cantik sepertimu, bukan?” Demi mendengar itu, Alisa menahan napasnya. Apa Dirga bilang?! “Tidak, jelek! Rambutnya berantakan!” komentar Clarissa yang menyatakan pendapatnya dengan lantang. Matanya yang kec

  • Pesona Presdir Dingin   Bab 146 Drama Pagi Part 1

    Tiba-tiba terdengar suara nyaring anak kecil dari luar kamar. Seketika hal itu menyela ucapan Dirga yang langsung terdiam sambil memikirkan suara anak kecil yang terdengar familier baginya. “Uncle Dirga?” Lagi-lagi seruan panggilan ‘Uncle Dirga’ terdengar lebih jelas hingga membuat Alisa kebingungan. “Dirga–mphh!” Mata besarnya terbelalak mendapati pria itu yang tiba-tiba membungkam bibirnya dengan satu ciuman tanpa aba-aba. Sontak Alisa mengangkat kedua tangannya, hendak mendorong dada Dirga menjauh. Akan tetapi, seolah bisa membaca niatnya, Dirga meraih kedua tangan Alisa dan menempatkannya di atas kepala. Sepersekian detik berikutnya, tubuhnya menegang. Meski pikirannya ingin menolak, tubuh Alisa mengkhianatinya. Napas hangat Dirga yang menerpa wajah dan pagutan lembut di bibirnya perlahan meluluhkan Alisa dalam hitungan detik. Dia nyaris menutup mata dan membuka bibir kalau tidak mendengar suara di luar kamarnya. “Uncle! Uncle ada di mana?” Seolah tersadarkan, Dirga melepa

  • Pesona Presdir Dingin   Bab 145 Sudah Apa?

    A/n: Tentang tiba2 ada Leo di kamar Alisa …, . . Itu . . April Mop he he he. Sowyyy **** ‘Hahhhhhhh.’ Alisa mengembuskan napas panjang sesaat setelah terbangun dari mimpi buruknya. Itu benar-benar sama buruknya ketika dia memimpikan malam kematian orang tuanya. Mengingat apa yang Leo ucapkan di dalam mimpi memang mengerikan. Menyingkirkan … Dirga? Oh, tidak. Napas Alisa sedikit tersengal dan bulir-bulir keringat sebesar biji jagung membasahi keningnya. Rasa cemas dan takut bercampur menjadi satu. Dia juga tak mengerti, kenapa bisa memimpikan hal tersebut. ‘Apa karena cerita Kak Erick?’ pikirnya yang merasa langsung terhubung kesana. Mata besarnya terpejam lalu kembali terbuka. Dia masih berusaha mengatur napasnya sambil menyadari bahwa dirinya masih berada di kamar Dirga. Demi memastikan itu semua hanyalah bunga tidur, kepalanya menoleh ke sisi sebelah tempat Dirga berbaring tadi malam. Alih-alih pria itu ada di sana, Alisa menemukan sisi ranjang tidurnya

  • Pesona Presdir Dingin   Bab 132 Membuka Pikiran Dirga

    Bagaimana mengungkapkan perasaan sayang dengan benar tanpa harus memberitahukan perasaan kita sendiri?” Sam mengulang ucapan Dirga dengan tak habis pikir. Apa yang membuat sepupunya itu bisa berpikir demikian? Manik coklatnya menatap Dirga tajam. Dia mendaratkan tangannya di pundak pria itu dengan

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-04-04
  • Pesona Presdir Dingin   Bab 134 Nasihat Sam

    Melihat Dirga tak langsung merespons, Alisa melipat kedua bibirnya rapat-rapat. Dia merutukki diri. Mengapa rasanya menyenangkan memanggil Dirga seperti itu? Sesuatu yang menggelikan terasa menggelitik perutnya.Dan sudah cukup lama Alisa tak pernah merasakan sensasi tersebut.Dirga berdeham pelan,

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-04-04
  • Pesona Presdir Dingin   Bab 131 Luluh

    Satu dua sampai lima detik menunggu, Alisa masih menunggu respons Dirga. Sekilas, raut wajahnya menunjukkan keterkejutan. Tapi, mulutnya masih terbungkam rapat.Rasanya seperti tak jauh berbeda berbicara dengan tembok.Keheningan di antara mereka membuat Alisa canggung sendiri. Dia meringis pelan.

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-04-04
  • Pesona Presdir Dingin   Bab 133 Panggilan Itu Lagi

    *Satu jam sebelumnya Usai membaca laporan yang diterimanya, rahang pria dengan raut wajah tidak ramah itu tampak mengeras. Tangannya mencengkram sisi kertas laporan tersebut hingga tepiannya tampak kusut.“Perketat pengawasan,” perintahnya dengan suara yang rendah. Manik hitam tajamnya terangkat,

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-04-04
บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status