LOGINSepanjang perjalanan menuju kampus, Aruna menutup mulutnya rapat-rapat. Biasanya pasti Aruna akan sangat berisik dan mengganggu ketenangan Dirga.
‘Ini Dirga betulan nggak ada inisiatif ngajak aku ngomong duluan?’ Aruna membatin sambil menatap punggung Dirga dengan senyum yang terlihat sedih.Sementara Dirga sendiri menyadari jika Aruna bersikap berbeda. Mungkin gara-gara hal di dapur tadi. Dirga sedikit menyesal dengan perbuatannya yang dipergoki secara tak sengaja oleh ClauPulang dari apartemen Anjani, senyum di bibir Aruna mengembang lebih lebar sampai-sampai Garvi yang menjemputnya sore itu merasa sedikit keheranan. Demikian, dibalik setir kemudinya, pria itu bertanya, “Apa ada kabar baik hari ini?”Di kursi penumpang, Aruna menoleh dengan penuh semangat. Kepalanya mengangguk kuat-kuat. “Yap, sebenarnya memang ada kabar baik. Tapi, karena ini masih rahasia, jadi Kak Garvi nggak boleh tahu dulu.”Seandainya saja kabar pernikahan Dirga diumumkan, bukankah itu akan menjadi kabar baik bagi orang-orang terdekatnya? Namun, karena sudah berjanji untuk tidak memberitahu siapapun, Aruna terpaksa mengunci mulutnya rapat-rapat.Pun, rencananya dengan Anjani yang akan pergi ke luar kota untuk mengurus urusan bisnis juga enggan Aruna beritahukan pada kakak laki-lakinya itu. Apalagi dia memiliki niatan lain untuk menemui Pras. Kalau sampai informasi itu bocor, besar kemungkinan pertemuan mereka akan gagal.Demi menghindari itu, Aruna memilih merahasiakannya dan mem
Aruna memiliki pilihan untuk menolak. Sayangnya, dia berakhir mengiakan permintaan Dirga. Tentu untuk mengulik tujuan tersembunyi pria tersebut. “Ada hubungan apa kamu dengan keluarga ini?” tanyanya sambil menoleh ke arah Dirga yang duduk di kursi kemudi mobil. Ya, keduanya sudah berpindah tempat dari cafe tadi dan meluncur pergi menuju mansion keluarga Blair. Mobil Dirga terparkir berhenti tak jauh dari mansion mewah di sekitar mereka. Belum sempat memberikan respons, ponsel Dirga berdering. Pria itu langsung mengangkatnya. Dan dalam hitungan detik, Dirga larut dalam pembicaraan panggilan tersebut. Sejujurnya Aruna merasa penasaran dan berniat menguping. Namun, itu bukan hal baik untuk dilakukan. Jadi, selagi menunggu Dirga selesai, Aruna mengotak-atik ponselnya. Pun, jari tangannya sibuk menekan layar ponsel. Aruna sibuk memikirkan hal lain, satu di antaranya adalah tentang keluarga Blair. Dia membatin, ‘Sudah lama aku nggak pernah melihat Natasha.’ Dimana wanita itu sekarang?
[Bisakah kita bertemu? Tapi, tolong jangan beritahu siapapun.] Aruna kembali membaca email yang dikirimkan Dirga. Lantas mengalihkan pandangannya dari ponsel dan menatap ke sekitar. Kini, dia sudah berada di restoran–tempat janji temunya dengan Dirga. Sesekali dia menyeruput kopi pesanannya. Aruna mencoba meyakinkan diri bahwa keputusannya pagi ini untuk datang menemui Dirga adalah bukan sesuatu yang salah. Rasa penasaran memenuhi benaknya. Bukankah terakhir kali Dirga yang mengatakan untuk tidak saling bertemu lagi? Jadi, dengan alasan–ah, hal mendesak apa yang membuat pria itu kembali menghubunginya? Itu pasti sesuatu yang tak bisa dibicarakan melalui ponsel pintar. Selagi menunggu kedatangan Dirga, Aruna mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. Pendingin di ruangan VIP ini cukup membuat tubuhnya sedikit menggigil. Mungkin karena bahan cardigan yang dia kenakan cukup tipis. Akan tetapi, tidak masalah mengingat ruangannya menjaga privasi dan menawarkan kenyamanan. Dia berharap t
“Aruna nggak mau jawab.” Menurutnya, itu pilihan yang tepat. Toh memberitahu Ryuga juga akan berakhir sia-sia. Daddy-nya menginginkan hubungannya berakhir, sementara dia sendiri berkebalikan dari itu. Aruna memiliki cara pandangnya sendiri. Baginya, terlalu mudah untuk mengakhiri hubungannya dengan Pras begitu saja. Ryuga tidak mengatakan apapun lagi setelahnya. Jawaban Aruna menutup perbincangan di antara ayah dan anak tersebut. Pun, setibanya di rumah, Aruna masuk ke dalam lebih dulu tanpa menunggu Daddy-nya. Kedatangannya langsung mendapatkan atensi Claudia beserta adik-adiknya yang tengah bersantai di ruang keluarga: Gara dengan Lego di tangan dan Cherrish tengah memakan camilan. “Kenapa sudah pulang, Na?” tanya Claudia kebingungan. Netra matanya menatap ke arah buah-buahan dan buket bunga yang ditenteng kedua tangan Aruna. Dia segera bisa menjawab pertanyaan sendiri. “Unga, mau!” Cherrish menengadahkan tangan seolah meminta buket bunga dari kakak pertamanya itu. “Buat Cher
“Ya, dijodohkan,” pertegas Ryuga seraya menganggukkan kepalanya. Masih menatap Ryuga, Aruna berusaha mencari celah kebohongan dari ucapan Daddy-nya barusan. Namun, tak ada keraguan sama sekali. Sepertinya ucapan Ryuga benar-benar serius. Alih-alih memberikan respons, Aruna meneguk ludahnya susah payah dan memilih melangkahkan kaki, meninggalkan Ryuga yang dengan cepat langsung mengekor di belakang. Dalam hatinya, Ryuga mengutuk dirinya sendiri. Langkahnya yang terbiasa tiga kali lebih cepat kini melambat, menyesuaikan dengan langkah Aruna. Manik hitamnya menatap tajam punggung putrinya yang terus melangkah tanpa menoleh. “Sial. Kenapa aku tidak bisa menahan diri?!” gumam Ryuga setengah kesal. Beberapa saat lalu, dia merasa sudah lepas kendali. Ucapan itu terlontar begitu saja dan kini Ryuga menyesalinya sebab membuat Aruna tak ingin bicara padanya. Entah darimana datangnya ide konyol tersebut. Dijodohkan? Ryuga mendengus kasar memikirkannya. Di depan sana, sama halnya Ryuga ya
Seperti kakaknya Garvi yang membatalkan kencan, Aruna juga membatalkan kunjungan untuk menjenguk Sandra pada saat malam kepulangannya waktu itu. Ternyata tak mudah baginya untuk menemui baik Sandra maupun Pras setelah melihat panggilan video yang mencabik hatinya.Kala itu Ryuga menyetujui keputusan pembatalan Aruna. Terang-terangan Ryuga malah mengatakan, “Kalau mau bertemu Pras, silakan. Tapi, kalau Sandra … jangan coba-coba pergi menemuinya tanpa izin dari Daddy.”Demikian, Aruna perlu mencocokkan waktu agar Ryuga bisa menemaninya pergi menemui Sandra. Pun, dia sendiri membutuhkan keberanian untuk bisa menemui mereka.Bohong kalau semenjak saat itu Aruna bersikap baik-baik saja. Dia cukup kesulitan karena harus menahan diri untuk tak menceritakan perbuatan Pras dan Karina pada siapapun dan memilih menyimpannya sendirian.Beruntungnya, Aruna cukup ahli dalam hal menyembunyikan sesuatu. Jika tengah bersama keluarganya, dia akan memasang senyum sepanjang hari. Namun, setelah di kamar,







