INICIAR SESIÓN"Mami!"
Bagas dan Maudy seketika terlonjak kaget, dan mereka menoleh serentak ke arah pintu. "Rachel!" Keduanya buru-buru membenarkan posisi. Maudy beranjak dari pangkuan Bagas, lalu buru-buru membenahi blouse serta kain span yang naik. Sedangkan Bagas sontak berdiri, berbalik dan membenahi resleting celana yang sempat dibuka oleh Maudy. Sial banget gak, sih? Mau ena-ena malah dipergoki sama Rachel."Van, elo... nangis?" Bagas tidak salah dengar'kan? Vanila nangis? "Van..." Buru-buru Bagas naik ke ranjang, lalu mendekati Vanila yang sedang terisak. Dia pun memberanikan diri menyentuh pundak Vanila.. "Vanila, lo kenapa?" Suara Bagas terdengar sangat khawatir, karena jika pun Vanila sedang PMS, gadis itu tidak akan sampai sesedih ini. "lo lagi ada masalah, hmm?" Bagas berusaha untuk tidak menyinggung soal apa pun kali ini. Suasana hati Vanila sedang sangat sensitif, karenanya perempuan itu tahu-tahu ngambek dan nangis tidak jelas. Kalau Bagas sampai salah bicara sedikit saja, urusannya bisa makin runyam. Maka dia akan memilih Vanila meluapkan emosinya terlebih dahulu. Membiarkan perempuan yang sangat disayanginya menumpahkan tangisnya. "Ya udah, kalo lo belom mau cerita," kata Bagas setelah tak ada jawaban dari Vanila. Kemudian dia berbaring miring tepat di belakang punggung Vanila dan memeluknya. Bagas menciumi belakang kepala Vanila, lalu berkata, "gue bakal nung
"Maksudnya?" Bagas masih belum paham dengan ide yang dikatakan Vanila. Dia justru kepikiran niat Theresa yang memberinya kartu nama dengan tiba-tiba. Bukan hal yang aneh baginya, kalau perempuan memberinya kartu nama. Itu merupakan sinyal lain sebagai pertanda—jika akan ada pertemuan-pertemuan selanjutnya setelah itu. "Bagas!" Vanila menggetok kepala Bagas dengan sendok. "Aduh!" Bagas mengaduh, mengelus-elus kepalanya yang terasa sakit. "kejam banget, sih, Van?" Bibir bawah Vanila mencebik, dan menyahut, "Salah sendiri lemot!" Dia meletakkan sendok ke atas meja, bersedekap, menarik napas panjang dan berkata, "aku tuh lagi ngasih ide, kamu malah mikirin hal lain." "Siapa yang mikirin hal lain?" Tentu saja Bagas tidak mau mengaku karena dia masih ingin hidup. Menggaruk leher yang tidak gatal sama sekali, dia bertanya, "emangnya lo punya rencana apa?" "Gitu aja masa aku yang harus ngasih tau?" "Ya elah, Van..." Bagas paling males kalau disuruh mikir isi kepala cewek, tapi
Untuk beberapa saat keduanya saling menatap, lalu Bagas memutus tatapannya lebih dulu. Bisa bahaya kalo kelamaan natap cewek cakep. "Elo langganan juga di sini?" tanya Bagas, berbasa-basi kembali untuk mencairkan suasana yang sempat kaku. "Baru-baru ini, sih..." Theresa menjawab sambil mengibaskan rambut panjangnya yang ujungnya basah terkena air hujan ke belakang, otomatis leher jenjang perempuan itu terekspos dengan jelas, dan... terlihat makin seksi. Bagas yang tak bisa mengalihkan pandangannya dari leher jenjang Theresa seketika menelan ludah. "Elo sendiri udah langganan di sini?" lanjut Theresa, dan Bagas langsung mengangguk cepat. "Gue sama Vanila sering ke sini," ucap Bagas, yang buru-buru mengalihkan pandangan pada Pak Yosi, yang sedang sibuk memilah ayam pesanan pelanggan. "Ternyata lo masih bareng sama Vanila?" Suara Theresa yang sedikit terdengar tidak suka, sontak menarik perhatian Bagas lagi. Bagas memerhatikan perubahan pada raut Theresa yang datar,
Semenjak hari itu hubungan Bagas dan Rachel terus berlanjut. Kesepakatan keduanya yang semula berdasarkan kerja sama untuk saling membantu, justru lambat laun berubah menjadi sesuatu yang bisa dibilang tidak sederhana. Dari awal, Rachel memang membayar Bagas, lantaran rasa penasarannya pada suami kontrak maminya itu. Sedangkan Bagas menerima tawaran Rachel semata-mata hanya ingin memanfaatkan statusnya yang sebagai putri semata wayang Roy Darmawan. Mungkin, tidak ada salahnya jika dia mengambil kesempatan tersebut. Lagi pula, tidak ada ruginya. Namun, semuanya justru tidak sesuai ekspektasi. Bagas yang sempat marah dan tak terima karena sifat Rachel yang egois, memutuskan hendak mengembalikan uang yang diberikan oleh gadis itu. Bagas tidak tahan dengan sikap Rachel yang seringkali mempermainkannya. Karenanya dia memutuskan mengembalikan sejumlah uang yang masuk di rekeningnya pada Rachel. Sialnya lagi, segalanya kembali berantakan akibat kecerobohannya, yang tidak bisa
Beberapa jam kemudian.... Siang itu saat hujan sudah reda, Bagas keluar dari gedung apartemen dan berjalan kaki menuju apotek, yang kebetulan berada tidak jauh. Hanya berjarak beberapa meter dari gedung tempatnya tinggal. Setibanya di depan pintu apotek, Bagas hanya berdiri dengan pikiran bercabang. Kekalutan terpancar dari sorot matanya, saat perkataan Rachel kembali terngiang di telinga. 'Lo buang di dalem berkali-kali, Lingga.' Kepalanya seketika berdenyut. Membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi ke depannya. "Sial!" Umpatan itu entah ditujukan untuk siapa dan apa. Yang jelas saat ini yang ada di pikiran Bagas untuk segera mencegah kemungkinan-kemungkinan buruk itu. Menarik dalam-dalam napasnya, kakinya melangkah dengan mantap. Bagas memasuki apotek yang cukup ramai pembeli itu. Di dalam sana Bagas disambut dengan ramah, kemudian apoteker pria seusia di atasnya bertanya, "Mau cari apa, Mas?" Bagas menelan ludah, mulutnya terasa kaku untuk
Langit mendung serta hujan tipis menjadi pemandangan pagi ini. Di tempat tidur Bagas masih bergelung dengan selimut tanpa mengenakan apa pun. Sementara di sisi pemuda itu kosong, tetapi masih ada bekas jejak seseorang yang semalam tidur bersamanya. Semalam Bagas yang mabuk berat hingga berhalusinasi, bercinta habis-habisan dengan Rachel yang dianggapnya sebagai Vanila. Kendati gadis itu telah berulang kali mengingatkan, menampar, membentak bahkan memukul, Bagas tetap saja tidak sadar. Entah bagaimana reaksinya setelah ini saat tahu jika yang dia ajak bercinta bukanlah Vanila melainkan Rachel. Pemuda itu menggeliat, dengan mata masih terpejam tangannya meraba-raba sisi kanan—mencari keberadaan seseorang yang semalam dia cumbu. Namun, kosong. Bagas sontak membuka mata, dan menoleh, "Van?" Kepalanya yang masih terasa agak berat karena sisa-sisa efek mabuk membuat Bagas menyentuh keningnya seraya mendesis. "Ssst... Bangke, sakit banget kepala gue." Perlahan Bagas bangkit
"Diem dulu." Bagas beranjak dari atas tubuh Rachel, lalu mengambil tisu yang selalu tersedia di atas nakas samping tempat tidur. Dia mengeluarkan beberapa lembar tisu, kemudian membersihkan permukaan perut Rachel dari cairan spermanya. Dari perut lalu berpindah ke payudara gadis itu. "Kalo tad
Entah keberuntungan atau kesialan. Dan semoga semua yang sudah terlanjur terjadi bukanlah sebuah kesalahan yang kelak akan disesali. Pelanggan termuda pertama sekaligus gadis yang telah memberikan Bagas pengalaman pertama. Ini emang gila! Dan mungkin sudah melanggar batas norma yang ada. Seb
"Elo masih terima B.O 'kan?" "Hah?" Rahang Bagas ternganga dengan pertanyaan Rachel, yang sangat frontal. Apa-apaan gadis ini? Kenapa mendadak menanyakan hal konyol? Telapak tangan Rachel y
Katakanlah kalau Bagas memang lemah kalau menyangkut soal hasrat. Profesinya yang sebagai lelaki penghibur telah membuat Bagas menjadi ketagihan dengan kenikmatan. Usianya bahkan baru delapan belas tahun saat pertama kali Bagas mencicipi dunia malam dan berbagai macam perempuan dewasa y






