Home / Male Adult / Pesona Pria Plus-plus / Bab⁸—Rumah Maudy~

Share

Bab⁸—Rumah Maudy~

Author: Na_Vya
last update publish date: 2026-02-18 07:59:30

Dapat mangsa baru, temen sendiri langsung dilupakan.

"Mana katanya yang tadi lagi gak mood pergi? Buktinya, dideketin mangsa baru langsung kecantol."

Bagas berdecak melihat kelakuan Nathan, yang sudah terlihat akrab dengan Tante Karin. Temannya itu bahkan sepertinya sudah lupa dengan permasalahannya dengan Bela.

Bagas bahkan bisa melihat dengan jelas jika Nathan sangat nyaman mengobrol berdua dengan Tante Karin di bangku panjang paling ujung. Mereka memilih tempat yang jauh dari jangkauan semua orang yang berada di sini.

Berteman dengan Nathan tidak sehari dua hari. Bagas ingat betul waktu pertama kali dia bertemu dengan Nathan di kelab beberapa tahun yang lalu.

Temannya itu bukan berasal dari keluarga sembarangan. Nathan pernah bilang kalau dia sengaja bekerja menjadi pria bayaran karena ingin membuktikan pada ayahnya, jika dia bisa berdiri di kakinya sendiri.

Nathan diusir dari rumah oleh ayahnya ketika masih sekolah di bangku SMA. Ayahnya tidak tahan dengan kelakuan Nathan yang tidak pernah serius dan suka menghambur-hamburkan uang.

Nathan lantas bertekad ingin mempunyai penghasilan sendiri, agar tidak diremehkan oleh ayahnya lagi.

Bagas dan Nathan selisih beberapa bulan ketika mereka bergabung di kelab mami Kumala. Bagas lebih dulu bergabung, lalu Nathan bergabung dan mereka menjadi teman akrab.

Namun meski akrab, Bagas tak sekalipun menceritakan asal-usulnya pada Nathan, karena dia tidak ingin orang-orang tahu cerita masa lalunya yang pahit.

Selama mengenal Nathan yang kadang masih labil, Bagas harus ekstra sabar. Tak jarang dia lebih mirip kakak dibanding teman.

"Lingga."

Suara Maudy yang memanggil membuat lamunan tentang Nathan buyar. Bagas menoleh ke arah perempuan yang baru saja resmi menjadi istrinya. Sebatas istri kontrak tanpa terikat hukum yang sah.

"Tan." Bagas tersenyum dan beranjak untuk menghampiri Maudy, yang sedang bersama dengan teman-temannya. Jas di tangan dia pakai kembali.

Maudy mengamit lengan Bagas begitu pemuda itu berdiri di sisinya. "Tante mau kenalin kamu sama temen-temen tante," ucapnya dengan nada bicara manja.

Bagas melirik sekilas satu persatu teman-teman Maudy yang berjumlah lima orang. Semuanya tentu perempuan seumuran Maudy.

Circle Maudy memang semua kalangan. Rata-rata para istri pengusaha atau pejabat, yang kesepian. Pastinya Bagas bisa dengan mudah membaca isi pikiran semua perempuan di hadapannya. Lewat sorot mata saja sudah sangat jelas jika para tante-tante itu haus belaian.

"Lingga," ucap Bagas sambil mengulurkan tangan serta senyum menawan.

Satu persatu para tante-tante itu menjabat tangan Bagas bergantian sambil menyebut nama. Mereka terang-terangan menggoda Bagas, dan Maudy siaga mengingatkan jika sekarang dia adalah istrinya.

Anehnya, dari mereka semua tidak ada satu pun yang menyinggung suami Maudy. Mereka seperti tidak peduli dengan status Maudy yang masih bersuami.

Mereka justru terlihat sangat mendukung pernikahan Bagas dan Maudy.

Obrolan yang lama kelamaan membuat Bagas jenuh dan bosan. Karena itu Bagas pamit keluar sebentar dengan alasan ingin merokok.

Setelah terbebas dari Maudy dan teman-temannya, Bagas merasa lega bukan main. Mulut yang mulai terasa kecut butuh mengasap saat ini juga.

Sambil melangkah keluar, Bagas mengeluarkan kotak rokok dari saku celana bahan. Begitu tiba di luar rupanya langit hampir menggelap.

Pilihan Bagas jatuh pada bangku kayu panjang yang berada di taman depan halaman parkir. Area bebas rokok.

Bagas duduk, lalu mengeluarkan sebatang rokok, dan menyulutnya. "Akhirnya gue bisa ngasep," gumamnya seraya mengepulkan asap dari mulut dan hidung ke udara.

Samar-samar terdengar suara langkah seseorang mendekati tempat Bagas duduk. "Bangke, ngasep gak ngajak-ngajak," cibir Nathan berkacak pinggang.

Bagas melirik sambil mengisap filter tembakau. Dia menyahut, "Elo aja asik sama mangsa baru. Ngapain gue ngajak."

Walau sedikit kesal, Bagas tetap mengeluarkan kotak rokok dari saku celananya, dan menyodorkannya pada Nathan.

Nathan berdecak, lalu mengambil satu batang rokok dari kotak yang disodorkan Bagas. "Lo bilang gue disuruh lupain Bela. Ya udah gue deketin si Karin."

Nathan menyelipkan filter tembakau di antara bibir, lalu menyulutnya dengan api. "serba salah, Lo!" Dia duduk di samping Bagas. "Lo sendiri gue perhatiin gak kayak orang yang baru nikah. Muka lo datar banget, gak ada ekspresi bahagia sama sekali."

Sindiran Nathan ditanggapi senyum tipis oleh Bagas. "Emang gue harus gimana? Loncat-loncat?" tanyanya, menyelipkan batang rokok di antara sela jari dan menoleh ke arah Nathan. "muka datar bukan berarti gak bahagia, Nat."

"Dan lo bisa bohong ke orang lain kecuali gue, Gas," sahut Nathan, tanpa menatap Bagas. "gue bisa bedain, mana yang minat sama mana yang pura-pura minat," ucapnya lagi, sambil sesekali mengisap rokok di sela-sela jari.

Bagas tersenyum miring, mengalihkan pandangan ke langit yang mulai gelap seluruhnya. Diisapnya lagi batang rokok yang hampir habis. Dia sama sekali tidak berminat menjawab perkataan Nathan barusan..

Lebih baik dia memilih menghindari pembicaraan yang bisa saja membongkar alasannya menerima ajakan menikah dari Maudy. Belum saatnya Nathan tahu.

Hening menjadi jeda panjang dari kedua pemuda itu yang berkutat dengan isi kepala masing-masing. Obrolan keduanya tak berlanjut, seakan sengaja menyisakan ruang untuk menunda sesuatu yang belum saatnya terbongkar.

***

Menjelang malam, seluruh tamu undangan berpindah tempat. Mereka melanjutkan pesta perayaan pernikahan di rumah Maudy.

Bagas satu mobil dengan Maudy, yang dikemudikan oleh sopir pribadi perempuan itu. Sementara mobil Bagas dibawa oleh Nathan yang mengikuti dari belakang.

Sepanjang perjalanan, Maudy bergelayut manja di lengan Bagas. Seolah dia sangat antusias dan tidak sabar ingin menghabiskan malam pengantin bersama suami berondongnya.

Berbanding terbalik dengan Maudy yang sangat bahagia. Bagas justru menahan diri untuk tidak meledakan amarahnya pada jalang itu, yang tidak berhenti menempel padanya.

Biasanya Bagas akan merespon sentuhan Maudy. Namun untuk saat ini rasa marah lebih mendominasi pikirannya.

'Tahan, Gas. Tahan.' Bagas mendoktrin dirinya sendiri.

Beberapa menit berlalu, mobil yang membawa Bagas dan Maudy memasuki area perumahan elite. Perhatian Bagas seketika tertuju pada nama perumahan yang nampak tidak asing di ingatan.

'Kayaknya gue pernah ke sini.' Bagas membatin, sambil mengingat-ingat kembali.

'Ini emang bener alamat rumahnya Maudy. Tapi… Kenapa dia masuk ke rumah ini?'

Ingatan Bagas masih berfungsi dengan baik. Gerbang rumah mewah yang baru saja dia masuki hampir sama dengan rumah seseorang yang tempo hari dia antar pulang.

"Ini rumah Tante?" Akhirnya Bagas pun memutuskan bertanya setelah mobil berhenti di halaman parkir yang sangat luas.

"Iya," jawab Maudy. "ini rumah tante."

Perasaan Bagas langsung tidak enak. "Rumah … Tante?" tanyanya yang ingin memastikan lagi.

Maudy tersenyum, mengusap pipi Bagas dan menciumnya. Dia berkata, "Iya, Lingga. Ini rumah tante."

***

bersambung...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁶⁷—Sebuah kemungkinan~

    Malam semakin larut..Jam dinding di ruang keluarga menunjukkan hampir pukul sembilan malam.Vanila baru saja selesai mencuci piring-piring bekas makan malam.Sementara Bagas mengelap meja makan yang sejak tadi dipenuhi remah cheesecake dan bungkus kado."Akhirnya selesai juga," gumam Bagas sambil membuang lap ke atas meja.Vanila terkekeh pelan. "Aku kira tadi rumah ini mau dibongkar sama Sandi."Bagas ikut tertawa. "Firman mah fokusnya makan. Kalo Bang Sandi fokusnya bikin ribut."Vanila mengangguk setuju. "Itu dua orang memang gak bisa dipisahin."Bagas menyandarkan tubuhnya sebentar ke meja dapur.Rumah kembali tenang.Hanya terdengar suara air dari keran yang belum benar-benar tertutup rapat.Vanila melirik ke kamar yang bersebelahan dengan kamarnya. Kamar yang dulu sering Bagas tempati ketika pria itu datang. "Rachel masuk kamar. Katanya mau mandi."Bagas mengangguk pelan. "Hari ini dia capek."Vanila tersenyum tipis. "Tapi dia bahagia."Bagas ikut menoleh ke arah kamar tersebut

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁶⁶—Kembali hidup~

    Suasana rumah perlahan kembali tenang setelah gelak tawa memenuhi ruang makan.Firman yang sejak tadi menjadi bahan ledekan hanya bisa menggaruk tengkuk sambil nyengir."Yang penting kepake," ucapnya membela diri.Sandi langsung menepuk bahunya pelan. "Iya. Lo emang paling visioner."Semua kembali tertawa.Rachel mengusap sudut matanya. Entah karena terlalu banyak tertawa atau terlalu banyak menangis hari itu.Namun satu hal yang dia sadari...Sudah lama sekali dia tidak merasakan rumah seramai ini.Begitu hangat.Begitu hidup.Marco melirik Bagas sekilas. Dia menyadari pria itu sejak tadi hanya berdiri sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.Tatapannya sesekali tertuju kepada Rachel. Seolah sedang menunggu waktu yang tepat.Marco tersenyum tipis. Lalu sengaja menyenggol pelan lengan Bagas. "Gas."Bagas menoleh. "Hm?""Katanya masih ada satu hadiah."Bagas terdiam beberapa detik.Sandi yang mendengar itu langsung menoleh. "Hah? Masih ada?"Firman ikut mendekat. "Wah... Be

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁶⁵—Hari spesial untuk Rachel~

    Rachel membuka pintu rumah perlahan. Sementara Marco, Sandi, dan Firman mengikutinya dari belakang.Begitu satu langkah memasuki ruang tamu, lampu yang semula redup mendadak menyala lebih terang.Pandangan Rachel langsung tertuju ke meja makan. Di sana Vanila berdiri sambil membawa strawberry cheesecake yang dihiasi lilin angka dua puluh. Nyala api kecil itu bergoyang pelan diterpa embusan pendingin ruangan.Di belakang Vanila tergantung beberapa balon putih dan merah muda. Sederhana..Namun cukup membuat suasana rumah terasa hangat.Vanila tersenyum lembut dan menyeru, "Selamat ulang tahun, Rachel."Langkah Rachel langsung terhenti. Matanya membulat. Tatapannya bergantian memandang Vanila, kue ulang tahun, lalu Bagas yang berdiri tak jauh darinya."Kalian..." gumamnya lirih. "... ini semua..."Bagas menyeru, "Surprise!"Hanya satu kata. Namun cukup membuat pertahanan Rachel runtuh. Kedua tangannya perlahan menutup mulut. Air mata yang sejak tadi ditahannya kembali mengalir."Bukannya

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁶⁴—Kejutan#3

    Begitu keluar dari toko perlengkapan bayi, Rachel masih beberapa kali menoleh ke belakang. Tatapannya seolah belum rela meninggalkan deretan pakaian mungil yang tadi sempat mereka lihat. Bagas yang berjalan di sampingnya tersenyum dan bertanya, "Kepikiran?" Rachel mengangguk kecil. "Iya." Bagas melirik sekilas ke arah Rachel. "Pengen beli?" Rachel langsung menggeleng cepat. "Enggak." "Kenapa?" Rachel mengusap pelan perutnya. "Masih lama, Mas. Baru empat bulan. Lagian... " Dia tersenyum malu. "...jenis kelaminnya aja belum pasti." Bagas mengangguk setuju."Iya juga." Mereka lantas kembali berjalan menyusuri lorong pusat perbelanjaan. Suasana sore itu mulai semakin ramai. Beberapa toko sudah menyalakan lampu-lampu etalase. Musik instrumental terdengar mengalun pelan dari pengeras suara. Rachel tiba-tiba menghentikan langkahnya di depan sebuah toko aksesoris. "Mas." "Hm?" Lihat deh." Bagas menoleh. Di balik kaca etalase tampak deretan gantungan kunci berbentuk berbagai macam

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁶³—Kejutan#2

    Mobil Bagas akhirnya berhenti di pelataran sebuah pusat perbelanjaan. Begitu mesin dimatikan, Rachel langsung menoleh heran."Mas...""Hm?""Kita gak salah belok?" Bagas membuka sabuk pengamannya.."Enggak. "Katanya mau makan.""Iya."Rachel kembali melihat bangunan besar di depannya. "Terus kenapa ke sini?"Bagas hanya tersenyum kecil. "Ikut aja. Ayo."Rachel mengembuskan napas pelan. "Bikin penasaran aja."Bagas terkekeh pelan. "Sabar. Sekali-kali boleh 'kan?"Rachel akhirnya mengangguk pasrah. "Yaudah."---Begitu memasuki pusat perbelanjaan, hawa sejuk dari pendingin ruangan langsung menyambut mereka.Suasana siang itu cukup ramai. Beberapa keluarga tampak berjalan santai. Anak-anak kecil berlarian sambil menggenggam balon. Sesekali terdengar suara tawa memenuhi lorong. Rachel tanpa sadar memperhatikan sepasang suami istri yang sedang mendorong stroller bayi. Dia ersenyum kecil lalu refleks mengusap perutnya.Bagas yang melihat itu ikut tersenyum. "Ada apa?" Rachel menggeleng.

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁶²—Kejutan#1

    Bagas masih menatap lembar hasil USG yang berada di tangannya. Sudah hampir lima menit sejak mereka keluar dari ruang praktik dr. Yoshi.Namun, tatapannya tak juga beralih dari foto hitam putih berukuran kecil itu.Sesekali dia tersenyum sendiri, lalu menggeleng pelan. Kemudian kembali melihatnya lagi.Rachel yang berjalan di sampingnya hanya bisa menahan tawa. "Mas ….""Hm?""Itu fotonya nanti juga dibawa pulang.""Iya.""Terus kenapa dilihatin terus?"Bagas tersenyum kecil. "Soalnya lucu."Rachel mengangkat sebelah alis. "Lucu?""Iya. Padahal masih kecil begini." Bagas menunjuk gambar di foto itu. "Ini hidungnya."Rachel langsung melongok. "Yang mana?""Nah... ini."Rachel menyipitkan mata. "Mas, itu kayaknya tangan."Bagas terdiam beberapa detik. "Hah?"Rachel tak lagi mampu menahan tawanya. "Kmu juga sebenernya gak tau, kan?"Bagas langsung ikut tertawa. "Sedikit.""Sedikit apanya?""Sedikit bingung."Rachel menggeleng geli. "Papa baru.""Iya." Bagas mengakui tanpa malu. "Belajar.

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁶⁰—Sudah bisa diajak bicara~

    Orang itu memarkir mobilnya beberapa meter dari mobil Bagas. Lantas, langsung turun dan membuntuti Bagas masuk dengan jarak yang tentunya aman. Sementara Bagas yang tidak sadar jika sedang diikuti, terus berjalan melewati lorong demi lorong tanpa merasa curiga sedikit pun. Langkahnya agak cepat

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁷—Pernikahan~

    Bagas pikir jika Maudy tidak akan merealisasikan pernikahan siri dengannya secepat ini. Dan dengan segala perencanaan yang menurutnya sangat matang. Semua serba diatur oleh perempuan itu. Mulai dari tempat, penghulu dan para saksi. Oh, jangan lupa mas kawin yang berupa cincin berlian, yang past

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁶—Ajakan nikah dadakan~

    Tawaran mengantar pulang Bagas, rupanya disambut baik oleh Rachel. Padahal dia tadi cuma iseng nawarin. Tak disangka, dia pikir Rachel akan menolak tawarannya. Namun, karena sudah terlanjur nawarin pulang, dan Bagas tidak ingin mengecewakan, dia pun terpaksa izin sama Mami Kumala. Dan saat ini

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁵—Iseng nawarin pulang~

    Gila! Katakan jika saat ini seorang Bagaskara sedang mengambil kesempatan. Oh … tidak! Bagas hanya mengikuti permintaan gadis ABG cantik ini. Kalo kata Bagas "Rejeki gak boleh ditolak." Anggap saja ini rejeki nomplok! Bagas tak hanya mengajari caranya ciuman yang benar. Dia juga sudah m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status