Mag-log inDapat mangsa baru, temen sendiri langsung dilupakan.
"Mana katanya yang tadi lagi gak mood pergi? Buktinya, dideketin mangsa baru langsung kecantol." Bagas berdecak melihat kelakuan Nathan, yang sudah terlihat akrab dengan Tante Karin. Temannya itu bahkan sepertinya sudah lupa dengan permasalahannya dengan Bela. Bagas bahkan bisa melihat dengan jelas jika Nathan sangat nyaman mengobrol berdua dengan Tante Karin di bangku panjang paling ujung. Mereka memilih tempat yang jauh dari jangkauan semua orang yang berada di sini. Berteman dengan Nathan tidak sehari dua hari. Bagas ingat betul waktu pertama kali dia bertemu dengan Nathan di kelab beberapa tahun yang lalu. Temannya itu bukan berasal dari keluarga sembarangan. Nathan pernah bilang kalau dia sengaja bekerja menjadi pria bayaran karena ingin membuktikan pada ayahnya, jika dia bisa berdiri di kakinya sendiri. Nathan diusir dari rumah oleh ayahnya ketika masih sekolah di bangku SMA. Ayahnya tidak tahan dengan kelakuan Nathan yang tidak pernah serius dan suka menghambur-hamburkan uang. Nathan lantas bertekad ingin mempunyai penghasilan sendiri, agar tidak diremehkan oleh ayahnya lagi. Bagas dan Nathan selisih beberapa bulan ketika mereka bergabung di kelab mami Kumala. Bagas lebih dulu bergabung, lalu Nathan bergabung dan mereka menjadi teman akrab. Namun meski akrab, Bagas tak sekalipun menceritakan asal-usulnya pada Nathan, karena dia tidak ingin orang-orang tahu cerita masa lalunya yang pahit. Selama mengenal Nathan yang kadang masih labil, Bagas harus ekstra sabar. Tak jarang dia lebih mirip kakak dibanding teman. "Lingga." Suara Maudy yang memanggil membuat lamunan tentang Nathan buyar. Bagas menoleh ke arah perempuan yang baru saja resmi menjadi istrinya. Sebatas istri kontrak tanpa terikat hukum yang sah. "Tan." Bagas tersenyum dan beranjak untuk menghampiri Maudy, yang sedang bersama dengan teman-temannya. Jas di tangan dia pakai kembali. Maudy mengamit lengan Bagas begitu pemuda itu berdiri di sisinya. "Tante mau kenalin kamu sama temen-temen tante," ucapnya dengan nada bicara manja. Bagas melirik sekilas satu persatu teman-teman Maudy yang berjumlah lima orang. Semuanya tentu perempuan seumuran Maudy. Circle Maudy memang semua kalangan. Rata-rata para istri pengusaha atau pejabat, yang kesepian. Pastinya Bagas bisa dengan mudah membaca isi pikiran semua perempuan di hadapannya. Lewat sorot mata saja sudah sangat jelas jika para tante-tante itu haus belaian. "Lingga," ucap Bagas sambil mengulurkan tangan serta senyum menawan. Satu persatu para tante-tante itu menjabat tangan Bagas bergantian sambil menyebut nama. Mereka terang-terangan menggoda Bagas, dan Maudy siaga mengingatkan jika sekarang dia adalah istrinya. Anehnya, dari mereka semua tidak ada satu pun yang menyinggung suami Maudy. Mereka seperti tidak peduli dengan status Maudy yang masih bersuami. Mereka justru terlihat sangat mendukung pernikahan Bagas dan Maudy. Obrolan yang lama kelamaan membuat Bagas jenuh dan bosan. Karena itu Bagas pamit keluar sebentar dengan alasan ingin merokok. Setelah terbebas dari Maudy dan teman-temannya, Bagas merasa lega bukan main. Mulut yang mulai terasa kecut butuh mengasap saat ini juga. Sambil melangkah keluar, Bagas mengeluarkan kotak rokok dari saku celana bahan. Begitu tiba di luar rupanya langit hampir menggelap. Pilihan Bagas jatuh pada bangku kayu panjang yang berada di taman depan halaman parkir. Area bebas rokok. Bagas duduk, lalu mengeluarkan sebatang rokok, dan menyulutnya. "Akhirnya gue bisa ngasep," gumamnya seraya mengepulkan asap dari mulut dan hidung ke udara. Samar-samar terdengar suara langkah seseorang mendekati tempat Bagas duduk. "Bangke, ngasep gak ngajak-ngajak," cibir Nathan berkacak pinggang. Bagas melirik sambil mengisap filter tembakau. Dia menyahut, "Elo aja asik sama mangsa baru. Ngapain gue ngajak." Walau sedikit kesal, Bagas tetap mengeluarkan kotak rokok dari saku celananya, dan menyodorkannya pada Nathan. Nathan berdecak, lalu mengambil satu batang rokok dari kotak yang disodorkan Bagas. "Lo bilang gue disuruh lupain Bela. Ya udah gue deketin si Karin." Nathan menyelipkan filter tembakau di antara bibir, lalu menyulutnya dengan api. "serba salah, Lo!" Dia duduk di samping Bagas. "Lo sendiri gue perhatiin gak kayak orang yang baru nikah. Muka lo datar banget, gak ada ekspresi bahagia sama sekali." Sindiran Nathan ditanggapi senyum tipis oleh Bagas. "Emang gue harus gimana? Loncat-loncat?" tanyanya, menyelipkan batang rokok di antara sela jari dan menoleh ke arah Nathan. "muka datar bukan berarti gak bahagia, Nat." "Dan lo bisa bohong ke orang lain kecuali gue, Gas," sahut Nathan, tanpa menatap Bagas. "gue bisa bedain, mana yang minat sama mana yang pura-pura minat," ucapnya lagi, sambil sesekali mengisap rokok di sela-sela jari. Bagas tersenyum miring, mengalihkan pandangan ke langit yang mulai gelap seluruhnya. Diisapnya lagi batang rokok yang hampir habis. Dia sama sekali tidak berminat menjawab perkataan Nathan barusan.. Lebih baik dia memilih menghindari pembicaraan yang bisa saja membongkar alasannya menerima ajakan menikah dari Maudy. Belum saatnya Nathan tahu. Hening menjadi jeda panjang dari kedua pemuda itu yang berkutat dengan isi kepala masing-masing. Obrolan keduanya tak berlanjut, seakan sengaja menyisakan ruang untuk menunda sesuatu yang belum saatnya terbongkar. *** Menjelang malam, seluruh tamu undangan berpindah tempat. Mereka melanjutkan pesta perayaan pernikahan di rumah Maudy. Bagas satu mobil dengan Maudy, yang dikemudikan oleh sopir pribadi perempuan itu. Sementara mobil Bagas dibawa oleh Nathan yang mengikuti dari belakang. Sepanjang perjalanan, Maudy bergelayut manja di lengan Bagas. Seolah dia sangat antusias dan tidak sabar ingin menghabiskan malam pengantin bersama suami berondongnya. Berbanding terbalik dengan Maudy yang sangat bahagia. Bagas justru menahan diri untuk tidak meledakan amarahnya pada jalang itu, yang tidak berhenti menempel padanya. Biasanya Bagas akan merespon sentuhan Maudy. Namun untuk saat ini rasa marah lebih mendominasi pikirannya. 'Tahan, Gas. Tahan.' Bagas mendoktrin dirinya sendiri. Beberapa menit berlalu, mobil yang membawa Bagas dan Maudy memasuki area perumahan elite. Perhatian Bagas seketika tertuju pada nama perumahan yang nampak tidak asing di ingatan. 'Kayaknya gue pernah ke sini.' Bagas membatin, sambil mengingat-ingat kembali. 'Ini emang bener alamat rumahnya Maudy. Tapi… Kenapa dia masuk ke rumah ini?' Ingatan Bagas masih berfungsi dengan baik. Gerbang rumah mewah yang baru saja dia masuki hampir sama dengan rumah seseorang yang tempo hari dia antar pulang. "Ini rumah Tante?" Akhirnya Bagas pun memutuskan bertanya setelah mobil berhenti di halaman parkir yang sangat luas. "Iya," jawab Maudy. "ini rumah tante." Perasaan Bagas langsung tidak enak. "Rumah … Tante?" tanyanya yang ingin memastikan lagi. Maudy tersenyum, mengusap pipi Bagas dan menciumnya. Dia berkata, "Iya, Lingga. Ini rumah tante." *** bersambung...Beberapa hari kemudian...Pengadilan Negeri Jakarta kembali dipenuhi orang sejak pagi.Namun suasananya berbeda dari persidangan sebelumnya.Tidak banyak saksi yang menunggu di luar ruang sidang.Tidak ada lagi pemeriksaan panjang.Hari itu...Majelis hakim akan membacakan putusan terhadap Maudy Prameswari.Bagas berdiri di samping mobil sambil menatap gedung pengadilan.Untuk beberapa detik, dia hanya diam.Dulu...Dia datang ke tempat seperti ini dengan membawa satu tujuan.Balas dendam.Dia ingin melihat Maudy kehilangan semuanya.Seperti dirinya yang pernah kehilangan keluarga.Namun sekarang...Perasaannya sudah berbeda.Dendam itu masih meninggalkan bekas.Tetapi tidak lagi menguasai hidupnya.Sebuah tangan menyentuh lengannya."Mas."Bagas menoleh.Rachel berdiri di sampingnya.Perempuan itu mengenakan dress sederhana dan cardigan tipis. Perutnya yang semakin membesar membuat Bagas otomatis memperhatikan langkahnya."Pelan-pelan," ujar Bagas.Rachel tersenyum. "Aku masih bisa j
Dua hari kemudian... Persidangan perkara Maudy Prameswari kembali dilanjutkan. Sejak pagi, ruang sidang sudah dipenuhi pengunjung. Tidak seramai persidangan pertama, tetapi beberapa wartawan masih terlihat memenuhi bagian belakang ruangan. Mereka tahu, perkara yang sedang berjalan bukan sekadar kasus kejahatan biasa. Terlalu banyak nama besar yang terlibat. Terlalu banyak rahasia yang perlahan terbongkar. Dan hari itu... Ada satu barang bukti yang akan kembali diperlihatkan di hadapan majelis hakim. Bagas duduk di bangku pengunjung paling depan. Di sampingnya, Rachel terlihat tenang. Perempuan itu mengenakan dress sederhana berwarna biru muda. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai di bahu. Tangannya sesekali menyentuh perut yang mulai membesar. Bagas melirik, dan bertanya, "Capek?" Rachel menggeleng. "Enggak." "Yakin?" Rachel tersenyum. "Iya." Bagas mengangguk. Namun tangannya tetap menggenggam jemari Rachel. Seolah memastikan perempuan itu baik-baik saja. Di sisi lai
Sore itu, langit Jakarta mulai berubah warna.Matahari perlahan turun di balik gedung-gedung tinggi, meninggalkan semburat jingga yang memantul di kaca jendela rumah Vanila.Bagas baru saja memarkirkan mobilnya di halaman. Di tangan kanannya terdapat dua kantong belanja berukuran cukup besar.Dia berjalan menuju pintu depan. Belum sempat mengetuk...Pintu sudah terbuka.Vanila berdiri di sana. "Kamu?"Bagas mengangkat kedua kantong di tangannya."Baru pulang kerja."Vanila melirik barang bawaan tersebut."Belanja apa?"Bagas tersenyum tipis. "Barang bayi."Vanila langsung mengangkat alis. "Wah." Dia membuka pintu lebih lebar. "Masuk."Bagas melangkah masuk.Dari ruang keluarga terdengar suara televisi yang menyala pelan.Rachel sedang duduk di sofa dengan beberapa bantal menyangga punggungnya.Begitu melihat Bagas, wajahnya langsung cerah."Mas."Bagas tersenyum. "Hm."Rachel memperhatikan kantong di tangan calon suaminya itu, lalu bertanya, "Kamu bawa apa?"Bagas meletakkannya di ata
Keesokan paginya... Bagas datang lebih awal dari biasanya. Jam di dinding kantor bahkan belum menunjukkan pukul delapan ketika dia sudah duduk di depan meja kerjanya. Di hadapannya terdapat beberapa dokumen yang diberikan Hendra kemarin. Bagas membuka satu per satu, dan mulai membaca dengan teliti. Tidak ada lagi pikiran tentang Lingga. Tidak ada lagi penyamaran. Setidaknya untuk beberapa jam ke depan. Dia ingin serius dengan pekerjaan barunya. Bukan hanya karena membutuhkan penghasilan. Tapi karena untuk pertama kalinya, Bagas ingin membangun sesuatu yang benar-benar miliknya sendiri. Sekitar setengah jam kemudian, Hendra keluar dari ruangannya. "Bagas." Bagas langsung berdiri. "Iya, Pak?" "Sudah dibaca?" "Sudah." "Bagaimana?" "Beberapa bagian masih harus saya pelajari lagi." Hendra mengangguk puas. "Bagus." Bagas mengernyit. "Bagus?" "Kalau kamu bilang sudah menguasai semuanya dalam satu malam, justru saya khawatir." Bagas tertawa kecil. Hendra kem
Dua hari kemudian...Pukul tujuh pagi Bagas sudah berada di dalam mobilnya.Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia berangkat bekerja bukan untuk menjalankan sebuah penyamaran.Tidak ada identitas palsu.Tidak ada nama Lingga.Tidak ada rencana rahasia.Tidak ada target yang harus dia dekati.Hanya sebuah pekerjaan.Sederhana.Namun justru karena kesederhanaan itu, Bagas merasa sedikit asing.Dia melirik dirinya sendiri melalui kaca spion.Kemeja putih.Celana bahan hitam.Rambut yang ditata sederhana.Tidak ada lagi penampilan yang sengaja dibuat untuk menarik perhatian perempuan seperti Maudy.Bagas tersenyum tipis."Bagaskara..." gumamnya pelan.Nama yang selama berbulan-bulan hampir dia tinggalkan.Kemudian mesin mobil kembali dinyalakan.Dia melajukan kendaraan menuju kantor Hendra.---Hari-hari pertama bekerja ternyata tidak semudah yang Bagas bayangkan.Hendra benar-benar memperlakukannya seperti karyawan biasa.Tidak ada perlakuan khusus.Tidak ada toleransi hanya kare
Malam itu, setelah mengantar Rachel kembali ke rumah Vanila, Bagas tidak ikut masuk. Dia hanya memastikan perempuan itu benar-benar baik-baik saja sebelum kembali ke mobilnya. "Aku masuk dulu, ya," ucap Rachel. Bagas mengangguk. "Istirahat." "Kamu juga." Bagas tersenyum tipis. "Besok aku telepon." Rachel mengangguk, lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Sementara Bagas menunggu sampai pintu tertutup sebelum akhirnya kembali menuju mobil. Beberapa menit kemudian, mobilnya melaju meninggalkan halaman rumah Vanila. Bagas tidak menuju tempat lain. Melainkan apartemennya sendiri. --- Sesampainya di apartemen Bagas meletakkan kunci mobil di atas meja. Jas yang dikenakannya dilepas dan diletakkan di sandaran kursi. Kemudian dia berdiri cukup lama di depan jendela. Pemandangan kota terlihat ramai dari ketinggian. Lampu kendaraan bergerak seperti garis-garis kecil di bawah sana. Namun entah kenapa, malam ini pikirannya justru terasa lebih kosong. Persidangan tadi masih te
Bagas pikir jika Maudy tidak akan merealisasikan pernikahan siri dengannya secepat ini. Dan dengan segala perencanaan yang menurutnya sangat matang. Semua serba diatur oleh perempuan itu. Mulai dari tempat, penghulu dan para saksi. Oh, jangan lupa mas kawin yang berupa cincin berlian, yang past
Tawaran mengantar pulang Bagas, rupanya disambut baik oleh Rachel. Padahal dia tadi cuma iseng nawarin. Tak disangka, dia pikir Rachel akan menolak tawarannya. Namun, karena sudah terlanjur nawarin pulang, dan Bagas tidak ingin mengecewakan, dia pun terpaksa izin sama Mami Kumala. Dan saat ini
Gila! Katakan jika saat ini seorang Bagaskara sedang mengambil kesempatan. Oh … tidak! Bagas hanya mengikuti permintaan gadis ABG cantik ini. Kalo kata Bagas "Rejeki gak boleh ditolak." Anggap saja ini rejeki nomplok! Bagas tak hanya mengajari caranya ciuman yang benar. Dia juga sudah m
Setelah dari hotel, Bagas langsung menuju ke kelab. Daripada suntuk di apartemen sendirian, lebih baik dia di sini. Lagi pula, Bagas tidak bisa libur walau sehari, karena mami Kumala—pemilik kelab yang merangkap sebagai germo itu sudah mewanti-wanti. Ya... Walaupun tubuhnya lelah lantaran dia suda







