FAZER LOGINBagas pikir jika Maudy tidak akan merealisasikan pernikahan siri dengannya secepat ini. Dan dengan segala perencanaan yang menurutnya sangat matang. Semua serba diatur oleh perempuan itu.
Mulai dari pemilihan tempat untuk pemberkatan, pastor, pakaian, para saksi, serta mas kawin. Semua benar-benar mirip pernikahan sungguhan. Pernikahan dilangsungkan secara tertutup tentunya. Hanya orang-orang terdekat Maudy yang diperkenankan hadir. Sedangkan dari pihak Bagas hanya Nathan yang hadir. Bagas terlihat sangat tampan dan gagah dengan balutan jas warna hitam, yang sebelumnya sudah dipersiapkan oleh Maudy untuknya. Sementara perempuan itu mengenakan gaun warna putih tanpa lengan, dan panjang hanya sebatas paha. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai, dan ditutupi dengan selendang transparan warna putih. Perasaan Bagas pastinya campur aduk detik ini. Bisa menjebak jalang sialan yang menghancurkan keluarganya dengan pernikahan, sesuatu yang sudah sangat lama dia nantikan. Tak ada cinta maupun kasih, yang ada hanya keinginan balas dendam, yang menjadi tujuan utama pernikahan ini. Pelan-pelan Bagas akan membuat Maudy merasakan hal serupa. Bangkrut hingga memutuskan untuk mengakhiri hidup. Semoga setelah ini semua bisa berjalan sesuai rencananya. Mungkin dari luar mereka berdua terlihat mirip pasangan pengantin sungguhan yang saling mencintai. Berdiri di hadapan pastor, saling menatap sambil memegang tangan satu sama lain. Tak ada yang akan mengira jika pernikahan ini merupakan sebatas kesepakatan kontrak antara Bagas dan Maudy. Selanjutnya keduanya bersiap mengucapkan sakramen perkawinan di depan pastor serta para saksi. Pastor memimpin acara tersebut dengan khidmat. Membimbing kedua mempelai menuju pernikahan sakral. "Di hadapan imam dan para saksi… Saya, Lingga menyatakan dengan tulus ikhlas, bahwa Maudy yang hadir di sini mulai sekarang ini menjadi istri saya … Saya berjanji setia kepadanya dalam untung dan malang, dan saya mau mencintai dan menghormatinya seumur hidup. Demikianlah janji saya demi Allah dan Injil suci ini." Bagas mengucapkan janji sakramen perkawinan dengan lancar, dan pastinya terlihat begitu tulus. Namun, ada rasa perih dari luka yang belum sepenuhnya sembuh menjalar di dadanya. Panas dan begitu sesak. "Di hadapan imam dan para saksi… Saya, Maudy menyatakan dengan tulus ikhlas, bahwa Lingga yang hadir di sini mulai sekarang ini menjadi suami saya … Saya berjanji setia kepadanya dalam untung dan malang, dan saya mau mencintai dan menghormatinya seumur hidup. Demikianlah janji saya demi Allah dan Injil suci ini." Maudy mengucapkan janji sakramen perkawinan dengan raut semringah, serta tatapan penuh damba pada pemuda di hadapannya. Dia rela melakukan hal tak bermoral semacam ini hanya demi kepuasan batin. Setelah masing-masing selesai mengucapkan janji sakramen perkawinan, pastor mendoakan keduanya. Selanjutnya mempersilakan mempelai untuk menyematkan cincin di jari manis masing-masing. Kemudian menyuruh mempelai berciuman sebagai simbol jika keduanya telah resmi menjadi suami istri. Bagas merengkuh pinggang Maudy, lalu membuka perlahan selendang transparan yang menutupi wajah perempuan itu. "Tante cantik banget," puji Bagas, sekadar ingin membuat Maudy makin yakin dengan pilihannya saat ini. Maudy tersipu. "Kamu juga ganteng banget, Lingga." Bagas memagut bibir Maudy dengan gerakan sangat lembut dan natural, lalu disambut oleh riuh tepuk tangan dari para saksi yang turut menyaksikan. *** "Nat," panggil Bagas, yang tahu-tahu sudah duduk di samping Nathan. "ngelamun lo?" Dia melepas jas, lalu meletakkannya di pangkuan. Selesai dengan sakramen perkawinan, Bagas memilih menemui Nathan, sedangkan Maudy menemui teman-temannya. Nathan menoleh, menatap Bagas dengan tatapan berbeda, dan berkata, "Selamat, ya, Bro!" sambil menepuk-nepuk pundak Bagas. Walau sempat heran dengan sikap Nathan, Bagas tetap menghargai ucapan 'selamat' itu. "Makasih," ucapnya, tersenyum tipis. "Habis dari sini lo ikut, ya, Nat?" tanya Bagas yang lebih mirip seperti sebuah permintaan khusus. "Ikut ke mana?" tanya Nathan sambil melirik sekilas ke arah Maudy, yang sedang berbincang dengan teman-teman kalangannya. "Ke rumahnya tante Maudy," jawab Bagas. "dia mau ngadain pesta." Bagas melirik ke arah Maudy. "gue sekarang udah jadi suaminya, Nat," ucapnya, dengan raut datar tanpa ekspresi sama sekali. Tatapan Nathan seketika beralih pada Bagas. "Pesta apa, Gas?" Bagas menoleh, dan menjawab, "Pesta kayak waktu di labuan Bajo, Nat. Tapi … kali ini kayaknya lebih ganas." "Seriusan, lo?" Belum apa-apa sekujur tubuh Nathan bergidik. Bagas mengangguk. "Dia ngundang beberapa temen-temen kita, Nat. Pesta kolam renang." Kedua alisnya naik turun. "Tau 'kan, lo, gimana cara mainnya?" Nathan menelan ludah, padahal baru membayangkannya saja. "Taulah!" "Bayarannya juga gede, Nat," kata Bagas. "elo ikutan, ya? Itung-itung buat healing, daripada lo mikirin tante Bela yang gak jelas itu." Bagas menepuk-nepuk dada Nathan. "entar gue temenin." Dari cara Nathan merespon, Bagas yakin jika temannya ini ragu. "Gue …." "Lingga, kenalin tante sama temen kamu, dong." Tahu-tahu seorang perempuan mendekat ke tempat duduk Bagas dan Nathan. Keduanya menoleh secara bersamaan pada perempuan yang usianya lebih tua dari mereka, tetapi masih terlihat awet muda karena rajin perawatan. "Boleh-boleh, Tan." Bagas mengangguk dan menatap Nathan. "Namanya …" "Nabas," ucap Nathan, dan Bagas berdecak karena temannya itu menggunakan nama samarannya. Kalau Nathan sudah mode serius begitu, Bagas bisa memastikan jika temannya ini pasti tidak akan main-main. Bagas melirik tante di sampingnya, yang menyeringai lebar. "Wow, namanya sebagus orangnya." Ck! Di mana-mana Tante-tante yang ditemui Bagas rata-rata terlalu nunjukin minat di awal perkenalan.. "Kenalin, aku Karin," ucap tante bernama Karin itu sambil mengulurkan tangan. Sementara mulut Bagas mencebik sambil menatap Nathan, yang bersemangat membalas uluran tangan tante bernama Karin itu, dan tanpa basa-basi menciumnya. 'Jiah, si Nathan. Lagaknya kegantengan banget. Tapi emang ganteng, sih. Tapi, masih gantengan gue dikit.' Bagas memuji-muji dirinya sendiri dalam hati, ketika melihat sikap Nathan yang langsung terang-terangan. *** Bersambung...Manik Bagas tak berkedip, menatap lurus sosok gadis yang tempo hari dia bantu dan antar pulang, saat ini sedang berdiri di hadapan.Nampaknya, gadis itu juga sama terkejutnya. 'Jadi … Rachel anak tirinya Maudy?'Seketika Bagas merasa paling bodoh ketika baru menyadari fakta sebesar ini.Kalau Rachel anak tirinya Maudy, lantas semua rencana yang sudah dia susun rapi terpaksa dirubah."Elo ngapain ada di rumah gue?"Pertanyaan Rachel membuat Bagas terpaksa kembali pada kenyataan yang amat sangat mengejutkan ini.Pemuda itu terhenyak, lalu berdehem singkat guna menyingkirkan kegugupan yang bisa saja membuat dirinya terlihat makin bodoh."Gue ke sini karena ada urusan sama Tante Maudy," kata Bagas sesuai fakta, sambil diam-diam mengakhiri panggilan dengan Firman yang terjeda. Di ujung sana pasti Firman sudah mendengar semuanya. Bagas memasukkan ponselnya ke saku jas, sambil melirik Rachel yang k
Bagas menatap perempuan yang paling berjasa dalam hidupnya selama ini. Sorot mata Mami memancarkan sesuatu yang sulit ditebak. Kalimat yang baru saja dia dengar dari mami, seolah menyiratkan pesan. Entah apa. Namun, Bagas tetap menghargai serta berterima kasih pada perempuan yang usianya hampir setengah abad itu, tetapi masih terlihat sangat cantik dan modis. "Lingga bakal hati-hati, Mi," ucap Bagas. "Mami gak perlu khawatir." Diusapnya lengan mami Kumala, sekadar meyakinkan perempuan itu bila dia bisa menjaga diri. Mami Kumala balas mengusap lengan Bagas dengan seulas senyum bangga. "Kamu pasti bisa mencapai tujuanmu, Ga." Bagas mengangguk. "Berkat mami juga." "Mami cuma bantu seorang anak yang lagi putus asa waktu itu." Kalimat dari Mami Kumala memberi Bagas semangat baru. Dialah perempuan paling berjasa serta baik yang pernah Bagas temui. Berkat tawaran mami kal
Dari semenjak kakinya menginjak paving di halaman parkir, sepasang mata Bagas tak lepas memerhatikan rumah mewah bergaya klasik Eropa itu dengan raut datar, dan penuh tanya.Pilar-pilar menjulang tinggi dan kokoh di setiap sudut rumah berwarna putih gading itu. Sayup-sayup terdengar suara musik dari arah halaman belakang rumah bertingkat tiga tersebut. Nampaknya, pesta sudah dimulai sebelum Bagas tiba di sini.Bagas menghela panjang, menatap nyalang sekelilingnya. Sementara di kepalanya sudah tersusun berbagai rencana, termasuk mengambil alih seluruh harta yang pernah dicuri oleh Maudy beberapa tahun yang lalu.Sebagian kenangan masa lalu muncul sekilas di ingatan pemuda dua puluh empat tahun itu. Rumah mewah Maudy hampir mirip dengan rumah Bagas yang dijual untuk biaya pengobatan sang mama.Rumah yang penuh kenangan masa kecilnya sekaligus trauma yang tidak akan pernah bisa Bagas lupakan seumur hidup.Suami baru Maudy memang sangat kaya, terbukti saat ini jalang itu bisa hidup mewah
Dapat mangsa baru, temen sendiri langsung dilupakan."Mana katanya yang tadi lagi gak mood pergi? Buktinya, dideketin mangsa baru langsung kecantol."Bagas berdecak melihat kelakuan Nathan, yang sudah terlihat akrab dengan Tante Karin. Temannya itu bahkan sepertinya sudah lupa dengan permasalahannya dengan Bela.Bagas bahkan bisa melihat dengan jelas jika Nathan sangat nyaman mengobrol berdua dengan Tante Karin di bangku panjang paling ujung. Mereka memilih tempat yang jauh dari jangkauan semua orang yang berada di gereja.Berteman dengan Nathan tidak sehari dua hari. Bagas ingat betul waktu pertama kali dia bertemu dengan Nathan di kelab beberapa tahun yang lalu.Temannya itu bukan berasal dari keluarga sembarangan. Nathan pernah bilang kalau dia sengaja bekerja menjadi pria bayaran karena ingin membuktikan pada ayahnya, jika dia bisa berdiri di kakinya sendiri.Nathan diusir dari rumah oleh ayahnya ketika masih sekolah di bangku SMA. Ayahnya tidak tahan dengan kelakuan Nathan yang t
Bagas pikir jika Maudy tidak akan merealisasikan pernikahan siri dengannya secepat ini. Dan dengan segala perencanaan yang menurutnya sangat matang. Semua serba diatur oleh perempuan itu. Mulai dari pemilihan tempat untuk pemberkatan, pastor, pakaian, para saksi, serta mas kawin. Semua benar-benar mirip pernikahan sungguhan. Pernikahan dilangsungkan secara tertutup tentunya. Hanya orang-orang terdekat Maudy yang diperkenankan hadir. Sedangkan dari pihak Bagas hanya Nathan yang hadir. Bagas terlihat sangat tampan dan gagah dengan balutan jas warna hitam, yang sebelumnya sudah dipersiapkan oleh Maudy untuknya. Sementara perempuan itu mengenakan gaun warna putih tanpa lengan, dan panjang hanya sebatas paha. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai, dan ditutupi dengan selendang transparan warna putih. Perasaan Bagas pastinya campur aduk detik ini. Bisa menjebak jalang sialan yang menghancurkan keluarganya dengan pernikahan, sesuatu yang sudah sangat lama dia nantikan. Tak
Tawaran mengantar pulang Bagas, rupanya disambut baik oleh Rachel. Padahal dia tadi cuma iseng nawarin. Tak disangka, dia pikir Rachel akan menolak tawarannya. Namun, karena sudah terlanjur nawarin pulang, dan Bagas tidak ingin mengecewakan, dia pun terpaksa izin sama Mami Kumala. Dan saat ini roda empat milik Bagas sudah memasuki kawasan kompleks perumahan elite. 'Ini tempat kayaknya gak asing.' Entah mengapa, tiba-tiba Bagas merasa jika area perumahan Rachel tidak asing di ingatannya. "Gue turun di sini aja." Ucapan Rachel, membuat Bagas seketika menoleh sekilas. "Di sini?" tanyanya sambil memelankan laju mobil dan berhenti. Rachel yang rupanya sudah melepas sabuk pengaman, menatap Bagas dan mengangguk. "Rumah lo yang mana?" tanya Bagas, yang merasa kurang pantas jika menurunkan seorang gadis di sini. "Tuh!" Rachel menunjuk rumah berlantai tiga tak jauh dari jangkauannya.. Bagas memalingkan pandangan ke arah yang ditunjuk Rachel. "Beneran yang itu?" "Iya." Rach