Home / Romansa Pria / Pesona Pria Plus-plus / Bab⁷—Pernikahan~

Share

Bab⁷—Pernikahan~

Author: Na_Vya
last update publish date: 2026-02-16 21:41:50

Bagas pikir jika Maudy tidak akan merealisasikan pernikahan siri dengannya secepat ini. Dan dengan segala perencanaan yang menurutnya sangat matang. Semua serba diatur oleh perempuan itu.

Mulai dari tempat, penghulu dan para saksi.

Oh, jangan lupa mas kawin yang berupa cincin berlian, yang pastinya dipersiapkan oleh Maudy. Bagas pun berinisiatif menambahkan sejumlah uang tunai untuk mas kawin agar terlihat lebih meyakinkan jika dia juga sangat antusias dengan pernikahan ini.

Entah bagaimana caranya Maudy bisa merencanakan semuanya dalam waktu sesingkat ini.

Bagas hampir tak percaya jika perempuan itu sungguh-sungguh bertekad ingin menjadi istrinya.

Apalagi semua ini benar-benar mirip pernikahan sungguhan.

Pernikahan dilangsungkan secara tertutup tentunya. Hanya orang-orang terdekat Maudy yang diperkenankan hadir. Sedangkan dari pihak Bagas hanya Nathan yang hadir.

Bagas terlihat sangat tampan dan gagah dengan balutan jas warna hitam, dan peci warna senada, yang sebelumnya sudah dipersiapkan oleh Maudy untuknya.

Sementara perempuan itu mengenakan kebaya bahan lace warna putih, yang terbilang tidak sederhana. Pastinya dari merk desainer terkenal.

Perasaan Bagas pastinya campur aduk detik ini. Bisa menjebak jalang sialan yang menghancurkan keluarganya dengan pernikahan, sesuatu yang sudah sangat lama dia nantikan.

Tak ada cinta maupun kasih, yang ada hanya keinginan balas dendam, yang menjadi tujuan utama pernikahan ini. Pelan-pelan Bagas akan membuat Maudy merasakan hal serupa. Bangkrut hingga memutuskan untuk mengakhiri hidup.

Semoga setelah ini semua bisa berjalan sesuai rencananya.

Mungkin dari luar mereka berdua terlihat mirip pasangan pengantin sungguhan yang saling mencintai. Duduk berhadapan dengan penghulu dan saksi, membuat Bagas merasa agak gugup.

Biar bagaimanapun ini adalah pengalaman pertamanya. Walaupun hanya sekadar sandiwara.

Dan yang pasti tak ada yang akan mengira jika pernikahan ini merupakan sebatas kesepakatan kontrak antara Bagas dan Maudy.

Selanjutnya penghulu memberi arahan, dan membimbing Bagas agar berjabat tangan, seraya mengucapkan ijab kabul.

"Saya terima nikah dan kawinnya Maudy binti Himawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"

"Bagaimana para saksi? Sah?"

"Sah!"

Bagas menghela panjang, ketegangan di rautnya perlahan sirna berganti dengan seringai tipis, yang tidak disadari oleh siapapun termasuk Maudy di sampingnya.

Selanjutnya penghulu meminta pengantin wanita mencium punggung tangan suaminya, lalu suaminya mencium kening istrinya.

"Tante cantik banget," puji Bagas setelah mengecup kening Maudy, yang sore itu mengenakan selendang tipis di kepala.

Maudy tersipu. "Kamu juga ganteng banget, Lingga."

***

"Nat," panggil Bagas, yang tahu-tahu sudah duduk di samping Nathan. "ngelamun lo?" Dia melepas jas, lalu meletakkannya di pangkuan.

Selesai dengan ijab kabul, Bagas memilih menemui Nathan, sedangkan Maudy menemui teman-temannya.

Nathan menoleh, menatap Bagas dengan tatapan berbeda, dan berkata, "Selamat, ya, Bro!" sambil menepuk-nepuk pundak Bagas.

Walau sempat heran dengan sikap Nathan, Bagas tetap menghargai ucapan 'selamat' itu. "Makasih," ucapnya, tersenyum tipis.

"Habis dari sini lo ikut, ya, Nat?" tanya Bagas yang lebih mirip seperti sebuah permintaan khusus.

"Ikut ke mana?" tanya Nathan sambil melirik sekilas ke arah Maudy, yang sedang berbincang dengan teman-teman kalangannya.

"Ke rumahnya tante Maudy," jawab Bagas. "dia mau ngadain pesta."

Bagas melirik ke arah Maudy. "gue sekarang udah jadi suaminya, Nat," ucapnya, dengan raut datar tanpa ekspresi sama sekali.

Tatapan Nathan seketika beralih pada Bagas. "Pesta apa, Gas?"

Bagas menoleh, dan menjawab, "Pesta kayak waktu di labuan Bajo, Nat. Tapi … kali ini kayaknya lebih ganas."

"Seriusan, lo?" Belum apa-apa sekujur tubuh Nathan bergidik.

Bagas mengangguk. "Dia ngundang beberapa temen-temen kita, Nat. Pesta kolam renang." Kedua alisnya naik turun. "Tau 'kan, lo, gimana cara mainnya?"

Nathan menelan ludah, padahal baru membayangkannya saja. "Taulah!"

"Bayarannya juga gede, Nat," kata Bagas. "elo ikutan, ya? Itung-itung buat healing, daripada lo mikirin tante Bela yang gak jelas itu." Bagas menepuk-nepuk dada Nathan. "entar gue temenin."

Dari cara Nathan merespon, Bagas yakin jika temannya ini ragu.

"Gue …."

"Lingga, kenalin tante sama temen kamu, dong."

Tahu-tahu seorang perempuan mendekat ke tempat duduk Bagas dan Nathan.

Keduanya menoleh secara bersamaan pada perempuan yang usianya lebih tua dari mereka, tetapi masih terlihat awet muda karena rajin perawatan.

"Boleh-boleh, Tan." Bagas mengangguk dan menatap Nathan. "Namanya …"

"Nabas," ucap Nathan, dan Bagas berdecak karena temannya itu menggunakan nama samarannya.

Kalau Nathan sudah mode serius begitu, Bagas bisa memastikan jika temannya ini pasti tidak akan main-main.

Bagas melirik tante di sampingnya, yang menyeringai lebar. "Wow, namanya sebagus orangnya."

Ck! Di mana-mana Tante-tante yang ditemui Bagas rata-rata terlalu nunjukin minat di awal perkenalan..

"Kenalin, aku Karin," ucap tante bernama Karin itu sambil mengulurkan tangan.

Sementara mulut Bagas mencebik sambil menatap Nathan, yang bersemangat membalas uluran tangan tante bernama Karin itu, dan tanpa basa-basi menciumnya.

'Jiah, si Nathan. Lagaknya kegantengan banget. Tapi emang ganteng, sih. Tapi, masih gantengan gue dikit.'

Bagas memuji-muji dirinya sendiri dalam hati, ketika melihat sikap Nathan yang langsung terang-terangan.

***

Na_Vya

Teman-teman, bab ini sudah saya revisi yaa. Saya minta maaf atas kelalaian saya sebelumnya. Saya sungguh tidak ada niat untuk menghina. Ke depannya saya akan lebih berhati-hati lagi. Terima kasih sudah mengingatkan yaa 🙏🙏🏻

| 4
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁸⁴—Ingin Hidup Sepenuhnya

    Sepanjang perjalanan meninggalkan rumah sakit, Bagas beberapa kali melirik Rachel yang duduk di sampingnya. Perempuan itu tampak sedang memikirkan sesuatu sambil sesekali mengusap perutnya yang semakin membesar. Ada senyum tipis di wajah Rachel, senyum yang sejak tadi belum benar-benar menghilang setelah pertemuan mereka dengan Sandra. Bagas tahu pertemuan tadi bukan sesuatu yang mudah bagi mereka. Untuk Rachel, itu adalah pertemuan pertama dengan perempuan yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan laki-laki yang dicintainya. Sementara bagi Bagas, melihat ibunya bisa tersenyum, tertawa, bahkan memarahi dirinya karena kehamilan Rachel memberikan perasaan yang sulit dijelaskan. Seolah-olah ada bagian dari kehidupannya yang selama bertahun-tahun terasa kosong, kini mulai terisi kembali. "Mikirin apa?" tanya Bagas akhirnya. Rachel menoleh. "Nggak." "Kalau nggak mikirin apa-apa, kenapa senyum sendiri?" "Aku seneng." Bagas mengangkat alis. "Seneng karena apa? Karena akhirn

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁸³—Bertemu Mama~

    Keesokan harinya... Sejak pagi, Bagas sudah memikirkan satu hal. Hari ini dia ingin membawa Rachel menemui mamanya. Bukan karena dia ingin sekadar mengenalkan perempuan yang dicintainya. Ada sesuatu yang jauh lebih besar dari itu. Selama bertahun-tahun, satu-satunya keluarga yang masih dia miliki adalah Sandra. Namun setelah kematian Raditya, keadaan Sandra perlahan memburuk. Depresi yang dialaminya membuat perempuan itu harus menjalani perawatan panjang. Ada masa ketika Sandra bahkan tidak mengenali Bagas dengan baik. Ada hari-hari ketika dia hanya diam menatap jendela. Ada pula saat-saat ketika emosinya tidak stabil dan dia terus menyalahkan dirinya sendiri atas kematian suaminya. Bagas pernah merasa bersalah karena tidak mampu menyelamatkan keduanya. Ayahnya sudah pergi. Ibunya jatuh sakit. Dan dirinya sendiri justru sibuk membangun kehidupan sebagai Lingga demi membalas dendam. Sekarang... Setelah semuanya selesai, Bagas ingin memperbaiki satu hal yang paling la

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁸²—Kejutan untuk Calon Ibu~

    Sore itu...Rumah Vanila terasa jauh lebih ramai dari biasanya. Rachel yang sejak siang berada di ruang tengah bahkan tidak menyadari ada sesuatu yang aneh.Vanila beberapa kali keluar masuk rumah. Kadang membawa sesuatu ke belakang. Kadang menerima telepon dan berbicara dengan suara yang sengaja dikecilkan. Rachel sebenarnya sempat curiga. Namun setiap kali ditanya, Vanila selalu memberikan jawaban yang sama. "Nanti juga kamu tau." Rachel akhirnya menyerah. Dia duduk nyaman di sofa sambil mengusap perutnya yang semakin membesar. Sejak beberapa hari terakhir, gerakan bayinya juga mulai semakin terasa. Tidak selalu kuat. Tetapi cukup untuk membuat Rachel tersenyum setiap kali merasakannya. Dia masih sering tidak percaya bahwa sebentar lagi akan ada seorang anak kecil yang memanggilnya Mama. Ada rasa takut. Ada rasa gugup. Tetapi lebih banyak rasa bahagia. Terutama setelah semua masalah yang mereka lalui akhirnya selesai. Rachel baru saja mengambil ponsel ketika terdengar su

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁸¹—Langkah Pertama~

    Hari pertama kembali bekerja ternyata jauh lebih melelahkan daripada yang Bagas bayangkan.Bukan karena pekerjaannya terlalu berat. Justru karena sudah cukup lama pikirannya terbiasa hidup dalam ketegangan, sampai rutinitas kantor terasa seperti sesuatu yang asing. Pukul lima sore, Bagas keluar dari ruangannya sambil mengembuskan napas. Hari itu dia tidak melakukan sesuatu yang luar biasa. Hanya memeriksa beberapa dokumen, mengikuti rapat, mempelajari pekerjaan yang diberikan Hendra, dan menerima teguran kecil karena beberapa hal yang masih belum dia pahami. Tetapi anehnya...Bagas merasa senang. Bahkan ketika Hendra menyuruhnya memperbaiki laporan yang salah, dia tidak merasa kesal. Dulu, seluruh waktunya dipakai untuk menyusun strategi. Sekarang dia hanya perlu memikirkan pekerjaan yang ada di depan mata. Sesederhana itu. Bagas baru saja hendak masuk ke mobil ketika Hendra memanggilnya. "Bagas." Bagas menoleh. "Iya, Om?" Hendra berjalan mendekat. "Gimana kerja sama om

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁸⁰—Dengan cara yang benar~

    Malam itu...Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Bagas kembali ke apartemennya dengan perasaan yang sulit dijelaskan.Biasanya, ketika pintu apartemen itu terbuka, kepalanya langsung dipenuhi berbagai hal. Tentang Maudy.Tentang rencana yang belum selesai.Tentang bukti yang harus disimpan.Tentang identitas Lingga yang harus terus dia jaga. Bahkan setelah semuanya selesai, tubuhnya sering kali masih terasa tegang seolah-olah ada sesuatu yang harus dia waspadai. Namun malam ini berbeda. Bagas menutup pintu apartemennya, kemudian berdiri beberapa saat tanpa melakukan apa-apa. Sunyi. Tidak ada suara televisi. Tidak ada suara orang lain. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar. Bagas mengembuskan napas panjang. Kemudian dia berjalan menuju ruang tengah dan meletakkan kunci mobil di atas meja. Matanya menyapu seluruh ruangan. Apartemen itu masih sama seperti sebelumnya. Tetapi entah kenapa, malam ini terasa berbeda. Mungkin karena untuk pertama kalinya, dia ti

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁷⁹—Putusan~

    Beberapa hari kemudian...Pengadilan Negeri Jakarta kembali dipenuhi orang sejak pagi.Namun suasananya berbeda dari persidangan sebelumnya.Tidak banyak saksi yang menunggu di luar ruang sidang.Tidak ada lagi pemeriksaan panjang.Hari itu...Majelis hakim akan membacakan putusan terhadap Maudy Prameswari.Bagas berdiri di samping mobil sambil menatap gedung pengadilan.Untuk beberapa detik, dia hanya diam.Dulu...Dia datang ke tempat seperti ini dengan membawa satu tujuan.Balas dendam.Dia ingin melihat Maudy kehilangan semuanya.Seperti dirinya yang pernah kehilangan keluarga.Namun sekarang...Perasaannya sudah berbeda.Dendam itu masih meninggalkan bekas.Tetapi tidak lagi menguasai hidupnya.Sebuah tangan menyentuh lengannya."Mas."Bagas menoleh.Rachel berdiri di sampingnya.Perempuan itu mengenakan dress sederhana dan cardigan tipis. Perutnya yang semakin membesar membuat Bagas otomatis memperhatikan langkahnya."Pelan-pelan," ujar Bagas.Rachel tersenyum. "Aku masih bisa j

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab³—Tante Cindy~

    Sore itu pilihan Bagas jatuh pada kafe yang letaknya tidak terlalu jauh dengan gedung tempatnya tinggal. Perutnya sedari tadi sudah memberi sinyal, meminta diisi amunisi. Terakhir kali makan, waktu sarapan di hotel. Setelah itu Bagas tidak ada lagi memakan apa pun selain minum soda dan ngasap. Su

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab²—Informan~

    "Nikah sama Tante?" Bagas pura-pura bertanya polos, dan Maudy segera mengangguk cepat. Diusapnya bibir Maudy dengan ibu jari. "terus, suami Tante gimana?" tanyanya, seolah dia sedikit keberatan dengan status Maudy yang masih bersuami. "Kamu tenang aja, Lingga," ucap Maudy, mengecup bibir Bagas sek

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹—Masuk Perangkap🔞

    "Lingga …." Desahan bernada putus asa itu lolos dari bibir wanita cantik, yang saat ini sedang berada di dalam kendali berondong bayarannya. "tante udah gak tahan." Wanita bernama Maudy itu melenguh, menahan sesuatu yang sedari tadi dia tahan.Jari-jari milik Maudy, yang dihias kuku-kuku akrilik be

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁸—Rumah Maudy~

    Dapat mangsa baru, temen sendiri langsung dilupakan. "Mana katanya yang tadi lagi gak mood pergi? Buktinya, dideketin mangsa baru langsung kecantol." Bagas berdecak melihat kelakuan Nathan, yang sudah terlihat akrab dengan Tante Karin. Temannya itu bahkan sepertinya sudah lupa dengan permasalaha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status