Beranda / Male Adult / Pesona Pria Plus-plus / Bab⁹²—Perdebatan~

Share

Bab⁹²—Perdebatan~

Penulis: Na_Vya
last update Tanggal publikasi: 2026-05-14 18:00:43

—Beberapa saat kemudian—

"Untungnya kamu tadi bisa cari alesan, Gas. Kalo gak, Rachel pasti gak bakal berhenti cari tau," ucap Vanila menoleh pada Bagas, yang fokus pada jalanan di hadapan.

Mereka berdua kini tengah berada di mobil sedang perjalanan menuju apartemen, setelah menyelesaikan urusan di kafe dengan Rachel. Dan Bagas memutuskan untuk mengantar pulang Vanila terlebih dulu sebelum kembali ke rumah.

Bagas menoleh sekilas, lantas menyahut, "Itu anak emang bawel, Van. Kadang gue aja puyen
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁹⁷—Membuka luka lama~

    "Karena urusan saya sudah selesai, saya mohon pamit, Bu." Hendra berdiri, sambil mengamit dokumen yang baru saja ditandatangani Bagas. Urusannya di kantor ini sudah selesai, dan dia segera pamit undur lantaran masih banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan di kantornya. Maudy dan Bagas menyusul berdiri. "Baiklah, Pak. Terima kasih atas waktunya yang sudah berkenan menyempatkan buat datang ke sini." Maudy mengulurkan tangan, dan Hendra lekas menyambutnya. "Sama-sama, Bu. Urusan klien penting seperti Bu Maudy pasti akan saya dahulukan," ujar Hendra yang sedikit melebih-lebihkan. "Lingga, kamu tolong anter Pak Hendra sampai ke lobby, ya?" pinta Maudy pada Bagas. "Iya, Tan." Bagas mengiyakan. Menuruti perintah Maudy, yang sebenarnya hanya dijadikan sebagai alasan. Kesempatan untuk dirinya yang ingin menanyakan sesuatu kepada Hendra. Ada hal yang sejak tadi menggangu pikiran Bagas. Tentang siapa Hendra yang baru saja dia ingat beberapa saat lalu. Ternyata, dunia ini tak seleb

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁹⁶—Notaris~

    Berbeda dari biasanya, Bagas yang belakangan ini berangkat bersama Maudy, kali ini mereka berangkat dengan mobil masing-masing. Dan setibanya di kantor, rupanya sudah ada orang yang menunggu di ruangan Maudy. Pria paruh baya, berjas rapi dan terlihat berwibawa. Bagas seketika tertegun saat melihat pria berperawakan tinggi dan agak berisi itu. Dia pun jadi berandai-andai dalam benaknya. Seandainya papanya masih hidup, kemungkinan mirip dengan pria itu. Ah... Bagas jadi rindu papa dan mamanya. Namun... Sepasang maniknya memicing, sambil membatin. 'Kayanya gue pernah liat orang ini? Tapi di mana ya ...?' Bagas terpaku di tempatnya, diam-diam menelisik pria yang rambutnya hampir memutih itu dari atas sampai bawah. Rasa-rasanya, dia pernah bertemu dengan pria ini, tetapi lupa Bagas pernah bertemu di mana. Maudy yang sudah lebih dulu duduk di sofa, lantas menegur Bagas yang betah berdiri di depan pintu. "Lingga..." Bagas terkesiap dengan suara Maudy. Atensinya sek

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁹⁵—Menuju eksekusi~

    Bagas dan Vanila benar-benar merealisasikan niat yang ingin bergadang. Bahkan, waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari, tetapi keduanya masih asyik menonton film drama action yang diperankan aktor asal Amerika tersebut. Film yang menurut Bagas sangat membosankan. Namun, tidak dengan Vanila yang sangat mengidolakan aktor di film itu. Bagas menyomot potongan pizza dari wadah sambil berseloroh, "Bosen banget, sih, Van. Ganti yang lain, napa?" Dia menggigit ujung pizza, lalu mengunyahnya. Dia paling tidak suka menonton film yang isinya hanya adegan perkelahian, pukul-pukulan, dan tembak-menembak. Apalagi tanpa pemain wanita seksi atau adegan hot. Ah .... Untung yang meminta ditemani menonton film tersebut Vanila. Coba kalo misalkan gadis lain, pasti sudah Bagas tinggal tidur sejak tadi. Malas dan bosan sekali dia. Ck! Manik Vanila melirik Bagas sekilas. "Nanggung, Gas.Lagi seru ini!" sahutnya yang lantas merebahkan diri di sisi Bagas, dan meletakkan kepalanya di atas paha lelak

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁹⁴—Mupeng!

    "Dingin, Gas. Masa aku tidur pakek jubah mandi?" Vanila terkekeh, menggeliat lantaran Bagas mengecupi kulit lehernya yang terekspos bebas. "Bagas, geli!" Tubuhnya bahkan sampai melengkung ke belakang, dan Bagas sigap menopangnya dengan kedua tangan. "Elo wangi, Van." Bibir lelaki itu terus menjelajah di lekukan leher, lalu turun ke tulang selangka Vanila yang menonjol. "Pakek sabun apa, sih? Hmm?" Suaranya mulai terdengar rendah dan parau. Vanila sekejap memejam, sekejap mendesah, isapan bibir Bagas di kulitnya menghantarkan gelenyar aneh, yang mendesirkan setiap aliran darahnya. Hangat dan lembut. Bagas ...." Suaranya pun mulai terdengar rendah dan parau. "Gas...." Vanila menggigit kecil bibir bawahnya, menekan sensasi yang ditimbulkan akibat kecupan-kecupan basah yang dihujani Bagas tiada henti. Telapak tangan lelaki itu merambat pelan di pinggang, lalu naik ke punggung Vanila menekannya hingga dada keduanya saling menempel. "Elo cantik banget, Van." Satu kecupan singkat dil

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁹³—Keintiman~

    "Apa!" Manik Bagas melotot mendengar permintaan Vanila, yang dirasa tidak masuk akal dan gila. "lo gomong apa, sih, Van?" tukasnya seraya menegakkan punggung dan memegang lengan Vanila. Apa maksudnya, coba? Kenapa tiba-tiba Vanila meminta Bagas untuk menikahi Rachel? "Aku cuma lagi minta kamu buat jadi laki-laki yang bertanggung jawab, Gas. Itu aja," ujar Alexa, menghela panjang dan berkata lagi, "kamu gak bisa mutusin sepihak kesepakatan sementara Rachel udah jadi pihak yang dirugikan. Kamu gak kasian, hmm?" Bagas mendesah kasar. "Elo tau 'kan gue gak bisa? Dan lo juga tau kalo gue sukanya sama siapa?" "Iya, aku tau, Gas," sahut Vanila. "tapi kamu juga tau, kalo hubungan kita gak akan pernah berhasil. Gak akan." Vanila menggeleng lemah, suaranya mulai terdengar rendah. Sekeras apa pun dia dan Bagas berusaha, tetap saja perbedaan itu tidak akan berubah jika diantara mereka belum ada yang mau mengalah. Vanila menyayangi Bagas, dan dia ingin selalu bersama lelaki itu menghabis

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁹²—Perdebatan~

    —Beberapa saat kemudian—"Untungnya kamu tadi bisa cari alesan, Gas. Kalo gak, Rachel pasti gak bakal berhenti cari tau," ucap Vanila menoleh pada Bagas, yang fokus pada jalanan di hadapan.Mereka berdua kini tengah berada di mobil sedang perjalanan menuju apartemen, setelah menyelesaikan urusan di kafe dengan Rachel. Dan Bagas memutuskan untuk mengantar pulang Vanila terlebih dulu sebelum kembali ke rumah.Bagas menoleh sekilas, lantas menyahut, "Itu anak emang bawel, Van. Kadang gue aja puyeng ngadepin dia. Makanya gue males berurusan lagi sama dia."Mengingat Rachel saja sampai membuat Bagas harus menghela panjang napasnya. Salahnya dia juga yang dari awal sudah memberi kesempatan untuk gadis itu masuk ke dalam kehidupannya.Tak cukup sampai di situ, dia bahkan dengan sadarnya menjalani hubungan kesepakatan. Mengambil hak yang seharusnya menjadi milik suami Rachel kelak. Ck! Kadang bila mengingat hal tersebut, Bagas rasanya ingin memaki dirinya sendiri, yang tidak pernah bisa men

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status