登入Suara musik menggema di setiap sudut ruangan yang penerangannya minim itu. Lampu berkelap-kelip, di tengah-tengah arena dansa menyorot para penikmat hiburan dunia malam yang sedang berjoget-joget mengikuti ritme musik. Sudah cukup lama Bagas tidak menyambangi tempat ini. Tempat kerja yang memberinya banyak pengalaman serta penghasilan di atas rata-rata. Bagas rindu suasana di sini. Namun, dia tidak ingin lagi berkecimpung dalam bisnis lendir ini.. Bagas telah berjanji pada Vanila jika dia akan berhenti dan melepas pekerjaannya sebagai laki-laki penghibur. Terlebih sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah. Gak lucu aja kalo suatu saat anaknya tau kerjaan bapaknya yang dulu. Bagas tentu tidak mau anaknya kelak disangkut pautkan dengan pekerjaan lamanya. Ya ... Walaupun terkadang dia masih sering dihubungi oleh beberapa mantan pelanggan. Contohnya seperti sekarang ini. Bagas yang sedang menunggu Marco di sudut bar sambil menikmati coktail, tahu-tahu ada yang mengenali. "
Bagas ingin tidak memercayai semua ucapan Maudy tentang masa lalu sang papa. Hubungan sang papa dengan Roy pun Bagas baru kali ini mendengarnya. Roy dan Raditya merupakan teman dekat kala itu. Dan yang mengenalkan Mauren dengan Roy adalah Raditya. Kenapa dia tidak tahu jika papanya berteman dekat dengan Roy? Bagas sama sekali tidak mengingatnya. Semasa hidupnya sang papa pun tak pernah menyinggung soal Roy. Pusing! Belum selesai masalah Rachel dan Vanila. Muncul lagi masalah sang papa dan Roy. Apalagi ketika Bagas mengingat cerita Maudy soal Raditya. 'Dulu tante beneran suka sama Radit karena dia lelaki baik, perhatian dan sangat penyayang. Awalnya tante deketin dia emang cuma karena pengen deketin Roy aja. Tapi, semua terjadi di luar rencana. Radit juga bilang kalo dia nyaman sama tante. Ya ... Walaupun tante tau dia udah punya istri dan anak. Tante kasih semuanya karena Radit berjanji bakal ninggalin istri dan anaknya. Tante percaya sama dia, Lingga. Dan tante me
"A-apa?" Otak Bagas loading beberapa saat—mencerna sebuah fakta yang baru saja diungkap Maudy. 'Meisha anaknya Roy Darmawan? Kok, bisa?' Raut Bagas nampak berpikir keras, sesekali dia melirik Meisha, yang terus menunduk sambil terisak lirih. Gadis itu menangis. Hanya itu yang dapat Bagas simpulkan detik ini. "Kamu pasti kaget?" kata Maudy, menebak reaksi Bagas, yang belum berkomentar apa pun. Lelaki itu mengangguk kecil. "Aku beneran syok, Tan," ucapnya. "fakta ini terlalu mengejutkan buatku." Bagas menghela panjang, sambil menatap Maudy, yang tersenyum sinis. "Ceritanya panjang, Lingga." Maudy menghela, menatap sekilas Meisha, yang agaknya sedih dengan kabar meninggalnya Roy. Bagas menatap Meisha kemudian menatap Maudy. Ragu-ragu dia bertanya, "Ibunya Meisha udah … meninggal?" Maudy mengangguk. "Hmm. Ibunya Meisha adik tante satu-satunya. Namanya Mauren," ucapnya, yang rautnya berubah sendu. Oh, kini Bagas sedikit paham soal masalah ini, meskipun terdengar sangat menyedihka
Roda empat milik Bagas memasuki pekarangan rumah minimalis modern bercat putih. Pekarangan rumah itu dipenuhi tanaman bunga serta beberapa pohon palm yang tinggi menjulang. Bagas dan Maudy turun dari mobil bersamaan. Raut keduanya terlihat kontras. Bagas dengan segala rasa penasarannya, sedangkan Maudy nampak semringah. Di tangan perempuan itu menenteng paperbag berisi kue, yang sempat dibelinya di perjalanan tadi. 'Rumah siapa, nih?' Di tempatnya berdiri, Bagas masih sibuk mengelilingi pelataran rumah itu dengan tatapan penuh tanya. Sebuah rumah yang lokasinya jauh dari pemukiman warga dan berada di pinggir kota. Udaranya pun terasa sejuk, dan suasananya sangat asri. "Lingga, ayo masuk," ajak Maudy, yang rupanya sudah melangkah menuju teras. "I-iya, Tan." Bagas langsung menyusul istri kontraknya itu, lalu bertanya, "ini rumah siapa, Tan?" Maudy hanya memberi senyuman pada Bagas. Perempuan itu lalu mengetuk pintu sambil memanggil nama si pemilik rumah. "Sha? Meisha? Kamu di rum
Pukul tujuh pagi Bagas sudah tiba di depan pintu rumah Maudy. Kalau bukan karena terpaksa, Bagas tentu tidak sudi mendatangi rumah ini lagi. Suasana hati yang masih buruk karena semalaman tidak bisa tidur, membuat raut lelaki itu nampak masam sepanjang dia melangkah memasuki ruang tamu.Tepat saat Bagas berada di ruang tamu, Maudy muncul dengan penampilan seperti biasa. Perempuan itu terlihat cantik dengan pakaian yang cukup seksi. Namun bagi Bagas, secantik apa pun Maudy, di matanya perempuan itu tetaplah jalang sialan, yang sebentar lagi akan menjadi narapidana."Lingga …." Maudy langsung menghampiri Bagas dan memeluk suaminya itu. "tante kangen …." Suara Maudy dibuat-buat, dan justru membuat Bagas merasa muak.Meski dia muak dengan jalang ini, Bagas tentu harus bersikap seperti biasa. Membalas pelukan Maudy dan berpura-pura merasakan hal yang sama."Lingga juga kangen sama Tante," ucap Bagas seraya mengecup pelipis Maudy.Maudy mengurai pelukan, mendongak dengan tatapan menelisik.
Bagas keluar dari kamar Rachel untuk mengambil air minum di dapur. Beberapa saat kemudian dia kembali ke kamar gadis itu dengan membawa sebotol air mineral dingin."Minumnya." Dia memberikannya pada Rachel."Makasih," ucap Rachel, menerima botol air mineral dingin yang sudah dibuka oleh Bagas. Dia meminumnya perlahan."Elo gak mandi?" tanya Bagas.Rachel menggeleng, menutup botol air mineral, lalu meletakkan di atas meja samping kasur. "Kayaknya enggak. Gue mau cuci muka sama lap² badan aja," jawabnya."Ya udah. Bersih-bersih dulu baru lanjut istirahat," kata Bagas, mengambil kotak makan bekas Rachel yang masih tersisa sedikit. "gue mau buang ini dulu, abis itu gue juga mau mandi.""Ya."Bagas pun keluar dari kamar Rachel, dan di saat yang bersamaan pintu utama rumah Marco dibuka dari luar oleh seseorang yaitu Vanila."Van, baru pulang? Dari mana aja?" tanya Bagas, yang melangkah mendekati Vanila.Perempuan itu pun berjalan mendekat, sambil tersenyum, rautnya tak berubah sedikit pun,
"Ini mobil buat siapa, Tan?" tanya Bagas, yang masih mengamati mobil berwarna putih metalik keluaran dari pabrik otomotif terbesar di Jerman. Mobil listrik keluaran terbaru yang bisa ditebak Bagas berkisar hampir 3M itu begitu mewah dan elegan. Tetapi, yang jadi pertanyaannya saat ini, untuk apa M
Orang itu memarkir mobilnya beberapa meter dari mobil Bagas. Lantas, langsung turun dan membuntuti Bagas masuk dengan jarak yang tentunya aman. Sementara Bagas yang tidak sadar jika sedang diikuti, terus berjalan melewati lorong demi lorong tanpa merasa curiga sedikit pun. Langkahnya agak cepat
Dapat mangsa baru, temen sendiri langsung dilupakan. "Mana katanya yang tadi lagi gak mood pergi? Buktinya, dideketin mangsa baru langsung kecantol." Bagas berdecak melihat kelakuan Nathan, yang sudah terlihat akrab dengan Tante Karin. Temannya itu bahkan sepertinya sudah lupa dengan permasalaha
Bagas pikir jika Maudy tidak akan merealisasikan pernikahan siri dengannya secepat ini. Dan dengan segala perencanaan yang menurutnya sangat matang. Semua serba diatur oleh perempuan itu. Mulai dari tempat, penghulu dan para saksi. Oh, jangan lupa mas kawin yang berupa cincin berlian, yang past







