Home / Male Adult / Pesona Pria Plus-plus / Bab⁹³—Keintiman~

Share

Bab⁹³—Keintiman~

Author: Na_Vya
last update publish date: 2026-05-15 21:49:43

"Apa!" Manik Bagas melotot mendengar permintaan Vanila, yang dirasa tidak masuk akal dan gila. "lo gomong apa, sih, Van?" tukasnya seraya menegakkan punggung dan memegang lengan Vanila.

Apa maksudnya, coba?

Kenapa tiba-tiba Vanila meminta Bagas untuk menikahi Rachel?

"Aku cuma lagi minta kamu buat jadi laki-laki yang bertanggung jawab, Gas. Itu aja," ujar Alexa, menghela panjang dan berkata lagi, "kamu gak bisa mutusin sepihak kesepakatan sementara Rachel udah jadi pihak yang dirugikan. Kam
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁵⁰—Pulang ke rumah~

    Mobil yang dikendarai Marco perlahan memasuki area parkir sebuah restoran keluarga yang letaknya tidak terlalu jauh dari Pengadilan Negeri. Begitu mesin dimatikan, seluruh penumpang masih memilih diam selama beberapa saat. Sidang pertama memang telah usai. Namun ketegangan yang mereka rasakan sejak pagi seolah belum benar-benar hilang. Marco memijat tengkuknya pelan sebelum membuka pintu mobil. Dia berkata, "Ayo. Kita isi perut dulu." Kemudian turun lebih dulu. Firman langsung mengangguk setuju. "Gue udah lapar dari tadi." Dia bergegas turun dari mobil. Sandi terkekeh pelan, dan menyahut, "Kirain cuma gue." Dia belum bisa turun, menunggu Bagas dan yang lainnya turun lebih dulu. Bagas lantas turun dari mobil. Dia segera berputar menuju sisi lain untuk membukakan pintu bagi Rachel, yang belum lama terbangun. "Hati-hati." Rachel mengangguk kecil sambil menerima uluran tangan Bagas. "Iya." Vanila yang turun setelahnya langsung berdiri di sisi Rachel. "Sama aku." Bagas hanya

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁴⁹—Belum benar-benar selesai~

    Bagas baru mengembuskan napas panjang ketika mobil yang mereka tumpangi meninggalkan halaman Pengadilan Negeri. Keramaian perlahan tertinggal di belakang. Suara sirene, kilatan kamera, dan teriakan wartawan yang sejak pagi memenuhi halaman pengadilan kini hanya terdengar samar melalui kaca mobil yang tertutup rapat. Untuk pertama kalinya sejak persidangan dimulai. Suasana menjadi benar-benar tenang. Tak seorang pun langsung membuka percakapan. Marco yang duduk di kursi kemudi memilih memusatkan perhatian pada jalan. Sesekali matanya melirik kaca spion, memastikan tidak ada kendaraan wartawan yang mengikuti mereka. Firman duduk di kursi penumpang depan. Sementara Bagas memilih duduk di bangku tengah bersama Rachel dan Vanila. Sedangkan Sandi duduk di kursi paling belakang. Bagas menoleh ke samping, memerhatikan Rachel yang menyandarkan kepalanya ke jok mobil dengan mata terpejam. Wajah perempuan itu tampak pucat. Meski sejak tadi berusaha terlihat tegar, dia tahu sidang har

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁴⁸—Firasat Rachel~

    Suara percakapan langsung memenuhi lorong Pengadilan Negeri begitu pintu ruang sidang dibuka. Sidang pertama akhirnya selesai. Meski hanya berlangsung tidak terlalu lama, suasana yang tadi memenuhi ruang persidangan masih terasa menyesakkan. Wartawan bergegas keluar sambil menelepon redaksi masing-masing. Beberapa pengunjung masih membahas jalannya sidang, terutama saat penasihat hukum Maudy mulai menyinggung penyamaran Bagas sebagai Lingga. Bagas berjalan paling depan. Langkahnya tenang, tetapi pikirannya belum benar-benar lepas dari apa yang baru saja terjadi. Eksepsi itu memang sudah dia duga. Penyidik bahkan telah memperingatkannya beberapa hari sebelumnya bahwa tim hukum Maudy hampir pasti akan menyerang legalitas bukti, bukan sekadar membela kliennya. Dan benar saja. Hari ini baru permulaan. Besok atau lusa....Serangan mereka pasti akan semakin tajam. Bagas mengembuskan napas pelan. Di belakangnya, Rachel berjalan berdampingan dengan Vanila. Sesekali Vanila menggenggam l

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁴⁷—Ditunda~

    Ruangan sidang kembali hening. Semua mata tertuju kepada penasihat hukum terdakwa yang berdiri tegak di depan meja pembelaan. Pria berusia sekitar lima puluh tahun itu tampak tenang. Dengan gerakan perlahan, dia membuka sebuah map hitam berisi beberapa lembar dokumen yang telah disusunnya dengan rapi. Tak ada sedikit pun kegugupan di wajahnya. Justru ketenangan itu membuat suasana di dalam ruang sidang terasa semakin menekan. Hakim Ketua mempersilakan. "Silakan menyampaikan eksepsi, Saudara." "Terima kasih, Yang Mulia.".Pengacara Maudy melangkah satu langkah ke depan. Tatapannya menyapu seluruh isi ruang sidang sebelum akhirnya berhenti sesaat ke arah meja Jaksa Penuntut Umum. "Dalam kesempatan ini, kami tidak bermaksud membantah seluruh dakwaan yang telah dibacakan penuntut umum... "Namun, setelah mempelajari surat dakwaan beserta berkas penyidikan, kami menemukan beberapa hal yang patut dipertanyakan dari sisi proses penegakan hukumnya." Beberapa wartawan kembali sibuk menc

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁴⁶—Persidangan#2

    Pintu ruang sidang perlahan terbuka. Ruangan itu jauh lebih luas daripada yang dibayangkan Bagas. Deretan bangku kayu telah dipenuhi oleh pengunjung sidang, wartawan, serta beberapa orang yang sengaja datang untuk mengikuti kasus yang sejak beberapa hari terakhir ramai diberitakan. Suara percakapan pelan terdengar di berbagai sudut ruangan. Begitu Bagas melangkah masuk bersama Rachel, Marco, Vanila, Sandi, dan Firman, beberapa pasang mata langsung tertuju kepada mereka. Beberapa wartawan yang telah lebih dulu berada di dalam ruang sidang kembali mengangkat kamera. Namun kali ini, petugas pengadilan segera mengingatkan. "Selama persidangan berlangsung, tidak diperkenankan mengambil gambar tanpa izin majelis hakim." Suasana kembali tenang. Bagas mengantar Rachel menuju bangku yang telah disediakan untuk para saksi. "Kamu duduk di sini." Rachel mengangguk pelan. Tatapannya menyapu seluruh ruangan Jantungnya berdegup semakin cepat. Bagas bisa melihat jemari perempu

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁴⁵—Persidangan#1

    Halaman Pengadilan Negeri yang sejak pagi dipenuhi wartawan mendadak menjadi riuh ketika iring-iringan mobil tahanan memasuki gerbang utama. Suara sirene yang meraung pelan membuat seluruh perhatian beralih ke arah kendaraan berwarna hitam itu. Polisi yang berjaga segera membentuk barikade. "Tolong mundur! Kasih jalan!" Kilatan kamera menyala tanpa henti. Suara rana kamera bersahut-sahutan memenuhi udara pagi. Di sisi lain halaman, Bagas berdiri mematung. Tangannya masih menggenggam tangan Rachel yang berdiri di sampingnya. Dia bisa merasakan jemari perempuan itu mulai mendingin. Bagas menoleh sebentar pada Rachel dan bertanya, "Kamu gak pa-pa?" Rachel menarik napas panjang, dan mengangguk. "Aku... siap." Senyum Bagas terulas tipis, dia mengangguk pelan. Meskipun begitu, dia tahu kalimat itu lebih banyak ditujukan untuk menguatkan dirinya sendiri. Di sebelah Rachel, Vanila berdiri dengan tenang. Perempuan itu sengaja datang bukan untuk menjadi bagian dari masa l

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁶⁰—Sudah bisa diajak bicara~

    Orang itu memarkir mobilnya beberapa meter dari mobil Bagas. Lantas, langsung turun dan membuntuti Bagas masuk dengan jarak yang tentunya aman. Sementara Bagas yang tidak sadar jika sedang diikuti, terus berjalan melewati lorong demi lorong tanpa merasa curiga sedikit pun. Langkahnya agak cepat

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁸—Rumah Maudy~

    Dapat mangsa baru, temen sendiri langsung dilupakan. "Mana katanya yang tadi lagi gak mood pergi? Buktinya, dideketin mangsa baru langsung kecantol." Bagas berdecak melihat kelakuan Nathan, yang sudah terlihat akrab dengan Tante Karin. Temannya itu bahkan sepertinya sudah lupa dengan permasalaha

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁷—Pernikahan~

    Bagas pikir jika Maudy tidak akan merealisasikan pernikahan siri dengannya secepat ini. Dan dengan segala perencanaan yang menurutnya sangat matang. Semua serba diatur oleh perempuan itu. Mulai dari tempat, penghulu dan para saksi. Oh, jangan lupa mas kawin yang berupa cincin berlian, yang past

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁶—Ajakan nikah dadakan~

    Tawaran mengantar pulang Bagas, rupanya disambut baik oleh Rachel. Padahal dia tadi cuma iseng nawarin. Tak disangka, dia pikir Rachel akan menolak tawarannya. Namun, karena sudah terlanjur nawarin pulang, dan Bagas tidak ingin mengecewakan, dia pun terpaksa izin sama Mami Kumala. Dan saat ini

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status