LOGINBagas ingin tidak memercayai semua ucapan Maudy tentang masa lalu sang papa. Hubungan sang papa dengan Roy pun Bagas baru kali ini mendengarnya. Roy dan Raditya merupakan teman dekat kala itu. Dan yang mengenalkan Mauren dengan Roy adalah Raditya. Kenapa dia tidak tahu jika papanya berteman dekat dengan Roy? Bagas sama sekali tidak mengingatnya. Semasa hidupnya sang papa pun tak pernah menyinggung soal Roy. Pusing! Belum selesai masalah Rachel dan Vanila. Muncul lagi masalah sang papa dan Roy. Apalagi ketika Bagas mengingat cerita Maudy soal Raditya. 'Dulu tante beneran suka sama Radit karena dia lelaki baik, perhatian dan sangat penyayang. Awalnya tante deketin dia emang cuma karena pengen deketin Roy aja. Tapi, semua terjadi di luar rencana. Radit juga bilang kalo dia nyaman sama tante. Ya ... Walaupun tante tau dia udah punya istri dan anak. Tante kasih semuanya karena Radit berjanji bakal ninggalin istri dan anaknya. Tante percaya sama dia, Lingga. Dan tante me
"A-apa?" Otak Bagas loading beberapa saat—mencerna sebuah fakta yang baru saja diungkap Maudy. 'Meisha anaknya Roy Darmawan? Kok, bisa?' Raut Bagas nampak berpikir keras, sesekali dia melirik Meisha, yang terus menunduk sambil terisak lirih. Gadis itu menangis. Hanya itu yang dapat Bagas simpulkan detik ini. "Kamu pasti kaget?" kata Maudy, menebak reaksi Bagas, yang belum berkomentar apa pun. Lelaki itu mengangguk kecil. "Aku beneran syok, Tan," ucapnya. "fakta ini terlalu mengejutkan buatku." Bagas menghela panjang, sambil menatap Maudy, yang tersenyum sinis. "Ceritanya panjang, Lingga." Maudy menghela, menatap sekilas Meisha, yang agaknya sedih dengan kabar meninggalnya Roy. Bagas menatap Meisha kemudian menatap Maudy. Ragu-ragu dia bertanya, "Ibunya Meisha udah … meninggal?" Maudy mengangguk. "Hmm. Ibunya Meisha adik tante satu-satunya. Namanya Mauren," ucapnya, yang rautnya berubah sendu. Oh, kini Bagas sedikit paham soal masalah ini, meskipun terdengar sangat menyedihka
Roda empat milik Bagas memasuki pekarangan rumah minimalis modern bercat putih. Pekarangan rumah itu dipenuhi tanaman bunga serta beberapa pohon palm yang tinggi menjulang. Bagas dan Maudy turun dari mobil bersamaan. Raut keduanya terlihat kontras. Bagas dengan segala rasa penasarannya, sedangkan Maudy nampak semringah. Di tangan perempuan itu menenteng paperbag berisi kue, yang sempat dibelinya di perjalanan tadi. 'Rumah siapa, nih?' Di tempatnya berdiri, Bagas masih sibuk mengelilingi pelataran rumah itu dengan tatapan penuh tanya. Sebuah rumah yang lokasinya jauh dari pemukiman warga dan berada di pinggir kota. Udaranya pun terasa sejuk, dan suasananya sangat asri. "Lingga, ayo masuk," ajak Maudy, yang rupanya sudah melangkah menuju teras. "I-iya, Tan." Bagas langsung menyusul istri kontraknya itu, lalu bertanya, "ini rumah siapa, Tan?" Maudy hanya memberi senyuman pada Bagas. Perempuan itu lalu mengetuk pintu sambil memanggil nama si pemilik rumah. "Sha? Meisha? Kamu di rum
Pukul tujuh pagi Bagas sudah tiba di depan pintu rumah Maudy. Kalau bukan karena terpaksa, Bagas tentu tidak sudi mendatangi rumah ini lagi. Suasana hati yang masih buruk karena semalaman tidak bisa tidur, membuat raut lelaki itu nampak masam sepanjang dia melangkah memasuki ruang tamu.Tepat saat Bagas berada di ruang tamu, Maudy muncul dengan penampilan seperti biasa. Perempuan itu terlihat cantik dengan pakaian yang cukup seksi. Namun bagi Bagas, secantik apa pun Maudy, di matanya perempuan itu tetaplah jalang sialan, yang sebentar lagi akan menjadi narapidana."Lingga …." Maudy langsung menghampiri Bagas dan memeluk suaminya itu. "tante kangen …." Suara Maudy dibuat-buat, dan justru membuat Bagas merasa muak.Meski dia muak dengan jalang ini, Bagas tentu harus bersikap seperti biasa. Membalas pelukan Maudy dan berpura-pura merasakan hal yang sama."Lingga juga kangen sama Tante," ucap Bagas seraya mengecup pelipis Maudy.Maudy mengurai pelukan, mendongak dengan tatapan menelisik.
Bagas keluar dari kamar Rachel untuk mengambil air minum di dapur. Beberapa saat kemudian dia kembali ke kamar gadis itu dengan membawa sebotol air mineral dingin."Minumnya." Dia memberikannya pada Rachel."Makasih," ucap Rachel, menerima botol air mineral dingin yang sudah dibuka oleh Bagas. Dia meminumnya perlahan."Elo gak mandi?" tanya Bagas.Rachel menggeleng, menutup botol air mineral, lalu meletakkan di atas meja samping kasur. "Kayaknya enggak. Gue mau cuci muka sama lap² badan aja," jawabnya."Ya udah. Bersih-bersih dulu baru lanjut istirahat," kata Bagas, mengambil kotak makan bekas Rachel yang masih tersisa sedikit. "gue mau buang ini dulu, abis itu gue juga mau mandi.""Ya."Bagas pun keluar dari kamar Rachel, dan di saat yang bersamaan pintu utama rumah Marco dibuka dari luar oleh seseorang yaitu Vanila."Van, baru pulang? Dari mana aja?" tanya Bagas, yang melangkah mendekati Vanila.Perempuan itu pun berjalan mendekat, sambil tersenyum, rautnya tak berubah sedikit pun,
Suasana di dalam mobil begitu hening. Bagas dan Rachel sama-sama tidak berminat untuk memulai obrolan. Keduanya sibuk berkutat dengan isi kepala masing-masing. Dan kemungkinan, perkataan dokter Yoshi yang membahas perihal hubungan intim masih terngiang di ingatan mereka. Pengalaman pertama datang ke spesialis obgyn tak hanya menambah pengetahuan soal beberapa hal yang harus dipelajari. Menjadi orang tua di usia muda tentunya bukan hal yang mudah. Apalagi, semua terjadi begitu tiba-tiba. Di luar rencana serta tanpa persiapan apa pun. Kehamilan Rachel memang hal yang tak pernah dibayangkan Bagas sebelumnya. Namun, meski belum siap menjadi ayah, Bagas tetap akan berusaha mempelajari peran baru tersebut. Bagas ingin anaknya kelak tidak kekurangan kasih sayang orang tuanya kendati kehadirannya, yang sama sekali tidak pernah direncanakan. Bagas ingin menjadi sosok ayah yang bisa dibanggakan. Dan soal pernikahan. Bagas pun harus siap menjadi seorang suami untuk Rachel. Segala amarah dan
Gila! Katakan jika saat ini seorang Bagaskara sedang mengambil kesempatan. Oh … tidak! Bagas hanya mengikuti permintaan gadis ABG cantik ini. Kalo kata Bagas "Rejeki gak boleh ditolak." Anggap saja ini rejeki nomplok! Bagas tak hanya mengajari caranya ciuman yang benar. Dia juga sudah m
Setelah dari hotel, Bagas langsung menuju ke kelab. Daripada suntuk di apartemen sendirian, lebih baik dia di sini. Lagi pula, Bagas tidak bisa libur walau sehari, karena mami Kumala—pemilik kelab yang merangkap sebagai germo itu sudah mewanti-wanti. Ya... Walaupun tubuhnya lelah lantaran dia suda
Sore itu pilihan Bagas jatuh pada kafe yang letaknya tidak terlalu jauh dengan gedung tempatnya tinggal. Perutnya sedari tadi sudah memberi sinyal, meminta diisi amunisi. Terakhir kali makan, waktu sarapan di hotel. Setelah itu Bagas tidak ada lagi memakan apa pun selain minum soda dan ngasap. Su
Tawaran mengantar pulang Bagas, rupanya disambut baik oleh Rachel. Padahal dia tadi cuma iseng nawarin. Tak disangka, dia pikir Rachel akan menolak tawarannya. Namun, karena sudah terlanjur nawarin pulang, dan Bagas tidak ingin mengecewakan, dia pun terpaksa izin sama Mami Kumala. Dan saat ini







