LOGINMobil yang dikendarai Marco perlahan meninggalkan halaman rumah. Gerbang besi hitam itu bergerak menutup secara otomatis, memisahkan mereka dari rumah megah yang selama bertahun-tahun menjadi saksi begitu banyak kebahagiaan... sekaligus penderitaan. Bagas masih memandang ke luar jendela. Pantulan rumah itu perlahan mengecil hingga akhirnya menghilang dari pandangan. Di sampingnya... Rachel memilih diam. Kedua tangannya saling bertaut di atas pangkuan. Sesekali ibu jarinya bergerak gelisah, seolah pikirannya masih tertinggal di rumah itu. Bagas melirik sekilas lalu bertanya, "Masih kepikiran?" Rachel mengembuskan napas pelan sebelum mengangguk. "Iya," sahutnya. "Sebenernya... Aku seneng bisa pulang lagi. "Tapi di sisi lain, aku juga takut." Bagas mengernyit tipis. "Takut apa?" Rachel menatap ke luar jendela. "Takut semua kenangan tentang Papi lama-lama hilang." Kalimat sederhana itu membuat hati Bagas seperti diremas. Dia mengerti, sebesar apa pun rumah itu....Yang paling d
Matahari sore semakin condong ke ufuk barat.Cahaya keemasan yang sejak tadi menyelimuti halaman belakang perlahan berganti menjadi semburat jingga yang hangat. Bayangan pepohonan memanjang di atas halaman, sementara embusan angin sore membuat dedaunan bergesekan pelan, menciptakan suara yang menenangkan.Bagas dan Rachel kembali memasuki rumah melalui pintu samping yang mengarah ke ruang keluarga.Begitu melihat mereka datang, Marco yang sejak tadi duduk di sofa langsung menegakkan tubuh."Udah selesai kelilingnya?"Bagas mengangguk singkat. "Iya."Firman melirik jam dinding, lalu berceletuk, "Kirain kalian nyasar."Sandi terkekeh kecil. "Nyasar di rumah sendiri?"Ucapan itu membuat Rachel ikut tersenyum tipis.Sudah lama sekali rumah itu tidak dipenuhi suara tawa.Dulu... Setiap sudut rumah terasa begitu sunyi. Semua orang berbicara seperlunya. Semua orang berjalan dengan hati-hati. Seolah takut melakukan kesalahan sedikit saja.Kini... Suasana itu perlahan mulai berubah.Mak Yem ke
Rachel mengembuskan napas pelan sebelum benar-benar menutup pintu kamar Maudy. Bunyi klik dari daun pintu yang kembali tertutup terdengar begitu jelas di lorong lantai dua yang lengang. Sesaat... Tak ada satu pun di antara mereka yang berbicara. Rachel berdiri mematung beberapa detik. Tatapannya masih tertuju ke arah pintu kamar yang baru saja ditinggalkannya. Entah mengapa... Semakin lama berada di rumah itu, semakin besar pula perasaan bahwa masih ada banyak rahasia yang belum terungkap. Bagas yang berdiri di sampingnya ikut memandangi pintu tersebut. Laci yang terkunci. Bekas bingkai foto di atas meja rias. Dan ekspresi Rachel ketika menyadari semua kejanggalan itu. Semuanya seolah menjadi potongan-potongan teka-teki yang belum menemukan tempatnya. "Ayo, Chel." Suara Bagas terdengar pelan. Rachel mengangguk. "Iya." Mereka pun berjalan meninggalkan lorong lantai dua. Langkah kaki mereka bergema pelan di sepanjang koridor rumah yang begitu sunyi. Tangga marmer yan
Rachel melangkah pelan menyusuri ruang tamu. Setiap sudut rumah itu masih terasa begitu akrab. Jam dinding antik yang selalu berdentang setiap satu jam sekali masih tergantung di tempatnya. Lukisan-lukisan kesukaan almarhum Roy pun masih menghiasi dinding. Tak banyak yang berubah. Yang berubah... Hanya orang-orang yang tinggal di dalamnya. Bagas berjalan beberapa langkah di belakang Rachel. Dia sengaja membiarkan perempuan itu menikmati setiap sudut rumah yang telah lama ditinggalkannya. "Non..." panggil Mak Yem lirih sambil melangkah menghampiri. Rachel menoleh. "Iya, Mak?" "Kamarnya masih kami bersihin setiap hari," kata Mak Yem. Kalimat sederhana itu membuat Rachel tersenyum haru."Terima kasih, Mak." Mak Yem mengusap sudut matanya. "Selama ini Mak yakin kalo Non baik-baik aja. Dan sekarang, Non berdiri di depan Mak, rasanya kayak mimpi. Mak seneng banget bisa ketemu dan liat Non lagi." Mendengar kata-kata Mak Yem, yang sangat mengkhawatirkannya selama ini mem
Mobil yang dikendarai Marco perlahan memasuki kawasan perumahan elite yang sudah sangat dikenali Rachel.Semakin jauh mobil melaju ke dalam, suasana di dalam kendaraan kembali dipenuhi keheningan.Bagas melirik sekilas ke arah perempuan yang duduk di sampingnya.Rachel tampak memandangi jalan di balik kaca jendela tanpa berkedip.Tatapannya kosong.Entah sedang mengenang masa kecilnya...Atau sedang menyiapkan diri menghadapi rumah yang sudah hampir tiga bulan tidak pernah lagi dia datangi.Beberapa menit kemudian...Mobil berbelok memasuki sebuah jalan yang dipenuhi pepohonan rindang.Di ujung jalan itu berdiri sebuah gerbang besi hitam menjulang tinggi.Rumah keluarga Darmawan.Rumah yang selama bertahun-tahun menjadi tempat Rachel tumbuh.Marco memperlambat laju mobil.Pak Aji yang sedang berjaga di pos satpam awalnya hanya melirik sekilas.Namun sedetik kemudian matanya membelalak."Non Rachel?" Pria berusia lima puluh tahun itu sampai melepas topinya. Dia buru-buru membuka gerban
Mobil yang dikendarai Marco perlahan memasuki area parkir sebuah restoran keluarga yang letaknya tidak terlalu jauh dari Pengadilan Negeri. Begitu mesin dimatikan, seluruh penumpang masih memilih diam selama beberapa saat. Sidang pertama memang telah usai. Namun ketegangan yang mereka rasakan sejak pagi seolah belum benar-benar hilang. Marco memijat tengkuknya pelan sebelum membuka pintu mobil. Dia berkata, "Ayo. Kita isi perut dulu." Kemudian turun lebih dulu. Firman langsung mengangguk setuju. "Gue udah lapar dari tadi." Dia bergegas turun dari mobil. Sandi terkekeh pelan, dan menyahut, "Kirain cuma gue." Dia belum bisa turun, menunggu Bagas dan yang lainnya turun lebih dulu. Bagas lantas turun dari mobil. Dia segera berputar menuju sisi lain untuk membukakan pintu bagi Rachel, yang belum lama terbangun. "Hati-hati." Rachel mengangguk kecil sambil menerima uluran tangan Bagas. "Iya." Vanila yang turun setelahnya langsung berdiri di sisi Rachel. "Sama aku." Bagas hanya
Orang itu memarkir mobilnya beberapa meter dari mobil Bagas. Lantas, langsung turun dan membuntuti Bagas masuk dengan jarak yang tentunya aman. Sementara Bagas yang tidak sadar jika sedang diikuti, terus berjalan melewati lorong demi lorong tanpa merasa curiga sedikit pun. Langkahnya agak cepat
Dapat mangsa baru, temen sendiri langsung dilupakan. "Mana katanya yang tadi lagi gak mood pergi? Buktinya, dideketin mangsa baru langsung kecantol." Bagas berdecak melihat kelakuan Nathan, yang sudah terlihat akrab dengan Tante Karin. Temannya itu bahkan sepertinya sudah lupa dengan permasalaha
Bagas pikir jika Maudy tidak akan merealisasikan pernikahan siri dengannya secepat ini. Dan dengan segala perencanaan yang menurutnya sangat matang. Semua serba diatur oleh perempuan itu. Mulai dari tempat, penghulu dan para saksi. Oh, jangan lupa mas kawin yang berupa cincin berlian, yang past
Tawaran mengantar pulang Bagas, rupanya disambut baik oleh Rachel. Padahal dia tadi cuma iseng nawarin. Tak disangka, dia pikir Rachel akan menolak tawarannya. Namun, karena sudah terlanjur nawarin pulang, dan Bagas tidak ingin mengecewakan, dia pun terpaksa izin sama Mami Kumala. Dan saat ini