Share

Bab⁹⁴—Mupeng!

Penulis: Na_Vya
last update Tanggal publikasi: 2026-05-15 21:49:52

"Dingin, Gas. Masa aku tidur pakek jubah mandi?" Vanila terkekeh, menggeliat lantaran Bagas mengecupi kulit lehernya yang terekspos bebas. "Bagas, geli!" Tubuhnya bahkan sampai melengkung ke belakang, dan Bagas sigap menopangnya dengan kedua tangan.

"Elo wangi, Van." Bibir lelaki itu terus menjelajah di lekukan leher, lalu turun ke tulang selangka Vanila yang menonjol. "Pakek sabun apa, sih? Hmm?" Suaranya mulai terdengar rendah dan parau.

Vanila sekejap memejam, sekejap mendesah, isapan bib
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab ¹⁵³—Aku, kamu dan anak kita~

    Rachel mengembuskan napas pelan sebelum benar-benar menutup pintu kamar Maudy. Bunyi klik dari daun pintu yang kembali tertutup terdengar begitu jelas di lorong lantai dua yang lengang. Sesaat... Tak ada satu pun di antara mereka yang berbicara. Rachel berdiri mematung beberapa detik. Tatapannya masih tertuju ke arah pintu kamar yang baru saja ditinggalkannya. Entah mengapa... Semakin lama berada di rumah itu, semakin besar pula perasaan bahwa masih ada banyak rahasia yang belum terungkap. Bagas yang berdiri di sampingnya ikut memandangi pintu tersebut. Laci yang terkunci. Bekas bingkai foto di atas meja rias. Dan ekspresi Rachel ketika menyadari semua kejanggalan itu. Semuanya seolah menjadi potongan-potongan teka-teki yang belum menemukan tempatnya. "Ayo, Chel." Suara Bagas terdengar pelan. Rachel mengangguk. "Iya." Mereka pun berjalan meninggalkan lorong lantai dua. Langkah kaki mereka bergema pelan di sepanjang koridor rumah yang begitu sunyi. Tangga marmer yan

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁵²—Teka-teki Maudy~

    Rachel melangkah pelan menyusuri ruang tamu. Setiap sudut rumah itu masih terasa begitu akrab. Jam dinding antik yang selalu berdentang setiap satu jam sekali masih tergantung di tempatnya. Lukisan-lukisan kesukaan almarhum Roy pun masih menghiasi dinding. Tak banyak yang berubah. Yang berubah... Hanya orang-orang yang tinggal di dalamnya. Bagas berjalan beberapa langkah di belakang Rachel. Dia sengaja membiarkan perempuan itu menikmati setiap sudut rumah yang telah lama ditinggalkannya. "Non..." panggil Mak Yem lirih sambil melangkah menghampiri. Rachel menoleh. "Iya, Mak?" "Kamarnya masih kami bersihin setiap hari," kata Mak Yem. Kalimat sederhana itu membuat Rachel tersenyum haru."Terima kasih, Mak." Mak Yem mengusap sudut matanya. "Selama ini Mak yakin kalo Non baik-baik aja. Dan sekarang, Non berdiri di depan Mak, rasanya kayak mimpi. Mak seneng banget bisa ketemu dan liat Non lagi." Mendengar kata-kata Mak Yem, yang sangat mengkhawatirkannya selama ini mem

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁵¹—Kembali~

    Mobil yang dikendarai Marco perlahan memasuki kawasan perumahan elite yang sudah sangat dikenali Rachel.Semakin jauh mobil melaju ke dalam, suasana di dalam kendaraan kembali dipenuhi keheningan.Bagas melirik sekilas ke arah perempuan yang duduk di sampingnya.Rachel tampak memandangi jalan di balik kaca jendela tanpa berkedip.Tatapannya kosong.Entah sedang mengenang masa kecilnya...Atau sedang menyiapkan diri menghadapi rumah yang sudah hampir tiga bulan tidak pernah lagi dia datangi.Beberapa menit kemudian...Mobil berbelok memasuki sebuah jalan yang dipenuhi pepohonan rindang.Di ujung jalan itu berdiri sebuah gerbang besi hitam menjulang tinggi.Rumah keluarga Darmawan.Rumah yang selama bertahun-tahun menjadi tempat Rachel tumbuh.Marco memperlambat laju mobil.Pak Aji yang sedang berjaga di pos satpam awalnya hanya melirik sekilas.Namun sedetik kemudian matanya membelalak."Non Rachel?" Pria berusia lima puluh tahun itu sampai melepas topinya. Dia buru-buru membuka gerban

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁵⁰—Pulang ke rumah~

    Mobil yang dikendarai Marco perlahan memasuki area parkir sebuah restoran keluarga yang letaknya tidak terlalu jauh dari Pengadilan Negeri. Begitu mesin dimatikan, seluruh penumpang masih memilih diam selama beberapa saat. Sidang pertama memang telah usai. Namun ketegangan yang mereka rasakan sejak pagi seolah belum benar-benar hilang. Marco memijat tengkuknya pelan sebelum membuka pintu mobil. Dia berkata, "Ayo. Kita isi perut dulu." Kemudian turun lebih dulu. Firman langsung mengangguk setuju. "Gue udah lapar dari tadi." Dia bergegas turun dari mobil. Sandi terkekeh pelan, dan menyahut, "Kirain cuma gue." Dia belum bisa turun, menunggu Bagas dan yang lainnya turun lebih dulu. Bagas lantas turun dari mobil. Dia segera berputar menuju sisi lain untuk membukakan pintu bagi Rachel, yang belum lama terbangun. "Hati-hati." Rachel mengangguk kecil sambil menerima uluran tangan Bagas. "Iya." Vanila yang turun setelahnya langsung berdiri di sisi Rachel. "Sama aku." Bagas hanya

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁴⁹—Belum benar-benar selesai~

    Bagas baru mengembuskan napas panjang ketika mobil yang mereka tumpangi meninggalkan halaman Pengadilan Negeri. Keramaian perlahan tertinggal di belakang. Suara sirene, kilatan kamera, dan teriakan wartawan yang sejak pagi memenuhi halaman pengadilan kini hanya terdengar samar melalui kaca mobil yang tertutup rapat. Untuk pertama kalinya sejak persidangan dimulai. Suasana menjadi benar-benar tenang. Tak seorang pun langsung membuka percakapan. Marco yang duduk di kursi kemudi memilih memusatkan perhatian pada jalan. Sesekali matanya melirik kaca spion, memastikan tidak ada kendaraan wartawan yang mengikuti mereka. Firman duduk di kursi penumpang depan. Sementara Bagas memilih duduk di bangku tengah bersama Rachel dan Vanila. Sedangkan Sandi duduk di kursi paling belakang. Bagas menoleh ke samping, memerhatikan Rachel yang menyandarkan kepalanya ke jok mobil dengan mata terpejam. Wajah perempuan itu tampak pucat. Meski sejak tadi berusaha terlihat tegar, dia tahu sidang har

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁴⁸—Firasat Rachel~

    Suara percakapan langsung memenuhi lorong Pengadilan Negeri begitu pintu ruang sidang dibuka. Sidang pertama akhirnya selesai. Meski hanya berlangsung tidak terlalu lama, suasana yang tadi memenuhi ruang persidangan masih terasa menyesakkan. Wartawan bergegas keluar sambil menelepon redaksi masing-masing. Beberapa pengunjung masih membahas jalannya sidang, terutama saat penasihat hukum Maudy mulai menyinggung penyamaran Bagas sebagai Lingga. Bagas berjalan paling depan. Langkahnya tenang, tetapi pikirannya belum benar-benar lepas dari apa yang baru saja terjadi. Eksepsi itu memang sudah dia duga. Penyidik bahkan telah memperingatkannya beberapa hari sebelumnya bahwa tim hukum Maudy hampir pasti akan menyerang legalitas bukti, bukan sekadar membela kliennya. Dan benar saja. Hari ini baru permulaan. Besok atau lusa....Serangan mereka pasti akan semakin tajam. Bagas mengembuskan napas pelan. Di belakangnya, Rachel berjalan berdampingan dengan Vanila. Sesekali Vanila menggenggam l

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁵—Iseng nawarin pulang~

    Gila! Katakan jika saat ini seorang Bagaskara sedang mengambil kesempatan. Oh … tidak! Bagas hanya mengikuti permintaan gadis ABG cantik ini. Kalo kata Bagas "Rejeki gak boleh ditolak." Anggap saja ini rejeki nomplok! Bagas tak hanya mengajari caranya ciuman yang benar. Dia juga sudah m

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁴—Dapet ciuman mendadak~

    Setelah dari hotel, Bagas langsung menuju ke kelab. Daripada suntuk di apartemen sendirian, lebih baik dia di sini. Lagi pula, Bagas tidak bisa libur walau sehari, karena mami Kumala—pemilik kelab yang merangkap sebagai germo itu sudah mewanti-wanti. Ya... Walaupun tubuhnya lelah lantaran dia suda

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab³—Tante Cindy~

    Sore itu pilihan Bagas jatuh pada kafe yang letaknya tidak terlalu jauh dengan gedung tempatnya tinggal. Perutnya sedari tadi sudah memberi sinyal, meminta diisi amunisi. Terakhir kali makan, waktu sarapan di hotel. Setelah itu Bagas tidak ada lagi memakan apa pun selain minum soda dan ngasap. Su

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab²—Informan~

    "Nikah sama Tante?" Bagas pura-pura bertanya polos, dan Maudy segera mengangguk cepat. Diusapnya bibir Maudy dengan ibu jari. "terus, suami Tante gimana?" tanyanya, seolah dia sedikit keberatan dengan status Maudy yang masih bersuami. "Kamu tenang aja, Lingga," ucap Maudy, mengecup bibir Bagas sek

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status