LOGINDua hari setelah undangan makan siang, kini Mei Lin mengatur janji dengan calon suami di salah satu kafe mewah di kota Haicheng.
Kafe itu tampak terlalu ramai untuk pertemuan yang menentukan hidup seseorang. Mei Lin menatap cappuccino-nya dengan wajah gelisah, sementara sang ibu di sebelahnya tampak tenang seperti baru mau arisan, bukan membicarakan pernikahan kilat. "Bu, yakin ini bukan jebakan? Aku masih belum siap kehilangan masa lajangku. Aku bahkan belum sempat liburan ke Bali." "Diam, Mei Lin!” bisik ibunya. "Kau akan kelihatan bodoh kalau bicara begitu di depan calon suami." "Calon suami katanya. Aku bahkan belum hafal nomor ponselnya." Belum sempat ia menambah protes, pintu kafe terbuka. Dan di sanalah Zhang Yichen masuk, langkahnya tenang, jas abu-abu muda rapi, dan ekspresi wajahnya datar seperti salju musim dingin. Semua orang di kafe spontan melirik. Beberapa perempuan bahkan menunduk pura-pura membaca menu sambil curi pandang. Mei Lin meneguk minumannya terlalu cepat sampai hampir tersedak. "Aduh … aku butuh waktu tiga menit buat siap mental." Sayangnya, Zhang Yichen sudah sampai di meja mereka. Pria itu menunduk sopan kepada calon ibu mertua, lalu duduk tepat di depan Mei Lin tanpa banyak basa-basi. "Terima kasih sudah datang,” ucapnya pendek. "Aku datang karena diseret," balas Mei Lin cepat, lalu menutup mulut, karena sadar nada suaranya agak ketus. Zhang Yichen mengangkat alis sedikit. "Setidaknya kau jujur." Li Xiu Lin tersenyum canggung. "Baiklah, Ibu rasa kalian berdua bisa bicara berdua. Ibu ada janji … dengan salon." Sebelum Mei Lin sempat protes, ibunya sudah kabur dengan kecepatan cahaya. Sekarang hanya mereka berdua. Keheningan menggantung, hanya terdengar denting sendok dan musik lembut kafe. Mei Lin berdeham pelan. "Jadi … ehm … kau benar-benar setuju dengan perjodohan ini?" "Aku tidak menentang keputusan keluarga." "Itu bukan jawaban." "Itu realita." Mei Lin mendesah panjang. "Kau tahu nggak, kau ngomong kayak AI? Semua kalimatmu dingin dan teratur." "Lebih baik begitu daripada bicara tanpa berpikir," jawab Zhang Yichen datar. Mata Mei Lin sedikit membelalak. "Wah, jadi aku yang nggak mikir sekarang?" "Aku tidak bilang begitu." "Tapi maksudmu begitu, kan?" "Tidak juga!" "Tidak, tapi nadamu nyolot banget!" "Mei Lin," potong Zhang Yichen, akhirnya menatap langsung tepat ke mata gadis itu, "aku tidak biasa berdebat soal hal sepele. Jika kau tidak ingin menikah, katakan saja sekarang." Mei Lin terdiam. Pria ini ... benar-benar serius. Tampan? Ya. Menawan? Sangat. Tapi caranya bicara membuatnya ingin melempar sendok. "Aku cuma ingin tahu … kenapa kau mau menikah dengan seseorang yang bahkan kau baru temui dua hari?" "Karena kadang, kewajiban keluarga lebih penting dari perasaan pribadi." Mei Lin memutar matanya. "Dan kau yakin bisa hidup dengan orang yang cerewet seperti aku?" Zhang Yichen menatap Mei Lin lama. "Sejujurnya, aku tidak yakin." "Wah.” Mei Lin bersedekap sambil bersandar pada sandaran kursi. "Percakapan paling romantis abad ini." Untuk pertama kalinya, ekspresi Zhang Yichen sedikit berubah. Sudut bibirnya terangkat. Bukan senyum penuh, tetapi cukup untuk membuat jantung Mei Lin tersandung. "Kau lucu," katanya pendek. "Kau baru sadar?" "Lucu, tapi berisik." "Berisik itu tanda kehidupan." "Dan mungkin alasan kenapa aku akan cepat mati." "Astaga, kau dingin banget!" Mei Lin meletakkan tangannya di meja. "Aku nggak tahu apakah aku mau menikah denganmu atau masuk drama tragedi Haicheng." Zhang Yichen tertawa kecil. Hanya satu detik, tetapi cukup membuat seluruh atmosfer kafe berubah. Mei Lin memandangnya heran. Ia bisa tertawa? "Kau tertawa!" seru Mei Lin pelan. "Aku baru saja mencetak rekor dunia!" lanjutnya. Mei Lin tersenyum puas. Bagaimana tidak? Berdasarkan informasi dari ibunya, CEO dari perusahaan raksasa di kota Haicheng itu terkenal jarang tertawa, bahkan tidak pernah. "Jangan besar kepala," kata Zhang Yichen, kembali datar. "Itu refleks!" "Refleks yang butuh latihan sepuluh tahun mungkin," gumam Mei Lin sambil memutar matanya. Zhang Yichen menatap jam tangannya, lalu berdiri. "Aku akan bicara dengan pengacara keluarga. Kalau kau berubah pikiran, hubungi ibuku!" "Dan kalau aku setuju?" "Kita akan menikah minggu depan." "MINGGU DEPAN?!" Saking kagetnya Mei Lin berseru cukup kencang. "Cepat lebih efisien," jawab Zhang Yichen santai. "Aku tidak suka menunda hal yang tak bisa dihindari." Mei Lin menatap pria di hadapannya dengan tatapan antara tak percaya dan kagum. "Kau ini robot, ya?" "Robot yang bisa tersenyum.” Zhang Yichen melangkah pergi tanpa menoleh. Sementara Mei Lin hanya duduk di sana, menatap punggung pria itu, jantungnya berdetak cepat entah karena kesal … atau karena sesuatu yang lain. "Wah, kalau aku beneran nikah sama dia," gumamnya pelan, "aku butuh asuransi kesabaran."Mei Lin berdiri di depan bathtub besar yang dipenuhi kelopak bunga mawar. Air hangat mengepul lembut, lampu temaram, lilin beraroma lavender menyala di sudut ruangan."Sayang, menurutmu, kalau aku mandi di sini sambil pakai masker muka, efeknya double glowing gak?"Dari balik pintu, suara Zhang Yichen terdengar tenang. "Kalau kau tenggelam karena terlalu fokus skincare, efeknya malah double chaos."Mei Lin cemberut. "Kau tuh gak ngerti romantisnya drama Korea. Harusnya kau duduk di samping bathtub, terus ngobrol lembut sambil pegang tanganku. Gitu loh, Sayang."Zhang Yichen membuka pintu kamar mandi, berdiri di ambang pintu dengan piyama satin abu-abu dan ekspresi sedikit tegang. "Kalau di drama, biasanya setelah adegan itu, lampunya mati.""Ya iyalah, soalnya abis itu--" Mei Lin menggantung ucapannya, pipinya merona. "Abis itu mereka ngobrol dari hati ke hati," lanjutnya cepat."Ngobrol dari hati ke hati, atau melancarkan niat?"Mei Lin langsung menatap suaminya waspada. "Sayang, ak
Pagi di Haicheng baru saja merekah ketika roda dua koper besar bergelinding pelan di lantai marmer rumah Zhang Yichen. Mei Lin berdiri di tengah ruang tamu, rambut dikuncir tinggi, memakai kacamata hitam dan dress bunga warna cerah."Yichen! Cepat! Kau tahu gak, aku sudah mimpi ke Bali dari aku masih suka nonton drama Taiwan!"Zhang Yichen datang menuruni anak tangga membawa paspor dan tiket dengan ekspresi tenang. "Dan aku baru tahu impianmu itu disponsori oleh kelakuan berisik sejak subuh.""Yah, Sayang, harus heboh dong! Namanya juga bulan madu," sahut Mei Lin sambil nyengir. Zhang Yichen berhenti sejenak, lalu menatap lekat Mei Lin. "Ulangi!""Ulangi apa?""Panggilan barusan."Mei Lin mengedip, pura-pura polos. "Sayang?"Zhang Yichen menahan senyum, tetapi ujung bibirnya bergerak tersenyum. "Teruskan, aku suka versi itu."Mei Lin tersipu malu. Keduanya berangkat, menuju bandara. ---Bandara Haicheng ramai seperti biasa. Namun, ada satu hal di sana yang membuat Zhang Yichen terl
Hari yang ditunggu akhirnya tiba.Matahari pagi memantulkan cahaya keemasan di atas kota Haicheng, dan di seluruh gedung hotel megah tempat pesta diadakan. Para pekerja sibuk menata bunga, lampu, dan panggung utama.Zhang Yichen --sang pengantin pria, sudah berdiri di depan cermin, memakai jas hitam elegan dengan dasi perak.Chen yang membantu merapikan lipatan kecil di kerah tuannya angkat bicara. "Tuan," katanya hati-hati, "acara akan dimulai dua jam lagi.""Semua sudah siap?""Ya, kecuali …" Chen berhenti sejenak, "pengantin wanita."Zhang Yichen mengangkat alis. "Apa maksudmu 'kecuali pengantin wanita'?"Chen menelan ludah. "Nyonya sepertinya ... menimbulkan sedikit ... kekacauan kecil di ruang rias."Zhang Yichen mengembuskan napas kasar dan segera keluar dari kamar hotel yang dijadikan kamar pengantin. Benar saja, diruang rias utama terdengar seperti arena perang antara manusia dan tulle. "AKU BILANG JANGAN PAKE VEIL PANJANG!" teriak Mei Lin. "AKU MAU YANG BISA DILEPAS KALAU A
Tiga hari setelah malam lamaran, rumah Zhang Yichen berubah total.Bunga, brosur, dan contoh gaun pengantin memenuhi meja ruang tamu. Di tengah kekacauan itu berdirilah Mei Lin, dengan rambut dikuncir tinggi, kacamata di ujung hidung, dan ekspresi super serius. "WO yang mana yang lebih bagus?" katanya sambil memegang dua proposal di tangannya."Yang A punya dekor bintang jatuh. Tapi yang B kasih bonus 200 undangan digital dengan foto kita yang bisa gerak-gerak," lanjutnya. Dari seberang meja, Zhang Yichen hanya menatapnya dengan ekspresi datar. "Aku pikir kau ingin pernikahan yang sederhana."Mei Lin mengernyit. "Sederhana? Yichen, ini pesta pernikahan kita. Aku gak mau cuma sederhana, aku mau meledak anggun!""Meledak ... anggun?" Zhang Yichen mengulang pelan, seolah-olah memastikan ia tidak salah dengar."Ya! Elegan tapi spektakuler!" seru Mei Lin penuh semangat. "Aku mau semua orang Haicheng tahu kalau pasangan perjodohan paling absurd ini ternyata paling bahagia!"Zhang Yichen m
Keesokan harinya. Tidur Mei Lin terusik oleh suara ponselnya yang berbunyi cukup nyaring. "Yichen, tolong angkat dulu. Bilang saja aku masih berlayar di pulau kapuk," cicitnya tanpa membuka mata. "Yichen!" katanya lagi, karena ternyata ponselnya terus menyala. Mei Lin membuka matanya pelan, lalu mengusap wajahnya kasar. Ia lupa jika Zhang Yichen sudah berpamitan pergi. Mei Lin menyambar ponselnya di atas nakas. Matanya terbuka lebar saat gambar Qian Qian terpampang di sana. Ia lekas menerima panggilan vidio itu. "Ha--" Mei Lin tercekat saat Qian Qian yang muncul di layar tiba-tiba saja meniup lilin kecil. "Happy birthday, Mei!" Mei Lin melongo. Tak lama ia menepuk dahinya. "Aku sampai lupa ini hari ulang tahunku, Qian."Qian Qian ngakak di seberang layar."Kau tuh parah banget, Mei Lin! Sampe lupa tanggal lahir sendiri!"Tawa Qian Qian seketika sirna. "Eh, btw ... jangan jangan suamimu belum ngucapin, ya?"Mei Lin menggeleng pelan. "Belum!Dari pagi malah ngomongin soal kerjaan
Satu bulan berlalu. Setelah Zhang Yichen merajuk kala itu, untuk pertama kalinya setelah sibuk tampil di berbagai acara, Mei Lin membuka matanya karena matahari pagi yang menampar wajahnya."Aaakh! Mataharinya kejam banget hari ini!" serunya sambil menarik selimut sampai ke kepala.Di sisi tempat tidur, terdengar suara tawa pelan. "Biasanya kau bangun jam enam. Sekarang jam delapan lewat."Mei Lin mengintip dari balik selimut. "Tuan Zhang, kenapa kau masih di sini? Bukannya ada rapat?""Rapat bisa ditunda," jawab Zhang Yichen sambil membaca koran. "Sekali-kali aku ingin melihat bagaimana rasanya punya istri yang bangun siang."Mei Lin melotot. "Hei! Aku gak bangun siang. Ini disebut recharge energi cinta."Zhang Yichen mengernyit. "Energi cinta?""Ya. Supaya bisa sayang padamu seharian."Zhang Yichen menurunkan koran sambil menatap Mei Lin datar. "Aku mulai khawatir istilah ilmumu semakin aneh.""Tidak yang aneh.""Aneh!""Tidak!"Setelah beberapa menit perdebatan, Mei Lin akhirnya b







