Compartir

111. Viral Lagi

Autor: Suci Komala
last update Fecha de publicación: 2026-01-14 06:09:39

Matahari mulai meninggi ketika mobil hitam Zhang Yichen keluar dari area kampus. Mei Lin duduk di kursi penumpang, menatap keluar jendela sambil bersenandung kecil.

Rambutnya yang dikuncir ekor kuda melambai lembut karena angin dari jendela yang sedikit terbuka.

Di sebelahnya, Zhang Yichen menyetir dengan ekspresi datar seperti biasa. Dari caranya mengetuk setir pelan, Mei Lin tahu pria itu sedang menahan sesuatu.

"Yichen, kau marah, ya?" tanya Mei Lin.

"Tidak!"

"Kesal?"

"Tidak juga!"

Mei Lin
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Pesona Suami Wasiatku   119. Malam Pertama -- End

    Mei Lin berdiri di depan bathtub besar yang dipenuhi kelopak bunga mawar. Air hangat mengepul lembut, lampu temaram, lilin beraroma lavender menyala di sudut ruangan."Sayang, menurutmu, kalau aku mandi di sini sambil pakai masker muka, efeknya double glowing gak?"Dari balik pintu, suara Zhang Yichen terdengar tenang. "Kalau kau tenggelam karena terlalu fokus skincare, efeknya malah double chaos."Mei Lin cemberut. "Kau tuh gak ngerti romantisnya drama Korea. Harusnya kau duduk di samping bathtub, terus ngobrol lembut sambil pegang tanganku. Gitu loh, Sayang."Zhang Yichen membuka pintu kamar mandi, berdiri di ambang pintu dengan piyama satin abu-abu dan ekspresi sedikit tegang. "Kalau di drama, biasanya setelah adegan itu, lampunya mati.""Ya iyalah, soalnya abis itu--" Mei Lin menggantung ucapannya, pipinya merona. "Abis itu mereka ngobrol dari hati ke hati," lanjutnya cepat."Ngobrol dari hati ke hati, atau melancarkan niat?"Mei Lin langsung menatap suaminya waspada. "Sayang, ak

  • Pesona Suami Wasiatku   118. Bulan Madu

    Pagi di Haicheng baru saja merekah ketika roda dua koper besar bergelinding pelan di lantai marmer rumah Zhang Yichen. Mei Lin berdiri di tengah ruang tamu, rambut dikuncir tinggi, memakai kacamata hitam dan dress bunga warna cerah."Yichen! Cepat! Kau tahu gak, aku sudah mimpi ke Bali dari aku masih suka nonton drama Taiwan!"Zhang Yichen datang menuruni anak tangga membawa paspor dan tiket dengan ekspresi tenang. "Dan aku baru tahu impianmu itu disponsori oleh kelakuan berisik sejak subuh.""Yah, Sayang, harus heboh dong! Namanya juga bulan madu," sahut Mei Lin sambil nyengir. Zhang Yichen berhenti sejenak, lalu menatap lekat Mei Lin. "Ulangi!""Ulangi apa?""Panggilan barusan."Mei Lin mengedip, pura-pura polos. "Sayang?"Zhang Yichen menahan senyum, tetapi ujung bibirnya bergerak tersenyum. "Teruskan, aku suka versi itu."Mei Lin tersipu malu. Keduanya berangkat, menuju bandara. ---Bandara Haicheng ramai seperti biasa. Namun, ada satu hal di sana yang membuat Zhang Yichen terl

  • Pesona Suami Wasiatku   117. Pernikahan Heboh di Haicheng

    Hari yang ditunggu akhirnya tiba.Matahari pagi memantulkan cahaya keemasan di atas kota Haicheng, dan di seluruh gedung hotel megah tempat pesta diadakan. Para pekerja sibuk menata bunga, lampu, dan panggung utama.Zhang Yichen --sang pengantin pria, sudah berdiri di depan cermin, memakai jas hitam elegan dengan dasi perak.Chen yang membantu merapikan lipatan kecil di kerah tuannya angkat bicara. "Tuan," katanya hati-hati, "acara akan dimulai dua jam lagi.""Semua sudah siap?""Ya, kecuali …" Chen berhenti sejenak, "pengantin wanita."Zhang Yichen mengangkat alis. "Apa maksudmu 'kecuali pengantin wanita'?"Chen menelan ludah. "Nyonya sepertinya ... menimbulkan sedikit ... kekacauan kecil di ruang rias."Zhang Yichen mengembuskan napas kasar dan segera keluar dari kamar hotel yang dijadikan kamar pengantin. Benar saja, diruang rias utama terdengar seperti arena perang antara manusia dan tulle. "AKU BILANG JANGAN PAKE VEIL PANJANG!" teriak Mei Lin. "AKU MAU YANG BISA DILEPAS KALAU A

  • Pesona Suami Wasiatku   116. Persiapan Pernikahan

    Tiga hari setelah malam lamaran, rumah Zhang Yichen berubah total.Bunga, brosur, dan contoh gaun pengantin memenuhi meja ruang tamu. Di tengah kekacauan itu berdirilah Mei Lin, dengan rambut dikuncir tinggi, kacamata di ujung hidung, dan ekspresi super serius. "WO yang mana yang lebih bagus?" katanya sambil memegang dua proposal di tangannya."Yang A punya dekor bintang jatuh. Tapi yang B kasih bonus 200 undangan digital dengan foto kita yang bisa gerak-gerak," lanjutnya. Dari seberang meja, Zhang Yichen hanya menatapnya dengan ekspresi datar. "Aku pikir kau ingin pernikahan yang sederhana."Mei Lin mengernyit. "Sederhana? Yichen, ini pesta pernikahan kita. Aku gak mau cuma sederhana, aku mau meledak anggun!""Meledak ... anggun?" Zhang Yichen mengulang pelan, seolah-olah memastikan ia tidak salah dengar."Ya! Elegan tapi spektakuler!" seru Mei Lin penuh semangat. "Aku mau semua orang Haicheng tahu kalau pasangan perjodohan paling absurd ini ternyata paling bahagia!"Zhang Yichen m

  • Pesona Suami Wasiatku   115. Ulang Tahun Mei Lin

    Keesokan harinya. Tidur Mei Lin terusik oleh suara ponselnya yang berbunyi cukup nyaring. "Yichen, tolong angkat dulu. Bilang saja aku masih berlayar di pulau kapuk," cicitnya tanpa membuka mata. "Yichen!" katanya lagi, karena ternyata ponselnya terus menyala. Mei Lin membuka matanya pelan, lalu mengusap wajahnya kasar. Ia lupa jika Zhang Yichen sudah berpamitan pergi. Mei Lin menyambar ponselnya di atas nakas. Matanya terbuka lebar saat gambar Qian Qian terpampang di sana. Ia lekas menerima panggilan vidio itu. "Ha--" Mei Lin tercekat saat Qian Qian yang muncul di layar tiba-tiba saja meniup lilin kecil. "Happy birthday, Mei!" Mei Lin melongo. Tak lama ia menepuk dahinya. "Aku sampai lupa ini hari ulang tahunku, Qian."Qian Qian ngakak di seberang layar."Kau tuh parah banget, Mei Lin! Sampe lupa tanggal lahir sendiri!"Tawa Qian Qian seketika sirna. "Eh, btw ... jangan jangan suamimu belum ngucapin, ya?"Mei Lin menggeleng pelan. "Belum!Dari pagi malah ngomongin soal kerjaan

  • Pesona Suami Wasiatku   114. Tak Lagi Menerima Tawaran

    Satu bulan berlalu. Setelah Zhang Yichen merajuk kala itu, untuk pertama kalinya setelah sibuk tampil di berbagai acara, Mei Lin membuka matanya karena matahari pagi yang menampar wajahnya."Aaakh! Mataharinya kejam banget hari ini!" serunya sambil menarik selimut sampai ke kepala.Di sisi tempat tidur, terdengar suara tawa pelan. "Biasanya kau bangun jam enam. Sekarang jam delapan lewat."Mei Lin mengintip dari balik selimut. "Tuan Zhang, kenapa kau masih di sini? Bukannya ada rapat?""Rapat bisa ditunda," jawab Zhang Yichen sambil membaca koran. "Sekali-kali aku ingin melihat bagaimana rasanya punya istri yang bangun siang."Mei Lin melotot. "Hei! Aku gak bangun siang. Ini disebut recharge energi cinta."Zhang Yichen mengernyit. "Energi cinta?""Ya. Supaya bisa sayang padamu seharian."Zhang Yichen menurunkan koran sambil menatap Mei Lin datar. "Aku mulai khawatir istilah ilmumu semakin aneh.""Tidak yang aneh.""Aneh!""Tidak!"Setelah beberapa menit perdebatan, Mei Lin akhirnya b

  • Pesona Suami Wasiatku   79. Mata-Mata yang Membuat CEO Serba Salah

    Sore itu, langit Haicheng mulai berwarna oranye keemasan. Di salah satu kantor Zhang Group, Zhang Yichen menatap layar komputernya, tetapi bukan laporan keuangan yang sedang ia buka.Di monitor itu, ada jendela kecil dari kamera tersembunyi yang terpasang di gerbang kampus Haicheng Business Academy

  • Pesona Suami Wasiatku   70. Makan Malam dan Mei Lin yang Cemburu

    Langit malam Haicheng memantulkan cahaya emas dari gedung-gedung tinggi. Restoran bergengsi --Jade Terrace, malam itu dipesan khusus. Tidak ada tamu lain, hanya beberapa pelayan berpakaian hitam yang berdiri tegak di sisi ruangan.Di tengah ruangan, sebuah meja panjang berlapis kain putih dengan li

  • Pesona Suami Wasiatku   69. Untuk Ayah, dan Dunia yang Mulai Berubah

    Esok harinya. Aktivitas di Zhang Grup pagi itu tampak tenang. Tidak ada informasi dari bagian IT yang menunjukkan gangguan berarti. Mei Lin pun bisa dengan tenang menyusun schedule CEO, dan mengerjakan data administrasi lainnya.Namun, di balik ketenangan itu terselip rasa rindu yang membuncah dal

  • Pesona Suami Wasiatku   68. Ciuman Gagal dan Balasan Qi Yueran

    Malam itu, rumah Zhang Yichen terasa lebih hidup dari biasanya. Di meja ruang makan, ada dua gelas wine, piring kecil berisi daging panggang, dan sepiring kue favorit Mei Lin yang bentuknya lebih mirip eksperimen kimia daripada makanan. "Untuk keberhasilan misi bebek digital!" seru Mei sambil me

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status