Share

113. Rindu

Author: Suci Komala
last update Huling Na-update: 2026-01-27 18:09:36

Hari-hari terasa cepat berlalu.

Di kantor, Zhang Yichen menatap layar laptopnya tanpa fokus. Sudah sejam laporan keuangan itu terbuka, tetapi matanya justru berhenti di kalender digital di sudut layar.

Tanda merah di sana bertuliskan 'Seminar Perempuan Haicheng, pembicara Mei Lin Zhang'.

Pria itu menarik napas panjang. Tiga hari berturut-turut. Tiga malam berturut-turut ia merasa kesepian. Bagaimana tidak? Mei Lin pergi pagi-pagi sekali dan pulang pada malam hari. Tak ada kebersamaan berarti, tak ada suara cerewet, tak ada adu argumen. Istrinya sibuk, sudah punya dunia sendiri.

Suara ketukan pintu memecah pikirannya.

"Tuan, semua persiapan proyek cabang sudah siap. Apakah akan ikut rapat sore ini secara langsung?" tanya Chen.

Zhang Yichen menoleh sekilas. "Tidak. Lanjutkan tanpa aku."

"Baik, Tuan. Oh, saya lihat berita lagi menayangkan wawancara Nyonya Zhang barusan--"

"Matikan televisi di kantor!" titah Zhang Yichen tegas.

"Tapi, kenapa, Tuan?"

Zhang Yichen menatap tajam Chen. Ch
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Pesona Suami Wasiatku   113. Rindu

    Hari-hari terasa cepat berlalu.Di kantor, Zhang Yichen menatap layar laptopnya tanpa fokus. Sudah sejam laporan keuangan itu terbuka, tetapi matanya justru berhenti di kalender digital di sudut layar.Tanda merah di sana bertuliskan 'Seminar Perempuan Haicheng, pembicara Mei Lin Zhang'. Pria itu menarik napas panjang. Tiga hari berturut-turut. Tiga malam berturut-turut ia merasa kesepian. Bagaimana tidak? Mei Lin pergi pagi-pagi sekali dan pulang pada malam hari. Tak ada kebersamaan berarti, tak ada suara cerewet, tak ada adu argumen. Istrinya sibuk, sudah punya dunia sendiri. Suara ketukan pintu memecah pikirannya."Tuan, semua persiapan proyek cabang sudah siap. Apakah akan ikut rapat sore ini secara langsung?" tanya Chen. Zhang Yichen menoleh sekilas. "Tidak. Lanjutkan tanpa aku.""Baik, Tuan. Oh, saya lihat berita lagi menayangkan wawancara Nyonya Zhang barusan--""Matikan televisi di kantor!" titah Zhang Yichen tegas. "Tapi, kenapa, Tuan?"Zhang Yichen menatap tajam Chen. Ch

  • Pesona Suami Wasiatku   112

    Selasa Pagi. Berita tentang Mei Lin masih memenuhi halaman depan berbagai portal bisnis. Mei Lin menatap layar ponselnya sambil menggigit roti panggang."Wah, fotoku udah lebih banyak dari foto suamiku," katanya sambil terkekeh-kekeh.Zhang Yichen yang duduk di seberang meja hanya melirik sebentar, lalu menyesap tehnya perlahan. "Jangan bangga dulu. Itu berarti kalau ada gosip baru, fotomu juga yang muncul duluan."Mei Lin mendengus, lalu meletakkan ponselnya. "Kau ini ya, bisa gak sekali aja bilang 'selamat, Sayang, kau hebat' tanpa tambahan nada dingin itu?""Kemarin aku sudah bilang kau luar biasa," jawab Zhang Yichen santai. "Itu berlaku untuk seminggu penuh."Mei Lin melotot. "Kontrak pujian cuma berlaku tujuh hari?!""Bisa diperpanjang dengan perilaku baik," sahut Zhang Yichen tenang sambil berdiri mengambil jas.Mei Lin turut berdiri sambil menyambar tas kerjanya yang ia simpan di atas meja. Mereka pun berangkat ke kantor bersama. ---Mei Lin dan Zhang Yichen sudah tiba di

  • Pesona Suami Wasiatku   111. Viral Lagi

    Matahari mulai meninggi ketika mobil hitam Zhang Yichen keluar dari area kampus. Mei Lin duduk di kursi penumpang, menatap keluar jendela sambil bersenandung kecil.Rambutnya yang dikuncir ekor kuda melambai lembut karena angin dari jendela yang sedikit terbuka.Di sebelahnya, Zhang Yichen menyetir dengan ekspresi datar seperti biasa. Dari caranya mengetuk setir pelan, Mei Lin tahu pria itu sedang menahan sesuatu."Yichen, kau marah, ya?" tanya Mei Lin. "Tidak!""Kesal?""Tidak juga!"Mei Lin menatapnya dari samping. "Cemburu?"Zhang Yichen hanya menggeleng. Mei Lin menebak. 'Kalau begitu kau bangga?""Sedikit.""Sedikit?!" Mei Lin berseru kaget. "Aku baru aja bikin satu kampus berdiri tepuk tangan, bahkan dosen yang galak itu sampai diam! Kau cuma bangga sedikit?!"Zhang Yichen menahan tawa kecil. "Kalau aku bilang sangat bangga, kau bisa sombong tiga hari ke depan."Mei Lin mendengus. "Tujuh hari.""Terima kasih sudah memperjelas kekhawatiranku."---Beberapa menit kemudian, mobil

  • Pesona Suami Wasiatku   110. Saatnya Mei Lin Bicara

    Tepuk tangan bergema di auditorium besar Haicheng Business Academy.Lampu-lampu menyala lembut, menyorot panggung utama di mana sosok mungil penuh karisma melangkah dengan senyum percaya diri.Mei Lin Zhang, sekretaris viral, istri CEO. Sekarang ia berdiri di podium menjadi pusat perhatian. "Selamat pagi semuanya!" Suara Mei Lin menggema. Riuh mahasiswa menyahut, sebagian menyorakinya dengan semangat."Aku gak nyangka bisa berdiri di sini tanpa nilai remedial," lanjutnya santai, membuat semua tertawa termasuk beberapa dosen. "Jujur, waktu kuliah dulu aku sering berpikir … dunia bisnis itu kejam." Ia menatap penonton sambil mencondongkan tubuh sedikit. "Tapi ternyata, dunia kampus lebih kejam. Minimal kalau di kantor, gak ada dosen yang bisa gagal bikin kopi, tapi tetap kasih tugas 10 halaman!"Ruangan kembali ramai, bahkan Profesor Han tertawa dengan wajah geli, sementara dua dosen senior di sisi kanan mulai saling pandang tak suka.Sementara itu, di barisan tamu kehormatan, Zhang Y

  • Pesona Suami Wasiatku   109. Kedatangan Mei Lin di Kampus

    Hari yang Mei Lin tunggu tiba. Senin pagi, suasana rumah Zhang Yichen lebih ramai dari biasanya.Bukan karena tamu, tetapi karena satu perempuan tengil sedang sibuk memilih baju."Ini terlalu resmi," gumam Mei Lin sambil memegang blazer hitam di depan cermin."Kalau ini terlalu imut. Kalau ini … duh, kenapa semua bajuku kayak mau ke fashion week?!" lanjutnya. Dari sofa, Zhang Yichen yang sudah siap dengan jas abu-abu duduk santai, menyeruput kopi sambil membaca koran. Ia hanya mengangkat alis setiap kali Mei Lin keluar dari walk-in closet dengan pakaian berbeda."Mei Lin," katanya datar, tanpa menurunkan koran. "Ini bukan red carpet. Kau akan bicara di kampus, bukan di Met Gala."Mei Lin menatapnya kesal. "Kau gak ngerti, kan? Dosen-dosenku itu kritis banget. Kalau aku salah pakai baju, mereka bisa terus bahas.""Kalau begitu," kata Zhang Yichen sambil melipat korannya, "pakailah sesuatu yang menunjukkan dirimu. Tengil, tapi terdidik."Mei Lin terdiam sejenak. "Kau baru saja memuji

  • Pesona Suami Wasiatku   108. Tawaran yang Tak Terduga

    Sabtu pagi. Hari itu masih hari kerja, tepatnya setengah hari di Zhang Group. Bagi sebagian orang Haicheng, itu waktu untuk menyiapkan rapat atau laporan. Akan tetapi, bagi Mei Lin, Sabtu adalah hari resmi bermalas-malasan dengan piyama bebek kebanggaannya, karena pasalnya Zhang Yichen melarangnya pergi ke kantor. Sekarang saja, Mei Lin duduk santai di ruang makan sambil menyantap roti dengan tablet tak jauh di hadapannya. Di seberangnya ada Zhang Yichen yang sudah siap berangkat ke kantor. Merasa diperhatikan, Mei Lin mengangkat kepalanya. "Kenapa kau menatapku begitu serius?" tanyanya sambil mengunyah."Apakah aku terlalu cantik pagi ini?" lanjutnya dengan bangga, sambil mengunyah. Zhang Yichen melebarkan matanya. "Kau ini manusia bisa makan, mengetik, dan bicara dalam waktu bersamaan."Mei Lin tertawa. "Kemampuan langka. Aku harus masuk Guinness Book.""Lebih cocok ke daftar orang yang membuat suaminya stres tiap pagi," sahut Zhang Yichen datar, tetapi sudut bibirnya sedikit te

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status