Home / Romansa / Pesona Suami Wasiatku / 5. Pernikahan Rahasia

Share

5. Pernikahan Rahasia

Author: Suci Komala
last update Huling Na-update: 2025-10-21 20:15:49

Hari istimewa tiba.

Langit sore di Haicheng tampak lembut, berwarna jingga muda seperti sapuan kuas di kanvas. Akan tetapi bagi Mei Lin, warna itu sama sekali tidak romantis. Itu warna … panik.

"Bu! Aku nggak bisa jalan di sepatu ini! Tumitnya kayak tiang listrik!"

"Kau harus kelihatan elegan!" sahut Li Xiu Lin sambil merapikan veil di rambut putrinya.

"Aku kelihatan kayak anak ayam yang baru belajar terbang!"

"Diam, Mei Lin! Jangan buat keluarga Zhang menyesal."

Mei Lin mengembuskan napas keras, menatap dirinya di cermin besar ruang ganti. Gaun putih sederhana itu sebenarnya cantik, elegan, tidak berlebihan, sesuai permintaan Zhang Yichen. Tetapi wajahnya … jelas memancarkan kepanikan yang tidak bisa disembunyikan.

"Oke, Mei Lin, tenang." Ia berbicara pada dirinya sendiri. "Kau cuma menikah, bukan mau ikut misi rahasia NASA."

Pintu terbuka pelan. Madam Zhang masuk, mengenakan cheongsam merah elegan. Senyum lembutnya menenangkan.

"Kau cantik sekali, Mei Lin."

"Terima kasih, Tante. Tapi … aku belum siap."

"Tidak ada yang benar-benar siap untuk menikah," ucap Madam Zhang bijak. "Tapi kadang, cinta datang setelah janji, bukan sebelumnya."

Mei Lin menatapnya, diam. Lalu mengangguk pelan, walau hatinya masih menjerit, "Tapi aku bahkan belum tahu warna piyama suamiku!"

---

Ruang taman Zhang Residence berubah menjadi aula kecil dengan bunga putih dan lentera gantung.

Hanya keluarga inti dan dua saksi yang hadir. Tak ada musik orkestra, tak ada tamu ribuan. Hanya suara lembut angin sore dan … jantung Mei Lin yang berdetak lebih cepat dari metronom.

Di sana, di ujung karpet putih, Zhang Yichen berdiri menunggunya. Setelan hitamnya rapi, wajahnya tetap dingin, tetapi entah kenapa hari ini dinginnya terlihat … tenang. Matanya menatap lurus padanya, membuat Mei Lin hampir lupa cara jalan.

"Ayo, langkah kecil, jangan meleng," bisik ibunya dari belakang.

"Kalau aku jatuh, tolong pura-pura pingsan juga ya, Bu," balas Mei Lin dengan senyum kaku.

Setiap langkah terasa panjang. Akan tetapi, begitu berdiri di hadapan Zhang Yichen, dunia seolah menyusut menjadi hanya mereka berdua.

Pendeta keluarga mulai membacakan doa pendek dalam bahasa Mandarin kuno. Mei Lin hanya mendengar potongan-potongan kata 'kesetiaan', 'keluarga', 'kebahagiaan'.

Sampai akhirnya...

"Kau, Zhang Yichen, bersediakah mengambil Mei Lin sebagai istrimu ...?"

"Ya," jawab Zhang Yichen tenang, tanpa ragu sedikit pun.

"Dan kau, Mei Lin …?"

"Eh … apa tadi?"

Semua menatapnya.

"Oh iya! Ya, ya! Aku bersedia! Maaf, refleks!"

Suara kecil tawa terdengar dari para saksi. Zhang Yichen bahkan menunduk sedikit, senyum tipis muncul di sudut bibirnya.

Pendeta mengangguk dan mengambil dua cincin sederhana berlapis perak.

Saat Zhang Yichen menyematkan cincin itu ke jari manisnya, Mei Lin menatapnya diam-diam. Tangan pria itu dingin, tetapi hangat di waktu yang sama.

"Kau yakin nggak salah orang?" tanya Mei Lin pelan.

"Kalau salah, sudah terlambat," jawab Zhang Yichen tenang.

"Aku serius, kau nggak keberatan nikah sama aku? Maksudku, aku cerewet, aku suka ngemil tengah malam dan --"

"Aku sudah tahu."

"Kau tahu dari mana?"

"Kau bilang sendiri, lima menit lalu."

Mei Lin memutar bola matanya. "Dingin banget sih, ngomong sesuatu yang romantis kek!"

Zhang Yichen terdiam sebentar, menatap cincin di jarinya sendiri. "Cincin ini tidak terlalu berat," katanya pelan, "tapi aneh … rasanya seperti tanggung jawab."

Mei Lin menatapnya, tak tahu harus menjawab apa. Untuk sesaat, wajahnya yang biasanya tanpa ekspresi itu tampak … manusiawi.

"Itu kalimat paling romantis yang pernah kau ucapkan," katanya lirih.

Zhang Yichen menatapnya balik. "Jangan biasakan aku bicara begitu."

"Kenapa?"

"Aku takut kau makin berisik."

"ASTAGA!" Mei Lin menahan tawa. "Baru nikah lima menit, udah nyolot."

Pendeta akhirnya menutup prosesi. "Dengan ini, kalian resmi menjadi pasangan suami istri."

Semua bertepuk tangan kecil. Sementara Mei Lin hanya berdiri, masih antara terharu dan tidak percaya.

"Ya Tuhan," bisiknya. "Aku benar-benar menikah. Dengan bos dingin."

Zhang Yichen menatapnya. "Apa itu doa?"

"Itu keputusasaan."

Untuk pertama kalinya, Zhang Yichen tertawa kecil. Jujur, hangat, tanpa menahan. Dan di momen itu, sesuatu yang halus dan asing mulai tumbuh di dada Mei Lin. Bukan cuma gugup, tetapi rasa yang pelan-pelan melelehkan dingin.

"Kalau begitu," kata Mei Lin, menatap Zhang Yichen dengan senyum kecil,

"selamat, Tuan Zhang. Sekarang kau resmi punya istri yang cerewet."

"Dan kau,” jawab Zhang Yichen pelan, "punya suami yang terlalu tenang untuk marah."

Mei Lin terkekeh. "Kita pasangan aneh, ya."

"Mungkin," katanya, “tapi aneh juga bisa bahagia."

Seketika Zhang Yichen dan Me Lin terdiam. Entah, apakah memang akan berakhir bahagia? Tanpa cinta.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pesona Suami Wasiatku   119. Malam Pertama -- End

    Mei Lin berdiri di depan bathtub besar yang dipenuhi kelopak bunga mawar. Air hangat mengepul lembut, lampu temaram, lilin beraroma lavender menyala di sudut ruangan."Sayang, menurutmu, kalau aku mandi di sini sambil pakai masker muka, efeknya double glowing gak?"Dari balik pintu, suara Zhang Yichen terdengar tenang. "Kalau kau tenggelam karena terlalu fokus skincare, efeknya malah double chaos."Mei Lin cemberut. "Kau tuh gak ngerti romantisnya drama Korea. Harusnya kau duduk di samping bathtub, terus ngobrol lembut sambil pegang tanganku. Gitu loh, Sayang."Zhang Yichen membuka pintu kamar mandi, berdiri di ambang pintu dengan piyama satin abu-abu dan ekspresi sedikit tegang. "Kalau di drama, biasanya setelah adegan itu, lampunya mati.""Ya iyalah, soalnya abis itu--" Mei Lin menggantung ucapannya, pipinya merona. "Abis itu mereka ngobrol dari hati ke hati," lanjutnya cepat."Ngobrol dari hati ke hati, atau melancarkan niat?"Mei Lin langsung menatap suaminya waspada. "Sayang, ak

  • Pesona Suami Wasiatku   118. Bulan Madu

    Pagi di Haicheng baru saja merekah ketika roda dua koper besar bergelinding pelan di lantai marmer rumah Zhang Yichen. Mei Lin berdiri di tengah ruang tamu, rambut dikuncir tinggi, memakai kacamata hitam dan dress bunga warna cerah."Yichen! Cepat! Kau tahu gak, aku sudah mimpi ke Bali dari aku masih suka nonton drama Taiwan!"Zhang Yichen datang menuruni anak tangga membawa paspor dan tiket dengan ekspresi tenang. "Dan aku baru tahu impianmu itu disponsori oleh kelakuan berisik sejak subuh.""Yah, Sayang, harus heboh dong! Namanya juga bulan madu," sahut Mei Lin sambil nyengir. Zhang Yichen berhenti sejenak, lalu menatap lekat Mei Lin. "Ulangi!""Ulangi apa?""Panggilan barusan."Mei Lin mengedip, pura-pura polos. "Sayang?"Zhang Yichen menahan senyum, tetapi ujung bibirnya bergerak tersenyum. "Teruskan, aku suka versi itu."Mei Lin tersipu malu. Keduanya berangkat, menuju bandara. ---Bandara Haicheng ramai seperti biasa. Namun, ada satu hal di sana yang membuat Zhang Yichen terl

  • Pesona Suami Wasiatku   117. Pernikahan Heboh di Haicheng

    Hari yang ditunggu akhirnya tiba.Matahari pagi memantulkan cahaya keemasan di atas kota Haicheng, dan di seluruh gedung hotel megah tempat pesta diadakan. Para pekerja sibuk menata bunga, lampu, dan panggung utama.Zhang Yichen --sang pengantin pria, sudah berdiri di depan cermin, memakai jas hitam elegan dengan dasi perak.Chen yang membantu merapikan lipatan kecil di kerah tuannya angkat bicara. "Tuan," katanya hati-hati, "acara akan dimulai dua jam lagi.""Semua sudah siap?""Ya, kecuali …" Chen berhenti sejenak, "pengantin wanita."Zhang Yichen mengangkat alis. "Apa maksudmu 'kecuali pengantin wanita'?"Chen menelan ludah. "Nyonya sepertinya ... menimbulkan sedikit ... kekacauan kecil di ruang rias."Zhang Yichen mengembuskan napas kasar dan segera keluar dari kamar hotel yang dijadikan kamar pengantin. Benar saja, diruang rias utama terdengar seperti arena perang antara manusia dan tulle. "AKU BILANG JANGAN PAKE VEIL PANJANG!" teriak Mei Lin. "AKU MAU YANG BISA DILEPAS KALAU A

  • Pesona Suami Wasiatku   116. Persiapan Pernikahan

    Tiga hari setelah malam lamaran, rumah Zhang Yichen berubah total.Bunga, brosur, dan contoh gaun pengantin memenuhi meja ruang tamu. Di tengah kekacauan itu berdirilah Mei Lin, dengan rambut dikuncir tinggi, kacamata di ujung hidung, dan ekspresi super serius. "WO yang mana yang lebih bagus?" katanya sambil memegang dua proposal di tangannya."Yang A punya dekor bintang jatuh. Tapi yang B kasih bonus 200 undangan digital dengan foto kita yang bisa gerak-gerak," lanjutnya. Dari seberang meja, Zhang Yichen hanya menatapnya dengan ekspresi datar. "Aku pikir kau ingin pernikahan yang sederhana."Mei Lin mengernyit. "Sederhana? Yichen, ini pesta pernikahan kita. Aku gak mau cuma sederhana, aku mau meledak anggun!""Meledak ... anggun?" Zhang Yichen mengulang pelan, seolah-olah memastikan ia tidak salah dengar."Ya! Elegan tapi spektakuler!" seru Mei Lin penuh semangat. "Aku mau semua orang Haicheng tahu kalau pasangan perjodohan paling absurd ini ternyata paling bahagia!"Zhang Yichen m

  • Pesona Suami Wasiatku   115. Ulang Tahun Mei Lin

    Keesokan harinya. Tidur Mei Lin terusik oleh suara ponselnya yang berbunyi cukup nyaring. "Yichen, tolong angkat dulu. Bilang saja aku masih berlayar di pulau kapuk," cicitnya tanpa membuka mata. "Yichen!" katanya lagi, karena ternyata ponselnya terus menyala. Mei Lin membuka matanya pelan, lalu mengusap wajahnya kasar. Ia lupa jika Zhang Yichen sudah berpamitan pergi. Mei Lin menyambar ponselnya di atas nakas. Matanya terbuka lebar saat gambar Qian Qian terpampang di sana. Ia lekas menerima panggilan vidio itu. "Ha--" Mei Lin tercekat saat Qian Qian yang muncul di layar tiba-tiba saja meniup lilin kecil. "Happy birthday, Mei!" Mei Lin melongo. Tak lama ia menepuk dahinya. "Aku sampai lupa ini hari ulang tahunku, Qian."Qian Qian ngakak di seberang layar."Kau tuh parah banget, Mei Lin! Sampe lupa tanggal lahir sendiri!"Tawa Qian Qian seketika sirna. "Eh, btw ... jangan jangan suamimu belum ngucapin, ya?"Mei Lin menggeleng pelan. "Belum!Dari pagi malah ngomongin soal kerjaan

  • Pesona Suami Wasiatku   114. Tak Lagi Menerima Tawaran

    Satu bulan berlalu. Setelah Zhang Yichen merajuk kala itu, untuk pertama kalinya setelah sibuk tampil di berbagai acara, Mei Lin membuka matanya karena matahari pagi yang menampar wajahnya."Aaakh! Mataharinya kejam banget hari ini!" serunya sambil menarik selimut sampai ke kepala.Di sisi tempat tidur, terdengar suara tawa pelan. "Biasanya kau bangun jam enam. Sekarang jam delapan lewat."Mei Lin mengintip dari balik selimut. "Tuan Zhang, kenapa kau masih di sini? Bukannya ada rapat?""Rapat bisa ditunda," jawab Zhang Yichen sambil membaca koran. "Sekali-kali aku ingin melihat bagaimana rasanya punya istri yang bangun siang."Mei Lin melotot. "Hei! Aku gak bangun siang. Ini disebut recharge energi cinta."Zhang Yichen mengernyit. "Energi cinta?""Ya. Supaya bisa sayang padamu seharian."Zhang Yichen menurunkan koran sambil menatap Mei Lin datar. "Aku mulai khawatir istilah ilmumu semakin aneh.""Tidak yang aneh.""Aneh!""Tidak!"Setelah beberapa menit perdebatan, Mei Lin akhirnya b

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status