Beranda / Romansa / Pesona Suami Wasiatku / 6. Kesepakatan Dingin

Share

6. Kesepakatan Dingin

Penulis: Suci Komala
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-23 14:55:29

Setelah acara selesai, Zhang Yichen membawa Mei Lin ke rumah pribadinya. Rumah dua lantai mewah minimalis, bahkan terlalu besar jika dihuni dua orang saja. Sunyi.

Terlalu sunyi, bahkan suara jarum jam di dinding terdengar seperti petir kecil bagi seseorang yang tidak terbiasa dengan keheningan.

Seseorang itu, tentu saja, Mei Lin.

Ia berdiri di tengah kamar tamu yang sekarang resmi jadi kamarnya meskipun statusnya sudah menikah.

"Sumpah," gumamnya sambil menatap langit-langit tinggi, "rumah ini kayak hotel bintang sepuluh yang kehilangan suara manusia."

Di atas meja rias, cincin peraknya berkilau di bawah cahaya lampu.

Ia menatapnya, lalu bergumam, "Hei cincin, selamat datang di hidup yang membingungkan. Suamimu dingin, tapi lumayan tampan."

---

Tok. Tok. Tok.

Pintu kamarnya diketuk.

Mei Lin refleks berdiri tegak, hampir menjatuhkan hairband dari kepalanya.

"Masuk aja, pintunya nggak dikunci," katanya cepat.

Dan tentu saja yang muncul di pintu adalah Zhang Yichen. Rapi, tenang, masih dengan kemeja putihnya yang dilipat rapi di pergelangan tangan.

Seolah hari ini bukan hari pernikahannya, tetapi rapat direksi.

"Kau belum tidur?" Zhang Yichen bertanya dengan suara datar.

"Sulit tidur kalau barusan menikah, tahu!"

"Tidak ada yang memintamu panik."

"Kau pikir mudah? Aku menikah dengan bos paling kaku di Haicheng!"

Zhang Yichen menatap istrinya dengan tatapan datar, tetapi sedikit geli. "Setidaknya sekarang kau tahu konsekuensinya."

"Kau ngomong kayak aku tanda tangan kontrak pinjaman bank."

"Hampir mirip," katanya tenang, "dan itu sebabnya aku datang."

Ia berjalan masuk, duduk di kursi dekat jendela, lalu mengeluarkan satu berkas dari map hitam di tangannya.

Mei Lin melotot. "Tunggu … kau bawa dokumen ke kamar istrimu di malam pertama?"

"Ini bukan malam pertama," jawabnya datar. "Ini malam penandatanganan kesepakatan."

"ASTAGA!" Mei Lin menepuk jidat.

"Kau romantis banget ya. Dunia butuh tahu caramu merayakan pernikahan," lanjutnya.

"Kau mau dengar isi perjanjiannya atau tidak?"

Mei Lin mendengus. "Oke, fine. Tapi kalau isinya aneh, aku bakar kertasnya."

Zhang Yichen menghela napas pendek.

"Pasal satu: Pernikahan ini bersifat pribadi dan rahasia. Tidak boleh diketahui oleh pihak luar, termasuk media, teman, atau karyawanku."

"Oke, masuk akal. Aku juga nggak mau jadi headline gosip: Cewek Cantik Anak Kampus Ternama Nikahi CEO Dingin. Apalagi, usianya jauh di atas aku. Tua!"

"Apa kau bilang?!"

Mei Lin tersenyum canggung. "Kau tampan! Lanjut!"

Zhang Yichen mendengkus.

"Pasal dua: Tidak ada kewajiban hubungan fisik maupun romantis."

Mei Lin menatap pria itu tajam. "Wow. Kau tulis itu sendiri?'

"Tentu!"

"Kau sadar betapa sadisnya kalimat itu terdengar?"

"Aku hanya ingin memastikan batasnya jelas."

"Batas?!" Mei Lin bersedekap. "Aku ini istri, bukan staf HRD!"

Zhang Yichen tetap tenang, meskipun sudut bibirnya hampir tersenyum.

"Pasal tiga: Kami sepakat tetap hidup normal dan saling menghormati di bawah satu atap."

"Hmm, oke, yang ini boleh. Kedengarannya seperti sinetron yang sopan."

"Dan pasal empat: Pernikahan ini bisa berakhir jika salah satu pihak merasa tidak cocok, tanpa tuntutan apa pun."

Mei Lin menatap Zhang Yichen lama.

Tatapan yang tadi berapi-api perlahan berubah lembut. "Jadi … kau nggak mau aku merasa terjebak, ya?"

Zhang Yichen menatap balik, kali ini tanpa ekspresi dingin. "Aku tidak ingin kau menyesal."

Keheningan singkat menggantung di udara. Untuk pertama kalinya, nada suaranya terdengar … jujur.

Mei Lin tersenyum kecil. "Kau tahu nggak, Tuan Zhang? Kadang aku bingung sama dirimu. Separuh robot, separuh manusia … tapi mungkin, dalamnya lembut kayak tahu sutra."

Zhang Yichen mengerjap. "Itu analogi paling aneh yang pernah kudengar."

"Tapi paling akurat!"

Pria itu idak membalas. Namun, kali ini, Mei Lin yakin ia melihat senyum kecil di wajah Zhang Yichen. Senyum yang benar-benar nyata.

"Baiklah," kata Mei Lin akhirnya sambil mengambil pena. "Aku tanda tangan."

"Kau yakin?"

"Aku udah telanjur menikah. Setidaknya biar kelihatan profesional."

Mei Lin menandatangani dokumen itu dengan cepat, lalu mengembalikannya kepada Zhang Yichen. "Nah, selesai. Sekarang kita suami-istri legal dan … profesional."

"Kau terdengar bangga."

"Aku cuma mencoba bertahan."

Zhang Yichen berdiri, menatap Mei Lin sebentar. "Kalau begitu, selamat malam, Nyonya Zhang."

Mei Lin tertegun. "Eh --apa?”

"Aku akan tidur di kamar atas."

"Kau yakin nggak mau di sini aja?"

"Kau yakin ingin aku di sini?"

Mei Lin nyengir. "Oke, tidak jadi."

Zhang Yichen berjalan pergi, tetapi sebelum keluar, ia berhenti sebentar.

"Oh, satu hal lagi."

"Apa?"

"Pasal kelima," katanya pelan. "Jangan terlalu sering berisik setelah jam sepuluh malam."

"Kau buat pasal tambahan cuma buat itu?!"

Pria tampan itu sudah keluar sebelum Mei Lin sempat memprotes lebih jauh. Ia memandang pintu yang tertutup, lalu tertawa kecil sambil bergumam, "Dingin banget ... tapi kok rasanya justru hangat, ya?"

Ia menatap cincin di jarinya, senyum kecil muncul di bibirnya. "Ya ampun, Mei Lin. Kau mulai jatuh cinta ke robot elegan itu."

Jatuh cinta atau hanya mengagumi karena wajahnya yang tampan? Ya, wajah Zhang Yichen memang kriteria Mei Lin, tetapi sikapnya?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pesona Suami Wasiatku   119. Malam Pertama -- End

    Mei Lin berdiri di depan bathtub besar yang dipenuhi kelopak bunga mawar. Air hangat mengepul lembut, lampu temaram, lilin beraroma lavender menyala di sudut ruangan."Sayang, menurutmu, kalau aku mandi di sini sambil pakai masker muka, efeknya double glowing gak?"Dari balik pintu, suara Zhang Yichen terdengar tenang. "Kalau kau tenggelam karena terlalu fokus skincare, efeknya malah double chaos."Mei Lin cemberut. "Kau tuh gak ngerti romantisnya drama Korea. Harusnya kau duduk di samping bathtub, terus ngobrol lembut sambil pegang tanganku. Gitu loh, Sayang."Zhang Yichen membuka pintu kamar mandi, berdiri di ambang pintu dengan piyama satin abu-abu dan ekspresi sedikit tegang. "Kalau di drama, biasanya setelah adegan itu, lampunya mati.""Ya iyalah, soalnya abis itu--" Mei Lin menggantung ucapannya, pipinya merona. "Abis itu mereka ngobrol dari hati ke hati," lanjutnya cepat."Ngobrol dari hati ke hati, atau melancarkan niat?"Mei Lin langsung menatap suaminya waspada. "Sayang, ak

  • Pesona Suami Wasiatku   118. Bulan Madu

    Pagi di Haicheng baru saja merekah ketika roda dua koper besar bergelinding pelan di lantai marmer rumah Zhang Yichen. Mei Lin berdiri di tengah ruang tamu, rambut dikuncir tinggi, memakai kacamata hitam dan dress bunga warna cerah."Yichen! Cepat! Kau tahu gak, aku sudah mimpi ke Bali dari aku masih suka nonton drama Taiwan!"Zhang Yichen datang menuruni anak tangga membawa paspor dan tiket dengan ekspresi tenang. "Dan aku baru tahu impianmu itu disponsori oleh kelakuan berisik sejak subuh.""Yah, Sayang, harus heboh dong! Namanya juga bulan madu," sahut Mei Lin sambil nyengir. Zhang Yichen berhenti sejenak, lalu menatap lekat Mei Lin. "Ulangi!""Ulangi apa?""Panggilan barusan."Mei Lin mengedip, pura-pura polos. "Sayang?"Zhang Yichen menahan senyum, tetapi ujung bibirnya bergerak tersenyum. "Teruskan, aku suka versi itu."Mei Lin tersipu malu. Keduanya berangkat, menuju bandara. ---Bandara Haicheng ramai seperti biasa. Namun, ada satu hal di sana yang membuat Zhang Yichen terl

  • Pesona Suami Wasiatku   117. Pernikahan Heboh di Haicheng

    Hari yang ditunggu akhirnya tiba.Matahari pagi memantulkan cahaya keemasan di atas kota Haicheng, dan di seluruh gedung hotel megah tempat pesta diadakan. Para pekerja sibuk menata bunga, lampu, dan panggung utama.Zhang Yichen --sang pengantin pria, sudah berdiri di depan cermin, memakai jas hitam elegan dengan dasi perak.Chen yang membantu merapikan lipatan kecil di kerah tuannya angkat bicara. "Tuan," katanya hati-hati, "acara akan dimulai dua jam lagi.""Semua sudah siap?""Ya, kecuali …" Chen berhenti sejenak, "pengantin wanita."Zhang Yichen mengangkat alis. "Apa maksudmu 'kecuali pengantin wanita'?"Chen menelan ludah. "Nyonya sepertinya ... menimbulkan sedikit ... kekacauan kecil di ruang rias."Zhang Yichen mengembuskan napas kasar dan segera keluar dari kamar hotel yang dijadikan kamar pengantin. Benar saja, diruang rias utama terdengar seperti arena perang antara manusia dan tulle. "AKU BILANG JANGAN PAKE VEIL PANJANG!" teriak Mei Lin. "AKU MAU YANG BISA DILEPAS KALAU A

  • Pesona Suami Wasiatku   116. Persiapan Pernikahan

    Tiga hari setelah malam lamaran, rumah Zhang Yichen berubah total.Bunga, brosur, dan contoh gaun pengantin memenuhi meja ruang tamu. Di tengah kekacauan itu berdirilah Mei Lin, dengan rambut dikuncir tinggi, kacamata di ujung hidung, dan ekspresi super serius. "WO yang mana yang lebih bagus?" katanya sambil memegang dua proposal di tangannya."Yang A punya dekor bintang jatuh. Tapi yang B kasih bonus 200 undangan digital dengan foto kita yang bisa gerak-gerak," lanjutnya. Dari seberang meja, Zhang Yichen hanya menatapnya dengan ekspresi datar. "Aku pikir kau ingin pernikahan yang sederhana."Mei Lin mengernyit. "Sederhana? Yichen, ini pesta pernikahan kita. Aku gak mau cuma sederhana, aku mau meledak anggun!""Meledak ... anggun?" Zhang Yichen mengulang pelan, seolah-olah memastikan ia tidak salah dengar."Ya! Elegan tapi spektakuler!" seru Mei Lin penuh semangat. "Aku mau semua orang Haicheng tahu kalau pasangan perjodohan paling absurd ini ternyata paling bahagia!"Zhang Yichen m

  • Pesona Suami Wasiatku   115. Ulang Tahun Mei Lin

    Keesokan harinya. Tidur Mei Lin terusik oleh suara ponselnya yang berbunyi cukup nyaring. "Yichen, tolong angkat dulu. Bilang saja aku masih berlayar di pulau kapuk," cicitnya tanpa membuka mata. "Yichen!" katanya lagi, karena ternyata ponselnya terus menyala. Mei Lin membuka matanya pelan, lalu mengusap wajahnya kasar. Ia lupa jika Zhang Yichen sudah berpamitan pergi. Mei Lin menyambar ponselnya di atas nakas. Matanya terbuka lebar saat gambar Qian Qian terpampang di sana. Ia lekas menerima panggilan vidio itu. "Ha--" Mei Lin tercekat saat Qian Qian yang muncul di layar tiba-tiba saja meniup lilin kecil. "Happy birthday, Mei!" Mei Lin melongo. Tak lama ia menepuk dahinya. "Aku sampai lupa ini hari ulang tahunku, Qian."Qian Qian ngakak di seberang layar."Kau tuh parah banget, Mei Lin! Sampe lupa tanggal lahir sendiri!"Tawa Qian Qian seketika sirna. "Eh, btw ... jangan jangan suamimu belum ngucapin, ya?"Mei Lin menggeleng pelan. "Belum!Dari pagi malah ngomongin soal kerjaan

  • Pesona Suami Wasiatku   114. Tak Lagi Menerima Tawaran

    Satu bulan berlalu. Setelah Zhang Yichen merajuk kala itu, untuk pertama kalinya setelah sibuk tampil di berbagai acara, Mei Lin membuka matanya karena matahari pagi yang menampar wajahnya."Aaakh! Mataharinya kejam banget hari ini!" serunya sambil menarik selimut sampai ke kepala.Di sisi tempat tidur, terdengar suara tawa pelan. "Biasanya kau bangun jam enam. Sekarang jam delapan lewat."Mei Lin mengintip dari balik selimut. "Tuan Zhang, kenapa kau masih di sini? Bukannya ada rapat?""Rapat bisa ditunda," jawab Zhang Yichen sambil membaca koran. "Sekali-kali aku ingin melihat bagaimana rasanya punya istri yang bangun siang."Mei Lin melotot. "Hei! Aku gak bangun siang. Ini disebut recharge energi cinta."Zhang Yichen mengernyit. "Energi cinta?""Ya. Supaya bisa sayang padamu seharian."Zhang Yichen menurunkan koran sambil menatap Mei Lin datar. "Aku mulai khawatir istilah ilmumu semakin aneh.""Tidak yang aneh.""Aneh!""Tidak!"Setelah beberapa menit perdebatan, Mei Lin akhirnya b

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status