Share

Pesona Tante Ratna yang Memikat
Pesona Tante Ratna yang Memikat
Author: M I S S R A H M A

Bab 1

last update publish date: 2026-10-21 15:52:04

"Tiga juta seratus dua puluh ribu?" bisik Ratna dengan suara yang tercekat di tenggorokan.

Layar ponsel di atas meja makan kayu menyala redup, memancarkan deretan angka di aplikasi mobile banking.

Ratna menyapu permukaan meja dengan telapak tangannya yang dingin, lalu menggeser ponsel itu lebih dekat ke wajahnya.

Ia menghitung angka nol di layar sekali lagi. Lalu untuk kedua kalinya. Dan untuk ketiga kalinya.

Seratus delapan puluh tujuh juta rupiah. Uang hasil memeras keringat mengurus delapan kamar kos warisan almarhum ayahnya, ditambah sisa uang peninggalan orang tua, kini menguap begitu saja.

Dengan jemari gemetar, Ratna menggulir riwayat mutasi rekening. Deretan transaksi keluar tercetak rapi selama empat bulan terakhir.

Sebagian besar berupa transfer berulang ke satu nama: Vivi Amelia. Sisanya adalah pembayaran di boutique hotel, restoran mewah pusat kota, hingga toko perhiasan.

Ratna memijit pelipisnya yang mulai berdenyut parah. Pikirannya langsung tertuju pada jadwal besok pagi.

"Pak Karso jam delapan besok sudah datang bawa tukang," gumamnya panik. "Uang DP dua puluh lima juta mau diambil dari mana?"

Ia memejamkan mata erat-erat. Jangankan membayar DP perbaikan atap kamar belakang yang bocor, sisa uang di rekeningnya saat ini bahkan tidak cukup untuk membeli beberapa sak semen dan seng.

Di luar, deru mesin mobil yang sangat dihafalnya berhenti di depan gerbang. Suara pagar besi berderit digeser, disusul langkah kaki yang santai mendekati pintu depan.

Ratna tidak bergerak dari kursi dapur. Ia menegakkan punggungnya, menolak terlihat rapuh di depan suaminya.

Hendra masuk dengan kemeja yang sedikit kusut di bagian lengan. Pria empat puluh satu tahun itu membawa serta aroma parfum wanita yang manis dan pekat, aroma yang sama sekali bukan milik Ratna.

"Belum tidur, Rat?" tanya Hendra kasual sembari melepaskan jam tangan emasnya dan meletakkannya di atas bufet.

Ratna tidak menjawab. Ia hanya menggeser ponselnya ke tengah meja, membiarkan pendar layar mutasi rekening itu menyala di hadapan suaminya.

Hendra melirik layar tersebut. Langkahnya terhenti sejenak, tetapi tidak ada raut kaget apalagi rasa bersalah di wajahnya. Ia malah mendengus pelan sambil menarik kursi di hadapan Ratna.

"Kamu ngecek-ngecek rekening lagi?" suara Hendra memotong hening, nadanya mendadak kasar dan menuduh.

"Uang di tabungan itu ke mana, Hendra?" tanya Ratna pelan. Suaranya diatur sedatar mungkin meski dadanya sesak. "Ada seratus delapan puluh tujuh juta di situ. Sekarang cuma sisa tiga juta!”

"Ya dipakai buat kebutuhan!" potong Hendra santai.

"Kebutuhan siapa?" Ratna menunjuk layar ponselnya dengan jari yang bergetar.

"Vivi Amelia ini siapa? Kenapa seminggu bisa dua sampai tiga kali kamu transfer ke dia? Terus ini tagihan hotel sama toko perhiasan maksudnya apa?"

Hendra menyipitkan mata, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan angkuh. "Nggak usah teriak-teriak malam-malam. Malu didengar anak-anak kos di atas."

"Jawab aku, Hendra! Itu uang kosan, uang warisan Bapak!" suara Ratna mulai naik satu nada.

"Uang warisan Bapakmu?" Hendra terkekeh sinis, kemudian menyilangkan tangan di dada.

"Harusnya kamu sadar diri, Ratna. Kalau saja kamu nggak terlalu sibuk ngurusin kos-kosan dan anak-anak kosan itu, kalau saja kamu ada waktu buat melayani suami di rumah, aku nggak perlu mencari kenyamanan di luar!"

Kata-kata itu menghantam Ratna tepat di dada.

Selama delapan tahun pernikahan, setiap kali terjadi pertengkaran, Ratna selalu memilih menunduk dan mengalah demi menjaga gengsi rumah tangganya agar tidak dinilai gagal oleh tetangga.

Namun malam ini, ada sesuatu yang patah di dalam dirinya. Rasa sabar yang dipaksakan selama bertahun-tahun itu menguap, berganti menjadi keberanian yang dingin.

Ratna mengangkat wajahnya, dan menatap lurus mata Hendra tanpa berkedip.

"Kalau kamu merasa gak dapet perhatian lagi dari aku, kita cerai," ucap Ratna pelan, namun tegas.

Hendra menyipitkan mata, lalu tertawa mengejek. Pria itu lantas berdiri, dan membungkuk di atas meja hingga wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari Ratna.

"Cerai?" bisik Hendra serak dengan seringai licik.

"Sertifikat rumah dan tanah kosan ini ada di tangan aku. Sudah aku gadaikan beberapa bulan lalu. Mau cerai, silakan. Tapi kamu keluar dari sini nggak bawa apa-apa. Kamu bakal jadi gelandangan, Ratna."

Darah Ratna serasa berhenti mengalir. "Kamu... bercanda, kan? Itu sertifikat murni warisan Bapak!"

"Warisan yang surat kuasanya sudah kamu tanda tangani sendiri empat bulan lalu," potong Hendra puas melihat kepanikan di wajah istrinya. "Terima kasih atas kebodohanmu."

Ratna mengepalkan tangannya di atas meja, bibirnya gemetar tanpa sanggup mengeluarkan kata-kata.

Sebelum pertengkaran itu berlanjut, suara langkah kaki yang pelan dan teratur terdengar dari ujung tangga dekat dapur.

Tuk. Tuk.

Hendra mendadak diam dan menoleh. Ratna ikut memalingkan wajahnya dengan mata yang mulai membasah.

Di sana, Bima berdiri diam memakai kaus polos hitam.

Penghuni kamar nomor satu yang sudah enam tahun menetap di sana menatap mereka berdua dengan tenang. Tangannya memegang sebuah gelas kosong.

"Ada masalah, Pak Hendra?" tanya Bima pelan. Nadanya terukur dan datar.

"Nggak ada. Mending kamu kembali ke kamarmu sana," tembak Hendra galak. "Ini urusan rumah tangga."

"Saya cuma mau ambil air minum ke dapur," jawab Bima pendek tanpa rasa takut.

Kemudian matanya melirik sejenak ke arah Ratna yang tertunduk menahan napas, lalu kembali menatap Hendra.

"Tapi suara Pak Hendra tadi lumayan kedengaran sampai atas."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesona Tante Ratna yang Memikat   Bab 6

    Bima hanya menyunggingkan senyum tipisnya, senyum tipis yang amat jarang muncul di wajah tenangnya.Sementara matanya tetap tertuju pada jalanan malam yang mulai meremang."Tante nggak perlu pusing memikirkan alasan saya," ujar Bima. "Fokus kita malam ini cuma satu. Bukti."Ratna menyandarkan punggungnya di kursi penumpang, jantungnya berdebar kencang oleh pertanyaan yang masih bergulung di kepala.Namun, penjelasan Bima berikutnya menahan niat Ratna untuk bertanya lebih jauh."Kalau semua tuduhan dan penyelewengan Hendra terbukti secara hukum," lanjut Bima sambil mengendalikan kemudi dengan satu tangan.“Mudah buat Tante untuk melapor balik atas dugaan penggelapan dan penipuan. Tante nggak perlu takut kehilangan kosan, dan Tante nggak wajib membayar sepeser pun utang tiga ratus juta yang dia pakai buat bersenang-senang sama cewek itu."Ratna mengembuskan napas panjang. "Tapi apa foto dari dalam mobil ini sudah cukup, Bima?"Bima melirik spion samping, lalu memperlambat laju mobilnya

  • Pesona Tante Ratna yang Memikat   Bab 5

    Sebelum Bima sempat menjawab, pintu ruang tamu terdorong lebih lebar.Jo dan Leo yang menyelinap masuk sejak tadi langsung menyerobot bicara tanpa dosa, memecah atmosfer berat di ruangan tersebut."Syarat dari saya simpel, Tante!" seru Leo dengan cengiran lebar, lalu memajukan badannya di sebelah Dimas."Mulai besok Tante harus masakin ayam bumbu balado seminggu tiga kali! Bosen saya makan mi instan terus tiap malam.""Dih, dasar perut karet!" pangkas Jo tidak mau kalah sambil menyenggol bahu Leo dan mengacungkan jarinya tinggi-tinggi."Kalau saya beda lagi, Tante. Diskon uang kosan sepuluh persen bulan depan kalau masalah ini beres! Lumayan buat tambahan beli kuota."Arka yang berdiri bersandarkan tembok dekat pintu hanya menggelengkan kepala, menyunggingkan senyum tipis melihat tingkah dua penghuni paling muda itu.Ratna tertegun. Ketegangan yang mencekat dadanya mendadak mengendur.Ia menatap dua anak muda itu dengan rasa tak percaya, lalu menghela napas panjang saat menyadari beta

  • Pesona Tante Ratna yang Memikat   Bab 4

    Siang merambat menjadi sore, tetapi ketegangan di ruang tamu kosan sama sekali belum reda.Meja kayu di tengah ruangan kini tertutup oleh lembaran berkas fotokopi, catatan mutasi rekening, dan lembar tagihan Rp 300 juta yang diletakkan Bima di bawah lampu meja yang menyala terang.Bima duduk tenang dengan kacamata baca hinggap di pangkal hidungnya, meneliti lembar demi lembar berkas yang berhasil ia kumpulkan dari sisa dokumen di kamar kerja Hendra.Di seberangnya, Ratna duduk dengan jemari yang saling bertaut rapat di pangkuan."Surat kuasa yang Tante tanda tangani memang memberikan hak penjaminan sertifikat," Bima membuka suara, memecah hening sambil menunjuk sebuah frasa di halaman kedua dokumen."Tetapi ada celah hukum yang sangat fatal di sini. Penanggalan surat kuasa ini dimajukan dua bulan sebelum akad pinjaman diproses. Ini bentuk cacat administrasi."Ratna mendongak, matanya memancarkan sedikit titik terang. "Artinya surat itu bisa dibatalkan?""Bisa," jawab Bima lugas."Sela

  • Pesona Tante Ratna yang Memikat   Bab 3

    Baru pukul delapan lewat empat puluh lima menit, tetapi dua mobil sudah terparkir berderet di depan pagar besi yang terbuka separuh.Hendra turun dari mobil depan dengan setelan kemeja rapi, melangkah penuh percaya diri.Di sampingnya, berjalan seorang pria berbadan tambun berpakaian necis yang memegang map tebal, Pak Darto, penagih pinjaman swasta, diikuti oleh dua pria bertubuh kekar dengan tato menjalar di lengan yang berdiri sigap di belakang mereka.Suara langkah kaki dan nada bicara yang keras mengundang perhatian para penghuni kos.Dari balkon lantai dua, Jo dan Leo mengintip dengan wajah cemas, sambil saling berbisik dengan raut tegang yang tak lagi diwarnai keusilan."Jo, itu Om Hendra bawa orang-orang gede banget," bisik Leo tegang, tangannya meremas cengkeraman pagar balkon. "Mau ada penggusuran apa gimana?""Diem dulu, Leo. Jangan kenceng-kenceng," balas Jo panik seraya menarik lengan kaos temannya itu.Sementara itu di dekat tangga bawah, Arka berdiri kaku dalam seragam k

  • Pesona Tante Ratna yang Memikat   Bab 2

    "Halah! Masuk sana kamu. Gak usah ikut campur urusan kami!" ucap Hendra dengan kasar.Namun, Bima justru memicingkan matanya kala melihat Ratna yang tampak hancur.Ia tidak mematuhi gertakan Hendra, melainkan tetap berdiri kukuh di posisinya, menatap Hendra dengan sorot mata dingin yang sukar diartikan.Hendra menyadari tatapan itu. Rasanya seperti ditelanjangi oleh pemuda yang umurnya jauh di bawahnya.Merasa terpojok dan tak punya argumen lagi, Hendra mendesis gusar.Tanpa mengucap sepatah kata pun lagi pada Ratna, pria itu menyambar kunci mobil di atas meja, berbalik kasar, dan membanting pintu depan hingga kaca-kaca jendela bergetar keras.Suara deru mesin mobilnya menggerung membelah malam, lalu menghilang ditelan kegelapan jalan raya.Begitu deru mobil memudar, pertahanan Ratna runtuh. Punggungnya merosot, bersandar lemah pada kursi kayu.Tangannya terangkat menutupi wajahnya yang mendadak panas.Dadanya naik turun menahan guncangan napas, berusaha mati-matian agar tangisnya tid

  • Pesona Tante Ratna yang Memikat   Bab 1

    "Tiga juta seratus dua puluh ribu?" bisik Ratna dengan suara yang tercekat di tenggorokan.Layar ponsel di atas meja makan kayu menyala redup, memancarkan deretan angka di aplikasi mobile banking.Ratna menyapu permukaan meja dengan telapak tangannya yang dingin, lalu menggeser ponsel itu lebih dekat ke wajahnya.Ia menghitung angka nol di layar sekali lagi. Lalu untuk kedua kalinya. Dan untuk ketiga kalinya.Seratus delapan puluh tujuh juta rupiah. Uang hasil memeras keringat mengurus delapan kamar kos warisan almarhum ayahnya, ditambah sisa uang peninggalan orang tua, kini menguap begitu saja.Dengan jemari gemetar, Ratna menggulir riwayat mutasi rekening. Deretan transaksi keluar tercetak rapi selama empat bulan terakhir.Sebagian besar berupa transfer berulang ke satu nama: Vivi Amelia. Sisanya adalah pembayaran di boutique hotel, restoran mewah pusat kota, hingga toko perhiasan.Ratna memijit pelipisnya yang mulai berdenyut parah. Pikirannya langsung tertuju pada jadwal besok pag

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status