Share

Bab 2

last update publish date: 2026-10-21 16:04:45

"Halah! Masuk sana kamu. Gak usah ikut campur urusan kami!" ucap Hendra dengan kasar.

Namun, Bima justru memicingkan matanya kala melihat Ratna yang tampak hancur.

Ia tidak mematuhi gertakan Hendra, melainkan tetap berdiri kukuh di posisinya, menatap Hendra dengan sorot mata dingin yang sukar diartikan.

Hendra menyadari tatapan itu. Rasanya seperti ditelanjangi oleh pemuda yang umurnya jauh di bawahnya.

Merasa terpojok dan tak punya argumen lagi, Hendra mendesis gusar.

Tanpa mengucap sepatah kata pun lagi pada Ratna, pria itu menyambar kunci mobil di atas meja, berbalik kasar, dan membanting pintu depan hingga kaca-kaca jendela bergetar keras.

Suara deru mesin mobilnya menggerung membelah malam, lalu menghilang ditelan kegelapan jalan raya.

Begitu deru mobil memudar, pertahanan Ratna runtuh. Punggungnya merosot, bersandar lemah pada kursi kayu.

Tangannya terangkat menutupi wajahnya yang mendadak panas.

Dadanya naik turun menahan guncangan napas, berusaha mati-matian agar tangisnya tidak pecah menjadi suara.

Rasa malu dan takut bergulung menjadi satu, tetapi gengsinya yang setinggi langit memaksa Ratna menekan tangisnya hingga hanya menjadi bisikan napas yang sesak di tenggorokan.

Ia tidak boleh terlihat rapuh, terlebih di hadapan penghuni kosnya.

Langkah kaki yang tenang mendekat ke arah area dapur.

Bima tidak melontarkan pertanyaan heboh, tidak juga menunjukkan raut wajah iba yang berlebihan.

Pengacara muda berusia 32 tahun itu berjalan lurus ke arah dispenser, mengambil cangkir keramik, lalu menyeduh kantong teh celup dengan air panas. Suara gemercik air menembus hening malam yang mencekam.

Beberapa saat kemudian, sebuah cangkir berasap tipis diletakkan perlahan di atas meja, tepat di samping jemari Ratna yang gemetar.

"Minum dulu, Tante," ujar Bima.

Ratna menurunkan tangannya dari wajah. Ia menyeka sudut matanya yang basah sebelum menatap Bima.

Memungut sisa-sisa martabatnya, Ratna meraih cangkir hangat itu, membiarkan suhunya meresap ke telapak tangannya yang membeku.

"Maaf, kamu jadi harus dengar keributan ini, Bima," bisik Ratna serak. Ia meminum teh itu sedikit demi sedikit.

"Tidak apa-apa, Tante," sahut Bima pendek.

"Sertifikat itu... itu warisan murni dari almarhum Bapak, Bima," suara Ratna terdengar makin serak, tetapi ia memaksa dirinya untuk menjelaskan.

"Bukan harta bersama. Rumah ini dan tanah kos-kosan ini milik saya sepenuhnya."

Bima menarik satu kursi di seberang Ratna, lalu duduk dengan tenang. Matanya menatap Ratna lurus, menyimak setiap detail. "Kenapa sertifikat itu bisa ada di tangan Pak Hendra?"

Ratna menelan ludah yang terasa pahit. Kebodohan dan rasa percayanya di masa lalu kini berbalik menikamnya.

"Empat bulan lalu... Hendra membawakan bertumpuk dokumen. Dia bilang itu berkas pembaruan izin retribusi kos dan surat pengurusan RT/RW yang baru.

“Dia minta saya tanda tangan di lembar paling belakang. Waktu itu saya lagi sibuk ngurusin kosan, dan saya... saya cuma percaya aja sama suami sendiri."

"Tante nggak baca lembar pertama sama sekali?" tanya Bima lagi.

"Hendra buru-buru, dia bilang orang kelurahan sudah nunggu di luar," Ratna mengusap wajahnya yang terasa panas. "Jadi saya langsung tanda tangan."

Bima mendengarkan tanpa memotong. Pandangannya begitu tajam, seolah sedang menyusun teka-teki logis di dalam kepalanya.

"Waktu Tante tanda tangan, apakah Tante sempat membaca judul atau frasa di lembar depan? Apakah ada kata 'Surat Kuasa' atau 'Pemberian Hak Penjaminan'?"

Ratna menggeleng pasrah. "Saya cuma lihat lembar paling belakang yang ada materainya. Saya tidak baca isinya sama sekali."

"Bagaimana dengan fisik sertifikatnya sendiri? Selama ini disimpan di mana?"

"Di brankas lemari kamar atas," jawab Ratna pelan.

"Tapi kuncinya memang Hendra yang pegang satu lagi. Saya nggak pernah curiga dia bakal berani ambil sertifikat itu."

Ketenangan Bima saat mendengar jawaban itu terasa janggal bagi Ratna. Pengacara berusia tiga puluh tiga tahun itu tidak terlihat kaget.

Sorot matanya justru memancarkan ketenangan seseorang yang sudah mengantisipasi badai ini sejak lama.

"Kalau itu surat kuasa mutlak untuk penjaminan hutang," Bima mengusap dagunya pelan.

“Secara formal lembaga pembiayaan bisa memprosesnya. Dia bisa menjual atau mengeksekusi aset ini paling cepat minggu depan kalau hutangnya macet."

"Minggu depan?" mata Ratna membelalak.

"Bima, ini rumah peninggalan orang tua saya! Tempat tinggal anak-anak kosan juga. Bagaimana mungkin bisa disita begitu cepat?"

"Kalau klausulnya lengkap dan ada akta kuasa menjaminkan dari notaris, secara hukum mereka punya dasar awal," terang Bima datar namun lugas.

"Pak Hendra paham celah itu. Makanya dia berani menjaminkannya atas nama pribadi atau badan usaha yang dia pakai."

Ratna menyandarkan punggungnya ke kursi. Kepalanya terasa makin dihantam godam.

"Lalu saya harus bagaimana? Uang tabungan kosan juga habis dibawanya."

"Soal mutasi rekening ke nama Vivi Amelia tadi," sela Bima pelan, "Tante simpan bukti tangkapan layarnya?"

"Masih di HP saya," Ratna mengangguk cepat. "Tapi apa itu bisa dipakai?"

"Bisa. Itu bukti indikasi penyalahgunaan dana dan tindakan melawan hukum dalam rumah tangga," sahut Bima.

"Tapi masalah utamanya tetap sertifikat. Kita harus lihat bentuk fisik dokumen yang Tante tanda tangani itu."

Belum sempat Ratna mencerna kalimat menakutkan itu, ponselnya di atas meja bergetar nyaring.

Layar ponsel yang retak tipis di sudutnya menyala, menampilkan notifikasi pesan gambar masuk dari nomor Hendra.

Ratna membuka pesan tersebut dengan tangan gemetar.

Tampak foto lembar sertifikat tanah atas nama almarhum ayahnya, yang kini sudah ditempeli lembar jaminan dan stempel resmi dari sebuah lembaga pembiayaan swasta.

Di bawah foto itu, sebuah pesan singkat tertulis: Besok jam sembilan pagi ada orang survei dan eksekusi. Kemasi barang-barangmu dan usir anak-anak kos kesayanganmu itu dari rumahku.

Napas Ratna terhenti. HP di tangannya hampir terlepas kalau saja ia tidak buru-buru mencengkeramnya erat-erat.

"Bima..." suara Ratna bergetar hebat, menyodorkan ponsel itu ke hadapan Bima dengan telapak tangan yang membeku. "Lihat ini... Hendra beneran mau ngusir kita besok pagi."

Bima menerima ponsel itu tanpa suara. Matanya membaca pesan singkat dari Hendra, lalu mengamati foto sertifikat bertempel stempel pembiayaan tersebut dengan cermat.

Tidak ada kepanikan di wajah Bima. Ia hanya mengembalikan ponsel itu ke meja, lalu menatap Ratna lurus-lurus.

"Jam sembilan pagi," gumam Bima sembari melirik jam dinding dapur yang menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh menit malam.

"Artinya kita punya waktu sembilan jam sebelum mereka datang ke gerbang depan."

"Apa yang harus saya katakan ke anak-anak kos besok?" Ratna menutup wajah dengan kedua tangannya, tangis yang ditahannya kini mendesak keluar dari sela jari-jarinya. "Saya malu, Bima. Saya gagal jaga rumah ini."

"Jangan ada yang dikemas, Tante," potong Bima dingin namun penuh penekanan.

Ratna menengadah, menatap pengacara muda di hadapannya dengan mata sembap.

"Maksud kamu?"

"Besok jam sembilan pagi, jangan kemasi satu pun barang Tante," ulang Bima dengan tenang.

"Biar saya yang hadapi orang-orang yang dibawa Pak Hendra besok."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesona Tante Ratna yang Memikat   Bab 6

    Bima hanya menyunggingkan senyum tipisnya, senyum tipis yang amat jarang muncul di wajah tenangnya.Sementara matanya tetap tertuju pada jalanan malam yang mulai meremang."Tante nggak perlu pusing memikirkan alasan saya," ujar Bima. "Fokus kita malam ini cuma satu. Bukti."Ratna menyandarkan punggungnya di kursi penumpang, jantungnya berdebar kencang oleh pertanyaan yang masih bergulung di kepala.Namun, penjelasan Bima berikutnya menahan niat Ratna untuk bertanya lebih jauh."Kalau semua tuduhan dan penyelewengan Hendra terbukti secara hukum," lanjut Bima sambil mengendalikan kemudi dengan satu tangan.“Mudah buat Tante untuk melapor balik atas dugaan penggelapan dan penipuan. Tante nggak perlu takut kehilangan kosan, dan Tante nggak wajib membayar sepeser pun utang tiga ratus juta yang dia pakai buat bersenang-senang sama cewek itu."Ratna mengembuskan napas panjang. "Tapi apa foto dari dalam mobil ini sudah cukup, Bima?"Bima melirik spion samping, lalu memperlambat laju mobilnya

  • Pesona Tante Ratna yang Memikat   Bab 5

    Sebelum Bima sempat menjawab, pintu ruang tamu terdorong lebih lebar.Jo dan Leo yang menyelinap masuk sejak tadi langsung menyerobot bicara tanpa dosa, memecah atmosfer berat di ruangan tersebut."Syarat dari saya simpel, Tante!" seru Leo dengan cengiran lebar, lalu memajukan badannya di sebelah Dimas."Mulai besok Tante harus masakin ayam bumbu balado seminggu tiga kali! Bosen saya makan mi instan terus tiap malam.""Dih, dasar perut karet!" pangkas Jo tidak mau kalah sambil menyenggol bahu Leo dan mengacungkan jarinya tinggi-tinggi."Kalau saya beda lagi, Tante. Diskon uang kosan sepuluh persen bulan depan kalau masalah ini beres! Lumayan buat tambahan beli kuota."Arka yang berdiri bersandarkan tembok dekat pintu hanya menggelengkan kepala, menyunggingkan senyum tipis melihat tingkah dua penghuni paling muda itu.Ratna tertegun. Ketegangan yang mencekat dadanya mendadak mengendur.Ia menatap dua anak muda itu dengan rasa tak percaya, lalu menghela napas panjang saat menyadari beta

  • Pesona Tante Ratna yang Memikat   Bab 4

    Siang merambat menjadi sore, tetapi ketegangan di ruang tamu kosan sama sekali belum reda.Meja kayu di tengah ruangan kini tertutup oleh lembaran berkas fotokopi, catatan mutasi rekening, dan lembar tagihan Rp 300 juta yang diletakkan Bima di bawah lampu meja yang menyala terang.Bima duduk tenang dengan kacamata baca hinggap di pangkal hidungnya, meneliti lembar demi lembar berkas yang berhasil ia kumpulkan dari sisa dokumen di kamar kerja Hendra.Di seberangnya, Ratna duduk dengan jemari yang saling bertaut rapat di pangkuan."Surat kuasa yang Tante tanda tangani memang memberikan hak penjaminan sertifikat," Bima membuka suara, memecah hening sambil menunjuk sebuah frasa di halaman kedua dokumen."Tetapi ada celah hukum yang sangat fatal di sini. Penanggalan surat kuasa ini dimajukan dua bulan sebelum akad pinjaman diproses. Ini bentuk cacat administrasi."Ratna mendongak, matanya memancarkan sedikit titik terang. "Artinya surat itu bisa dibatalkan?""Bisa," jawab Bima lugas."Sela

  • Pesona Tante Ratna yang Memikat   Bab 3

    Baru pukul delapan lewat empat puluh lima menit, tetapi dua mobil sudah terparkir berderet di depan pagar besi yang terbuka separuh.Hendra turun dari mobil depan dengan setelan kemeja rapi, melangkah penuh percaya diri.Di sampingnya, berjalan seorang pria berbadan tambun berpakaian necis yang memegang map tebal, Pak Darto, penagih pinjaman swasta, diikuti oleh dua pria bertubuh kekar dengan tato menjalar di lengan yang berdiri sigap di belakang mereka.Suara langkah kaki dan nada bicara yang keras mengundang perhatian para penghuni kos.Dari balkon lantai dua, Jo dan Leo mengintip dengan wajah cemas, sambil saling berbisik dengan raut tegang yang tak lagi diwarnai keusilan."Jo, itu Om Hendra bawa orang-orang gede banget," bisik Leo tegang, tangannya meremas cengkeraman pagar balkon. "Mau ada penggusuran apa gimana?""Diem dulu, Leo. Jangan kenceng-kenceng," balas Jo panik seraya menarik lengan kaos temannya itu.Sementara itu di dekat tangga bawah, Arka berdiri kaku dalam seragam k

  • Pesona Tante Ratna yang Memikat   Bab 2

    "Halah! Masuk sana kamu. Gak usah ikut campur urusan kami!" ucap Hendra dengan kasar.Namun, Bima justru memicingkan matanya kala melihat Ratna yang tampak hancur.Ia tidak mematuhi gertakan Hendra, melainkan tetap berdiri kukuh di posisinya, menatap Hendra dengan sorot mata dingin yang sukar diartikan.Hendra menyadari tatapan itu. Rasanya seperti ditelanjangi oleh pemuda yang umurnya jauh di bawahnya.Merasa terpojok dan tak punya argumen lagi, Hendra mendesis gusar.Tanpa mengucap sepatah kata pun lagi pada Ratna, pria itu menyambar kunci mobil di atas meja, berbalik kasar, dan membanting pintu depan hingga kaca-kaca jendela bergetar keras.Suara deru mesin mobilnya menggerung membelah malam, lalu menghilang ditelan kegelapan jalan raya.Begitu deru mobil memudar, pertahanan Ratna runtuh. Punggungnya merosot, bersandar lemah pada kursi kayu.Tangannya terangkat menutupi wajahnya yang mendadak panas.Dadanya naik turun menahan guncangan napas, berusaha mati-matian agar tangisnya tid

  • Pesona Tante Ratna yang Memikat   Bab 1

    "Tiga juta seratus dua puluh ribu?" bisik Ratna dengan suara yang tercekat di tenggorokan.Layar ponsel di atas meja makan kayu menyala redup, memancarkan deretan angka di aplikasi mobile banking.Ratna menyapu permukaan meja dengan telapak tangannya yang dingin, lalu menggeser ponsel itu lebih dekat ke wajahnya.Ia menghitung angka nol di layar sekali lagi. Lalu untuk kedua kalinya. Dan untuk ketiga kalinya.Seratus delapan puluh tujuh juta rupiah. Uang hasil memeras keringat mengurus delapan kamar kos warisan almarhum ayahnya, ditambah sisa uang peninggalan orang tua, kini menguap begitu saja.Dengan jemari gemetar, Ratna menggulir riwayat mutasi rekening. Deretan transaksi keluar tercetak rapi selama empat bulan terakhir.Sebagian besar berupa transfer berulang ke satu nama: Vivi Amelia. Sisanya adalah pembayaran di boutique hotel, restoran mewah pusat kota, hingga toko perhiasan.Ratna memijit pelipisnya yang mulai berdenyut parah. Pikirannya langsung tertuju pada jadwal besok pag

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status