Share

Bab 4

last update publish date: 2026-10-21 16:29:50

Siang merambat menjadi sore, tetapi ketegangan di ruang tamu kosan sama sekali belum reda.

Meja kayu di tengah ruangan kini tertutup oleh lembaran berkas fotokopi, catatan mutasi rekening, dan lembar tagihan Rp 300 juta yang diletakkan Bima di bawah lampu meja yang menyala terang.

Bima duduk tenang dengan kacamata baca hinggap di pangkal hidungnya, meneliti lembar demi lembar berkas yang berhasil ia kumpulkan dari sisa dokumen di kamar kerja Hendra.

Di seberangnya, Ratna duduk dengan jemari yang saling bertaut rapat di pangkuan.

"Surat kuasa yang Tante tanda tangani memang memberikan hak penjaminan sertifikat," Bima membuka suara, memecah hening sambil menunjuk sebuah frasa di halaman kedua dokumen.

"Tetapi ada celah hukum yang sangat fatal di sini. Penanggalan surat kuasa ini dimajukan dua bulan sebelum akad pinjaman diproses. Ini bentuk cacat administrasi."

Ratna mendongak, matanya memancarkan sedikit titik terang. "Artinya surat itu bisa dibatalkan?"

"Bisa," jawab Bima lugas.

"Selain itu, bukti transfer berulang dari rekening Tante ke rekening Vivi Amelia dalam jumlah besar bisa kita seret sebagai tindakan penyalahgunaan dana bersama dan penggelapan. Celah ini cukup untuk menahan proses eksekusi pinjaman tiga ratus juta itu."

Ratna menghela napas lega untuk pertama kalinya sejak semalam. "Terus... langkah kita selanjutnya gimana, Bima?"

Namun, Bima lalu menegakkan punggungnya, menatap Ratna dengan nada bicara yang kembali serius.

"Tapi syaratnya berat, Tante. Celah hukum ini butuh bukti fisik yang tak terbantahkan. Kita butuh catatan transaksi asli, foto, atau dokumen pendukung langsung dari tangan Pak Hendra atau Vivi Amelia. Kita tidak bisa mendapatkannya hanya dengan menunggu di dalam rumah ini."

"Maksud kamu... kita harus nyari mereka?" tanya Ratna ragu.

"Bukan cuma mencari," Bima membetulkan kacamata bacanya. "Kita harus mengambil bukti itu secara langsung dari lapangan. Sebelum Pak Darto dan timnya bergerak lebih jauh."

Pintu depan terdorong pelan. Dimas masuk membawa dua botol air mineral, wajah bertatonya yang biasanya santai kini terlihat serius. Ia meletakkan botol-botol itu di meja, lalu mengusap tengkuknya.

"Tante," potong Dimas dengan suara pelan.

"Saya baru balik dari luar. Mobil Pak Hendra terparkir di pelataran Boutique Hotel dekat persimpangan jalan utama. Cuma lima belas menit dari sini. Dia kelihatan masuk ke dalam bareng cewek itu."

Dada Ratna serasa berdenyut nyeri mendengarnya.

Nama Vivi Amelia yang sejak semalam cuma berupa deretan angka di layar HP, kini mewujud menjadi kenyataan pait di depan mata.

"Pria itu benar-benar nggak punya muka," gumam Ratna dengan nada getir. "Kosan mau disita, tapi dia malah bersenang-senang di hotel."

"Sesuai dugaan saya," sahut Bima tanpa riak emosi. "Pak Hendra merasa di atas angin karena mengira Tante cuma bisa pasrah. Dia tidak memperkirakan kita bakal bergerak secepat ini."

"Terus kita samperin sekarang, Bim?" tanya Dimas sambil mengepalkan tangannya yang besar.

"Biar saya seret dia keluar dari kamar hotel itu."

"Jangan pakai otot, Dimas," potong Bima cepat dan dingin. "Kita butuh bukti yang sah secara hukum, bukan keributan yang bikin kita balik dilaporkan atas kasus penganiayaan."

Bima berpaling menatap Ratna kembali. "Keputusan ada di tangan Tante. Kalau kita mau bergerak malam ini, Tante harus ikut. Foto dan bukti kehadiran Tante di lokasi bakal mengunci posisi hukum Pak Hendra."

Ratna menggigit bibir bawahnya. Perang batin bergejolak hebat di dalam dadanya. Gengsinya menjerit, melarangnya melibatkan para penghuni kos dalam urusan rumah tangganya yang kelam dan memalukan ini.

Bagaimanapun juga, ia adalah seorang juragan kos yang selama ini dihormati anak-anak kosnya.

Tapi melihat wajah Bima dan Dimas yang begitu bersungguh-sungguh, Ratna tahu ia tak punya kemewahan untuk bersikap gengsi lagi.

Jika ia bergeming, dalam waktu tujuh hari tempat tinggalnya dan tempat anak-anak ini bernaung akan disita dan diratakan dengan tanah.

"Bantu saya," bisik Ratna akhirnya, mengalahkan rasa gengsinya sendiri. Suaranya bergetar tetapi penuh keputusan. "Saya mau ikut. Saya mau selesaikan semuanya."

Dimas tersenyum tipis, lalu mengangguk penuh dukungan. "Nah, gitu dong, Tante. Kita bareng-bareng hadapi semuanya."

Bima menatap Ratna lama, membiarkan keheningan menggantung di antara mereka.

Ratna yang teringat ucapan serapah Hendra di pagar tadi pagi, tentang tuduhan bahwa anak-anak kos ini membelanya karena ada imbalan tertutup, akhirnya membeberkan keraguan yang tersisa di hatinya.

"Bima... Dimas..." Ratna menatap mereka bergantian dengan mata sayu.

"Kenapa kalian mau repot-repot melakukan ini semua buat saya? Saya tidak punya uang lagi untuk membayar jasa pengacara. Tabungan saya tinggal tiga juta."

Dimas terkekeh pelan, menyandarkan badannya ke kosen pintu sambil melipat tangan.

"Tante ini kayak sama siapa aja. Selama ini siapa yang selalu nyimpanin lauk kalau kita balik kemalaman? Siapa yang nggak pernah nagih denda kalau anak-anak telat bayar kosan seminggu dua minggu?"

Namun Bima tidak tersenyum.

Pria itu melepas kacamata bacanya, meletakkannya perlahan di atas tumpukan berkas, lalu menatap Ratna secara lurus dan tajam.

"Tentu saja tidak gratis, Tante," kata Bima pelan, tanpa ada jarak di matanya. "Tapi, ada imbalan yang harus Tante berikan kepada kami berlima."

Ratna menelan ludah yang terasa menyekat di tenggorokan, dadanya berdebar kencang menantikan syarat yang akan diucapkan.

Pikiran buruk dan prasangka yang sempat ditiupkan Hendra mendadak melintas di kepalanya.

"Apa itu?" tanya Ratna pelan, suaranya hampir tak terdengar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesona Tante Ratna yang Memikat   Bab 6

    Bima hanya menyunggingkan senyum tipisnya, senyum tipis yang amat jarang muncul di wajah tenangnya.Sementara matanya tetap tertuju pada jalanan malam yang mulai meremang."Tante nggak perlu pusing memikirkan alasan saya," ujar Bima. "Fokus kita malam ini cuma satu. Bukti."Ratna menyandarkan punggungnya di kursi penumpang, jantungnya berdebar kencang oleh pertanyaan yang masih bergulung di kepala.Namun, penjelasan Bima berikutnya menahan niat Ratna untuk bertanya lebih jauh."Kalau semua tuduhan dan penyelewengan Hendra terbukti secara hukum," lanjut Bima sambil mengendalikan kemudi dengan satu tangan.“Mudah buat Tante untuk melapor balik atas dugaan penggelapan dan penipuan. Tante nggak perlu takut kehilangan kosan, dan Tante nggak wajib membayar sepeser pun utang tiga ratus juta yang dia pakai buat bersenang-senang sama cewek itu."Ratna mengembuskan napas panjang. "Tapi apa foto dari dalam mobil ini sudah cukup, Bima?"Bima melirik spion samping, lalu memperlambat laju mobilnya

  • Pesona Tante Ratna yang Memikat   Bab 5

    Sebelum Bima sempat menjawab, pintu ruang tamu terdorong lebih lebar.Jo dan Leo yang menyelinap masuk sejak tadi langsung menyerobot bicara tanpa dosa, memecah atmosfer berat di ruangan tersebut."Syarat dari saya simpel, Tante!" seru Leo dengan cengiran lebar, lalu memajukan badannya di sebelah Dimas."Mulai besok Tante harus masakin ayam bumbu balado seminggu tiga kali! Bosen saya makan mi instan terus tiap malam.""Dih, dasar perut karet!" pangkas Jo tidak mau kalah sambil menyenggol bahu Leo dan mengacungkan jarinya tinggi-tinggi."Kalau saya beda lagi, Tante. Diskon uang kosan sepuluh persen bulan depan kalau masalah ini beres! Lumayan buat tambahan beli kuota."Arka yang berdiri bersandarkan tembok dekat pintu hanya menggelengkan kepala, menyunggingkan senyum tipis melihat tingkah dua penghuni paling muda itu.Ratna tertegun. Ketegangan yang mencekat dadanya mendadak mengendur.Ia menatap dua anak muda itu dengan rasa tak percaya, lalu menghela napas panjang saat menyadari beta

  • Pesona Tante Ratna yang Memikat   Bab 4

    Siang merambat menjadi sore, tetapi ketegangan di ruang tamu kosan sama sekali belum reda.Meja kayu di tengah ruangan kini tertutup oleh lembaran berkas fotokopi, catatan mutasi rekening, dan lembar tagihan Rp 300 juta yang diletakkan Bima di bawah lampu meja yang menyala terang.Bima duduk tenang dengan kacamata baca hinggap di pangkal hidungnya, meneliti lembar demi lembar berkas yang berhasil ia kumpulkan dari sisa dokumen di kamar kerja Hendra.Di seberangnya, Ratna duduk dengan jemari yang saling bertaut rapat di pangkuan."Surat kuasa yang Tante tanda tangani memang memberikan hak penjaminan sertifikat," Bima membuka suara, memecah hening sambil menunjuk sebuah frasa di halaman kedua dokumen."Tetapi ada celah hukum yang sangat fatal di sini. Penanggalan surat kuasa ini dimajukan dua bulan sebelum akad pinjaman diproses. Ini bentuk cacat administrasi."Ratna mendongak, matanya memancarkan sedikit titik terang. "Artinya surat itu bisa dibatalkan?""Bisa," jawab Bima lugas."Sela

  • Pesona Tante Ratna yang Memikat   Bab 3

    Baru pukul delapan lewat empat puluh lima menit, tetapi dua mobil sudah terparkir berderet di depan pagar besi yang terbuka separuh.Hendra turun dari mobil depan dengan setelan kemeja rapi, melangkah penuh percaya diri.Di sampingnya, berjalan seorang pria berbadan tambun berpakaian necis yang memegang map tebal, Pak Darto, penagih pinjaman swasta, diikuti oleh dua pria bertubuh kekar dengan tato menjalar di lengan yang berdiri sigap di belakang mereka.Suara langkah kaki dan nada bicara yang keras mengundang perhatian para penghuni kos.Dari balkon lantai dua, Jo dan Leo mengintip dengan wajah cemas, sambil saling berbisik dengan raut tegang yang tak lagi diwarnai keusilan."Jo, itu Om Hendra bawa orang-orang gede banget," bisik Leo tegang, tangannya meremas cengkeraman pagar balkon. "Mau ada penggusuran apa gimana?""Diem dulu, Leo. Jangan kenceng-kenceng," balas Jo panik seraya menarik lengan kaos temannya itu.Sementara itu di dekat tangga bawah, Arka berdiri kaku dalam seragam k

  • Pesona Tante Ratna yang Memikat   Bab 2

    "Halah! Masuk sana kamu. Gak usah ikut campur urusan kami!" ucap Hendra dengan kasar.Namun, Bima justru memicingkan matanya kala melihat Ratna yang tampak hancur.Ia tidak mematuhi gertakan Hendra, melainkan tetap berdiri kukuh di posisinya, menatap Hendra dengan sorot mata dingin yang sukar diartikan.Hendra menyadari tatapan itu. Rasanya seperti ditelanjangi oleh pemuda yang umurnya jauh di bawahnya.Merasa terpojok dan tak punya argumen lagi, Hendra mendesis gusar.Tanpa mengucap sepatah kata pun lagi pada Ratna, pria itu menyambar kunci mobil di atas meja, berbalik kasar, dan membanting pintu depan hingga kaca-kaca jendela bergetar keras.Suara deru mesin mobilnya menggerung membelah malam, lalu menghilang ditelan kegelapan jalan raya.Begitu deru mobil memudar, pertahanan Ratna runtuh. Punggungnya merosot, bersandar lemah pada kursi kayu.Tangannya terangkat menutupi wajahnya yang mendadak panas.Dadanya naik turun menahan guncangan napas, berusaha mati-matian agar tangisnya tid

  • Pesona Tante Ratna yang Memikat   Bab 1

    "Tiga juta seratus dua puluh ribu?" bisik Ratna dengan suara yang tercekat di tenggorokan.Layar ponsel di atas meja makan kayu menyala redup, memancarkan deretan angka di aplikasi mobile banking.Ratna menyapu permukaan meja dengan telapak tangannya yang dingin, lalu menggeser ponsel itu lebih dekat ke wajahnya.Ia menghitung angka nol di layar sekali lagi. Lalu untuk kedua kalinya. Dan untuk ketiga kalinya.Seratus delapan puluh tujuh juta rupiah. Uang hasil memeras keringat mengurus delapan kamar kos warisan almarhum ayahnya, ditambah sisa uang peninggalan orang tua, kini menguap begitu saja.Dengan jemari gemetar, Ratna menggulir riwayat mutasi rekening. Deretan transaksi keluar tercetak rapi selama empat bulan terakhir.Sebagian besar berupa transfer berulang ke satu nama: Vivi Amelia. Sisanya adalah pembayaran di boutique hotel, restoran mewah pusat kota, hingga toko perhiasan.Ratna memijit pelipisnya yang mulai berdenyut parah. Pikirannya langsung tertuju pada jadwal besok pag

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status