Share

Bab 3

last update publish date: 2026-10-21 16:21:57

Baru pukul delapan lewat empat puluh lima menit, tetapi dua mobil sudah terparkir berderet di depan pagar besi yang terbuka separuh.

Hendra turun dari mobil depan dengan setelan kemeja rapi, melangkah penuh percaya diri.

Di sampingnya, berjalan seorang pria berbadan tambun berpakaian necis yang memegang map tebal, Pak Darto, penagih pinjaman swasta, diikuti oleh dua pria bertubuh kekar dengan tato menjalar di lengan yang berdiri sigap di belakang mereka.

Suara langkah kaki dan nada bicara yang keras mengundang perhatian para penghuni kos.

Dari balkon lantai dua, Jo dan Leo mengintip dengan wajah cemas, sambil saling berbisik dengan raut tegang yang tak lagi diwarnai keusilan.

"Jo, itu Om Hendra bawa orang-orang gede banget," bisik Leo tegang, tangannya meremas cengkeraman pagar balkon. "Mau ada penggusuran apa gimana?"

"Diem dulu, Leo. Jangan kenceng-kenceng," balas Jo panik seraya menarik lengan kaos temannya itu.

Sementara itu di dekat tangga bawah, Arka berdiri kaku dalam seragam kerjanya.

Pria itu menatap situasi di luar dengan mata menyipit tajam, tangannya terkepal rapat di samping pinggang.

Namun, sebelum rombongan Hendra sempat melewati gerbang, sebuah sosok tinggi besar sudah memotong jalan mereka.

Dimas—mantan atlet MMA dengan badan paling besar di kosan itu, berdiri tepat di tengah-tengah pintu pagar.

Pria itu menyilangkan kedua tangannya yang kekar di dada, mengunyah permen karet, dan menatap dua pria bertubuh besar di depannya tanpa bergeser seinci pun.

"Minggir kamu! Jangan ikut campur urusan rumah tangga orang!" bentak Hendra, dengan nada suara yang sengaja dikencangkan agar terdengar oleh tetangga kanan-kiri yang mulai mengintip dari balik tirai.

Dimas tidak bergeming. Ia hanya meludah pelan ke samping, lalu terkekeh dingin. "Masuk rumah orang tanpa permisi aja udah salah, Om. Apalagi bawa kuli rombongan begini pagi-pagi."

"Kamu jangan sok jagoan ya!" salah satu pria bertato di belakang Pak Darto maju melangkah, sambil menudingkan telunjuk tepat di dada Dimas. "Ini urusan utang piutang sertifikat!"

"Coba sentuh pagar ini sekali lagi," balas Dimas datar, matanya menatap lurus pria bertato itu tanpa ada rasa takut sedikit pun. "Biarkan saya latihan sparring sebentar pagi ini."

Pria bertato itu tertahan, kemudian melirik Pak Darto yang memberi sinyal menggeleng.

Hendra yang kehilangan muka langsung menatap Ratna yang berdiri mematung di teras depan.

Dengan raut wajah yang pucat pasi, sembari menggenggam pinggiran bajunya erat-erat.

"Ratna!" teriak Hendra, melintasi bahu Dimas dengan pandangan penuh rasa benci.

"Kalau kamu nekat mau cerai dan nggak mau kerja sama bayar hutang ini, aku pastikan besok kos-kosan ini ditutup! Aku bakal laporkan ke dinas kalau tempat ini nggak berizin.

“Dan ingat, aku bakal sebarin ke seluruh warga desa kalau kamu selama ini 'main' sama anak-anak kosanmu sendiri!"

Kata-kata itu menghantam martabat Ratna tepat di mukanya. Hinaan itu begitu kotor dan kejam.

Ratna membeku di tempat, tenggorokannya terkunci oleh rasa malu yang teramat sangat.

Gengsi yang ia jaga seumur hidupnya kini dihancurkan di depan publik oleh suaminya sendiri.

"Hendra! Apa maksud kamu" bisik Ratna serak. “Tega banget kamu fitnah aku kayak gitu! Ada main? Apa kamu gila, hah?”

“Halah! Gak usah berlaga sok paling tersakiti kamu, Ratna!”

Namun, Ratna hanya bisa mengusap dadanya mendengar ucapan suaminya tersebut. Bisa-bisanya pria yang selama ini dia hormati sengaja menuding fitnah paling kejam padanya.

Di tengah keheningan yang mencekam itu, Bima keluar dari pintu depan.

Ia mengenakan kemeja kerja yang rapi, membawa tas dokumen di tangan kirinya.

Langkah kakinya begitu tenang saat ia melewati Ratna dan berdiri tepat di garis paling depan, menyekat pandangan Hendra dari wanita itu.

Bima menyesuaikan posisi kacamata hitamnya, lalu menatap Hendra dan Pak Darto dengan sorot mata yang tajam dan tak tergerak.

"Saya kuasa hukum resmi dari Ibu Ratna," kata Bima.

"Segala bentuk komunikasi, ancaman, intimidasi, maupun perbuatan melawan hukum, silakan bicara langsung lewat saya."

Ratna tersentak di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang.

Ia belum pernah menunjuk Bima sebagai pengacara, belum ada kesepakatan, dan belum ada surat kuasa hukum yang ditandatangani.

Bima baru saja berbohong secara terbuka di depan semua orang demi melindunginya.

Hendra tertegun sejenak, menatap Bima dari atas ke bawah dengan raut wajah tidak percaya.

"Kuasa hukum? Kamu cuma anak kosan yang numpang tinggal di sini, Bima! Nggak usah sok gaya bawa-bawa hukum!"

"Pencemaran nama baik Pasal 310 KUHP, ancaman menyebarkan fitnah, serta indikasi tindak pidana penipuan dan penggelapan sertifikat," sela Bima dingin tanpa menaikkan nada suaranya.

"Semua ucapan Bapak sepuluh detik lalu sudah direkam oleh rekan-rekan saya di atas. Mau kita selesaikan di Polres sekarang, Pak Hendra?"

Arka yang berdiri di tangga bawah mendadak mengangkat ponselnya tinggi-tinggi dengan cengiran tipis, memperlihatkan layar perekam suara yang sedang berjalan.

Hendra menyipitkan mata, mukanya merah padam ditahan amarah.

Namun, menyadari situasi tak lagi menguntungkannya dan posisi hukum Bima yang tampak sangat siap, Hendra menyeringai licik ke arah Ratna.

"Bagus," cibir Hendra sambil melangkah mundur menuju mobilnya.

"Kamu kira mereka bela kamu gratisan, Ratna? Tanya sama pengacara ingusanmu itu, apa yang sebenarnya mereka mau dari kamu!"

Ratna mengerutkan keningnya mendengar ucapan Hendra barusan, yang benar-benar tidak ia pahami.

Sebelum melangkah pergi, Pak Darto maju satu langkah dan menyelipkan sebuah amplop cokelat tebal ke sela-sela pagar, tepat di samping Dimas.

"Tagihan resmi tiga ratus juta rupiah. Waktu Anda cuma tujuh hari sebelum aset ini disita lelang."

Mobil Hendra dan Pak Darto melaju pergi menumpahkan debu di depan pagar. Keheningan mendadak melingkupi area kos.

Ratna meremas tangannya yang tremor hebat. Wajahnya yang memucat perlahan menatap punggung Bima yang masih berdiri tegap di depannya.

"Bima?” panggil Ratna pelan, suaranya nyaris seperti bisikan. "Tadi itu... kamu bilang kuasa hukum saya?”

Bima berbalik secara perlahan sembari melepas kacamata hitamnya, dan menyelipkannya di kerah kemeja.

Matanya menatap Ratna lurus-lurus dengan ekspresi tenang seperti biasanya, seolah konfrontasi sengit tadi tak memengaruhi ketenangannya sedikit pun.

"Masuk ke dalam dulu, Tante," potong Bima pelan. "Pak Karso tukang atap baru saja saya kabari untuk tunda kedatangan sampai sore. Kita harus bahas amplop ini di ruang tamu."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesona Tante Ratna yang Memikat   Bab 6

    Bima hanya menyunggingkan senyum tipisnya, senyum tipis yang amat jarang muncul di wajah tenangnya.Sementara matanya tetap tertuju pada jalanan malam yang mulai meremang."Tante nggak perlu pusing memikirkan alasan saya," ujar Bima. "Fokus kita malam ini cuma satu. Bukti."Ratna menyandarkan punggungnya di kursi penumpang, jantungnya berdebar kencang oleh pertanyaan yang masih bergulung di kepala.Namun, penjelasan Bima berikutnya menahan niat Ratna untuk bertanya lebih jauh."Kalau semua tuduhan dan penyelewengan Hendra terbukti secara hukum," lanjut Bima sambil mengendalikan kemudi dengan satu tangan.“Mudah buat Tante untuk melapor balik atas dugaan penggelapan dan penipuan. Tante nggak perlu takut kehilangan kosan, dan Tante nggak wajib membayar sepeser pun utang tiga ratus juta yang dia pakai buat bersenang-senang sama cewek itu."Ratna mengembuskan napas panjang. "Tapi apa foto dari dalam mobil ini sudah cukup, Bima?"Bima melirik spion samping, lalu memperlambat laju mobilnya

  • Pesona Tante Ratna yang Memikat   Bab 5

    Sebelum Bima sempat menjawab, pintu ruang tamu terdorong lebih lebar.Jo dan Leo yang menyelinap masuk sejak tadi langsung menyerobot bicara tanpa dosa, memecah atmosfer berat di ruangan tersebut."Syarat dari saya simpel, Tante!" seru Leo dengan cengiran lebar, lalu memajukan badannya di sebelah Dimas."Mulai besok Tante harus masakin ayam bumbu balado seminggu tiga kali! Bosen saya makan mi instan terus tiap malam.""Dih, dasar perut karet!" pangkas Jo tidak mau kalah sambil menyenggol bahu Leo dan mengacungkan jarinya tinggi-tinggi."Kalau saya beda lagi, Tante. Diskon uang kosan sepuluh persen bulan depan kalau masalah ini beres! Lumayan buat tambahan beli kuota."Arka yang berdiri bersandarkan tembok dekat pintu hanya menggelengkan kepala, menyunggingkan senyum tipis melihat tingkah dua penghuni paling muda itu.Ratna tertegun. Ketegangan yang mencekat dadanya mendadak mengendur.Ia menatap dua anak muda itu dengan rasa tak percaya, lalu menghela napas panjang saat menyadari beta

  • Pesona Tante Ratna yang Memikat   Bab 4

    Siang merambat menjadi sore, tetapi ketegangan di ruang tamu kosan sama sekali belum reda.Meja kayu di tengah ruangan kini tertutup oleh lembaran berkas fotokopi, catatan mutasi rekening, dan lembar tagihan Rp 300 juta yang diletakkan Bima di bawah lampu meja yang menyala terang.Bima duduk tenang dengan kacamata baca hinggap di pangkal hidungnya, meneliti lembar demi lembar berkas yang berhasil ia kumpulkan dari sisa dokumen di kamar kerja Hendra.Di seberangnya, Ratna duduk dengan jemari yang saling bertaut rapat di pangkuan."Surat kuasa yang Tante tanda tangani memang memberikan hak penjaminan sertifikat," Bima membuka suara, memecah hening sambil menunjuk sebuah frasa di halaman kedua dokumen."Tetapi ada celah hukum yang sangat fatal di sini. Penanggalan surat kuasa ini dimajukan dua bulan sebelum akad pinjaman diproses. Ini bentuk cacat administrasi."Ratna mendongak, matanya memancarkan sedikit titik terang. "Artinya surat itu bisa dibatalkan?""Bisa," jawab Bima lugas."Sela

  • Pesona Tante Ratna yang Memikat   Bab 3

    Baru pukul delapan lewat empat puluh lima menit, tetapi dua mobil sudah terparkir berderet di depan pagar besi yang terbuka separuh.Hendra turun dari mobil depan dengan setelan kemeja rapi, melangkah penuh percaya diri.Di sampingnya, berjalan seorang pria berbadan tambun berpakaian necis yang memegang map tebal, Pak Darto, penagih pinjaman swasta, diikuti oleh dua pria bertubuh kekar dengan tato menjalar di lengan yang berdiri sigap di belakang mereka.Suara langkah kaki dan nada bicara yang keras mengundang perhatian para penghuni kos.Dari balkon lantai dua, Jo dan Leo mengintip dengan wajah cemas, sambil saling berbisik dengan raut tegang yang tak lagi diwarnai keusilan."Jo, itu Om Hendra bawa orang-orang gede banget," bisik Leo tegang, tangannya meremas cengkeraman pagar balkon. "Mau ada penggusuran apa gimana?""Diem dulu, Leo. Jangan kenceng-kenceng," balas Jo panik seraya menarik lengan kaos temannya itu.Sementara itu di dekat tangga bawah, Arka berdiri kaku dalam seragam k

  • Pesona Tante Ratna yang Memikat   Bab 2

    "Halah! Masuk sana kamu. Gak usah ikut campur urusan kami!" ucap Hendra dengan kasar.Namun, Bima justru memicingkan matanya kala melihat Ratna yang tampak hancur.Ia tidak mematuhi gertakan Hendra, melainkan tetap berdiri kukuh di posisinya, menatap Hendra dengan sorot mata dingin yang sukar diartikan.Hendra menyadari tatapan itu. Rasanya seperti ditelanjangi oleh pemuda yang umurnya jauh di bawahnya.Merasa terpojok dan tak punya argumen lagi, Hendra mendesis gusar.Tanpa mengucap sepatah kata pun lagi pada Ratna, pria itu menyambar kunci mobil di atas meja, berbalik kasar, dan membanting pintu depan hingga kaca-kaca jendela bergetar keras.Suara deru mesin mobilnya menggerung membelah malam, lalu menghilang ditelan kegelapan jalan raya.Begitu deru mobil memudar, pertahanan Ratna runtuh. Punggungnya merosot, bersandar lemah pada kursi kayu.Tangannya terangkat menutupi wajahnya yang mendadak panas.Dadanya naik turun menahan guncangan napas, berusaha mati-matian agar tangisnya tid

  • Pesona Tante Ratna yang Memikat   Bab 1

    "Tiga juta seratus dua puluh ribu?" bisik Ratna dengan suara yang tercekat di tenggorokan.Layar ponsel di atas meja makan kayu menyala redup, memancarkan deretan angka di aplikasi mobile banking.Ratna menyapu permukaan meja dengan telapak tangannya yang dingin, lalu menggeser ponsel itu lebih dekat ke wajahnya.Ia menghitung angka nol di layar sekali lagi. Lalu untuk kedua kalinya. Dan untuk ketiga kalinya.Seratus delapan puluh tujuh juta rupiah. Uang hasil memeras keringat mengurus delapan kamar kos warisan almarhum ayahnya, ditambah sisa uang peninggalan orang tua, kini menguap begitu saja.Dengan jemari gemetar, Ratna menggulir riwayat mutasi rekening. Deretan transaksi keluar tercetak rapi selama empat bulan terakhir.Sebagian besar berupa transfer berulang ke satu nama: Vivi Amelia. Sisanya adalah pembayaran di boutique hotel, restoran mewah pusat kota, hingga toko perhiasan.Ratna memijit pelipisnya yang mulai berdenyut parah. Pikirannya langsung tertuju pada jadwal besok pag

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status