LOGIN"Ini... ini tempat apa, Mas? Kok bukan kampus?" tanya Jeeva dengan mata membelalak kaget, menatap bangunan estetik berkonsep minimalis modern di hadapan mereka.“Ayo keluar.” Ajka Langit setelah mematikan mesin mobil.“Mas…kita mau ke kampus bukan ke tempat lain ngapain berhenti segala di sini?” Tanya Jeeva kebingungan.Gadis sembilan belas tahun itu segera menyeka sisa air matanya dengan ujung lengan baju, lalu menoleh tajam ke arah Langit yang baru saja mematikan mesin mobil. Alih-alih menjawab, pria dua puluh sembilan tahun itu justru membuka sabuk pengamannya dengan tenang."Saya bilang kita keluar, Jeeva." titah Langit singkat dengan suara bariton rendahnya."Enggak mau! Aku ada kelas pagi, Mas Langit! Kalau dosen galak tahu aku bolos, bisa-bisa nilai tugasku langsung dilenyapin dari muka bumi!" protes Jeeva panik, memeluk erat tas ranselnya di dada seolah tengah melindungi diri dari penculikan terselubung.Langit mengabaikan protes tersebut. Pria itu melepas sabuk pengamannya, l
"Kamu kenapa? Lagi maki-maki saya dalam hati?" tanya Langit dengan sorot mata tajam pas di lampu merah, memecah keheningan kabin sedan mewah yang sedari tadi terasa mencekam. Pria dua puluh sembilan tahun itu menoleh sekilas, mengamati gerak-gerik gadis di sampingnya dengan insting tajam seorang pemimpin yang terbiasa membaca kebohongan sekecil apa pun.Seketika Jeeva langsung kayak tersedak batuk gitu, memegangi dadanya kaget bukan main karena tebakan pria di sampingnya yang mendadak tepat sasaran. Jantungnya berdegup sepuluh kali lebih cepat dari normal."Hah?! Siapa juga yang maki-maki? Ge-er banget..." gerutu Jeeva cepat dengan suara melengking tanda panik. Wajahnya seketika memerah padam, menjalar hingga ke leher. Ia langsung memalingkan wajah ke arah pintu samping, sama sekali tidak mau menatap wajah Langit yang memancarkan pesona mengintimidasi.Langit menyipitkan mata, mendengus pelan melihat tingkah salah tingkah itu. "Terus, kenapa kamu tadi gak nyelesaiin sarapan?" Langit m
"Calm down Jeeva. Jangan panik apalagi melo. Please. Kita mau ngampus, jangan sampai di kampus kena buli lagi sama si Vanya yang lagi pensiun bully sejenak," gumam Jeeva berjalan sambil setengah berlari menuju pintu utama dan langsung melintasi halaman rumah menuju gerbang begitu saja.Tangan Jeeva gemetar memegangi ponsel sambil mencari aplikasi ojek online, matanya sudah mengabur karena menahan bendungan bulir bening yang nyaris pecah. "Jeeva, please. Tahan, jangan nangis. Please. Dia emang milik orang, yang ganjen juga kamu kan Jeeva..." bisik Jeeva sambil terus berjalan, bahkan sapaan satpam rumah pun Jeeva abaikan begitu saja karena fokusnya hanya satu: kabur secepat mungkin dari area kediaman Banyuwangsa.Gadis sembilan belas tahun itu berdiri di tepi jalan luar gerbang utama. Angin pagi berembus cukup kencang membelai rambutnya, namun fokusnya sepenuhnya tertuju pada layar ponsel pintar yang menampilkan peta pergerakan pengemudi taksi online.Napasnya masih terengah-engah, dada
Pagi hari menyapa kediaman utama Banyuwangsa dengan bias cahaya matahari yang menembus celah jendela kaca besar di ruang makan. Suasana pagi itu terasa begitu hidup, jauh lebih padat dari biasanya.Jeeva yang baru saja menuruni anak tangga lantai dua langsung menghentikan langkahnya di ambang pintu ruang makan. Gadis sembilan belas tahun itu mengerjap pelan, merasakan dadanya mendadak sesak seketika melihat pemandangan di hadapannya. Meja makan panjang berbalut taplak putih bersih itu sudah terisi penuh oleh formasi lengkap. Bukan hanya Tuan Segara dan Marini, tetapi keluarga besar La De Coq juga hadir dengan lengkap, termasuk Valerie yang duduk tepat di sebelah kiri kursi utama Langit.Yang membuat perut Jeeva semakin mual adalah bagaimana Langit, sang CEO dingin yang biasanya kaku dan irit bicara, tampak begitu luwes menanggapi obrolan ringan dengan keluarga La De Coq. Pria dua puluh sembilan tahun itu mengenakan kemeja formal rapi, tersenyum tipis menanggapi candaan hangat di meja
Malam semakin larut, namun atmosfer hangat di taman belakang kediaman utama Banyuwangsa masih terasa pekat. Suara gemerisik dedaunan yang tertiup angin malam berpadu serasi dengan denting porselen cangkir teh yang saling beradu pelan.Di salah satu kursi gantung taman, Langit masih mempertahankan posisi duduknya dengan tenang. Pria dua puluh sembilan tahun itu melipat kedua tangan di depan dada, menatap lurus ke depan tanpa tersenyum, namun sorot matanya yang tajam tetap menyiratkan perhatian penuh pada jalannya obrolan. Di sisinya, Valerie tampak menikmati setiap detik kebersamaan tersebut, merasa bahwa benteng pertahanan es balok milik sang CEO kini perlahan mulai runtuh di hadapannya."Jadi, bagaimana kalau minggu depan kita adakan makan malam keluarga yang lebih privat di hotel milik keluarga La De Coq?" usul nyonya La De Coq dengan senyuman antusias, memecah keheningan ringan yang sempat tercipta. "Sekaligus meresmikan ikatan antara dua keluarga besar kita, tanpa perlu terganggu
"Siapa lagi..." gumam Jeeva dengan suara serak, buru-buru menyeka sisa air mata di pipinya menggunakan punggung tangan.Gadis sembilan belas tahun itu menarik napas dalam-dalam untuk menstabilkan suaranya yang bergetar akibat tangis, lalu bangkit dari kursi belajar dengan langkah gontai. Ia mengira Simbok kembali lagi karena ada yang tertinggal.Dengan perlahan Jeeva memutar gagang pintu, lalu menarik daun pintu itu selebar setengah badan. "Ada apa lagi, Mbok? Kalau Jeeva butuh sesuatu nanti Jeeva bakalan lapor simbok, Jeeva beneran..."Kalimatnya terhenti seketika di udara.Bukan Simbok yang berdiri di sana, melainkan Marini, Mama Langit, yang menatapnya dengan raut wajah begitu teduh dan penuh kehangatan. Wanita paruh baya itu tersenyum lembut, lalu melangkah masuk ke dalam kamar Jeeva tanpa ragu. Melihat sisa air mata dan wajah sembab gadis muda di hadapannya, Marini langsung merengkuh tubuh Jeeva ke dalam pelukan hangat seorang ibu."Jeeva, Sayang, kenapa menangis?" bisik Marini







