Share

Bab 2

Author: Clau Sheera
last update publish date: 2026-03-22 19:31:36

Hampir dua jam lamanya menaiki bus AC, kedua orang tua Sri turun di persimpangan di sebuah kabupaten, membuat Sri bingung bagaimana harus mengikuti keduanya.

Jika dia ikut turun saat itu juga dan terlihat oleh kedua orang tuanya, bapaknya pasti akan marah besar.

“Pak, turunin saya agak depan, ya,” pinta Sri pada sopir sambil mendekat saat bus kembali melaju.

“Agak depan di mana?” tanya sopir itu.

“Di sana aja,” tunjuk Sri pada sederet ruko yang bersebelahan dengan bank.

“Lho, kenapa nggak turun sekalian sama dua orang tadi?” tanya sopir heran dan hampir marah, karena saat itu jalanan cukup ramai. “Ini dekat, lho, jaraknya.”

“Maaf, Pak. Saya baru ke sini lagi, jadi lupa. Hampir aja nyasar,” jawab Sri asal, membuat sopir itu sedikit merasa kasihan.

“Neng emangnya mau ke mana?” tanya sopir itu sambil menghentikan bus karena mereka telah sampai di ruko yang ditunjuk Sri.

“Saya mau nyari bapak saya, Pak. Yang udah ninggalin saya sejak kecil. Kalau nggak salah, dulu rumahnya masuk gang sana,” tunjuk Sri asal ke sebuah gang kecil samping ruko.

“Ya, udah. Semoga bapaknya ketemu.” Pak sopir membukakan pintu penumpang dengan memijat sebuah tombol di dashboard busnya.

“Makasih banyak, Pak.” Sri tersenyum senang, memamerkan lesung di kedua pipinya.

Gadis itu segera turun dan menunggu bus kembali berjalan, lalu dengan cepat berlari ke arah persimpangan, mencari keberadaan orang tuanya.

Untungnya, gadis itu langsung mengenali ibunya dari kejauhan yang menaiki angkot hijau dengan bapaknya.

Gadis itu memperhatikan dari jauh sambil mengatur napasnya. Tampaknya angkot harus mengetem beberapa waktu, sehingga memberinya waktu untuk mencari ojek terdekat.

“Pak, tungguin angkot itu berangkat, ya. Saya lagi ngikutin bapak saya diam-diam,” tunjuk Sri pada sebuah angkot begitu dia mendapatkan ojek. “Kita berangkat kalau angkotnya berangkat. Tapi jaga jarak, ya, Pak, biar nggak ketahuan. Nanti saya diomelin bapak saya.”

“Siap, Neng. Kenapa bapaknya diikutin, Neng?” tanya tukang ojek itu penasaran.

Mereka berbincang sebentar, yang tentu saja Sri banyak mengarang alasan dan berbohong sehingga membuat tukang ojek itu sedikit iba karena Sri mengatakan bahwa bapaknya selingkuh dan membawa ibunya untuk dikenalkan dengan selingkuhan si bapak.

Hingga angkot mulai berangkat, dia juga berangkat diantar tukang ojek sampai tiba di sebuah simpang tiga yang sedikit sepi.

Sri turun begitu ibu dan bapaknya turun.

“Makasih, ya, Pak.” Sri memberikan ongkos dan segera berjalan menjaga jarak.

Saat ibu dan bapaknya menyebrang jalan, gadis itu juga menyebrang jalan.

Berjalan sebentar sekitar sepuluh menit, Sri melihat ibu dan bapaknya memasuki area pemakaman.

“Kok mereka ke sini?” gumam Sri perlahan sambil melihat sekelilingnya yang tenang dan di bagian sisinya dirimbuni pepohonan.

Angin berhembus perlahan, menyejukkan tubuh Sri yang kepanasan akibat terik matahari.

Dari kejauhan, seorang pria kurus dan tua tengah menyapu dedaunan yang gugur. Pria tua itu menoleh ke arah ibu dan bapak Sri.

Pak Surya yang melihat pria itu, segera melambaikan tangan.

“Saya mau berdoa dulu,” ujar pak Surya yang suaranya sedikit tinggi dan sampai pada Sri.

Sri yakin pria tua itu mengenal bapaknya. Gadis itu berhenti berjalan dan menatap dari kejauhan saat ayah dan ibunya berhenti di sebuah gundukan tanah.

Keduanya berjongkok menghadap sebuah makam. Ibunya segera mengeluarkan selendang dari dalam tas spunbond dan mengenakannya di kepala, lalu mengeluarkan bungkusan plastik dan sebotol air mineral yang bapaknya terima.

Di sisi makam, bapaknya duduk sambil meneguk air mineral dari dalam botol plastik. Kemudian keduanya terlihat melantunkan doa dengan khusyuk, dengan wajah yang memancarkan kesedihan.

Beberapa menit berdoa, ibu dan bapaknya menaburkan bunga yang diambil dari bungkusan plastik hitam itu, kemudian keduanya terlihat duduk santai sambil berbincang-bincang.

Sri hanya mengerutkan alisnya sambil memperhatikan dari jauh.

Siapakah gerangan yang sudah meninggal? Apakah itu orang tua ibunya atau bapaknya? Atau saudara dari ibu atau bapaknya? Sri sama sekali tak bisa menebak.

Dia menunggu dan terus memperhatikan dari jauh meski sebenarnya ingin mendekat. Inikah yang biasanya mereka lakukan setiap tahun di tanggal yang sama?

Sri menunggu dengan sabar di bawah pohon kamboja di samping semak teh-tehan yang berdiri sebatang sambil menikmati camilan dan permennya. Air mineralnya tinggal setengah. Saat pulang nanti, dia harus membeli sebotol air mineral baru.

Sambil duduk, gadis itu melihat bapak penyapu makam mendekat ke arah kedua orang tuanya. Mereka terlihat bersalaman, seolah saling menyapa dan berbincang-bincang, kemudian bapak tua itu pamit pergi dan kembali menyapu di tempat lain, namun masih dapat dilihat.

Bu Sulastri dan pak Surya masih duduk berbincang menikmati camilan dan kue yang mereka bawa. Sesekali mereka memunguti dedaunan kering yang jatuh ke atas makam itu.

Hingga hampir satu jam di sana, keduanya mulai berkemas dan berdiri, membuat Sri ikut berkemas.

Sri melihat jam di ponselnya yang menunjukkan pukul sepuluh lebih.

Jika dihitung waktu perjalanan, seharusnya setelah dari makam, ibu dan bapaknya langsung pulang naik bus lagi agar sampai rumah sebelum sore.

Sri melihat pak Surya dan bu Sulastri berpamitan dengan bapak tua yang tampak seperti penjaga makam, sementara dia segera bersembunyi di balik semak pohon teh-tehan yang rimbun dan membiarkan ibu bapaknya pergi lebih dulu.

Setelah kedua orang tuanya meninggalkan area pemakaman, Sri segera menghampiri makam yang mereka kunjungi.

Gadis itu dapat dengan mudah menemukan makam itu karena makam itu satu-satunya makam yang bertabur bunga warna-warni yang masih segar, sementara makam lainnya hanya ditumbuhi rumput hijau.

Namun tubuhnya seketika membeku. Gadis itu duduk ambruk di samping makam ketika dia melihat nama di batu nisannya.

Sri Rejeki bin Surya

Lahir: 5 Mei

Wafat : 22 April

Tubuh Sri gemetar. Nama lengkapnya tertulis di batu nisan. Tanggal lahirnya juga sama. Namun pemilik makam itu sudah meninggal sepuluh tahun lalu saat masih berusia delapan tahun.

Kenapa bisa? Mengapa pemilik makam itu memiliki nama yang sama dengannya?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesona Upik Abu   Bab 6

    “Sa … sakit ….” Sri meringis saat merasakan lengannya dikunci dari belakang.“Saya tanya kamu siapa?” ulang pria itu.Sri berusaha menoleh, namun wajah pria itu sulit dilihat karena pergerakannya terbatas.“Saya yang kerja di sini. Beres-beres rumah,” jawab Sri sambil meringis. “Kamu yang siapa?”Bukannya menjawab pertanyaan Sri, pria itu justru mengikat tangan gadis itu ke belakang tubuhnya menggunakan dasinya.“Hei, hei. Kamu ngapain?” tanya Sri panik. “Lepasin! Kamu penyusup, ya?”“Kamu yang penyusup,” ujar pria itu sambil menjatuhkan Sri di karpet, sementara dia sendiri duduk di sofa di samping tas sekolah sambil menatap Sri tajam.Sri meringis karena lengannya sakit akibat benturan. Gadis itu segera bangun dan duduk berlutut sambil menoleh ke arah pria itu dengan tangan terikat di belakang. Rambutnya yang dikepang satu terlihat sedikit berantakan.“Kamu—”Kalimat Sri terhenti saat melihat wajah pria itu. Wajahnya mirip yang ada di foto di belakangnya.“Kamu yang punya rumah?” tan

  • Pesona Upik Abu   Bab 5

    “Gimana, Sri? Berapa tagihan rumah sakit ibu?” tanya pak Surya saat Sri kembali ke ruang rawat.Sri berwajah masam. “Kurang uangnya. Kurang banyak. Aku cuma punya 176 ribu, Pak.”Sri duduk di samping ranjang pasien dengan wajah bingung.“Cari aja pinjaman ke bosmu itu,” ujar pak Surya pada Sri. “Dia orangnya baik, kan?"“Bos yang mana? Yang punya mini market itu?” tanya Sri sedikit kesal. “Bapak lupa kalau aku udah dipecat dari sana gara-gara bapak ngambil rokok gitu aja dari etalase? Masih bagus bosnya nggak laporin bapak ke polisi.”“Eh, kamu nyalahin bapak, ya?!” tanya pak Surya tak terima.“Sudah, sudah ….” Bu Sulastri menengahi dengan wajah bingung.“Ya, udah, Bu. Ibu pinjam aja ke anak majikan ibu itu,” kata pak Surya sambil menatap bu Sulastri. “Dia kaya, kan?”“Ibu nggak berani, Pak,” jawab bu Sulastri sambil menggeleng. “Anak majikan ibu orangnya lebih tegas lagi. Mungkin aja … dia nggak bakal ngasih pinjaman uang. Orangnya perhitungan dan nggak akan pinjamin ibu uang kalau d

  • Pesona Upik Abu   Bab 4

    Sepanjang perjalanan di bus, Sri memikirkan banyak hal. Sesekali gadis itu akan menatap pantulan dirinya di cermin, melihat wajahnya yang orang-orang bilang bahwa dia sama sekali tidak mirip ibunya maupun bapaknya hingga kebanyakan orang-orang itu sering meledeknya anak pungut.Semakin dia beranjak remaja, dia memang semakin meragukan bahwa dia anak ibunya. Tapi saat mengetahui kenyataan bahwa ada Sri Rejeki lain yang telah meninggal sepuluh tahun lalu, justru malah meruntuhkan hatinya.Apakah dia hanya anak pengganti? Anak yang diberikan identitas sesuai dengan nama anak bu Sulastri yang sudah meninggal? Siapakah dia sebenarnya? Di mana keluarganya? Mengapa bu Sulastri dan pak Surya menamainya Sri Rejeki juga?Semakin Sri berpikir, semakin banyak pertanyaan yang memenuhi benaknya dan membuatnya semakin lelah, juga semakin membuatnya kehilangan jati diri. Satu-satunya cara, dia harus mendapatkan jawaban dari mulut ibunya sendiri.***Hari sudah sore ketika Sri sampai di depan rumah ya

  • Pesona Upik Abu   Bab 3

    “Neng.”Tepukan ringan dan lembut di bahu Sri menyadarkan gadis itu. Sri menoleh pada bapak tua penyapu makam yang menatapnya.“Neng kenapa? Lagi apa di sini?” tanya bapak tua itu.“Saya ….” Sejenak Sri kebingungan. Dia tak tahu harus mengatakan apa saking terkejutnya.“Neng kenal sama anak yang udah meninggal ini?” tanya bapak tua itu sambil berjongkok di sisi Sri. “Tadi orang tuanya ke sini.”“Orang tua?” Sri semakin syok dan bingung.“Iya. Kasihan mereka. Anak satu-satunya meninggal sepuluh tahun lalu karena jatuh terpeleset dari tangga. Katanya sih, ada pendarahan di otaknya,” ujar bapak tua itu.“Apa … apa mereka selalu ke sini setiap tahun?” tanya Sri sambil mengendalikan gemetar di tubuhnya.“Iya. Setiap tahun. Hari ini tanggal 22, kan? Mereka selalu ke sini pas hari peringatan kematian putri mereka,” jawab bapak tua itu. “Apa Neng kenal sama orang tuanya?”“Kenal, Pak,” jawab Sri mengangguk. “Tapi saya nggak tahu kalau … kalau anak mereka udah meninggal. Apa bapak kenal sama o

  • Pesona Upik Abu   Bab 2

    Hampir dua jam lamanya menaiki bus AC, kedua orang tua Sri turun di persimpangan di sebuah kabupaten, membuat Sri bingung bagaimana harus mengikuti keduanya. Jika dia ikut turun saat itu juga dan terlihat oleh kedua orang tuanya, bapaknya pasti akan marah besar. “Pak, turunin saya agak depan, ya,” pinta Sri pada sopir sambil mendekat saat bus kembali melaju. “Agak depan di mana?” tanya sopir itu. “Di sana aja,” tunjuk Sri pada sederet ruko yang bersebelahan dengan bank. “Lho, kenapa nggak turun sekalian sama dua orang tadi?” tanya sopir heran dan hampir marah, karena saat itu jalanan cukup ramai. “Ini dekat, lho, jaraknya.” “Maaf, Pak. Saya baru ke sini lagi, jadi lupa. Hampir aja nyasar,” jawab Sri asal, membuat sopir itu sedikit merasa kasihan. “Neng emangnya mau ke mana?” tanya sopir itu sambil menghentikan bus karena mereka telah sampai di ruko yang ditunjuk Sri. “Saya mau nyari bapak saya, Pak. Yang udah ninggalin saya sejak kecil. Kalau nggak salah, dulu rumahnya

  • Pesona Upik Abu   Bab 1

    Hari mulai malam saat sebuah mobil melaju di jalanan yang sepi. Langit tampak lebih gelap dari biasanya. Seorang gadis kecil dengan dress pink selutut duduk di kursi mobil di belakang seorang sopir sambil menatap sebuah gambar di bukunya. Gambar seorang ayah memakai setelan jas, seorang ibu memakai dress putih dengan sebuket bunga di tangan, dan seorang gadis kecil memakai dress pink dengan latar belakang rumput hijau dan langit biru. Alunan musik Für Elise mengalun lembut dari kotak musiknya. Boneka balerina di atasnya berputar seolah tengah menari. Keheningan itu ternoda oleh benturan keras dari samping, yang membuat laju mobil itu goyah lalu kehilangan kendali dan hanya sekian detik .... "Hah!" Seorang gadis remaja usia delapan belas terbangun dari mimpi buruknya. Dahinya penuh keringat, tubuhnya gemetar, dan napasnya tak stabil. “Mimpi itu lagi ….” gumamnya perlahan sambil menyeka keringatnya dan menenangkan diri. Sudah hampir empat bulan, dia mendapatkan potongan in

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status