LOGINSepanjang perjalanan di bus, Sri memikirkan banyak hal. Sesekali gadis itu akan menatap pantulan dirinya di cermin, melihat wajahnya yang orang-orang bilang bahwa dia sama sekali tidak mirip ibunya maupun bapaknya hingga kebanyakan orang-orang itu sering meledeknya anak pungut.
Semakin dia beranjak remaja, dia memang semakin meragukan bahwa dia anak ibunya. Tapi saat mengetahui kenyataan bahwa ada Sri Rejeki lain yang telah meninggal sepuluh tahun lalu, justru malah meruntuhkan hatinya. Apakah dia hanya anak pengganti? Anak yang diberikan identitas sesuai dengan nama anak bu Sulastri yang sudah meninggal? Siapakah dia sebenarnya? Di mana keluarganya? Mengapa bu Sulastri dan pak Surya menamainya Sri Rejeki juga? Semakin Sri berpikir, semakin banyak pertanyaan yang memenuhi benaknya dan membuatnya semakin lelah, juga semakin membuatnya kehilangan jati diri. Satu-satunya cara, dia harus mendapatkan jawaban dari mulut ibunya sendiri. *** Hari sudah sore ketika Sri sampai di depan rumah yang tampak sepi. Gadis itu mendorong pintu, berharap pintu tak dikunci seperti biasa. Namun ternyata pintu rumah masih dalam keadaan terkunci. “Masa iya ibu sama bapak belum pulang?” gumamnya perlahan sambil mengintip ke dalam melalui kaca jendela riben. Di dalam rumah tampak sepi seolah ibu dan bapaknya belum pulang. “Sri … Sri … kamu udah pulang?” Seorang tetangga perempuan memanggil Sri dari balik pagar bata sebelah rumah, membuat Sri menoleh. “Udah, Bu. Ibu dan bapak saya belum pulang, ya, Bu?” tanya Sri sambil mendekat ke arah ibu itu. “Kok sepi banget.” “Pulang gimana? Tadi ibumu kecelakaan waktu mau naik angkot sehabis turun dari bus, kesenggol motor. Sekarang dia lagi di rumah sakit bareng bapakmu, tuh.” “Apa?! Kecelakaan?!” Sri terkejut dan wajahnya langsung panik. “Ibu saya di rumah sakit mana, Bu?” “Di rumah sakit Medical Center. Kamu dihubungi dari tadi nggak aktif te—” “Ya, udah. Makasih, ya, Bu,” ujar Sri sambil buru-buru pergi. “Eh, saya belum selesai ngomong kamu main pergi aja ….” Sambil berjalan setengah berlari, Sri mengecek ponselnya yang ternyata kehabisan daya baterai. Pasti bapaknya akan marah lagi kali ini. Dengan cepat, gadis itu menghentikan sebuah angkot dan menaikinya. Sekitar tujuh menit perjalanan, dia tiba di depan rumah sakit dan berlari ke arah resepsionis. “Permisi, Kak. Apa ada pasien atas nama bu Sulastri? Katanya tadi dia kecelakaan kesenggol motor dan dibawa ke sini,” tanya Sri sambil menjelaskan. “Oh, ada. Beliau di ruang—” “Sri!!” Panggilan yang cukup nyaring dari suara yang dikenalnya membuat Sri menoleh. Tampak pak Surya menghampirinya dengan terburu-buru. “Bapak? Ibu di mana, Pak?” tanya Sri sambil mendekat, meninggalkan meja resepsionis. “Kamu ini! Ditelepon dari tadi nggak bisa terus! Apa gunanya kamu punya HP?” gerutu pak Surya marah. “HP aku mati, Pak. Di mana ibu?” “Di ruang rawat. Ayo, ikut bapak!” Suara pak Surya masih saja tinggi meski beberapa orang menoleh ke arahnya. Dengan langkah cepat, Sri mengikuti bapaknya dan tiba di sebuah ruang rawat inap yang berisikan beberapa pasien dan keluarganya. “Ibu, gimana keadaan ibu?” tanya Sri sambil mendekat dan menggenggam tangan ibunya yang berbaring. “Nggak apa-apa, Sri. Ibu baik-baik aja,” jawab bu Sulatri sambil tersenyum. “Apanya yang nggak apa-apa? Ibumu cedera sampai kakinya mati rasa. Kata dokter … kata dokter kemungkinan ada paktor di tulang ekornya. Harus diepapulasi dulu dan harus rosen.” “Hah?” Sri berpikir sejenak, lalu dia segera mengerti. “Ada fraktur, Bu? Berapa lama evaluasinya?” “Nggak lama. Sore nanti dokternya akan datang lagi kalau nggak ada jadwal operasi. Paling telat besok,” jawab bu Sulastri, berusaha membuat Sri tak cemas. “Buat rontgennya tadi udah, tapi dokternya belum ngasih penjelasan hasilnya. Ditunggu dulu katanya.” “Kenapa … kenapa ibu bisa kesenggol motor? Mana orang yang nyenggol ibu?” tanya Sri lagi. “Nggak ada! Begitu si Goblok itu nyenggol ibumu, dia langsung kabur gitu aja. Mana nggak ada duit buat bayar rumah sakit,” gerutu pak Surya, membuat Sri sedikit malu dengan pasien lain dan keluarganya atas kata-kata kasar bapaknya. “Ibu, sih, nggak hati-hati! Si Goblok itu juga berengsek! Ngebut di jalan seenak jidat kayak yang punya jalan bapaknya aja!” “Maafin ibu, ya, Pak. Ibu bikin repot,” kata bu Sulastri dengan wajah memelas. Pak Surya menghela napasnya kasar dengan wajah cemberut. “Bapak nganggur! Nggak punya kerjaan! Kamu nggak usah ngebahas dan nyuruh bapak nyari kerja melulu! Kamu pikirin aja sendiri gimana bayar rumah sakit ibumu! Kamu udah gede, udah waktunya balas kebaikan ibumu yang udah rawat kamu dari kecil!” “Lho?” Sri kehilangan kata-kata. Inginnya bertanya dia anak siapa sebenarnya, namun lidahnya kelu. Ini bukan waktunya untuk menanyakan asal-usulnya. Gadis itu mengeluarkan dompetnya dari tas. “Bapak punya duit berapa sekarang?” Pak Surya merogoh saku celananya dan mengeluarkan uang kertas kumal warna abu-abu dua lembar. “Cuma segini duit bapak. Buat beli rokok aja kurang,” ujarnya sambil memperlihatkan uang empat ribu rupiah. Sri menghela napas berat sambil membuka dompet dan melihat isinya. Pak Surya penasaran dan melongok. “Sri, duit kamu banyak juga,” kata pak Surya dengan nada lebih rendah, kemudian mendekat. “Sri, dengar, ya. Semalam bapak mimpiin beberapa angka. Kali ini, kalau bapak masang, pasti bakal dapat banyak duit. Jadi pinjemin duit kamu, dong. Kalau bapak menang, nanti bapak ganti dua kali lipat.” “Bapak!” tegur bu Sulastri tak enak hati. “Apa, Bu? Bapak juga harus usaha dengan cara bapak sendiri. Siapa tahu beneran dapat duit, kan?” “Nggak, Pak. Bapak tunggu di sini. Aku mau ke administrasi buat nanya kira-kira berapa tagihan rumah sakit ibu,” kata Sri sambil berlalu membawa dompetnya.“Sa … sakit ….” Sri meringis saat merasakan lengannya dikunci dari belakang.“Saya tanya kamu siapa?” ulang pria itu.Sri berusaha menoleh, namun wajah pria itu sulit dilihat karena pergerakannya terbatas.“Saya yang kerja di sini. Beres-beres rumah,” jawab Sri sambil meringis. “Kamu yang siapa?”Bukannya menjawab pertanyaan Sri, pria itu justru mengikat tangan gadis itu ke belakang tubuhnya menggunakan dasinya.“Hei, hei. Kamu ngapain?” tanya Sri panik. “Lepasin! Kamu penyusup, ya?”“Kamu yang penyusup,” ujar pria itu sambil menjatuhkan Sri di karpet, sementara dia sendiri duduk di sofa di samping tas sekolah sambil menatap Sri tajam.Sri meringis karena lengannya sakit akibat benturan. Gadis itu segera bangun dan duduk berlutut sambil menoleh ke arah pria itu dengan tangan terikat di belakang. Rambutnya yang dikepang satu terlihat sedikit berantakan.“Kamu—”Kalimat Sri terhenti saat melihat wajah pria itu. Wajahnya mirip yang ada di foto di belakangnya.“Kamu yang punya rumah?” tan
“Gimana, Sri? Berapa tagihan rumah sakit ibu?” tanya pak Surya saat Sri kembali ke ruang rawat.Sri berwajah masam. “Kurang uangnya. Kurang banyak. Aku cuma punya 176 ribu, Pak.”Sri duduk di samping ranjang pasien dengan wajah bingung.“Cari aja pinjaman ke bosmu itu,” ujar pak Surya pada Sri. “Dia orangnya baik, kan?"“Bos yang mana? Yang punya mini market itu?” tanya Sri sedikit kesal. “Bapak lupa kalau aku udah dipecat dari sana gara-gara bapak ngambil rokok gitu aja dari etalase? Masih bagus bosnya nggak laporin bapak ke polisi.”“Eh, kamu nyalahin bapak, ya?!” tanya pak Surya tak terima.“Sudah, sudah ….” Bu Sulastri menengahi dengan wajah bingung.“Ya, udah, Bu. Ibu pinjam aja ke anak majikan ibu itu,” kata pak Surya sambil menatap bu Sulastri. “Dia kaya, kan?”“Ibu nggak berani, Pak,” jawab bu Sulastri sambil menggeleng. “Anak majikan ibu orangnya lebih tegas lagi. Mungkin aja … dia nggak bakal ngasih pinjaman uang. Orangnya perhitungan dan nggak akan pinjamin ibu uang kalau d
Sepanjang perjalanan di bus, Sri memikirkan banyak hal. Sesekali gadis itu akan menatap pantulan dirinya di cermin, melihat wajahnya yang orang-orang bilang bahwa dia sama sekali tidak mirip ibunya maupun bapaknya hingga kebanyakan orang-orang itu sering meledeknya anak pungut.Semakin dia beranjak remaja, dia memang semakin meragukan bahwa dia anak ibunya. Tapi saat mengetahui kenyataan bahwa ada Sri Rejeki lain yang telah meninggal sepuluh tahun lalu, justru malah meruntuhkan hatinya.Apakah dia hanya anak pengganti? Anak yang diberikan identitas sesuai dengan nama anak bu Sulastri yang sudah meninggal? Siapakah dia sebenarnya? Di mana keluarganya? Mengapa bu Sulastri dan pak Surya menamainya Sri Rejeki juga?Semakin Sri berpikir, semakin banyak pertanyaan yang memenuhi benaknya dan membuatnya semakin lelah, juga semakin membuatnya kehilangan jati diri. Satu-satunya cara, dia harus mendapatkan jawaban dari mulut ibunya sendiri.***Hari sudah sore ketika Sri sampai di depan rumah ya
“Neng.”Tepukan ringan dan lembut di bahu Sri menyadarkan gadis itu. Sri menoleh pada bapak tua penyapu makam yang menatapnya.“Neng kenapa? Lagi apa di sini?” tanya bapak tua itu.“Saya ….” Sejenak Sri kebingungan. Dia tak tahu harus mengatakan apa saking terkejutnya.“Neng kenal sama anak yang udah meninggal ini?” tanya bapak tua itu sambil berjongkok di sisi Sri. “Tadi orang tuanya ke sini.”“Orang tua?” Sri semakin syok dan bingung.“Iya. Kasihan mereka. Anak satu-satunya meninggal sepuluh tahun lalu karena jatuh terpeleset dari tangga. Katanya sih, ada pendarahan di otaknya,” ujar bapak tua itu.“Apa … apa mereka selalu ke sini setiap tahun?” tanya Sri sambil mengendalikan gemetar di tubuhnya.“Iya. Setiap tahun. Hari ini tanggal 22, kan? Mereka selalu ke sini pas hari peringatan kematian putri mereka,” jawab bapak tua itu. “Apa Neng kenal sama orang tuanya?”“Kenal, Pak,” jawab Sri mengangguk. “Tapi saya nggak tahu kalau … kalau anak mereka udah meninggal. Apa bapak kenal sama o
Hampir dua jam lamanya menaiki bus AC, kedua orang tua Sri turun di persimpangan di sebuah kabupaten, membuat Sri bingung bagaimana harus mengikuti keduanya. Jika dia ikut turun saat itu juga dan terlihat oleh kedua orang tuanya, bapaknya pasti akan marah besar. “Pak, turunin saya agak depan, ya,” pinta Sri pada sopir sambil mendekat saat bus kembali melaju. “Agak depan di mana?” tanya sopir itu. “Di sana aja,” tunjuk Sri pada sederet ruko yang bersebelahan dengan bank. “Lho, kenapa nggak turun sekalian sama dua orang tadi?” tanya sopir heran dan hampir marah, karena saat itu jalanan cukup ramai. “Ini dekat, lho, jaraknya.” “Maaf, Pak. Saya baru ke sini lagi, jadi lupa. Hampir aja nyasar,” jawab Sri asal, membuat sopir itu sedikit merasa kasihan. “Neng emangnya mau ke mana?” tanya sopir itu sambil menghentikan bus karena mereka telah sampai di ruko yang ditunjuk Sri. “Saya mau nyari bapak saya, Pak. Yang udah ninggalin saya sejak kecil. Kalau nggak salah, dulu rumahnya
Hari mulai malam saat sebuah mobil melaju di jalanan yang sepi. Langit tampak lebih gelap dari biasanya. Seorang gadis kecil dengan dress pink selutut duduk di kursi mobil di belakang seorang sopir sambil menatap sebuah gambar di bukunya. Gambar seorang ayah memakai setelan jas, seorang ibu memakai dress putih dengan sebuket bunga di tangan, dan seorang gadis kecil memakai dress pink dengan latar belakang rumput hijau dan langit biru. Alunan musik Für Elise mengalun lembut dari kotak musiknya. Boneka balerina di atasnya berputar seolah tengah menari. Keheningan itu ternoda oleh benturan keras dari samping, yang membuat laju mobil itu goyah lalu kehilangan kendali dan hanya sekian detik .... "Hah!" Seorang gadis remaja usia delapan belas terbangun dari mimpi buruknya. Dahinya penuh keringat, tubuhnya gemetar, dan napasnya tak stabil. “Mimpi itu lagi ….” gumamnya perlahan sambil menyeka keringatnya dan menenangkan diri. Sudah hampir empat bulan, dia mendapatkan potongan in







