Share

Bab 4

Author: Clau Sheera
last update publish date: 2026-03-24 17:54:50

Sepanjang perjalanan di bus, Sri memikirkan banyak hal. Sesekali gadis itu akan menatap pantulan dirinya di cermin, melihat wajahnya yang kata orang-orang, dia sama sekali tidak mirip ibunya maupun bapaknya hingga kebanyakan orang-orang itu sering meledeknya anak pungut.

Semakin dia beranjak remaja, dia memang semakin meragukan bahwa dia anak ibu bapaknya. Tapi saat mengetahui kenyataan bahwa ada Sri Rejeki lain yang telah meninggal sepuluh tahun lalu, justru malah meruntuhkan hatinya.

Apakah dia hanya anak pengganti? Anak yang diberikan identitas sesuai dengan nama anak bu Sulastri yang sudah meninggal? Siapakah dia sebenarnya? Di mana keluarganya? Mengapa bu Sulastri dan pak Surya menamainya Sri Rejeki juga?

Semakin Sri berpikir, semakin banyak pertanyaan yang memenuhi benaknya, membuatnya semakin lelah dan kehilangan jati diri. Satu-satunya cara, dia harus mendapatkan jawaban dari mulut ibunya sendiri.

***

Hari sudah sore ketika Sri sampai di depan rumah yang tampak sepi. Gadis itu mendorong pintu, berharap pintu tak dikunci seperti biasa. Namun ternyata pintu rumah masih dalam keadaan terkunci.

“Masa iya ibu sama bapak belum pulang?” gumamnya perlahan sambil mengintip ke dalam melalui kaca jendela riben.

Di dalam rumah tampak sepi seolah ibu dan bapaknya belum pulang.

“Sri … Sri … kamu udah pulang?” Seorang tetangga perempuan memanggil Sri dari balik pagar bata sebelah rumah, membuat Sri menoleh.

“Udah, Bu. Ibu dan bapak saya belum pulang, ya, Bu?” tanya Sri sambil mendekat ke arah ibu itu. “Kok sepi banget.”

“Pulang gimana? Tadi ibumu kecelakaan waktu mau naik angkot sehabis turun dari bus, kesenggol motor. Sekarang dia lagi di rumah sakit bareng bapakmu, tuh.”

“Apa?! Kecelakaan?!” Sri terkejut dan wajahnya langsung panik. “Ibu saya di rumah sakit mana, Bu?”

“Di rumah sakit Medical Center. Kamu dihubungi dari tadi nggak aktif te—”

“Ya, udah. Makasih, ya, Bu,” ujar Sri sambil buru-buru pergi.

“Eh, saya belum selesai ngomong kamu main pergi aja ….”

Sambil berlari, Sri mengecek ponselnya yang ternyata kehabisan daya baterai. Pasti bapaknya akan marah lagi kali ini.

Dengan cepat, gadis itu menghentikan sebuah angkot dan menaikinya. Sekitar tujuh menit perjalanan, dia tiba di depan rumah sakit dan berlari ke arah resepsionis.

“Permisi, Kak. Apa ada pasien atas nama bu Sulastri? Katanya tadi dia kecelakaan kesenggol motor dan dibawa ke sini,” tanya Sri sambil mengatur napasnya.

“Oh, ada. Beliau di ruang anggrek nomor 12.”

“Sri!!” Panggilan yang cukup nyaring dari suara yang dikenalnya membuat Sri menoleh.

Tampak pak Surya menghampirinya dengan terburu-buru.

“Bapak? Ibu di mana, Pak?” tanya Sri sambil mendekat, meninggalkan meja resepsionis.

“Kamu ini! Ditelepon dari tadi nggak bisa terus! Apa gunanya kamu punya HP?” gerutu pak Surya marah.

“HP aku mati, Pak. Di mana ibu?”

“Di ruang rawat. Ayo, ikut bapak!” Suara pak Surya masih saja tinggi meski beberapa orang menoleh ke arahnya.

Dengan langkah cepat, Sri mengikuti bapaknya dan tiba di sebuah ruang rawat inap yang berisikan beberapa pasien dan keluarganya.

“Ibu, gimana keadaan ibu?” tanya Sri sambil mendekat dan menggenggam tangan ibunya yang berbaring.

“Nggak apa-apa, Sri. Ibu baik-baik aja,” jawab bu Sulatri sambil tersenyum.

“Apanya yang nggak apa-apa? Ibumu cedera sampai kakinya mati rasa. Kata dokter … kata dokter kemungkinan ada paktor di tulang ekornya. Harus diepapulasi dulu dan harus rosen.”

“Hah?” Sri berpikir sejenak, lalu dia segera mengerti. “Ada fraktur, Bu? Berapa lama evaluasinya?”

“Nggak lama. Sore nanti dokternya akan datang lagi kalau nggak ada jadwal operasi. Paling telat besok,” jawab bu Sulastri, berusaha membuat Sri tak cemas. “Buat rontgennya tadi udah, tapi dokternya belum ngasih penjelasan hasilnya. Ditunggu dulu katanya.”

“Kenapa … kenapa ibu bisa kesenggol motor? Mana orang yang nyenggol ibu?” tanya Sri lagi.

“Nggak ada! Begitu si Goblok itu nyenggol ibumu, dia langsung kabur gitu aja. Mana bapak nggak ada duit buat bayar rumah sakit,” gerutu pak Surya, membuat Sri sedikit malu dengan pasien lain dan keluarganya atas kata-kata kasar bapaknya. “Ibu, sih, nggak hati-hati! Si Goblok itu juga berengsek! Ngebut di jalan seenak jidat kayak yang punya jalan bapaknya aja!”

“Maafin ibu, ya, Pak. Ibu malah bikin repot,” kata bu Sulastri dengan wajah memelas.

Pak Surya menghela napasnya kasar dengan wajah cemberut. “Bapak nganggur! Nggak punya kerjaan! Kamu pikirin aja sendiri gimana bayar rumah sakit ibumu! Kamu udah gede, udah waktunya balas kebaikan ibumu yang udah rawat kamu dari kecil!”

“Lho?” Sri kehilangan kata-kata. Inginnya bertanya dia anak siapa sebenarnya, namun lidahnya kelu. Ini bukan waktunya untuk menanyakan asal-usulnya. Gadis itu mengeluarkan dompetnya dari tas. “Bapak punya duit berapa sekarang?”

Pak Surya merogoh saku celananya dan mengeluarkan uang kertas kumal warna abu-abu dua lembar.

“Cuma segini duit bapak. Buat beli rokok aja kurang,” ujarnya sambil memperlihatkan uang empat ribu rupiah.

Sri menghela napas berat sambil membuka dompet dan melihat isinya yang bagi Sri tak begitu banyak. Pak Surya penasaran dan melongok.

“Sri, duit kamu banyak juga,” kata pak Surya dengan nada lebih rendah, kemudian mendekat. “Sri, dengar, ya. Semalam bapak mimpiin beberapa angka. Kali ini, kalau bapak masang, pasti bakal dapat banyak duit. Jadi pinjemin duit kamu, dong. Kalau bapak menang, nanti bapak ganti dua kali lipat.”

“Bapak!” tegur bu Sulastri tak enak hati.

“Apa, Bu? Bapak juga harus usaha dengan cara bapak sendiri. Siapa tahu beneran dapat duit, kan?”

“Nggak, Pak. Bapak tunggu di sini. Aku mau ke administrasi buat nanya kira-kira berapa tagihan rumah sakit ibu,” kata Sri sambil berlalu membawa dompetnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesona Upik Abu   Bab 68

    Malam telah turun sepenuhnya. Lampu-lampu jalan dan gedung memantulkan cahaya di kaca jendela unit apartemen sederhana milik Sri.Sri tengah berada di kamarnya, mengemas beberapa pakaian ganti dan barang-barang pribadi yang mungkin akan dibutuhkannya selama berada di kota J.Di ruang tamu, aroma teh hijau memenuhi udara. Sagara berdiri di sana. Atas desakannya yang tak ingin membuang-buang waktu, dia mengantar Sri ke apartemennya untuk berkemas-kemas.Pandangan Sagara berkeliling ke seluruh penjuru ruangan, melihat-lihat isi apartemen itu yang sederhana.Rak setinggi 1,2 meter menempel di dinding, berisi deretan buku manajemen dan administrasi, korespondensi bisnis, manajemen waktu dan proyek, etiket dan protokoler, hukum dasar kantor, bisnis dan ekonomi, bahasa Inggris dan Mandarin, hingga beberapa buku pengembangan diri dan fiksi ringan. Di atas rak itu terdapat dua pot sukulen dan beberapa hiasan dan sebuah potret keluarga yang terdiri dari Sri, bu Sulastri, dan pak Surya.Sagara m

  • Pesona Upik Abu   Bab 67

    Aurora berdiri, berjalan mondar-mandir di ruangannya yang luas sembari menatap foto-foto di ponselnya. Di salah satu foto, terlihat jelas Ananta sedang terdiam seolah terlihat tertekan sembari menatap Sri yang tersenyum. Otak licik Aurora segera berputar cepat. Jika ia langsung datang melabrak Sri di restoran atau di depan Sagara, Sagara pasti akan pasang badan untuk melindungi sekretarisnya itu jika sampai pria itu tahu. Sagara pasti akan bersikap protektif pada wanita itu. "Tidak ... aku nggak boleh bodoh," gumam Aurora, dengan sebuah senyuman jahat yang dingin perlahan terukir di sudut bibirnya. "Kalau Sagara menyembunyikan data busuknya, maka aku akan menghancurkanmu lewat jalur lain." Aurora tahu betul siapa pemegang kekuasaan tertinggi yang paling dihormati Sagara, yaitu Kakek Buana Mahardika. Sang patriark keluarga Mahardika itu sangat mementingkan status sosial dan kehormatan keluarga. Ditambah lagi, ada Dikara Natawijaya yang sangat protektif terhadap kondisi mental Anant

  • Pesona Upik Abu   Bab 66

    Restoran bernuansa klasik Eropa di sudut kota itu terasa begitu tenang siang ini. Alunan musik instrumental mengalun lembut dari sudut ruangan, mencoba mencairkan atmosfer yang terasa membeku di meja nomor dua belas. Ananta Natawijaya duduk dengan punggung tegak. Sepasang matanya yang mulai dihiasi kerutan halus tidak sedetik pun beralih dari pintu masuk restoran. Genggaman tangannya pada tas jinjingnya mengerat setiap kali lonceng pintu berdenting. Ketika sesosok gadis dengan blus kerja sederhana dan rambut cokelat gelap bergelombang melangkah masuk, wajah wanita paruh baya itu seketika berbinar terang. "Sri! Di sini," panggil Ananta setengah berbisik, melambaikan tangannya dengan tidak sabar. Sri Rejeki mempercepat langkahnya. Jantungnya bertalu kencang, memukul-mukul rongga dadanya dengan ritme yang menyesakkan. Setiap langkah mendekati Ananta terasa seperti berjalan di atas paku. Di satu sisi, jiwanya meronta ingin berlari dan mendekap wanita itu sembari berteriak bahwa dia ada

  • Pesona Upik Abu   Bab 65

    Sentuhan tangan Ananta yang begitu hangat dan lembut mengirimkan gelombang emosi yang dahsyat ke dalam hati Sri. Dia ingin sekali berteriak dan memeluk wanita di depannya, mengakui bahwa dirinya adalah Aletha, putri kecil Ananta dan Dikara yang dikira telah meninggal tujuh belas tahun lalu, namun lidahnya kelu. Ananta Natawijaya masih menggenggam erat jemari gadis itu. Air mata wanita paruh baya itu mengambang di pelupuk mata, memantulkan binar kebahagiaan yang sudah bertahun-tahun meredup sejak kehilangan putri kecilnya. ​“Tante benar-benar nggak menyangka bisa bertemu kamu di sini, Sri,” bisik Ananta, suaranya parau menahan haru. “Tujuh tahun lalu ... saat kamu pergi begitu saja, Tante merasa sedikit kehilangan. Tante bahkan beberapa kali meminta suami Tante untuk melacak keberadaanmu, tapi hasilnya nihil.” ​Sri merasakan tenggorokannya menyempit. Hangatnya genggaman tangan ibu kandungnya menyalurkan rasa rindu yang luar biasa besar. Namun, akal sehatnya langsung berteriak, mengi

  • Pesona Upik Abu   Bab 64

    ​Sore mulai tenggelam, meninggalkan keheningan yang mencekam di lantai eksekutif Astera Development Holdings. Udara dingin dari pendingin ruangan seolah membeku di sekitar meja kerja Sri. Jantung gadis itu berdegup kencang, memukul-mukul dinding dadanya dengan ritme yang tak menyenangkan. ​Cengkeraman hangat namun kokoh dari jemari Sagara Mahardika di pergelangan tangan kirinya tidak kunjung mengendur. Pria berusia tiga puluh lima tahun itu berdiri begitu dekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Sri bisa mencium aroma maskulin bercampur wangi segar. Tatapan mata pria itu yang hitam legam dan dingin, seolah mampu menembus lapisan kebohongan yang selama ini dibangun Sri dengan susah payah. ​“Betul. Gelang ini pemberian tante Ananta waktu itu.” ​Sagara menundukkan kepalanya sedikit, membuat jarak wajah mereka kian dekat. “Kalau soal gelang itu, aku juga sudah tahu,” bisik Sagara, suaranya merendah. “Tapi yang paling ingin kudengar malam ini adalah alasan di balik benda yang satu i

  • Pesona Upik Abu   Bab 63

    Amarah yang membakar seketika memenuhi dadanya. Bagi Aurora, Sri Rejeki bukan lagi sekadar staf administrasi biasa, melainkan ancaman fatal yang siap meruntuhkan posisi tunangan taktis yang selama bertahun-tahun ini ia banggakan di lingkaran sosial mereka. Bisa saja Sagara menanfaatkan wanita udik itu untuk menyingkirkan posisinya. “Jelas-jelas dia meninggalkanmu. Dia pergi dengan sengaja tujuh tahun lalu. Mengapa sekarang kamu membiarkannya ada di sisimu?” Sagara tersenyum mendengar pertanyaan yang di telinganya terasa bernada munafik itu. Aurora yang melihat senyuman itu, sekilas terkesima dan terkesan, namun detik berikutnya dia menyadari satu hal yang membuat jantungnya terasa mencelus jatuh. “Bukankah kamu sendiri tahu jelas jawabannya?” Sagara menatap Aurora dengan pandangan tajam sambil sedikit memiringkan kepalanya. “Apa?” Mata Aurora membulat karena terkejut. “Jangan memasang wajah naif, Aurora. Aku tahu apa yang terjadi saat itu meski sedikit terlambat. Dan terhadap apa

  • Pesona Upik Abu   Bab 7

    Sri berjalan dengan langkah berat meninggalkan gedung apartemen. Jam di ponselnya sudah menunjukkan waktu pukul 19.18. “Ibu pasti nungguin aku,” gumamnya perlahan sambil menghentikan sebuah angkot yang melintas di depannya dan segera naik. Sekitar dua puluh menit kemudian, dia tiba di rumah dan l

  • Pesona Upik Abu   Bab 6

    “Sa … sakit ….” Sri meringis saat merasakan lengannya dikunci dari belakang. “Saya tanya kamu siapa?” ulang pria itu. Sri berusaha menoleh, namun wajah pria itu sulit dilihat karena pergerakannya terbatas. “Saya yang kerja di sini. Beres-beres rumah,” jawab Sri sambil meringis. “Kamu yang siapa?”

  • Pesona Upik Abu   Bab 5

    “Gimana, Sri? Berapa tagihan rumah sakit ibu?” tanya pak Surya saat Sri kembali ke ruang rawat. Sri berwajah masam. “Kurang uangnya. Kurang banyak. Aku cuma punya 176 ribu, Pak.” Sri duduk di samping ranjang pasien dengan wajah bingung. “Cari aja pinjaman ke bosmu itu,” ujar pak Surya pada Sri. “

  • Pesona Upik Abu   Bab 3

    “Neng.” Tepukan ringan dan lembut di bahu Sri menyadarkan gadis itu. Sri menoleh pada bapak tua penyapu makam yang menatapnya. “Neng kenapa? Lagi apa di sini?” tanya bapak tua itu. “Sa-saya ….” Sejenak Sri kebingungan. Dia tak tahu harus mengatakan apa saking terkejutnya. “Neng kenal sama anak y

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status