ANMELDENSri Rejeki jatuh dari tangga dan menderita amnesia ketika dia masih berusia delapan tahun. Saat dia berusia 18, dia mulai menemukan potongan ingatannya yang hilang. Gadis ceria itu mulai menyadari bahwa orang tua yang merawatnya selama sepuluh tahun itu mungkin bukanlah orang tua kandungnya. Apalagi sejak dia menemukan ada 'Sri Rejeki lain' yang sudah meninggal 10 tahun lalu, yang kemungkinan anak kandung orang tuanya. Kecelakaan yang ibunya alami, membuat ibunya yang bekerja sebagai asisten rumah tangga, tak bisa bekerja. Demi menopang perekonomian keluarga karena ayahnya seorang penjudi dan tukang mabuk, Sri menggantikan ibunya bekerja di sebuah apartemen milik Sagara, anak majikan ibunya yang seorang pewaris kaya. Dari apartemen itulah, dia mulai mendapatkan sebuah titik terang yang memandunya mengungkap kecelakaan 10 tahun lalu. Dalam pencarian jati diri, kebohongan demi kebohongan harus dia rajut, sebagai pelindung hatinya agar tetap utuh, membawanya pada takdir yang tak mudah dijalani.
Mehr anzeigenHari mulai malam saat sebuah mobil melaju di jalanan yang sepi. Langit tampak lebih gelap dari biasanya. Seorang gadis kecil dengan dress pink selutut duduk di kursi mobil di belakang seorang sopir sambil menatap sebuah gambar di bukunya.
Gambar seorang ayah memakai setelan jas, seorang ibu memakai dress putih dengan sebuket bunga di tangan, dan seorang gadis kecil memakai dress pink dengan latar belakang rumput hijau dan langit biru. Alunan musik Für Elise mengalun lembut dari kotak musiknya. Boneka balerina di atasnya berputar seolah tengah menari. Keheningan itu ternoda oleh benturan keras dari samping, yang membuat laju mobil itu goyah lalu kehilangan kendali dan hanya sekian detik .... "Hah!" Seorang gadis remaja usia delapan belas terbangun dari mimpi buruknya. Dahinya penuh keringat, tubuhnya gemetar, dan napasnya tak stabil. “Mimpi itu lagi ….” gumamnya perlahan sambil menyeka keringatnya dan menenangkan diri. Sudah hampir empat bulan, dia mendapatkan potongan ingatan yang entah dari mana, hingga membuatnya terkadang bermimpi buruk. Mungkinkah amnesianya akan segera sembuh? Entahlah. Ibunya bilang, dia amnesia karena jatuh dari tangga sewaktu dia berusia delapan tahun. Tapi ingatannya yang datang bukan tentang kehidupan dulu yang pernah ibunya ceritakan, melainkan tentang hal lain yang mungkin saja bagian dari mimpi atau imajinasinya saat kecil. Gadis itu melirik jam di dinding. Waktu masih menunjukkan pukul setengah dua belas malam, namun sayup-sayup terdengar suara ibunya di ruang tengah. “Pak, jangan judi terus. Jangan mabuk terus. Besok kita harus pergi ke sana buat jenguk. Apa bapak lupa?” Gadis itu tahu betul suara ibunya. Pasti bapaknya baru saja pulang dalam keadaan mabuk. Dia teringat, ini bulan April. Setiap tanggal 22, ibu dan bapaknya akan pergi ke luar kota seharian tanpa mengajaknya. Katanya, mereka ada urusan penting yang tak bisa ditunda. Pasti besok mereka akan pergi lagi. Tapi, mereka akan menjenguk siapa? Diam-diam, gadis itu membuka pintu kamarnya sedikit dan menguping. “Bapak nggak lupa, Bu. Bapak cuma minum sedikit,” jawab seorang pria paruh baya sambil duduk di kursi yang sudah mulai melesak di beberapa bagian. Penampilannya berantakan, rambutnya gondrong tak terurus dan wajah kusam. “Ibu tidur aja sana, biar besok nggak kesiangan.” “Bapak juga tidur. Jangan—” “Sri? Ngapain kamu jam segini belum tidur?” Gadis yang bernama Sri itu membuka pintu kamarnya lebih lebar. Dia ketahuan menguping, membuat ibunya berhenti bicara. “Aku kebangun, Pak,” jawab gadis itu sambil mendekat. Aroma anggur bercampur aroma tape tercium sedikit kuat. Jelas sekali bapaknya habis minum. “Aku dengar, bapak sama ibu mau pergi ya?” “Iya, Sri. Bapak sama ibu mau ada urusan besok pagi. Pulangnya sebelum sore, kok,” jawab wanita paruh baya itu sambil duduk di samping suaminya. “Urusan apa, Bu? Perasaan, setiap tahun di tanggal 22 April Bapak sama Ibu pergi terus. Kalian mau pergi ke mana? Apa aku boleh ikut? Kebetulan besok hari Sabtu, sekolah libur,” pinta gadis itu. “Nggak, nggak bisa,” tolak ibunya cepat. “Kamu di rumah aja, istirahat. Atau belajar. Sebentar lagi ujian, kan?” “Tapi, Bu, aku cuma—” “Kamu nggak usah ikut campur. Juga nggak perlu tahu dan jangan tanya-tanya urusan orang tua. Sana, tidur lagi!” usir bapaknya. “Tidur, ya, Sri. Bapak sama ibu perginya nggak lama, kok,” kata ibunya lembut. Sri mengangguk sambil beranjak ke kamarnya. Percuma dia terus bertanya, hanya akan membuat bapaknya marah nanti. “Apa besok aku ikutin aja mereka diam-diam, ya?” gumam Sri perlahan sambil menatap pintu kamarnya yang tertutup. *** Esok datang dengan cepat. Pukul lima pagi, Sri sudah berada di ruang tengah menghampiri ibunya yang tengah membangunkan bapaknya yang tidur di sofa. “Bu, hari ini aku mau kerja kelompok. Ternyata ada tugas mendadak semalam. Harus bikin mini project buat market day nanti di sekolah. Jadi, aku izin pergi ke rumah Tari, ya,” pinta Sri sambil berdiri tak jauh dari wanita paruh baya itu. “Kapan berangkatnya?” tanya wanita paruh baya yang bernama Sulastri itu. “Mungkin jam setengah tujuh. Jam tujuhan harus udah kumpul di rumahnya,” jawab Sri. “Terus, pulangnya kapan?” “Sore atau malam, Bu.” “Oh, iya, nggak apa-apa.” Bu Sulastri terlihat lega. “Kamu ada uangnya buat ongkos ke rumah Tari?” “Ada, Bu, jangan khawatir. Aku mau mandi dan siap-siap dari sekarang biar nggak telat.” Bu Sulastri mengangguk, lalu kembali membangungkan suaminya. Tepat pukul enam, bu Sulastri dan pak Surya meninggalkan rumah kontrakan mereka, diantar Sri sampai teras rumah. Begitu ibu dan bapaknya tak terlihat, Sri segera masuk dan mengambil ranselnya serta mengenakan jaket lusuh dan topi hitam. Dia tahu pasti bapak dan ibunya akan pergi ke terminal bus menggunakan angkot. Begitu selesai berpakaian dan mengenakan topi hitam, dia segera keluar menyusul menaiki ojek hanya membawa ransel berisikan dompet, sebungkus camilan, beberapa permen, dan sebotol air mineral. *** Suasana terminal bus sedikit ramai oleh orang-orang yang berlalu lalang. Namun dengan mudah Sri bisa menemukan kedua orang tuanya yang sudah menaiki sebuah bus dan menunggu jadwal keberangkatan di pukul setengah tujuh. Dia mengecek jam di ponsel. Waktu menunjukkan pukul 06.21. Masih ada sembilan menit lagi sebelum bus berangkat. Dengan cepat, Sri membeli tiket dan berjalan ke arah bus dengan waspada sambil mencari tahu di mana posisi duduk kedua orang tuanya. “Mereka ada di bangku sebelah kanan, baris kedua dari depan,” gumam Sri perlahan sambil naik bus dari pintu belakang dan segera duduk di tempat yang kemungkinan tak akan terlihat oleh orang tuanya. Bus melaju tak lama kemudian, membuat jantung Sri berdebar-debar menantikan sebuah jawaban.“Sa … sakit ….” Sri meringis saat merasakan lengannya dikunci dari belakang.“Saya tanya kamu siapa?” ulang pria itu.Sri berusaha menoleh, namun wajah pria itu sulit dilihat karena pergerakannya terbatas.“Saya yang kerja di sini. Beres-beres rumah,” jawab Sri sambil meringis. “Kamu yang siapa?”Bukannya menjawab pertanyaan Sri, pria itu justru mengikat tangan gadis itu ke belakang tubuhnya menggunakan dasinya.“Hei, hei. Kamu ngapain?” tanya Sri panik. “Lepasin! Kamu penyusup, ya?”“Kamu yang penyusup,” ujar pria itu sambil menjatuhkan Sri di karpet, sementara dia sendiri duduk di sofa di samping tas sekolah sambil menatap Sri tajam.Sri meringis karena lengannya sakit akibat benturan. Gadis itu segera bangun dan duduk berlutut sambil menoleh ke arah pria itu dengan tangan terikat di belakang. Rambutnya yang dikepang satu terlihat sedikit berantakan.“Kamu—”Kalimat Sri terhenti saat melihat wajah pria itu. Wajahnya mirip yang ada di foto di belakangnya.“Kamu yang punya rumah?” tan
“Gimana, Sri? Berapa tagihan rumah sakit ibu?” tanya pak Surya saat Sri kembali ke ruang rawat.Sri berwajah masam. “Kurang uangnya. Kurang banyak. Aku cuma punya 176 ribu, Pak.”Sri duduk di samping ranjang pasien dengan wajah bingung.“Cari aja pinjaman ke bosmu itu,” ujar pak Surya pada Sri. “Dia orangnya baik, kan?"“Bos yang mana? Yang punya mini market itu?” tanya Sri sedikit kesal. “Bapak lupa kalau aku udah dipecat dari sana gara-gara bapak ngambil rokok gitu aja dari etalase? Masih bagus bosnya nggak laporin bapak ke polisi.”“Eh, kamu nyalahin bapak, ya?!” tanya pak Surya tak terima.“Sudah, sudah ….” Bu Sulastri menengahi dengan wajah bingung.“Ya, udah, Bu. Ibu pinjam aja ke anak majikan ibu itu,” kata pak Surya sambil menatap bu Sulastri. “Dia kaya, kan?”“Ibu nggak berani, Pak,” jawab bu Sulastri sambil menggeleng. “Anak majikan ibu orangnya lebih tegas lagi. Mungkin aja … dia nggak bakal ngasih pinjaman uang. Orangnya perhitungan dan nggak akan pinjamin ibu uang kalau d
Sepanjang perjalanan di bus, Sri memikirkan banyak hal. Sesekali gadis itu akan menatap pantulan dirinya di cermin, melihat wajahnya yang orang-orang bilang bahwa dia sama sekali tidak mirip ibunya maupun bapaknya hingga kebanyakan orang-orang itu sering meledeknya anak pungut.Semakin dia beranjak remaja, dia memang semakin meragukan bahwa dia anak ibunya. Tapi saat mengetahui kenyataan bahwa ada Sri Rejeki lain yang telah meninggal sepuluh tahun lalu, justru malah meruntuhkan hatinya.Apakah dia hanya anak pengganti? Anak yang diberikan identitas sesuai dengan nama anak bu Sulastri yang sudah meninggal? Siapakah dia sebenarnya? Di mana keluarganya? Mengapa bu Sulastri dan pak Surya menamainya Sri Rejeki juga?Semakin Sri berpikir, semakin banyak pertanyaan yang memenuhi benaknya dan membuatnya semakin lelah, juga semakin membuatnya kehilangan jati diri. Satu-satunya cara, dia harus mendapatkan jawaban dari mulut ibunya sendiri.***Hari sudah sore ketika Sri sampai di depan rumah ya
“Neng.”Tepukan ringan dan lembut di bahu Sri menyadarkan gadis itu. Sri menoleh pada bapak tua penyapu makam yang menatapnya.“Neng kenapa? Lagi apa di sini?” tanya bapak tua itu.“Saya ….” Sejenak Sri kebingungan. Dia tak tahu harus mengatakan apa saking terkejutnya.“Neng kenal sama anak yang udah meninggal ini?” tanya bapak tua itu sambil berjongkok di sisi Sri. “Tadi orang tuanya ke sini.”“Orang tua?” Sri semakin syok dan bingung.“Iya. Kasihan mereka. Anak satu-satunya meninggal sepuluh tahun lalu karena jatuh terpeleset dari tangga. Katanya sih, ada pendarahan di otaknya,” ujar bapak tua itu.“Apa … apa mereka selalu ke sini setiap tahun?” tanya Sri sambil mengendalikan gemetar di tubuhnya.“Iya. Setiap tahun. Hari ini tanggal 22, kan? Mereka selalu ke sini pas hari peringatan kematian putri mereka,” jawab bapak tua itu. “Apa Neng kenal sama orang tuanya?”“Kenal, Pak,” jawab Sri mengangguk. “Tapi saya nggak tahu kalau … kalau anak mereka udah meninggal. Apa bapak kenal sama o












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.