Share

Bab 5

Author: Clau Sheera
last update publish date: 2026-03-26 07:23:00

“Gimana, Sri? Berapa tagihan rumah sakit ibu?” tanya pak Surya saat Sri kembali ke ruang rawat.

Sri berwajah masam. “Kurang uangnya. Kurang banyak. Aku cuma punya 176 ribu, Pak.”

Sri duduk di samping ranjang pasien dengan wajah bingung.

“Cari aja pinjaman ke bosmu itu,” ujar pak Surya pada Sri. “Dia orangnya baik, kan?"

“Bos yang mana? Yang punya mini market itu?” tanya Sri sedikit kesal. “Bapak lupa kalau aku udah dipecat dari sana gara-gara bapak ngambil rokok gitu aja dari etalase? Masih bagus bosnya nggak laporin bapak ke polisi.”

“Eh, kamu nyalahin bapak, ya?!” tanya pak Surya tak terima.

“Sudah, sudah ….” Bu Sulastri menengahi dengan wajah bingung.

“Ya, udah, Bu. Ibu pinjam aja ke cucu majikan ibu itu,” kata pak Surya sambil menatap bu Sulastri. “Dia kaya, kan?”

“Ibu nggak berani, Pak,” jawab bu Sulastri sambil menggeleng. “Cucu majikan ibu orangnya lebih tegas lagi. Mungkin aja … dia nggak bakal ngasih pinjaman uang. Orangnya perhitungan dan nggak akan pinjamin ibu uang kalau dia merasa nggak diuntungkan. Bisa-bisa ibu dipecat nanti. Soalnya ibu dengar, ART lama juga dipecat gara-gara kasbon melulu.”

Pak Surya menghela napasnya. “Sri,” panggilnya. “Pinjemin bapak goban, dong.”

“Hah? Buat apa?”

“Bapak mau beli rokok.”

“Nggak bisa, Pak,” tolak Sri tegas. 

“Toh duitnya juga kurang, kan? Jangan perhitungan sama bapak, lah …,” bujuk pak Surya.

“Nggak bisa. Takut ada apa-apa, takut ibu tiba-tiba butuh beli obat. Kalau duitnya dipinjam bapak gimana nanti?” Sri masih menolak.

“Ah, kamu perhitungan banget sama bapakmu. Bapak sama ibu udah rawat kamu dari kecil, ya,” ujar pak Surya kesal sambil bertolak pinggang. “Tahu diri dikit, dong. Anak pung—”

“Bapak!!” tegur bu Sulastri keras meski harus meringis sakit, membuat Sri mengerutkan alisnya.

Sri tahu pasti bapaknya akan mengatakan anak pungut. Karena itu bukan kali pertama pria tua itu mengucapkan kata itu disaat kesal atau marah padanya.

Sri hanya terdiam. Kata ‘anak pungut’ memang hanya akan sesekali keluar dari mulut bapaknya, dan bisa jadi itu adalah kenyataan.

“Bu, apa besok aku bisa gantiin ibu kerja di rumah cucu majikan ibu?” tanya Sri. “Upahnya harian, kan? Lumayan buat tambah-tambah.”

“Gimana, ya, Sri. Ibu senang kalau kamu mau bantuin ibu. Tapi, den Sagara itu orangnya nggak gampang percaya sama orang baru,” kata bu Sulastri kebingungan.

“Orangnya kerja dari pagi sampai malam, kan?” tanya Sri. “Biasanya dia pulang jam berapa, sih?”

“Paling cepat jam tujuh malam. Tapi biasanya antara jam delapan sampai jam sepuluh,” jawab bu Sulastri. “Tapi besok, ‘kan, hari minggu, Sri.”

“Iya, juga. Orangnya pasti ada di rumah, ya?” tanya Sri bingung.

“Ya, biasanya ada. Tapi dia kalau Sabtu Minggu biasanya bangunnya siang, antara jam sepuluh sebelas. Habis itu, sekitar jam dua belas keluar rumah ketemu temannya atau main golf. Tapi nggak tentu. Dia bisa aja bangun pagi dan langsung pergi. Kalau pulangnya biasanya malam.”

“Coba aja dulu. Orang cuma mau kerja bersih-bersih doang, kok,” kata pak Surya. “Kalau ternyata orangnya ada, kamu bisa sembunyi dulu di mana, kek.”

“Iya juga, ya. Besok aku coba ke sana, deh.”

***

Esok harinya sekitar pukul sembilan, Sri mendatangi apartemen cucu majikan ibunya dengan jantung berdebar-debar. Apartemen super luxury itu, dia tahu tak bisa orang sembarangan datang begitu saja.

"Selamat pagi. Area hunian ini khusus untuk pemilik kartu akses. Ada yang bisa dibantu?" Seorang satpam dengan nada tegas namun sopan segera menghampiri Sri.

Sri tersenyum sedikit kaku, juga gugup. Dia segera mengeluarkan sebuah kartu tebal berwarna hitam abu-abu dari tasnya. Di permukaannya tertulis emboss perak: The Imperial Residence - Service & Staff Access. Kemarin malam, ibunya memberikan kartu tersebut supaya Sri bisa masuk.

"Saya bawa kartu aksesnya, Pak," ujar Sri.

Satpam itu mengerutkan alisnya sejenak. Itu kartu akses pekerja, bukan kartu penghuni utama.

"Saya ke sini buat bersih-bersih, gantiin ibu saya," lanjut Sri.

"Oh, baik. Silakan."

Sri bernapas lega saat satpam itu memberinya izin lewat. Gadis itu menempelkan kartu itu di gate lobi, mesin memindai dan lampu hijau menyala.

Di dalam lift, begitu kartu ditempelkan pada sensor di bawah layar, tombol lantai 21 otomatis menyala sendiri. Kartu itu adalah akses khusus ART yang dibuatkan oleh manajemen atas jaminan keluarga Mahardika—akses satu arah yang hanya bisa mengantar Sri ke lantai unit Sagara, tanpa izin untuk menjelajahi lantai fasilitas elit lainnya.

Tiba di dalam unit apartemen, Sri melihat sekelilingnya yang sepi.

“Mungkin orangnya lagi pergi,” gumam Sri senang dan lega.

Gadis itu segera melakukan pekerjaannya sesuai instruksi dari ibunya.

Ada beberapa larangan yang menurut Sri aneh. Misalnya dilarang masuk ke ruang kerja meskipun tempatnya berantakan sebelum ada instruksi. Wajib mengenakan sarung tangan dan penutup kepala saat bekerja. Wajib mengenakan sandal rumah. Jangan mengenakan sandal rumah ke dalam kamar mandi, gunakan sandal khusus untuk di kamar mandi, dan peraturan lainnya yang di mata Sri sangat sepele tapi wajib dilaksanakan.

Sri tak mau ambil pusing. Orang-orang kaya memang cenderung aneh. Dia segera pergi begitu pekerjaannya selesai. Tak lupa, dia mengambil upah harian yang biasanya ditinggalkan di laci bufet paling atas sebelah kiri di dekat pintu masuk.

“Lumayan bayarannya buat sehari kerja,” gumam Sri senang sambil memeriksa amplop putih berisi uang tunai dua ratus ribu rupiah. “Waktu aku kerja part time di minimarket, mana bisa dapat segini perhari.”

Gadis itu berjalan ke arah lift sambil meraba anting-antingnya. "Kalau aku jual ini, uangnya pasti cukup."

***

Tak terasa, sudah lima hari ibunya dirawat di rumah sakit karena ternyata cederanya cukup parah.

Bukan hanya fraktur di tulang ekor, tapi fraktur di tulang paha juga sehingga membuat bu Sulastri benar-benar kesulitan berjalan. Ditambah usianya yang sudah mulai tua, jadi pemulihannya lebih lambat.

Sementara itu, Sri masih tetap bekerja di apartemen Sagara dengan diam-diam di hari keempatnya meski dia harus bekerja setelah pulang sekolah.

Selama itu pula, dia belum pernah sekalipun berpapasan langsung dengan pemilik apartemen karena biasanya pekerjaannya selesai sebelum pukul enam atau tujuh malam.

Sore itu, jam masih menunjukkan waktu pukul setengah lima kurang beberapa menit. Namun pekerjaan Sri hampir semuanya beres.

“Tinggal lap kaca jendela doang satu lagi. Habis ini semuanya selesai,” ujar Sri menyemangati dirinya sendiri. Dia senang karena sepertinya dia akan pulang lebih awal kali ini. 

“Lumayan banget. Empat hari kerja dapat delapan ratus. Kalau seminggu dapat sejuta empat ratus. Semoga ibu segera pulang biar biaya rumah sakitnya nggak semakin besar,” ujarnya penuh harap sambil membersihkan kaca jendela.

Selesai membersihkan jendela, Sri membersihkan dan merapikan peralatan yang dipakainya di kamar mandi di samping dapur.

Dia menggantungkan sarung tangan karet ke tempatnya, lalu mencuci tangannya dan bersiap pulang.

Ketika dia berjalan ke arah ruang tengah tempat di mana dia meletakkan tas sekolahnya di sofa, tiba-tiba saja seseorang mendorong dan mengunci tangannya ke belakang, membuat Sri sangat terkejut dan jatuh tengkurap di sofa.

“Siapa kamu? Kenapa kamu bisa masuk ke sini?” tanya seorang pria sambil menekan kepala Sri ke sofa hingga gadis itu tak bisa berkutik.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesona Upik Abu   Bab 68

    Malam telah turun sepenuhnya. Lampu-lampu jalan dan gedung memantulkan cahaya di kaca jendela unit apartemen sederhana milik Sri.Sri tengah berada di kamarnya, mengemas beberapa pakaian ganti dan barang-barang pribadi yang mungkin akan dibutuhkannya selama berada di kota J.Di ruang tamu, aroma teh hijau memenuhi udara. Sagara berdiri di sana. Atas desakannya yang tak ingin membuang-buang waktu, dia mengantar Sri ke apartemennya untuk berkemas-kemas.Pandangan Sagara berkeliling ke seluruh penjuru ruangan, melihat-lihat isi apartemen itu yang sederhana.Rak setinggi 1,2 meter menempel di dinding, berisi deretan buku manajemen dan administrasi, korespondensi bisnis, manajemen waktu dan proyek, etiket dan protokoler, hukum dasar kantor, bisnis dan ekonomi, bahasa Inggris dan Mandarin, hingga beberapa buku pengembangan diri dan fiksi ringan. Di atas rak itu terdapat dua pot sukulen dan beberapa hiasan dan sebuah potret keluarga yang terdiri dari Sri, bu Sulastri, dan pak Surya.Sagara m

  • Pesona Upik Abu   Bab 67

    Aurora berdiri, berjalan mondar-mandir di ruangannya yang luas sembari menatap foto-foto di ponselnya. Di salah satu foto, terlihat jelas Ananta sedang terdiam seolah terlihat tertekan sembari menatap Sri yang tersenyum. Otak licik Aurora segera berputar cepat. Jika ia langsung datang melabrak Sri di restoran atau di depan Sagara, Sagara pasti akan pasang badan untuk melindungi sekretarisnya itu jika sampai pria itu tahu. Sagara pasti akan bersikap protektif pada wanita itu. "Tidak ... aku nggak boleh bodoh," gumam Aurora, dengan sebuah senyuman jahat yang dingin perlahan terukir di sudut bibirnya. "Kalau Sagara menyembunyikan data busuknya, maka aku akan menghancurkanmu lewat jalur lain." Aurora tahu betul siapa pemegang kekuasaan tertinggi yang paling dihormati Sagara, yaitu Kakek Buana Mahardika. Sang patriark keluarga Mahardika itu sangat mementingkan status sosial dan kehormatan keluarga. Ditambah lagi, ada Dikara Natawijaya yang sangat protektif terhadap kondisi mental Anant

  • Pesona Upik Abu   Bab 66

    Restoran bernuansa klasik Eropa di sudut kota itu terasa begitu tenang siang ini. Alunan musik instrumental mengalun lembut dari sudut ruangan, mencoba mencairkan atmosfer yang terasa membeku di meja nomor dua belas. Ananta Natawijaya duduk dengan punggung tegak. Sepasang matanya yang mulai dihiasi kerutan halus tidak sedetik pun beralih dari pintu masuk restoran. Genggaman tangannya pada tas jinjingnya mengerat setiap kali lonceng pintu berdenting. Ketika sesosok gadis dengan blus kerja sederhana dan rambut cokelat gelap bergelombang melangkah masuk, wajah wanita paruh baya itu seketika berbinar terang. "Sri! Di sini," panggil Ananta setengah berbisik, melambaikan tangannya dengan tidak sabar. Sri Rejeki mempercepat langkahnya. Jantungnya bertalu kencang, memukul-mukul rongga dadanya dengan ritme yang menyesakkan. Setiap langkah mendekati Ananta terasa seperti berjalan di atas paku. Di satu sisi, jiwanya meronta ingin berlari dan mendekap wanita itu sembari berteriak bahwa dia ada

  • Pesona Upik Abu   Bab 65

    Sentuhan tangan Ananta yang begitu hangat dan lembut mengirimkan gelombang emosi yang dahsyat ke dalam hati Sri. Dia ingin sekali berteriak dan memeluk wanita di depannya, mengakui bahwa dirinya adalah Aletha, putri kecil Ananta dan Dikara yang dikira telah meninggal tujuh belas tahun lalu, namun lidahnya kelu. Ananta Natawijaya masih menggenggam erat jemari gadis itu. Air mata wanita paruh baya itu mengambang di pelupuk mata, memantulkan binar kebahagiaan yang sudah bertahun-tahun meredup sejak kehilangan putri kecilnya. ​“Tante benar-benar nggak menyangka bisa bertemu kamu di sini, Sri,” bisik Ananta, suaranya parau menahan haru. “Tujuh tahun lalu ... saat kamu pergi begitu saja, Tante merasa sedikit kehilangan. Tante bahkan beberapa kali meminta suami Tante untuk melacak keberadaanmu, tapi hasilnya nihil.” ​Sri merasakan tenggorokannya menyempit. Hangatnya genggaman tangan ibu kandungnya menyalurkan rasa rindu yang luar biasa besar. Namun, akal sehatnya langsung berteriak, mengi

  • Pesona Upik Abu   Bab 64

    ​Sore mulai tenggelam, meninggalkan keheningan yang mencekam di lantai eksekutif Astera Development Holdings. Udara dingin dari pendingin ruangan seolah membeku di sekitar meja kerja Sri. Jantung gadis itu berdegup kencang, memukul-mukul dinding dadanya dengan ritme yang tak menyenangkan. ​Cengkeraman hangat namun kokoh dari jemari Sagara Mahardika di pergelangan tangan kirinya tidak kunjung mengendur. Pria berusia tiga puluh lima tahun itu berdiri begitu dekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Sri bisa mencium aroma maskulin bercampur wangi segar. Tatapan mata pria itu yang hitam legam dan dingin, seolah mampu menembus lapisan kebohongan yang selama ini dibangun Sri dengan susah payah. ​“Betul. Gelang ini pemberian tante Ananta waktu itu.” ​Sagara menundukkan kepalanya sedikit, membuat jarak wajah mereka kian dekat. “Kalau soal gelang itu, aku juga sudah tahu,” bisik Sagara, suaranya merendah. “Tapi yang paling ingin kudengar malam ini adalah alasan di balik benda yang satu i

  • Pesona Upik Abu   Bab 63

    Amarah yang membakar seketika memenuhi dadanya. Bagi Aurora, Sri Rejeki bukan lagi sekadar staf administrasi biasa, melainkan ancaman fatal yang siap meruntuhkan posisi tunangan taktis yang selama bertahun-tahun ini ia banggakan di lingkaran sosial mereka. Bisa saja Sagara menanfaatkan wanita udik itu untuk menyingkirkan posisinya. “Jelas-jelas dia meninggalkanmu. Dia pergi dengan sengaja tujuh tahun lalu. Mengapa sekarang kamu membiarkannya ada di sisimu?” Sagara tersenyum mendengar pertanyaan yang di telinganya terasa bernada munafik itu. Aurora yang melihat senyuman itu, sekilas terkesima dan terkesan, namun detik berikutnya dia menyadari satu hal yang membuat jantungnya terasa mencelus jatuh. “Bukankah kamu sendiri tahu jelas jawabannya?” Sagara menatap Aurora dengan pandangan tajam sambil sedikit memiringkan kepalanya. “Apa?” Mata Aurora membulat karena terkejut. “Jangan memasang wajah naif, Aurora. Aku tahu apa yang terjadi saat itu meski sedikit terlambat. Dan terhadap apa

  • Pesona Upik Abu   Bab 1

    Hari mulai malam saat sebuah mobil melaju di jalanan yang sepi. Langit tampak lebih gelap dari biasanya. Seorang gadis kecil dengan dress pink selutut duduk di kursi mobil di belakang seorang sopir sambil menatap sebuah gambar di bukunya. Gambar seorang ayah memakai setelan jas, seorang ibu memakai

  • Pesona Upik Abu   Bab 7

    Sri berjalan dengan langkah berat meninggalkan gedung apartemen. Jam di ponselnya sudah menunjukkan waktu pukul 19.18. “Ibu pasti nungguin aku,” gumamnya perlahan sambil menghentikan sebuah angkot yang melintas di depannya dan segera naik. Sekitar dua puluh menit kemudian, dia tiba di rumah dan l

  • Pesona Upik Abu   Bab 6

    “Sa … sakit ….” Sri meringis saat merasakan lengannya dikunci dari belakang. “Saya tanya kamu siapa?” ulang pria itu. Sri berusaha menoleh, namun wajah pria itu sulit dilihat karena pergerakannya terbatas. “Saya yang kerja di sini. Beres-beres rumah,” jawab Sri sambil meringis. “Kamu yang siapa?”

  • Pesona Upik Abu   Bab 4

    Sepanjang perjalanan di bus, Sri memikirkan banyak hal. Sesekali gadis itu akan menatap pantulan dirinya di cermin, melihat wajahnya yang kata orang-orang, dia sama sekali tidak mirip ibunya maupun bapaknya hingga kebanyakan orang-orang itu sering meledeknya anak pungut. Semakin dia beranjak remaj

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status