LOGIN“Gimana, Sri? Berapa tagihan rumah sakit ibu?” tanya pak Surya saat Sri kembali ke ruang rawat.
Sri berwajah masam. “Kurang uangnya. Kurang banyak. Aku cuma punya 176 ribu, Pak.” Sri duduk di samping ranjang pasien dengan wajah bingung. “Cari aja pinjaman ke bosmu itu,” ujar pak Surya pada Sri. “Dia orangnya baik, kan?" “Bos yang mana? Yang punya mini market itu?” tanya Sri sedikit kesal. “Bapak lupa kalau aku udah dipecat dari sana gara-gara bapak ngambil rokok gitu aja dari etalase? Masih bagus bosnya nggak laporin bapak ke polisi.” “Eh, kamu nyalahin bapak, ya?!” tanya pak Surya tak terima. “Sudah, sudah ….” Bu Sulastri menengahi dengan wajah bingung. “Ya, udah, Bu. Ibu pinjam aja ke anak majikan ibu itu,” kata pak Surya sambil menatap bu Sulastri. “Dia kaya, kan?” “Ibu nggak berani, Pak,” jawab bu Sulastri sambil menggeleng. “Anak majikan ibu orangnya lebih tegas lagi. Mungkin aja … dia nggak bakal ngasih pinjaman uang. Orangnya perhitungan dan nggak akan pinjamin ibu uang kalau dia merasa nggak diuntungkan. Bisa-bisa ibu dipecat nanti. Soalnya ibu dengar, ART lama juga dipecat gara-gara ngutang.” Pak Surya menghela napasnya. “Sri,” panggilnya. “Pinjemin bapak goban, dong.” “Hah? Buat apa?” “Pengen rokok.” “Nggak bisa, Pak,” tolak Sri tegas. “Toh duitnya juga kurang, kan? Jangan perhitungan sama bapak, lah …,” bujuk pak Surya. “Nggak bisa. Takut ada apa-apa, takut ibu tiba-tiba butuh beli obat. Kalau duitnya dipinjam bapak gimana nanti?” Sri masih menolak. “Ah, kamu perhitungan banget sama bapak. Bapak sama ibu udah rawat kamu dari kecil, ya,” ujar pak Surya kesal sambil bertolak belakang. “Tahu diri dikit, dong. Anak pung—” “Bapak!!” tegur bu Sulastri keras meski harus meringis sakit, membuat Sri mengerutkan alisnya. Sri tahu pasti bapaknya akan mengatakan anak pungut. Karena itu bukan kali pertama pria tua itu mengucapkan kata itu disaat kesal atau marah pada Sri. Sri hanya terdiam. Kata ‘anak pungut’ memang hanya akan sesekali keluar dari mulut bapaknya, dan bisa jadi itu adalah kenyataan. “Bu, apa besok aku bisa gantiin ibu kerja di rumah anak majikan ibu?” tanya Sri. “Upahnya harian, kan? Lumayan buat tambah-tambah.” “Gimana, ya, Sri. Ibu senang kalau kamu mau bantuin ibu. Tapi, anak majikan ibu itu orangnya nggak gampang percaya sama orang baru,” kata bu Sulastri kebingungan. “Orangnya kerja dari pagi sampai malam, kan?” tanya Sri. “Biasanya dia pulang jam berapa, sih?” “Paling cepat jam tujuh. Tapi biasanya jam sembilan atau sepuluh malam,” jawab bu Sulastri. “Tapi besok, ‘kan, hari minggu.” “Iya, juga. Orangnya pasti ada di rumah, ya?” tanya Sri bingung. “Ya, biasanya ada. Tapi dia kalau sabtu minggu biasanya bangunnya siang, antara jam sepuluh sebelas. Habis itu, sekitar jam dua belas keluar rumah ketemu temannya atau main golf. Tapi nggak tentu. Dia bisa aja bangun pagi dan langsung pergi. Kalau pulangnya biasanya malam.” “Coba aja dulu. Orang cuma mau kerja bersih-bersih doang, kok,” kata pak Surya. “Kalau ternyata orangnya ada, kamu bisa sembunyi dulu di mana, kek.” “Iya juga, ya. Besok aku coba ke sana, deh.” *** Esok harinya sekitar pukul sembilan, Sri mendatangi apartemen anak majikan ibunya. Meski keamanan di apartemen itu cukup ketat, entah kenapa dia bisa masuk dengan mudah tanpa pemeriksaan. Apakah petugas keamanannya masih baru? Sri tak tahu. Dia segera masuk ke unit apartemen anak majikan ibunya yang bernama Sagara itu dengan pelan-pelan berbekal pin pintu dari ibunya, takut mengganggu pemiliknya. Namun hatinya menjadi lega saat dia tak menemukan siapapun di sana. “Mungkin orangnya lagi pergi,” gumam Sri senang. Gadis itu segera melakukan pekerjaannya sesuai instruksi dari ibunya. Ada beberapa larangan yang menurut Sri aneh. Misalnya dilarang masuk ke ruang kerja meskipun tempatnya berantakan sebelum ada instruksi. Wajib mengenakan sarung tangan dan penutup kepala saat bekerja. Wajib mengenakan sandal rumah. Jangan mengenakan sandal rumah ke dalam kamar mandi, gunakan sandal khusus untuk di kamar mandi, dan peraturan lainnya yang di mata Sri sangat sepele tapi wajib dilaksanakan. Sri tak mau ambil pusing. Orang-orang kaya memang cenderung aneh. Dia segera pergi begitu pekerjaannya selesai. Tak lupa, dia mengambil upah harian yang biasanya ditinggalkan di laci bufet paling atas sebelah kiri di dekat pintu masuk. “Lumayan bayarannya buat sehari kerja,” gumam Sri senang sambil memeriksa amplop putih berisi uang tunai dua ratus ribu rupiah. “Waktu aku kerja part time di minimarket, mana bisa dapat segini perhari.” Gadis itu berjalan ke arah lift sambil meraba anting-antingnya. Kalau ditambah dengan uang penjualan anting-antingnya, uangnya pasti cukup. *** Tak terasa, sudah lima hari ibunya dirawat di rumah sakit karena ternyata cederanya cukup parah. Bukan hanya fraktur di tulang ekor, tapi fraktur di tulang paha juga sehingga membuat bu Sulastri benar-benar kesulitan berjalan. Ditambah usianya yang sudah cukup tua, jadi pemulihannya lebih lambat. Sementara itu, Sri masih tetap bekerja di apartemen Sagara dengan aman di hari keempatnya meski dia harus bekerja setelah pulang sekolah. Selama itu pula, dia belum pernah sekalipun berpapasan langsung dengan pemilik apartemen karena biasanya pekerjaannya selesai sebelum pukul enam atau tujuh. Sore itu, jam masih menunjukkan waktu pukul setengah lima kurang beberapa menit. Namun pekerjaan Sri hampir semuanya beres. “Tinggal lap kaca jendela doang satu lagi. Habis ini semuanya udah beres,” ujar Sri menyemangati dirinya sendiri. Dia senang karena sepertinya dia akan pulang lebih awal kali ini. “Lumayan banget. Empat hari kerja dapat delapan ratus. Kalau seminggu dapat sejuta empat ratus. Semoga ibu segera pulang biar biaya rumah sakitnya nggak semakin besar,” ujarnya penuh harap sambil membersihkan kaca jendela. Selesai membersihkan jendela, Sri membersihkan dan merapikan peralatan yang dipakainya di kamar mandi kecil di samping dapur. Dia menggantungkan sarung tangan karet ke tempatnya, lalu mencuci tangannya dan bersiap pulang. Ketika dia berjalan ke arah ruang tengah tempat di mana dia meletakkan tas sekolahnya di sofa, tiba-tiba saja seseorang mendorong dan mengunci tubuhnya dari belakang, membuat Sri sangat terkejut dan jatuh tengkurap di sofa. “Siapa kamu? Kenapa kamu bisa masuk ke sini?” tanya seorang pria sambil menekan Sri hingga gadis itu tak bisa berkutik.“Sa … sakit ….” Sri meringis saat merasakan lengannya dikunci dari belakang.“Saya tanya kamu siapa?” ulang pria itu.Sri berusaha menoleh, namun wajah pria itu sulit dilihat karena pergerakannya terbatas.“Saya yang kerja di sini. Beres-beres rumah,” jawab Sri sambil meringis. “Kamu yang siapa?”Bukannya menjawab pertanyaan Sri, pria itu justru mengikat tangan gadis itu ke belakang tubuhnya menggunakan dasinya.“Hei, hei. Kamu ngapain?” tanya Sri panik. “Lepasin! Kamu penyusup, ya?”“Kamu yang penyusup,” ujar pria itu sambil menjatuhkan Sri di karpet, sementara dia sendiri duduk di sofa di samping tas sekolah sambil menatap Sri tajam.Sri meringis karena lengannya sakit akibat benturan. Gadis itu segera bangun dan duduk berlutut sambil menoleh ke arah pria itu dengan tangan terikat di belakang. Rambutnya yang dikepang satu terlihat sedikit berantakan.“Kamu—”Kalimat Sri terhenti saat melihat wajah pria itu. Wajahnya mirip yang ada di foto di belakangnya.“Kamu yang punya rumah?” tan
“Gimana, Sri? Berapa tagihan rumah sakit ibu?” tanya pak Surya saat Sri kembali ke ruang rawat.Sri berwajah masam. “Kurang uangnya. Kurang banyak. Aku cuma punya 176 ribu, Pak.”Sri duduk di samping ranjang pasien dengan wajah bingung.“Cari aja pinjaman ke bosmu itu,” ujar pak Surya pada Sri. “Dia orangnya baik, kan?"“Bos yang mana? Yang punya mini market itu?” tanya Sri sedikit kesal. “Bapak lupa kalau aku udah dipecat dari sana gara-gara bapak ngambil rokok gitu aja dari etalase? Masih bagus bosnya nggak laporin bapak ke polisi.”“Eh, kamu nyalahin bapak, ya?!” tanya pak Surya tak terima.“Sudah, sudah ….” Bu Sulastri menengahi dengan wajah bingung.“Ya, udah, Bu. Ibu pinjam aja ke anak majikan ibu itu,” kata pak Surya sambil menatap bu Sulastri. “Dia kaya, kan?”“Ibu nggak berani, Pak,” jawab bu Sulastri sambil menggeleng. “Anak majikan ibu orangnya lebih tegas lagi. Mungkin aja … dia nggak bakal ngasih pinjaman uang. Orangnya perhitungan dan nggak akan pinjamin ibu uang kalau d
Sepanjang perjalanan di bus, Sri memikirkan banyak hal. Sesekali gadis itu akan menatap pantulan dirinya di cermin, melihat wajahnya yang orang-orang bilang bahwa dia sama sekali tidak mirip ibunya maupun bapaknya hingga kebanyakan orang-orang itu sering meledeknya anak pungut.Semakin dia beranjak remaja, dia memang semakin meragukan bahwa dia anak ibunya. Tapi saat mengetahui kenyataan bahwa ada Sri Rejeki lain yang telah meninggal sepuluh tahun lalu, justru malah meruntuhkan hatinya.Apakah dia hanya anak pengganti? Anak yang diberikan identitas sesuai dengan nama anak bu Sulastri yang sudah meninggal? Siapakah dia sebenarnya? Di mana keluarganya? Mengapa bu Sulastri dan pak Surya menamainya Sri Rejeki juga?Semakin Sri berpikir, semakin banyak pertanyaan yang memenuhi benaknya dan membuatnya semakin lelah, juga semakin membuatnya kehilangan jati diri. Satu-satunya cara, dia harus mendapatkan jawaban dari mulut ibunya sendiri.***Hari sudah sore ketika Sri sampai di depan rumah ya
“Neng.”Tepukan ringan dan lembut di bahu Sri menyadarkan gadis itu. Sri menoleh pada bapak tua penyapu makam yang menatapnya.“Neng kenapa? Lagi apa di sini?” tanya bapak tua itu.“Saya ….” Sejenak Sri kebingungan. Dia tak tahu harus mengatakan apa saking terkejutnya.“Neng kenal sama anak yang udah meninggal ini?” tanya bapak tua itu sambil berjongkok di sisi Sri. “Tadi orang tuanya ke sini.”“Orang tua?” Sri semakin syok dan bingung.“Iya. Kasihan mereka. Anak satu-satunya meninggal sepuluh tahun lalu karena jatuh terpeleset dari tangga. Katanya sih, ada pendarahan di otaknya,” ujar bapak tua itu.“Apa … apa mereka selalu ke sini setiap tahun?” tanya Sri sambil mengendalikan gemetar di tubuhnya.“Iya. Setiap tahun. Hari ini tanggal 22, kan? Mereka selalu ke sini pas hari peringatan kematian putri mereka,” jawab bapak tua itu. “Apa Neng kenal sama orang tuanya?”“Kenal, Pak,” jawab Sri mengangguk. “Tapi saya nggak tahu kalau … kalau anak mereka udah meninggal. Apa bapak kenal sama o
Hampir dua jam lamanya menaiki bus AC, kedua orang tua Sri turun di persimpangan di sebuah kabupaten, membuat Sri bingung bagaimana harus mengikuti keduanya. Jika dia ikut turun saat itu juga dan terlihat oleh kedua orang tuanya, bapaknya pasti akan marah besar. “Pak, turunin saya agak depan, ya,” pinta Sri pada sopir sambil mendekat saat bus kembali melaju. “Agak depan di mana?” tanya sopir itu. “Di sana aja,” tunjuk Sri pada sederet ruko yang bersebelahan dengan bank. “Lho, kenapa nggak turun sekalian sama dua orang tadi?” tanya sopir heran dan hampir marah, karena saat itu jalanan cukup ramai. “Ini dekat, lho, jaraknya.” “Maaf, Pak. Saya baru ke sini lagi, jadi lupa. Hampir aja nyasar,” jawab Sri asal, membuat sopir itu sedikit merasa kasihan. “Neng emangnya mau ke mana?” tanya sopir itu sambil menghentikan bus karena mereka telah sampai di ruko yang ditunjuk Sri. “Saya mau nyari bapak saya, Pak. Yang udah ninggalin saya sejak kecil. Kalau nggak salah, dulu rumahnya
Hari mulai malam saat sebuah mobil melaju di jalanan yang sepi. Langit tampak lebih gelap dari biasanya. Seorang gadis kecil dengan dress pink selutut duduk di kursi mobil di belakang seorang sopir sambil menatap sebuah gambar di bukunya. Gambar seorang ayah memakai setelan jas, seorang ibu memakai dress putih dengan sebuket bunga di tangan, dan seorang gadis kecil memakai dress pink dengan latar belakang rumput hijau dan langit biru. Alunan musik Für Elise mengalun lembut dari kotak musiknya. Boneka balerina di atasnya berputar seolah tengah menari. Keheningan itu ternoda oleh benturan keras dari samping, yang membuat laju mobil itu goyah lalu kehilangan kendali dan hanya sekian detik .... "Hah!" Seorang gadis remaja usia delapan belas terbangun dari mimpi buruknya. Dahinya penuh keringat, tubuhnya gemetar, dan napasnya tak stabil. “Mimpi itu lagi ….” gumamnya perlahan sambil menyeka keringatnya dan menenangkan diri. Sudah hampir empat bulan, dia mendapatkan potongan in







