Share

Bab 3

Author: Clau Sheera
last update publish date: 2026-03-23 17:12:17

“Neng.”

Tepukan ringan dan lembut di bahu Sri menyadarkan gadis itu. Sri menoleh pada bapak tua penyapu makam yang menatapnya.

“Neng kenapa? Lagi apa di sini?” tanya bapak tua itu.

“Sa-saya ….” Sejenak Sri kebingungan. Dia tak tahu harus mengatakan apa saking terkejutnya.

“Neng kenal sama anak yang udah meninggal ini?” tanya bapak tua itu sambil berjongkok di sisi Sri. “Tadi orang tuanya ke sini.”

“Orang tua?” Sri semakin syok dan bingung.

“Iya. Kasihan mereka. Anak satu-satunya meninggal sepuluh tahun lalu karena jatuh terpeleset dari tangga. Katanya sih, ada pendarahan di otaknya,” ujar bapak tua itu.

“Apa … apa mereka selalu ke sini setiap tahun?” tanya Sri sambil mengendalikan gemetar di tubuhnya.

“Iya. Setiap tahun. Hari ini tanggal 22, kan? Mereka selalu ke sini pas hari peringatan kematian putri mereka,” jawab bapak tua itu. “Apa Neng kenal sama orang tuanya?”

“Kenal, Pak,” jawab Sri mengangguk. “Tapi saya nggak tahu kalau … kalau anak mereka udah meninggal. Apa bapak kenal sama orang tuanya? Sama dua orang yang tadi ke sini?”

“Kenal. Dulu bapak sama pak Surya dan istrinya bertetanggaan sebelum mereka pindah ke luar kota. Bagaimana Neng bisa kenal mereka?”

“Oh, saya … saya ….” Sri kebingungan bagaimana harus menjelaskan. “Saya anak … anak temannya bu Sulastri.”

“Oh? Anak temannya bu Sulastri? Tapi kenapa Neng bisa ke sini? Kenapa tadi nggak langsung ketemu bu Sulastrinya aja?” tanya bapak tua itu kebingungan.

Sri menarik napasnya, memaksakan diri untuk tenang.

“Ibu saya bilang, beberapa hari terakhir bu Sulastri tampak … sedih. Tapi beliau nggak mau cerita. Pas saya ikutin karena khawatir, tahunya malah sampai sini,” jawab Sri yang kembali mengarang kebohongan yang entah masuk akal atau tidak, Sri tak peduli.

“Oh … kalian bertetangga, ya?” tebak pria tua itu, yang diangguki Sri.

“Jadi, pak Surya dan bu Sulastri cuma punya anak satu, ya?” Sri kembali mencari kepastian.

“Iya. Tapi dengar-dengar, katanya mereka mengangkat anak perempuan. Tapi ya, nggak tahu juga soalnya kabar itu cuma selewat aja. Belum tentu benar,” jawab bapak tua itu. “Kalau kalian bertetangga, kamu pasti lebih tahu.”

“Kami tetangga jauh, Pak. Jadi saya kurang tahu. Tapi ibu saya dan bu Sulastri teman dekat karena sama-sama jadi ART.”

“Oh …. Itu artinya keluarga bu Sulastri punya teman yang baik sampai ngirim anaknya buat nyari tahu keadaannya. Syukurlah ….”

Sri tersenyum kaku. “Pak, ini anak bu Sulastri meninggal sepuluh tahun lalu. Itu artinya pas dia usia 8 tahun, kan? Apa Bapak tahu dia sekolah di mana dulunya?” tanya Sri.

“Kalau itu … bapak nggak tahu. Tapi pernah masuk TK bareng cucu bapak. Kenapa emangnya?” Bapak tua itu balik bertanya.

“Nggak apa-apa, Pak. Saya pengen lihat wajah anaknya kayak gimana,” jawab Sri jujur.

“Ya, udah, ikut bapak aja ke rumah. Di rumah, ada foto kenang-kenangan pas TK. Malahan, kepala sekolah TK-nya tetangga bapak. Mau ikut?”

“Emangnya boleh, Pak?”

“Ya, boleh.”

“Tapi kerjaan Bapak gimana?” tanya Sri sambil melihat sekelilingnya yang masih banyak daun-daun kering.

“Ya biarin aja. Besok aja lagi juga bisa,” jawab bapak tua itu santai.

Sri ikut berjalan ke rumah bapak tua itu sekitar sepuluh menit. Saat sebelum masuk pekarangan rumah bapak tua, Sri dikenalkan dengan tetangganya yang seorang ibu-ibu paruh baya yang terlihat kharismatik, yang katanya kepala sekolah TK sejak 12 tahun lalu dan kebetulan tengah menyirami tanaman di depan rumahnya.

Bahkan rumah kontrakan yang dulu ditinggali pak Surya dan bu Sulastri juga ditunjuk. Rumah kontrakan itu ada enam kamar. Tiga kamar di lantai bawah, tiga kamar di lantai atas. Dulu, pak Surya menempati kamar di lantai atas. Itulah mengapa anaknya bisa jatuh terpeleset di tangga.

Sri menyapa dengan sopan ibu kepala sekolah TK. Meski tubuhnya masih gemetar, meski dia masih sedikit syok, ada banyak teka-teki yang harus diungkapnya sekarang. Jadi dia harus menguatkan diri menghadapi segala kemungkinan pahit.

Obrolan dengan bapak tua itu berlangsung di depan teras rumah bu Mila, kepala sekolah TK itu karena bu Mila pun ikut mengobrol dengan Sri.

Sri melihat foto wajah Sri Rejeki anak pak Surya yang sudah meninggal itu dengan jelas dari foto bersama acara wisuda TK. Wajahnya campuran antara wajah bu Sulastri dan pak Surya, membuat hatinya terasa teriris.

Bahkan Sri juga diizinkan melihat biodata dan informasi lain tentang Sri Rejeki dan keluarganya. Kebetulan bu Mila punya salinannya dan mau dibuang karena sudah lama.

“Apa mungkin, anak angkatnya bu Sulastri di kasih nama Sri juga?” tanya Sri sambil menatap foto wisuda itu.

“Nggak mungkin, lah,” jawab bu Mila sambil tertawa. “Kata bu Sulastri, mereka nggak mengangkat anak. Mereka hanya tinggal berdua aja sekarang.”

“Ibu tahu dari mana?” tanya bapak tua itu.

“Dari bu Sulastri sendiri. Saya pernah ketemu bu Sulastri sekitar … empat atau lima tahun lalu. Katanya dia mau ke makam anaknya. Nggak sengaja ketemu di jalan,” jawab bu Mila enteng, namun membuat hati Sri semakin berat.

Kalau empat atau lima tahun lalu, saat itu Sri masih SMP. Berarti keberadaannya disembunyikan dari mantan tetangganya di sini.

Tak terasa, Sri berada di sana hampir satu jam lamanya. Dia berpamitan setelah mendapatkan cukup banyak informasi dan memotret foto Sri Rejeki yang asli menggunakan ponselnya.

Entah bagaimana dia akan menghadapi ibu dan bapaknya nanti.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesona Upik Abu   Bab 68

    Malam telah turun sepenuhnya. Lampu-lampu jalan dan gedung memantulkan cahaya di kaca jendela unit apartemen sederhana milik Sri.Sri tengah berada di kamarnya, mengemas beberapa pakaian ganti dan barang-barang pribadi yang mungkin akan dibutuhkannya selama berada di kota J.Di ruang tamu, aroma teh hijau memenuhi udara. Sagara berdiri di sana. Atas desakannya yang tak ingin membuang-buang waktu, dia mengantar Sri ke apartemennya untuk berkemas-kemas.Pandangan Sagara berkeliling ke seluruh penjuru ruangan, melihat-lihat isi apartemen itu yang sederhana.Rak setinggi 1,2 meter menempel di dinding, berisi deretan buku manajemen dan administrasi, korespondensi bisnis, manajemen waktu dan proyek, etiket dan protokoler, hukum dasar kantor, bisnis dan ekonomi, bahasa Inggris dan Mandarin, hingga beberapa buku pengembangan diri dan fiksi ringan. Di atas rak itu terdapat dua pot sukulen dan beberapa hiasan dan sebuah potret keluarga yang terdiri dari Sri, bu Sulastri, dan pak Surya.Sagara m

  • Pesona Upik Abu   Bab 67

    Aurora berdiri, berjalan mondar-mandir di ruangannya yang luas sembari menatap foto-foto di ponselnya. Di salah satu foto, terlihat jelas Ananta sedang terdiam seolah terlihat tertekan sembari menatap Sri yang tersenyum. Otak licik Aurora segera berputar cepat. Jika ia langsung datang melabrak Sri di restoran atau di depan Sagara, Sagara pasti akan pasang badan untuk melindungi sekretarisnya itu jika sampai pria itu tahu. Sagara pasti akan bersikap protektif pada wanita itu. "Tidak ... aku nggak boleh bodoh," gumam Aurora, dengan sebuah senyuman jahat yang dingin perlahan terukir di sudut bibirnya. "Kalau Sagara menyembunyikan data busuknya, maka aku akan menghancurkanmu lewat jalur lain." Aurora tahu betul siapa pemegang kekuasaan tertinggi yang paling dihormati Sagara, yaitu Kakek Buana Mahardika. Sang patriark keluarga Mahardika itu sangat mementingkan status sosial dan kehormatan keluarga. Ditambah lagi, ada Dikara Natawijaya yang sangat protektif terhadap kondisi mental Anant

  • Pesona Upik Abu   Bab 66

    Restoran bernuansa klasik Eropa di sudut kota itu terasa begitu tenang siang ini. Alunan musik instrumental mengalun lembut dari sudut ruangan, mencoba mencairkan atmosfer yang terasa membeku di meja nomor dua belas. Ananta Natawijaya duduk dengan punggung tegak. Sepasang matanya yang mulai dihiasi kerutan halus tidak sedetik pun beralih dari pintu masuk restoran. Genggaman tangannya pada tas jinjingnya mengerat setiap kali lonceng pintu berdenting. Ketika sesosok gadis dengan blus kerja sederhana dan rambut cokelat gelap bergelombang melangkah masuk, wajah wanita paruh baya itu seketika berbinar terang. "Sri! Di sini," panggil Ananta setengah berbisik, melambaikan tangannya dengan tidak sabar. Sri Rejeki mempercepat langkahnya. Jantungnya bertalu kencang, memukul-mukul rongga dadanya dengan ritme yang menyesakkan. Setiap langkah mendekati Ananta terasa seperti berjalan di atas paku. Di satu sisi, jiwanya meronta ingin berlari dan mendekap wanita itu sembari berteriak bahwa dia ada

  • Pesona Upik Abu   Bab 65

    Sentuhan tangan Ananta yang begitu hangat dan lembut mengirimkan gelombang emosi yang dahsyat ke dalam hati Sri. Dia ingin sekali berteriak dan memeluk wanita di depannya, mengakui bahwa dirinya adalah Aletha, putri kecil Ananta dan Dikara yang dikira telah meninggal tujuh belas tahun lalu, namun lidahnya kelu. Ananta Natawijaya masih menggenggam erat jemari gadis itu. Air mata wanita paruh baya itu mengambang di pelupuk mata, memantulkan binar kebahagiaan yang sudah bertahun-tahun meredup sejak kehilangan putri kecilnya. ​“Tante benar-benar nggak menyangka bisa bertemu kamu di sini, Sri,” bisik Ananta, suaranya parau menahan haru. “Tujuh tahun lalu ... saat kamu pergi begitu saja, Tante merasa sedikit kehilangan. Tante bahkan beberapa kali meminta suami Tante untuk melacak keberadaanmu, tapi hasilnya nihil.” ​Sri merasakan tenggorokannya menyempit. Hangatnya genggaman tangan ibu kandungnya menyalurkan rasa rindu yang luar biasa besar. Namun, akal sehatnya langsung berteriak, mengi

  • Pesona Upik Abu   Bab 64

    ​Sore mulai tenggelam, meninggalkan keheningan yang mencekam di lantai eksekutif Astera Development Holdings. Udara dingin dari pendingin ruangan seolah membeku di sekitar meja kerja Sri. Jantung gadis itu berdegup kencang, memukul-mukul dinding dadanya dengan ritme yang tak menyenangkan. ​Cengkeraman hangat namun kokoh dari jemari Sagara Mahardika di pergelangan tangan kirinya tidak kunjung mengendur. Pria berusia tiga puluh lima tahun itu berdiri begitu dekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Sri bisa mencium aroma maskulin bercampur wangi segar. Tatapan mata pria itu yang hitam legam dan dingin, seolah mampu menembus lapisan kebohongan yang selama ini dibangun Sri dengan susah payah. ​“Betul. Gelang ini pemberian tante Ananta waktu itu.” ​Sagara menundukkan kepalanya sedikit, membuat jarak wajah mereka kian dekat. “Kalau soal gelang itu, aku juga sudah tahu,” bisik Sagara, suaranya merendah. “Tapi yang paling ingin kudengar malam ini adalah alasan di balik benda yang satu i

  • Pesona Upik Abu   Bab 63

    Amarah yang membakar seketika memenuhi dadanya. Bagi Aurora, Sri Rejeki bukan lagi sekadar staf administrasi biasa, melainkan ancaman fatal yang siap meruntuhkan posisi tunangan taktis yang selama bertahun-tahun ini ia banggakan di lingkaran sosial mereka. Bisa saja Sagara menanfaatkan wanita udik itu untuk menyingkirkan posisinya. “Jelas-jelas dia meninggalkanmu. Dia pergi dengan sengaja tujuh tahun lalu. Mengapa sekarang kamu membiarkannya ada di sisimu?” Sagara tersenyum mendengar pertanyaan yang di telinganya terasa bernada munafik itu. Aurora yang melihat senyuman itu, sekilas terkesima dan terkesan, namun detik berikutnya dia menyadari satu hal yang membuat jantungnya terasa mencelus jatuh. “Bukankah kamu sendiri tahu jelas jawabannya?” Sagara menatap Aurora dengan pandangan tajam sambil sedikit memiringkan kepalanya. “Apa?” Mata Aurora membulat karena terkejut. “Jangan memasang wajah naif, Aurora. Aku tahu apa yang terjadi saat itu meski sedikit terlambat. Dan terhadap apa

  • Pesona Upik Abu   Bab 7

    Sri berjalan dengan langkah berat meninggalkan gedung apartemen. Jam di ponselnya sudah menunjukkan waktu pukul 19.18. “Ibu pasti nungguin aku,” gumamnya perlahan sambil menghentikan sebuah angkot yang melintas di depannya dan segera naik. Sekitar dua puluh menit kemudian, dia tiba di rumah dan l

  • Pesona Upik Abu   Bab 6

    “Sa … sakit ….” Sri meringis saat merasakan lengannya dikunci dari belakang. “Saya tanya kamu siapa?” ulang pria itu. Sri berusaha menoleh, namun wajah pria itu sulit dilihat karena pergerakannya terbatas. “Saya yang kerja di sini. Beres-beres rumah,” jawab Sri sambil meringis. “Kamu yang siapa?”

  • Pesona Upik Abu   Bab 5

    “Gimana, Sri? Berapa tagihan rumah sakit ibu?” tanya pak Surya saat Sri kembali ke ruang rawat. Sri berwajah masam. “Kurang uangnya. Kurang banyak. Aku cuma punya 176 ribu, Pak.” Sri duduk di samping ranjang pasien dengan wajah bingung. “Cari aja pinjaman ke bosmu itu,” ujar pak Surya pada Sri. “

  • Pesona Upik Abu   Bab 4

    Sepanjang perjalanan di bus, Sri memikirkan banyak hal. Sesekali gadis itu akan menatap pantulan dirinya di cermin, melihat wajahnya yang kata orang-orang, dia sama sekali tidak mirip ibunya maupun bapaknya hingga kebanyakan orang-orang itu sering meledeknya anak pungut. Semakin dia beranjak remaj

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status