Masuk“Sa … sakit ….” Sri meringis saat merasakan lengannya dikunci dari belakang.
“Saya tanya kamu siapa?” ulang pria itu. Sri berusaha menoleh, namun wajah pria itu sulit dilihat karena pergerakannya terbatas. “Saya yang kerja di sini. Beres-beres rumah,” jawab Sri sambil meringis. “Kamu yang siapa?” Bukannya menjawab pertanyaan Sri, pria itu justru mengikat tangan gadis itu ke belakang tubuhnya menggunakan dasinya. “Hei, hei. Kamu ngapain?” tanya Sri panik sambil mencoba menoleh. “Lepasin! Kamu penyusup, ya?” “Kamu yang penyusup,” ujar pria itu sambil menjatuhkan Sri di karpet, sementara dia sendiri duduk di sofa di samping tas sekolah Sri sambil menatap gadis itu tajam. Sri meringis karena siku tangannya sakit akibat benturan. Gadis itu segera bangun dan duduk berlutut sambil menoleh ke arah pria itu dengan tangan terikat di belakang. Rambutnya yang dikepang satu terlihat sedikit berantakan. “Kamu—” Kalimat Sri terhenti saat melihat wajah pria itu. Wajahnya mirip yang ada di foto di belakangnya. “Kamu yang punya rumah?” tanya Sri setengah tak percaya. “Eh, apartemen?” ralatnya. “Ya,” jawab pria itu sambil menyilangkan kakinya di depan Sri sambil menilai penampilan gadis itu yang mengenakan seragam salah satu sekolah elit. “Jawab jujur. Kamu ngapain di sini? Apa yang kamu curi?” “Eh? Saya bukan pencuri. Saya anaknya bu Sulastri. Saya ke sini buat gantiin ibu kerja karena ibu masuk rumah sakit sejak lima hari lalu,” jawab Sri dengan cepat, berharap pria itu tak akan salah paham. "Saya butuh uang buat bayar biaya rumah sakitnya ibu." “Anak bu Sulastri?” Pria yang masih mengenakan setelan kerja warna hitam itu mengerutkan alisnya sambil menyentuh dagu Sri menggunakan ujung sepatunya dan menatapnya dengan seksama. “Kamu pembohong. Kamu nggak mirip sama bu Sulastri. Lagipula, mana bisa anak pembantu sekolah di Tunas Bangsa?" "Saya bisa sekolah di Tunas Bangsa karena dapat beasiswa dari pak Buana Mahardika, Om," jawab Sri yang tak berani bergerak saat ujung sepatu itu masih menyentuh dagunya. “Om, kamu bilang?” Wajah Sagara terlihat tak senang. “Apa kamu pikir saya menikah sama tante kamu?” “Kalau gitu … Pak?” tanya Sri ragu. “Saya bukan bapak kamu!” “Kakak?” “Jangan panggil saya kakak. Kamu bukan adik saya,” ketus Sagara. Sri menarik napasnya. “Kalau gitu … Tuan? Tuan muda?” “Bagus. Itu artinya kamu tahu diri,” ujar Sagara enteng sambil menurunkan ujung sepatunya dari dagu Sri, membuat Sri harus menahan kesal dan marah. "Kamu bilang, kamu sekolah di sana karena kakek saya?" “Iya, Tuan. Kalau Tuan nggak percaya, Tuan bisa cek kartu identitas sekolah saya di dompet. Di sana ada nomor induk siswa. Dompetnya ada di tas,” kata Sri meyakinkan sambil masih berlutut. “Tuan juga bisa ngecek gimana saya bisa masuk ke Tunas Bangsa.” Sagara menoleh ke samping ke arah tas Sri. Tangannya terulur mengeluarkan isi tas Sri hingga berantakan. Tak ada yang lain selain perlengkapan sekolah dan alat tulis serta sebuah dompet. Pria itu membuka dompet lipat Sri dan menemukan kartu identitas siswa milik gadis itu sambil mengangguk-angguk. “Apa buktinya kalau kamu anaknya bu Sulastri?” tanya pria itu masih belum percaya sambil meletakkan dompet gadis itu di meja. “Ada foto saya sama ibu di HP. Terus ada P*F kartu keluarga juga. Ada nama saya di sana. Di data sekolah juga ada identitas saya dan orang tua saya." Sagara menatap Sri dengan pandangan yang sulit diartikan, kemudian pria itu mengeluarkan ponselnya dan mengetik sesuatu. Tak lama kemudian dia mengangguk-angguk kecil. "Udah dicek, Tuan?" tanya Sri penuh harap. "Sudah." Sri menggerakkan tangannya yang diikat. “Kalau gitu, tolong lepasin tangan saya, Tuan.” Sagara menggerakkan ujung jarinya, meminta Sri mendekat. Sri berjalan menggunakan lututnya, lalu membalikkan tubuhnya setengah putaran. Sagara segera melepas ikatan tangan Sri. “Telepon ibu kamu. Dia udah lancang nyuruh kamu ke sini buat gantiin dia kerja tanpa izin,” kata Sagara dengan nada memerintah, membuat Sri segera merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan ponsel. ‘Benar kata ibu. Orangnya nggak gampang percayaan,’ gumam Sri dalam hati. Sri segera menghubungi ibunya melalui panggilan video. Hanya itu satu-satunya cara agar cucu majikan ibunya percaya. Tak lama kemudian, panggilan telepon tersambung. “Kenapa, Sri? Gimana kerjaan kamu? Apa ada yang mau ditanyain?” tanya bu Sulastri di seberang sana. “Gini, Bu. Tuan muda mau ngomong sama Ibu,” kata Sri sambil memperlihatkan wajah Sagara pada ibunya. Bu Sulastri membeku sejenak. “Tu-Tuan? Saya … saya minta maaf karena nggak bisa masuk kerja, Tuan. Saya habis kecelakaan. Saya juga minta maaf karena … meminta anak saya buat gantiin saya. Kalau saya udah baikan, saya akan kembali bekerja, Tuan.” Sagara menarik napasnya sambil melipat tangan di dada, membiarkan Sri memegang ponselnya sendiri. “Ibu sakit apa?” “Saya mengalami fraktur di tulang ekor dan tulang paha, Tuan, karena kesenggol motor beberapa hari lalu,” jawab bu Sulastri. “Jadi, udah berapa lama kamu kerja di sini?” tanya Sagara pada Sri. “Sama hari ini … udah empat hari, Bang, eh, Tuan.” Sagara segera berdiri memeriksa setiap sudut ruangan, setiap permukaan bufet, meja dan kaca, apakah ada debu atau tidak, sementara Sri mengikuti dari belakang. “Bu, udah dulu,” bisik Sri. Gadis itu menutup panggilan teleponnya setelah melihat anggukan dari ibunya. Berjalan ke arah kamar, Sagara memeriksa pakaiannya di walking closet, seprainya, perabot dalam kamar hingga kamar mandi, sementara Sri menunggu di ambang pintu Selesai memeriksa kamar tidur, pria itu memeriksa gelas-gelas dan piring-piringnya. Semua tertata sebagaimana mestinya. “Apa kamu masuk ke ruang kerja saya?” tanya pria itu. Sri segera menggeleng. “Nggak, Tuan. Ibu udah ngasih tahu rules di rumah ini.” “Jangan bohong. Ada CCTV di sini.” “Kalau gitu, silakan Tuan cek aja CCTV-nya,” jawab Sri. Sagara kembali duduk di sofa yang lebih kecil sambil memeriksa rekaman CCTV dari tab yang diambilnya dari bawah meja, sementara Sri membereskan isi tasnya yang berantakan sambil menggerutu dalam hati. Sri menunggu sambil berdiri menggendong tasnya. Hampir lima belas menit, pria itu baru selesai mengecek CCTV-nya dan memang Sri sama sekali tak masuk ke ruang kerja selangkah pun. “Karena kamu masih di sini dan saya udah pulang, bersihkan ruang kerja saya. Lantai, meja, dan rak buku. Tapi jangan sentuh kertas apa pun di atas meja," perintah Sagara dengan nada dingin. Matanya yang tajam menembus manik mata Sri seolah sedang membaca pikirannya. Sri segera kembali mengambil peralatan yang diperlukannya. Begitu pintu ruang kerja ditutup dari luar, gadis itu menahan napas sejenak. Ruangan itu luas, didominasi warna kayu gelap dan aroma kopi bercampur aroma pengharum ruangan. Saat Sri mulai menyeka meja kerja Sagara dengan kain lap, matanya menangkap sesuatu yang janggal. Di atas tumpukan berkas saham yang terbuka, tergeletak tiga lembar uang seratus ribu rupiah yang diletakkan begitu saja secara acak, seolah terjatuh. Di sudut lain rak buku, ada sebuah jam tangan Rolex emas yang diletakkan tanpa kotak. Sri menelan ludah. Dia bukan gadis bodoh. Sagara Mahardika adalah pria yang sangat teratur. Tidak mungkin orang sepertinya meninggalkan uang ratusan ribu dan jam tangan mewah berserakan begitu saja di depan orang asing yang mencurigakan. 'Ini jebakan,' batin Sri. Sri tahu pria itu sedang mengujinya. Mungkin uang dan jam tangan itu baru diletakkan di sana saat dia pergi mengambil peralatan bersih-bersih. Sri mengelap sekeliling uang dan jam tangan itu tanpa menggeser posisinya sedikit pun. Sri bahkan sengaja menjaga tangannya tetap terlihat jelas oleh kamera CCTV kecil yang berkedip samar di sudut plafon ruangan, tahu bahwa di ruang sebelah, Sagara mungkin sedang mengawasi setiap gerak-geriknya dengan senyum sinis.Malam telah turun sepenuhnya. Lampu-lampu jalan dan gedung memantulkan cahaya di kaca jendela unit apartemen sederhana milik Sri.Sri tengah berada di kamarnya, mengemas beberapa pakaian ganti dan barang-barang pribadi yang mungkin akan dibutuhkannya selama berada di kota J.Di ruang tamu, aroma teh hijau memenuhi udara. Sagara berdiri di sana. Atas desakannya yang tak ingin membuang-buang waktu, dia mengantar Sri ke apartemennya untuk berkemas-kemas.Pandangan Sagara berkeliling ke seluruh penjuru ruangan, melihat-lihat isi apartemen itu yang sederhana.Rak setinggi 1,2 meter menempel di dinding, berisi deretan buku manajemen dan administrasi, korespondensi bisnis, manajemen waktu dan proyek, etiket dan protokoler, hukum dasar kantor, bisnis dan ekonomi, bahasa Inggris dan Mandarin, hingga beberapa buku pengembangan diri dan fiksi ringan. Di atas rak itu terdapat dua pot sukulen dan beberapa hiasan dan sebuah potret keluarga yang terdiri dari Sri, bu Sulastri, dan pak Surya.Sagara m
Aurora berdiri, berjalan mondar-mandir di ruangannya yang luas sembari menatap foto-foto di ponselnya. Di salah satu foto, terlihat jelas Ananta sedang terdiam seolah terlihat tertekan sembari menatap Sri yang tersenyum. Otak licik Aurora segera berputar cepat. Jika ia langsung datang melabrak Sri di restoran atau di depan Sagara, Sagara pasti akan pasang badan untuk melindungi sekretarisnya itu jika sampai pria itu tahu. Sagara pasti akan bersikap protektif pada wanita itu. "Tidak ... aku nggak boleh bodoh," gumam Aurora, dengan sebuah senyuman jahat yang dingin perlahan terukir di sudut bibirnya. "Kalau Sagara menyembunyikan data busuknya, maka aku akan menghancurkanmu lewat jalur lain." Aurora tahu betul siapa pemegang kekuasaan tertinggi yang paling dihormati Sagara, yaitu Kakek Buana Mahardika. Sang patriark keluarga Mahardika itu sangat mementingkan status sosial dan kehormatan keluarga. Ditambah lagi, ada Dikara Natawijaya yang sangat protektif terhadap kondisi mental Anant
Restoran bernuansa klasik Eropa di sudut kota itu terasa begitu tenang siang ini. Alunan musik instrumental mengalun lembut dari sudut ruangan, mencoba mencairkan atmosfer yang terasa membeku di meja nomor dua belas. Ananta Natawijaya duduk dengan punggung tegak. Sepasang matanya yang mulai dihiasi kerutan halus tidak sedetik pun beralih dari pintu masuk restoran. Genggaman tangannya pada tas jinjingnya mengerat setiap kali lonceng pintu berdenting. Ketika sesosok gadis dengan blus kerja sederhana dan rambut cokelat gelap bergelombang melangkah masuk, wajah wanita paruh baya itu seketika berbinar terang. "Sri! Di sini," panggil Ananta setengah berbisik, melambaikan tangannya dengan tidak sabar. Sri Rejeki mempercepat langkahnya. Jantungnya bertalu kencang, memukul-mukul rongga dadanya dengan ritme yang menyesakkan. Setiap langkah mendekati Ananta terasa seperti berjalan di atas paku. Di satu sisi, jiwanya meronta ingin berlari dan mendekap wanita itu sembari berteriak bahwa dia ada
Sentuhan tangan Ananta yang begitu hangat dan lembut mengirimkan gelombang emosi yang dahsyat ke dalam hati Sri. Dia ingin sekali berteriak dan memeluk wanita di depannya, mengakui bahwa dirinya adalah Aletha, putri kecil Ananta dan Dikara yang dikira telah meninggal tujuh belas tahun lalu, namun lidahnya kelu. Ananta Natawijaya masih menggenggam erat jemari gadis itu. Air mata wanita paruh baya itu mengambang di pelupuk mata, memantulkan binar kebahagiaan yang sudah bertahun-tahun meredup sejak kehilangan putri kecilnya. “Tante benar-benar nggak menyangka bisa bertemu kamu di sini, Sri,” bisik Ananta, suaranya parau menahan haru. “Tujuh tahun lalu ... saat kamu pergi begitu saja, Tante merasa sedikit kehilangan. Tante bahkan beberapa kali meminta suami Tante untuk melacak keberadaanmu, tapi hasilnya nihil.” Sri merasakan tenggorokannya menyempit. Hangatnya genggaman tangan ibu kandungnya menyalurkan rasa rindu yang luar biasa besar. Namun, akal sehatnya langsung berteriak, mengi
Sore mulai tenggelam, meninggalkan keheningan yang mencekam di lantai eksekutif Astera Development Holdings. Udara dingin dari pendingin ruangan seolah membeku di sekitar meja kerja Sri. Jantung gadis itu berdegup kencang, memukul-mukul dinding dadanya dengan ritme yang tak menyenangkan. Cengkeraman hangat namun kokoh dari jemari Sagara Mahardika di pergelangan tangan kirinya tidak kunjung mengendur. Pria berusia tiga puluh lima tahun itu berdiri begitu dekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Sri bisa mencium aroma maskulin bercampur wangi segar. Tatapan mata pria itu yang hitam legam dan dingin, seolah mampu menembus lapisan kebohongan yang selama ini dibangun Sri dengan susah payah. “Betul. Gelang ini pemberian tante Ananta waktu itu.” Sagara menundukkan kepalanya sedikit, membuat jarak wajah mereka kian dekat. “Kalau soal gelang itu, aku juga sudah tahu,” bisik Sagara, suaranya merendah. “Tapi yang paling ingin kudengar malam ini adalah alasan di balik benda yang satu i
Amarah yang membakar seketika memenuhi dadanya. Bagi Aurora, Sri Rejeki bukan lagi sekadar staf administrasi biasa, melainkan ancaman fatal yang siap meruntuhkan posisi tunangan taktis yang selama bertahun-tahun ini ia banggakan di lingkaran sosial mereka. Bisa saja Sagara menanfaatkan wanita udik itu untuk menyingkirkan posisinya. “Jelas-jelas dia meninggalkanmu. Dia pergi dengan sengaja tujuh tahun lalu. Mengapa sekarang kamu membiarkannya ada di sisimu?” Sagara tersenyum mendengar pertanyaan yang di telinganya terasa bernada munafik itu. Aurora yang melihat senyuman itu, sekilas terkesima dan terkesan, namun detik berikutnya dia menyadari satu hal yang membuat jantungnya terasa mencelus jatuh. “Bukankah kamu sendiri tahu jelas jawabannya?” Sagara menatap Aurora dengan pandangan tajam sambil sedikit memiringkan kepalanya. “Apa?” Mata Aurora membulat karena terkejut. “Jangan memasang wajah naif, Aurora. Aku tahu apa yang terjadi saat itu meski sedikit terlambat. Dan terhadap apa
Hari mulai malam saat sebuah mobil melaju di jalanan yang sepi. Langit tampak lebih gelap dari biasanya. Seorang gadis kecil dengan dress pink selutut duduk di kursi mobil di belakang seorang sopir sambil menatap sebuah gambar di bukunya. Gambar seorang ayah memakai setelan jas, seorang ibu memakai
Sri berjalan dengan langkah berat meninggalkan gedung apartemen. Jam di ponselnya sudah menunjukkan waktu pukul 19.18. “Ibu pasti nungguin aku,” gumamnya perlahan sambil menghentikan sebuah angkot yang melintas di depannya dan segera naik. Sekitar dua puluh menit kemudian, dia tiba di rumah dan l
“Gimana, Sri? Berapa tagihan rumah sakit ibu?” tanya pak Surya saat Sri kembali ke ruang rawat. Sri berwajah masam. “Kurang uangnya. Kurang banyak. Aku cuma punya 176 ribu, Pak.” Sri duduk di samping ranjang pasien dengan wajah bingung. “Cari aja pinjaman ke bosmu itu,” ujar pak Surya pada Sri. “
Sepanjang perjalanan di bus, Sri memikirkan banyak hal. Sesekali gadis itu akan menatap pantulan dirinya di cermin, melihat wajahnya yang kata orang-orang, dia sama sekali tidak mirip ibunya maupun bapaknya hingga kebanyakan orang-orang itu sering meledeknya anak pungut. Semakin dia beranjak remaj







