Share

Bab 6

Author: Clau Sheera
last update publish date: 2026-03-26 07:24:05

“Sa … sakit ….” Sri meringis saat merasakan lengannya dikunci dari belakang.

“Saya tanya kamu siapa?” ulang pria itu.

Sri berusaha menoleh, namun wajah pria itu sulit dilihat karena pergerakannya terbatas.

“Saya yang kerja di sini. Beres-beres rumah,” jawab Sri sambil meringis. “Kamu yang siapa?”

Bukannya menjawab pertanyaan Sri, pria itu justru mengikat tangan gadis itu ke belakang tubuhnya menggunakan dasinya.

“Hei, hei. Kamu ngapain?” tanya Sri panik. “Lepasin! Kamu penyusup, ya?”

“Kamu yang penyusup,” ujar pria itu sambil menjatuhkan Sri di karpet, sementara dia sendiri duduk di sofa di samping tas sekolah sambil menatap Sri tajam.

Sri meringis karena lengannya sakit akibat benturan. Gadis itu segera bangun dan duduk berlutut sambil menoleh ke arah pria itu dengan tangan terikat di belakang. Rambutnya yang dikepang satu terlihat sedikit berantakan.

“Kamu—”

Kalimat Sri terhenti saat melihat wajah pria itu. Wajahnya mirip yang ada di foto di belakangnya.

“Kamu yang punya rumah?” tanya Sri setengah tak percaya. “Eh, apartemen?” ralatnya.

“Ya,” jawab pria itu sambil menyilangkan kakinya di depan Sri. “Jawab jujur. Kamu ngapain di sini? Apa yang kamu curi?”

“Eh? Aku bukan pencuri. Aku anaknya bu Sulastri. Aku ke sini buat gantiin ibu kerja karena ibu masuk rumah sakit sejak lima hari lalu,” jawab Sri dengan cepat.

“Anak bu Sulastri?” Pria yang masih mengenakan setelan hitam itu mengerutkan alisnya sambil menyentuh dagu Sri menggunakan ujung sepatunya dan menatapnya seksama. “Kamu pembohong. Kamu nggak mirip sama bu Sulastri. Tapi ….”

Sagara menatap seragam sekolah yang masih Sri kenakan.

“Kamu masih sekolah? Di Tunas Bangsa?”

“Iya, Om.”

“Om kamu bilang?” Wajah Sagara terlihat tak senang. “Siapa juga yang nikah dengan bibi kamu?”

“Kalau gitu … Pak?” tanya Sri ragu.

“Saya bukan bapak kamu!”

“Kakak?”

“Jangan panggil saya kakak. Saya nggak sudi punya adik macam kamu,” ketus Sagara.

Sri menarik napasnya. “Kalau gitu … Tuan? Tuan muda?”

“Bagus. Itu artinya kamu tahu diri,” ujar Sagara enteng sambil menurunkan ujung sepatunya dari dagu Sri, membuat Sri harus menahan kesal dan marah.

“Itu sekolah elit. Gimana caranya kamu bisa masuk ke sana kalau kamu cuma anak pembantu?” tanya Sagara sangsi.

“Beneran, Tuan. Pak Buana yang ngasih kesempatan saya buat masuk ke Tunas Bangsa, lewat ibu saya.”

“Kakek saya?”

“Iya, Tuan. Kalau Tuan nggak percaya, Tuan bisa cek kartu identitas sekolah saya di dompet. Dompetnya ada di tas,” kata Sri meyakinkan sambil masih berlutut. “Tuan juga bisa ngecek gimana saya bisa masuk ke Tunas Bangsa.”

Sagara menoleh ke samping dan mengeluarkan isi tas Sri hingga berantakan. Tak ada yang lain selain perlengkapan sekolah dan alat tulis serta sebuah dompet.

Pria itu membuka dompet lipat Sri dan menemukan kartu identitas gadis itu sambil mengangguk-angguk.

“Apa buktinya kalau kamu anaknya bu Sulastri?” tanya pria itu masih belum percaya sambil meletakkan dompet di meja.

“Ada foto saya sama ibu di HP. Terus ada P*F kartu keluarga juga. Ada nama saya di sana.”

Sagara menatap Sri dengan pandangan curiga. “Tunjukin.”

Sri menggerakkan tangannya yang diikat. “Ng … Tuan, lepasin dulu tangan saya.”

Sagara menggerakkan ujung jarinya, meminta Sri mendekat.

Sri berjalan menggunakan lututnya, lalu membalikkan tubuhnya setengah putaran.

Sagara segera melepas ikatan tangan Sri, sementara Sri merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan ponselnya dari saku.

“Ini, Tuan. Ini foto saya sama ibu, sama bapak,” ujarnya sambil menyodorkan fotonya dengan kedua tangannya yang pergelangannya memerah akibat ikatan kuat. Gadis itu berdiri menggunakan lututnya.

Sagara melirik foto itu tanpa minat.

“Lalu ini P*F kartu keluarga saya,” ujar Sri sambil memperlihatkan kartu keluarga digital itu pada Sagara.

“Telepon ibu kamu. Dia udah lancang nyuruh kamu ke sini buat gantiin kerja tanpa izin,” kata Sagara dengan nada memerintah.

‘Benar kata ibu. Orangnya nggak gampang percayaan,’ gumam Sri dalam hati.

Sri segera menghubungi ibunya melalui panggilan video. Hanya itu satu-satunya cara agar anak majikan ibunya percaya.

Tak lama kemudian, panggilan telepon tersambung.

“Kenapa, Sri? Gimana kerjaan kamu? Apa ada yang mau ditanyain?” tanya bu Sulastri di seberang sana.

“Gini, Bu. Tuan muda mau ngomong sama Ibu,” kata Sri sambil memperlihatkan wajah Sagara pada ibunya.

Bu Sulastri membeku sejenak. “Tu-Tuan? Saya … saya minta maaf karena nggak bisa masuk kerja Tuan. Saya habis kecelakaan. Saya juga minta maaf karena … meminta anak saya buat gantiin saya. Kalau saya udah baikan, saya akan kembali bekerja, Tuan.”

Sagara menarik napasnya sambil melipat tangan di dada, membiarkan Sri memegang ponselnya sendiri. “Ibu sakit apa?”

“Saya mengalami fraktur di tulang ekor dan tulang paha, Tuan, karena kesenggol motor beberapa hari lalu,” jawab bu Sulastri.

“Jadi, udah berapa lama kamu kerja di sini?” tanya Sagara pada Sri.

“Sama hari ini … udah empat hari, Bang, eh, Tuan.”

Sagara segera berdiri memeriksa setiap sudut ruangan, setiap permukaan bufet, meja dan kaca, apakah ada debu atau tidak, sementara Sri mengikuti dari belakang.

“Bu, udah dulu,” bisik Sri. Gadis itu menutup panggilan setelah melihat anggukan dari ibunya.

Berjalan ke arah kamar, Sagara memeriksa pakaiannya di walking closet, perabot dalam kamar hingga kamar mandi, sementara Sri menunggu di ambang pintu

Selesai memeriksa kamar tidur, pria itu memeriksa gelas-gelas dan piring-piringnya. Semua tertata sebagaimana mestinya.

“Apa kamu masuk ke ruang kerjaku?” tanya pria itu.

Sri segera menggeleng. “Nggak, Tuan. Ibu udah ngasih tahu rules di rumah ini.”

“Jangan bohong! Ada CCTV di sini.”

“Kalau gitu, silakan Tuan cek aja CCTV-nya,” jawab Sri.

Sagara kembali duduk di sofa yang lebih kecil sambil memeriksa rekaman CCTV dari tab yang diambilnya dari bawah meja, sementara Sri membereskan isi tasnya yang berantakan sambil menggerutu dalam hati.

Sri menunggu sambil berdiri menggendong tasnya. Hampir satu jam, pria itu masih belum selesai mengecek CCTV, membuat kaki Sri terasa pegal dan hatinya kesal.

Berkali-kali gadis itu melihat jam tik-tok besar di sudut ruangan, melihat langit di luar jendela yang mulai gelap, dan berdiri bertumpu dari satu kaki ke kaki lainnya.

Sepertinya pria itu sengaja membuatnya kehabisan kesabaran. Andai saja dia tak membutuhkan uang, mungkin sudah sejak tadi dia pergi.

Sagara selesai memeriksa rekaman CCTV sambil meletakkan tab kembali ke tempat semula. Pria itu melirik Sri.

“Karena kamu masih di sini dan saya udah pulang, beresin ruang kerja saya.”

“Hah?” Sri terperangah.

Hampir satu jam lamanya dia berdiri di sana tanpa melakukan apapun, kini malah disuruh bekerja lagi. Entah dia harus kesal atau senang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesona Upik Abu   Bab 6

    “Sa … sakit ….” Sri meringis saat merasakan lengannya dikunci dari belakang.“Saya tanya kamu siapa?” ulang pria itu.Sri berusaha menoleh, namun wajah pria itu sulit dilihat karena pergerakannya terbatas.“Saya yang kerja di sini. Beres-beres rumah,” jawab Sri sambil meringis. “Kamu yang siapa?”Bukannya menjawab pertanyaan Sri, pria itu justru mengikat tangan gadis itu ke belakang tubuhnya menggunakan dasinya.“Hei, hei. Kamu ngapain?” tanya Sri panik. “Lepasin! Kamu penyusup, ya?”“Kamu yang penyusup,” ujar pria itu sambil menjatuhkan Sri di karpet, sementara dia sendiri duduk di sofa di samping tas sekolah sambil menatap Sri tajam.Sri meringis karena lengannya sakit akibat benturan. Gadis itu segera bangun dan duduk berlutut sambil menoleh ke arah pria itu dengan tangan terikat di belakang. Rambutnya yang dikepang satu terlihat sedikit berantakan.“Kamu—”Kalimat Sri terhenti saat melihat wajah pria itu. Wajahnya mirip yang ada di foto di belakangnya.“Kamu yang punya rumah?” tan

  • Pesona Upik Abu   Bab 5

    “Gimana, Sri? Berapa tagihan rumah sakit ibu?” tanya pak Surya saat Sri kembali ke ruang rawat.Sri berwajah masam. “Kurang uangnya. Kurang banyak. Aku cuma punya 176 ribu, Pak.”Sri duduk di samping ranjang pasien dengan wajah bingung.“Cari aja pinjaman ke bosmu itu,” ujar pak Surya pada Sri. “Dia orangnya baik, kan?"“Bos yang mana? Yang punya mini market itu?” tanya Sri sedikit kesal. “Bapak lupa kalau aku udah dipecat dari sana gara-gara bapak ngambil rokok gitu aja dari etalase? Masih bagus bosnya nggak laporin bapak ke polisi.”“Eh, kamu nyalahin bapak, ya?!” tanya pak Surya tak terima.“Sudah, sudah ….” Bu Sulastri menengahi dengan wajah bingung.“Ya, udah, Bu. Ibu pinjam aja ke anak majikan ibu itu,” kata pak Surya sambil menatap bu Sulastri. “Dia kaya, kan?”“Ibu nggak berani, Pak,” jawab bu Sulastri sambil menggeleng. “Anak majikan ibu orangnya lebih tegas lagi. Mungkin aja … dia nggak bakal ngasih pinjaman uang. Orangnya perhitungan dan nggak akan pinjamin ibu uang kalau d

  • Pesona Upik Abu   Bab 4

    Sepanjang perjalanan di bus, Sri memikirkan banyak hal. Sesekali gadis itu akan menatap pantulan dirinya di cermin, melihat wajahnya yang orang-orang bilang bahwa dia sama sekali tidak mirip ibunya maupun bapaknya hingga kebanyakan orang-orang itu sering meledeknya anak pungut.Semakin dia beranjak remaja, dia memang semakin meragukan bahwa dia anak ibunya. Tapi saat mengetahui kenyataan bahwa ada Sri Rejeki lain yang telah meninggal sepuluh tahun lalu, justru malah meruntuhkan hatinya.Apakah dia hanya anak pengganti? Anak yang diberikan identitas sesuai dengan nama anak bu Sulastri yang sudah meninggal? Siapakah dia sebenarnya? Di mana keluarganya? Mengapa bu Sulastri dan pak Surya menamainya Sri Rejeki juga?Semakin Sri berpikir, semakin banyak pertanyaan yang memenuhi benaknya dan membuatnya semakin lelah, juga semakin membuatnya kehilangan jati diri. Satu-satunya cara, dia harus mendapatkan jawaban dari mulut ibunya sendiri.***Hari sudah sore ketika Sri sampai di depan rumah ya

  • Pesona Upik Abu   Bab 3

    “Neng.”Tepukan ringan dan lembut di bahu Sri menyadarkan gadis itu. Sri menoleh pada bapak tua penyapu makam yang menatapnya.“Neng kenapa? Lagi apa di sini?” tanya bapak tua itu.“Saya ….” Sejenak Sri kebingungan. Dia tak tahu harus mengatakan apa saking terkejutnya.“Neng kenal sama anak yang udah meninggal ini?” tanya bapak tua itu sambil berjongkok di sisi Sri. “Tadi orang tuanya ke sini.”“Orang tua?” Sri semakin syok dan bingung.“Iya. Kasihan mereka. Anak satu-satunya meninggal sepuluh tahun lalu karena jatuh terpeleset dari tangga. Katanya sih, ada pendarahan di otaknya,” ujar bapak tua itu.“Apa … apa mereka selalu ke sini setiap tahun?” tanya Sri sambil mengendalikan gemetar di tubuhnya.“Iya. Setiap tahun. Hari ini tanggal 22, kan? Mereka selalu ke sini pas hari peringatan kematian putri mereka,” jawab bapak tua itu. “Apa Neng kenal sama orang tuanya?”“Kenal, Pak,” jawab Sri mengangguk. “Tapi saya nggak tahu kalau … kalau anak mereka udah meninggal. Apa bapak kenal sama o

  • Pesona Upik Abu   Bab 2

    Hampir dua jam lamanya menaiki bus AC, kedua orang tua Sri turun di persimpangan di sebuah kabupaten, membuat Sri bingung bagaimana harus mengikuti keduanya. Jika dia ikut turun saat itu juga dan terlihat oleh kedua orang tuanya, bapaknya pasti akan marah besar. “Pak, turunin saya agak depan, ya,” pinta Sri pada sopir sambil mendekat saat bus kembali melaju. “Agak depan di mana?” tanya sopir itu. “Di sana aja,” tunjuk Sri pada sederet ruko yang bersebelahan dengan bank. “Lho, kenapa nggak turun sekalian sama dua orang tadi?” tanya sopir heran dan hampir marah, karena saat itu jalanan cukup ramai. “Ini dekat, lho, jaraknya.” “Maaf, Pak. Saya baru ke sini lagi, jadi lupa. Hampir aja nyasar,” jawab Sri asal, membuat sopir itu sedikit merasa kasihan. “Neng emangnya mau ke mana?” tanya sopir itu sambil menghentikan bus karena mereka telah sampai di ruko yang ditunjuk Sri. “Saya mau nyari bapak saya, Pak. Yang udah ninggalin saya sejak kecil. Kalau nggak salah, dulu rumahnya

  • Pesona Upik Abu   Bab 1

    Hari mulai malam saat sebuah mobil melaju di jalanan yang sepi. Langit tampak lebih gelap dari biasanya. Seorang gadis kecil dengan dress pink selutut duduk di kursi mobil di belakang seorang sopir sambil menatap sebuah gambar di bukunya. Gambar seorang ayah memakai setelan jas, seorang ibu memakai dress putih dengan sebuket bunga di tangan, dan seorang gadis kecil memakai dress pink dengan latar belakang rumput hijau dan langit biru. Alunan musik Für Elise mengalun lembut dari kotak musiknya. Boneka balerina di atasnya berputar seolah tengah menari. Keheningan itu ternoda oleh benturan keras dari samping, yang membuat laju mobil itu goyah lalu kehilangan kendali dan hanya sekian detik .... "Hah!" Seorang gadis remaja usia delapan belas terbangun dari mimpi buruknya. Dahinya penuh keringat, tubuhnya gemetar, dan napasnya tak stabil. “Mimpi itu lagi ….” gumamnya perlahan sambil menyeka keringatnya dan menenangkan diri. Sudah hampir empat bulan, dia mendapatkan potongan in

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status