LOGINSri berjalan dengan langkah berat meninggalkan gedung apartemen.
Jam di ponselnya sudah menunjukkan waktu pukul 19.18. “Ibu pasti nungguin aku,” gumamnya perlahan sambil menghentikan sebuah angkot yang melintas di depannya dan segera naik. Sekitar dua puluh menit kemudian, dia tiba di rumah dan langsung membersihkan diri, lalu menyiapkan pelajaran untuk esok serta mencari beberapa dokumen di kamar ibunya. Setelah apa yang dibutuhkannya lengkap, dia segera pergi ke rumah sakit dengan menaiki angkot. “Sri, kok kamu lama, sih? Udah jam berapa ini. Ibu udah nungguin kamu dari tadi,” gerutu pak Surya begitu Sri tiba di ruang rawat inap ibunya. “Maaf, Pak, ada pekerjaan tambahan,” jawab Sri sambil mendekati ibunya. “Maafin aku, ya, Bu. Aku telat datangnya.” “Nggak apa-apa, Nak. Tadi gimana di sana? Den Sagara mecat ibu, nggak? Dia marahin kamu, nggak?” tanya bu Sulastri dengan wajah khawatir. “Nggak, Bu, dia nggak marah,” jawab Sri menenangkan sambil duduk di kursi dekat ranjang pasien tanpa menceritakan bahwa Sagara menyentuh dagunya dengan ujung sepatu seolah dia adalah gadis kotor. “Tuan tadi meriksa semua sudut ruangan buat mastiin pekerjaanku baik. Malah dia nyuruh aku buat beresin ruang kerjanya. Aku juga dibolehin datang lagi besok buat bersih-bersih.” “Oh, ya? Syukurlah …. Tadi Ibu udah khawatir, lho, sampai kepikiran,” kata bu Sulastri dengan wajah lega. “Ah, ibu. Jangan terlalu banyak mikir, Bu. Ibu cukup pikirin aja diri Ibu sendiri sama kesehatan Ibu,” ujar Sri memaksa tersenyum, menyembunyikan kebenaran. “Sri, bagi duit, dong. Bapak lapar, nih, mau makan,” sela pak Surya sambil berdiri di samping Sri. Sri segera membuka tasnya, lalu mengeluarkan dompet. Baru saja dia membuka dompetnya, pak Surya merampas dompet itu, membuat Sri dan bu Sulastri terkejut. “Bapak mau ngapain? Balikin dompet aku, Pak,” pinta Sri sambil berdiri. “Diam, kamu!” hardik pak Surya meski dengan suara rendah seolah takut didengar pasien dan keluarga pasien lain yang satu ruangan di sana. Pria itu mengeluarkan semua uang Sri dari dalam dompetnya. “Bapak ambil sendiri uangnya.” “Pak.” Bu Sulastri menatap suaminya dengan tatapan permohonan, namun pak Surya acuh tak acuh. “Bapak bukan cuma lapar, tapi juga pengen ngerokok, Bu,” ujar pak Surya sambil menghitung uang recehan milik Sri. “Hah, apa-apaan ini? Masa cuma ada 26.000? Mana duit hasil kerja tadi?” “Tuan Sagara nggak ngasih uang, Pak. Katanya nanti dia mau ngasihin uangnya langsung ke ibu. Dia takut uangnya aku pakai buat jajan,” jawab Sri sambil menerima dompetnya yang telah dikosongkan oleh ayahnya. “Terus, uang yang kemarin kemana? Kemarin, ‘kan, kamu bawa uang hasil kerja?” tanya pak Surya seolah menuntut. “Uang kemarin, ya, udah dibayarin biaya berobat ibu. Itu juga, ‘kan, masih kurang, Pak,” jawab Sri dengan wajah cemberut menahan kesal. Pak Surya menghela napasnya sambil menatap Sri kecewa. “Ya, udah, semua uang ini buat Bapak,” katanya sambil memasukkan uang recehan itu ke dalam saku celananya. “Kamu cari uang lagi, kek.” Sri tak menjawab dan hanya menatap ayahnya yang berlalu dengan wajah cemberut, kemudian gadis itu kembali duduk. “Maafin bapak, ya, Sri,” kata bu Sulastri dengan wajah tak berdaya. “Maafin Ibu juga karena udah ngerepotin kamu.” Sri tersenyum tipis sambil menggeleng. “Nggak apa-apa, Bu, jangan dipikirin.” “Uang jajan besok buat sekolah kamu gimana, Sri? Buat ongkos juga?” tanya wanita itu dengan wajah memelas. “Jangan khawatir, Bu. Aku masih ada simpanan sedikit,” jawab Sri sambil berdiri. “Kalau gitu, aku mau ke bagian administrasi dulu, ya, Bu. Ibu nggak apa-apa aku tinggal sebentar?” “Nggak apa-apa, Nak. Maafin Ibu, ya.” Mata bu Sulastri terlihat berkaca-kaca. “Ibu, jangan dipikirin, ah. Aku bilang apa tadi? Ibu harus mikirin diri Ibu sendiri dan kesehatan Ibu,” kata Sri mengingatkan. “Udah, ya, Bu. Keburu malam. Nanti bagian administrasinya keburu tutup.” Bu Sulastri mengangguk sambil menyeka sudut matanya yang basah, sementara Sri segera pergi. Ketika tiba di bagian administrasi, Sri duduk di kursi tunggu karena masih ada orang yang sedang membayar tagihan rumah sakit. Selagi dia menunggu, dia melepas sebelah sepatunya dan mengeluarkan beberapa lembar uang kertas yang susah payah sudah dikumpulkannya. ‘Untung aja aku sembunyiin uangnya di sepatu. Kalau nggak, udah dirampas sama bapak,’ ujarnya dalam hati. Setelah bagian administrasi kosong, Sri segera maju dan memperlihatkan kartu asuransi kesehatan milik ibunya yang didapat dari majikan ibunya dulu saat awal-awal bekerja. “Kak, ini kartu asuransi ibu saya. Apa bisa dipakai?” tanya Sri penuh harap sambil menyodorkan kartu asuransi dan kartu identitas ibunya. “Nama ibu saya Sulastri. Ini KTP-nya.” “Sebentar, ya, saya periksa dulu,” jawab pegawai bagian administrasi itu sambil menerima kartu yang Sri berikan. Sri mengangguk dan menunggu sebentar. “Bisa, Dek. Ini bisa dipakai buat meng-cover semua biaya berobat rumah sakit. Untungnya belum 5x24 jam sebelum klaimnya hangus. Kalau nggak, mungkin bayar mandiri. Malah bisa upgrade ruangan ke ruang VIP. Mau pindah ruangan atau mau di ruang reguler aja?” tanya pegawai administrasi itu dengan ramah. “Di ruang reguler aja, Kak, nggak usah dipindahin,” jawab Sri. Kalau sampai mereka pindah ke ruang VIP, ayahnya pasti tahu tentang kartu asuransi ibunya. "Jangan bilang bapak saya kalau biaya rumah sakitnya bisa ditanggung sama asuransi ini, ya, Kak. Tolong, ya, Kak. Bilang aja biayanya belum dibayar dan ada keringanan dari pihak rumah sakit.” “Baik.” Pegawai itu mengangguk tersenyum, membuat Sri sedikit lega. “Jadi pembayarannya pakai asuransi, ya. Silakan isi formulir ini, nanti ditandatangani di sini.” “Ya, Kak.” Sri menerima secarik kertas dan sebuah pulpen. Gadis itu berjalan ke arah bangku kosong yang tadi didudukinya dan mengisi formulir itu di sana. Setelah selesai, dia kembali. “Selesai, Kak.” “Baik, terima kasih. Semua biayanya udah bisa dicover pakai asuransi, ya.” “Nggak perlu bayar apa-apa lagi, ‘kan, Kak?” tanya Sri memastikan. “Nggak perlu ngeluarin uang lagi?” “Nggak perlu.” Sri tersenyum lega. Uang yang didapatnya bisa untuk makan dan membeli camilan ibunya. “Makasih banyak, ya, Kak.” “Sama-sama.” Sri memasukkan uang itu ke dalam sepatu lagi, lalu berjalan kembali ke ruang rawat ibunya dengan penuh kegembiraan sambil memasukkan kartu milik ibunya ke dalam tas. “Syukurlah, biaya rumah sakit ibu bisa ditanggung asuransi. Bener kata si nyebelin itu, kalau biaya rumah sakit ibu bisa ditanggung asuransi kesehatan yang udah ibu dapat dari pak Buana. Emang nggak main-main keluarga Mahardika,” gumamnya perlahan saat dia teringat ucapan Sagara yang memberi tahunya bahwa semua pegawai keluarga Mahardika memiliki asuransi kesehatan. “Kamu bilang apa soal biaya rumah sakit, Sri?” Pak Surya, yang entah datang dari mana tiba-tiba saja sudah ada di samping Sri, membuat gadis itu terkejut. “Oh, i-itu, Pak. Tadi … aku ….”Malam telah turun sepenuhnya. Lampu-lampu jalan dan gedung memantulkan cahaya di kaca jendela unit apartemen sederhana milik Sri.Sri tengah berada di kamarnya, mengemas beberapa pakaian ganti dan barang-barang pribadi yang mungkin akan dibutuhkannya selama berada di kota J.Di ruang tamu, aroma teh hijau memenuhi udara. Sagara berdiri di sana. Atas desakannya yang tak ingin membuang-buang waktu, dia mengantar Sri ke apartemennya untuk berkemas-kemas.Pandangan Sagara berkeliling ke seluruh penjuru ruangan, melihat-lihat isi apartemen itu yang sederhana.Rak setinggi 1,2 meter menempel di dinding, berisi deretan buku manajemen dan administrasi, korespondensi bisnis, manajemen waktu dan proyek, etiket dan protokoler, hukum dasar kantor, bisnis dan ekonomi, bahasa Inggris dan Mandarin, hingga beberapa buku pengembangan diri dan fiksi ringan. Di atas rak itu terdapat dua pot sukulen dan beberapa hiasan dan sebuah potret keluarga yang terdiri dari Sri, bu Sulastri, dan pak Surya.Sagara m
Aurora berdiri, berjalan mondar-mandir di ruangannya yang luas sembari menatap foto-foto di ponselnya. Di salah satu foto, terlihat jelas Ananta sedang terdiam seolah terlihat tertekan sembari menatap Sri yang tersenyum. Otak licik Aurora segera berputar cepat. Jika ia langsung datang melabrak Sri di restoran atau di depan Sagara, Sagara pasti akan pasang badan untuk melindungi sekretarisnya itu jika sampai pria itu tahu. Sagara pasti akan bersikap protektif pada wanita itu. "Tidak ... aku nggak boleh bodoh," gumam Aurora, dengan sebuah senyuman jahat yang dingin perlahan terukir di sudut bibirnya. "Kalau Sagara menyembunyikan data busuknya, maka aku akan menghancurkanmu lewat jalur lain." Aurora tahu betul siapa pemegang kekuasaan tertinggi yang paling dihormati Sagara, yaitu Kakek Buana Mahardika. Sang patriark keluarga Mahardika itu sangat mementingkan status sosial dan kehormatan keluarga. Ditambah lagi, ada Dikara Natawijaya yang sangat protektif terhadap kondisi mental Anant
Restoran bernuansa klasik Eropa di sudut kota itu terasa begitu tenang siang ini. Alunan musik instrumental mengalun lembut dari sudut ruangan, mencoba mencairkan atmosfer yang terasa membeku di meja nomor dua belas. Ananta Natawijaya duduk dengan punggung tegak. Sepasang matanya yang mulai dihiasi kerutan halus tidak sedetik pun beralih dari pintu masuk restoran. Genggaman tangannya pada tas jinjingnya mengerat setiap kali lonceng pintu berdenting. Ketika sesosok gadis dengan blus kerja sederhana dan rambut cokelat gelap bergelombang melangkah masuk, wajah wanita paruh baya itu seketika berbinar terang. "Sri! Di sini," panggil Ananta setengah berbisik, melambaikan tangannya dengan tidak sabar. Sri Rejeki mempercepat langkahnya. Jantungnya bertalu kencang, memukul-mukul rongga dadanya dengan ritme yang menyesakkan. Setiap langkah mendekati Ananta terasa seperti berjalan di atas paku. Di satu sisi, jiwanya meronta ingin berlari dan mendekap wanita itu sembari berteriak bahwa dia ada
Sentuhan tangan Ananta yang begitu hangat dan lembut mengirimkan gelombang emosi yang dahsyat ke dalam hati Sri. Dia ingin sekali berteriak dan memeluk wanita di depannya, mengakui bahwa dirinya adalah Aletha, putri kecil Ananta dan Dikara yang dikira telah meninggal tujuh belas tahun lalu, namun lidahnya kelu. Ananta Natawijaya masih menggenggam erat jemari gadis itu. Air mata wanita paruh baya itu mengambang di pelupuk mata, memantulkan binar kebahagiaan yang sudah bertahun-tahun meredup sejak kehilangan putri kecilnya. “Tante benar-benar nggak menyangka bisa bertemu kamu di sini, Sri,” bisik Ananta, suaranya parau menahan haru. “Tujuh tahun lalu ... saat kamu pergi begitu saja, Tante merasa sedikit kehilangan. Tante bahkan beberapa kali meminta suami Tante untuk melacak keberadaanmu, tapi hasilnya nihil.” Sri merasakan tenggorokannya menyempit. Hangatnya genggaman tangan ibu kandungnya menyalurkan rasa rindu yang luar biasa besar. Namun, akal sehatnya langsung berteriak, mengi
Sore mulai tenggelam, meninggalkan keheningan yang mencekam di lantai eksekutif Astera Development Holdings. Udara dingin dari pendingin ruangan seolah membeku di sekitar meja kerja Sri. Jantung gadis itu berdegup kencang, memukul-mukul dinding dadanya dengan ritme yang tak menyenangkan. Cengkeraman hangat namun kokoh dari jemari Sagara Mahardika di pergelangan tangan kirinya tidak kunjung mengendur. Pria berusia tiga puluh lima tahun itu berdiri begitu dekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Sri bisa mencium aroma maskulin bercampur wangi segar. Tatapan mata pria itu yang hitam legam dan dingin, seolah mampu menembus lapisan kebohongan yang selama ini dibangun Sri dengan susah payah. “Betul. Gelang ini pemberian tante Ananta waktu itu.” Sagara menundukkan kepalanya sedikit, membuat jarak wajah mereka kian dekat. “Kalau soal gelang itu, aku juga sudah tahu,” bisik Sagara, suaranya merendah. “Tapi yang paling ingin kudengar malam ini adalah alasan di balik benda yang satu i
Amarah yang membakar seketika memenuhi dadanya. Bagi Aurora, Sri Rejeki bukan lagi sekadar staf administrasi biasa, melainkan ancaman fatal yang siap meruntuhkan posisi tunangan taktis yang selama bertahun-tahun ini ia banggakan di lingkaran sosial mereka. Bisa saja Sagara menanfaatkan wanita udik itu untuk menyingkirkan posisinya. “Jelas-jelas dia meninggalkanmu. Dia pergi dengan sengaja tujuh tahun lalu. Mengapa sekarang kamu membiarkannya ada di sisimu?” Sagara tersenyum mendengar pertanyaan yang di telinganya terasa bernada munafik itu. Aurora yang melihat senyuman itu, sekilas terkesima dan terkesan, namun detik berikutnya dia menyadari satu hal yang membuat jantungnya terasa mencelus jatuh. “Bukankah kamu sendiri tahu jelas jawabannya?” Sagara menatap Aurora dengan pandangan tajam sambil sedikit memiringkan kepalanya. “Apa?” Mata Aurora membulat karena terkejut. “Jangan memasang wajah naif, Aurora. Aku tahu apa yang terjadi saat itu meski sedikit terlambat. Dan terhadap apa
“Neng.” Tepukan ringan dan lembut di bahu Sri menyadarkan gadis itu. Sri menoleh pada bapak tua penyapu makam yang menatapnya. “Neng kenapa? Lagi apa di sini?” tanya bapak tua itu. “Sa-saya ….” Sejenak Sri kebingungan. Dia tak tahu harus mengatakan apa saking terkejutnya. “Neng kenal sama anak y
Hampir dua jam lamanya menaiki bus, kedua orang tua Sri turun di persimpangan di sebuah kabupaten, membuat Sri bingung bagaimana harus mengikuti keduanya. Jika dia ikut turun saat itu juga dan terlihat oleh kedua orang tuanya, bapaknya pasti akan marah besar. “Pak, turunin saya agak depan, ya,”
“Gimana, Sri? Berapa tagihan rumah sakit ibu?” tanya pak Surya saat Sri kembali ke ruang rawat. Sri berwajah masam. “Kurang uangnya. Kurang banyak. Aku cuma punya 176 ribu, Pak.” Sri duduk di samping ranjang pasien dengan wajah bingung. “Cari aja pinjaman ke bosmu itu,” ujar pak Surya pada Sri. “
Sepanjang perjalanan di bus, Sri memikirkan banyak hal. Sesekali gadis itu akan menatap pantulan dirinya di cermin, melihat wajahnya yang kata orang-orang, dia sama sekali tidak mirip ibunya maupun bapaknya hingga kebanyakan orang-orang itu sering meledeknya anak pungut. Semakin dia beranjak remaj







