หน้าหลัก / Pendekar / Petani Terkuat / 065 Logika yang Tumbang di Ruang Tamu

แชร์

065 Logika yang Tumbang di Ruang Tamu

ผู้เขียน: AgamYupi02
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-19 10:39:27

Keempat tamu wanita itu kini menempati satu-satunya sofa panjang di ruangan yang pelapis plastiknya sudah memudar dan retak-retak. Ruang tamu Jaka yang pada dasarnya memang sempit seketika terasa kian menyusut. Ketiga pengawal taktis Andini duduk dengan postur tempur yang sempurna: punggung lurus menantang gravitasi, lutut berdempet rapat, dan pergerakan mata yang tidak henti mengawasi setiap sudut ruang tamu.

"Di mana Paman dan Bibi?" tanya Andini, suaranya terdengar sumbang memecah kesunyian
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Petani Terkuat   128 Panen Kilat dan Setetes Cairan Spiritual Murni

    Ketika roda sepeda motor berbelok memasuki pekarangan rumah, tiga sosok wanita sudah berdiri menunggunya di bawah naungan pohon rindang. Begitu langkah kaki Jaka menjejak tanah pelataran, riak energi tak kasat mata dari tubuhnya menyapu udara di sekitar mereka.Ketiga wanita itu tersentak seketika, menatap Jaka dengan mata membelalak lebar."Kamu menerobos lagi?" tanya Jeanne heran, suaranya bergetar akibat keterkejutan yang nyata.Rosa dan Selia yang berdiri di sampingnya terdiam kaku. Lidah mereka seolah kelu untuk merangkai satu patah kata pun di hadapan aura baru pemuda itu."Ha ha ha, aku hanya beruntung. Bukankah kalian juga hampir menerobos tingkat dua fase permulaan?" ujar Jaka berusaha mencairkan suasana kaku di antara mereka."Memang, tapi masih butuh banyak waktu untuk mendapatkan terobosan," jawab Jeanne dengan nada sedih. Helaian rambut emasnya berkilau indah saat terkena terpaan sinar matahari pagi yang menembus sela-sela dedaunan.Rosa menyibakkan rambut hitamnya yang

  • Petani Terkuat   127 Terobosan

    Udara dingin di dalam kamar perlahan berputar membentuk pusaran tipis sebelum terserap ke pori-pori kulitnya. Jaka membuka kedua kelopak matanya perlahan. Dari celah bibir dan hidungnya, hembusan udara keruh berwarna kelabu terdorong keluar, menyatu dengan udara pagi yang menusuk tulang.Sensasi hangat yang sebelumnya bergolak liar di jalur energinya kini mengendap tenang pada titik pusat kekuatannya. Dinding pembatas yang selama beberapa hari terakhir menahannya telah runtuh tanpa menyisakan rasa sakit.Tingkat lima fase permulaan.Jaka mengepalkan telapak tangan kanannya. Udara di sekitarnya terasa sedikit bergetar, merespons aliran energi spiritual yang jauh lebih padat dan kokoh dibanding kemarin malam. Tubuhnya terasa seringan bulu, namun menyimpan daya hantam yang mampu meremukkan batu dengan satu entakan jari.Sensasi peningkatan ini langsung memicu hitungan otomatis di benaknya.Jumlah cairan spiritual murni yang bisa diproduksi setiap hari naik dua kali lipat menjadi enam

  • Petani Terkuat   126 Obrolan Tengah Malam Ayah dan Anak

    Keheningan kembali merayap di lorong rumah kayu itu begitu pintu kamar Dina tertutup rapat. Bunyi detak jam dinding tua bergema pelan dengan ritme yang teratur, mengisi ruang kosong di antara ayah dan anak yang masih berdiri berhadapan. Cahaya lampu temaram menyorot bayangan panjang mereka yang saling bersilangan di lantai."Kamu juga, kenapa belum tidur?" tanya Bejo kepada Jaka seraya memandang putranya dengan tatapan teduh."Ah, aku baru mau tidur sekarang," sahut Jaka pelan sambil melangkah mendekat. "Ayah sendiri kenapa belum tidur? Padahal sudah hampir larut."Bejo menggaruk punggung kepalanya yang sama sekali tidak gatal, sebuah kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan ketika merasa canggung atau sedang memikirkan beban pikiran yang berat. Punggungnya yang kokoh tampak sedikit membungkuk karena kelelahan, namun sorot matanya tetap menunjukkan ketenangan seorang kepala keluarga."Aku tidak bisa tidur. Karena itu, aku ingin keluar sebentar untuk mencari udara segar," ucap Bejo den

  • Petani Terkuat   125 Hukuman

    Layar ponsel pintar itu perlahan meredup, menyisakan pantulan bayangan wajah Jaka di permukaan kaca yang mengilap. Nada penutup panggilan dari Andini baru saja memudar, meninggalkan keheningan yang merayap di sekeliling kamar tidurnya. Tepat pada detik itu, hawa dingin tiba-tiba menusuk tengkuknya, memicu instingnya untuk segera menoleh ke arah celah pintu yang terbuka separuh.Sepasang manik mata bundar berkilau dalam kegelapan lorong, menatapnya lurus tanpa berkedip sedikit pun. Dina berdiri mematung di sana dengan kedua tangan terlipat kaku di depan dada. Bibirnya mengerucut tajam, memancarkan aura kecurigaan dan permusuhan yang menyala membara di sekeliling tubuh mungilnya.Sudah seminggu penuh rumah mereka diselimuti atmosfer aneh yang menyesakkan ini. Gadis itu selalu melayangkan pandangan tajam seolah menuntut penjelasan ke mana pun Jaka melangkah. Jaka sudah berulang kali memanggil Dina, tetapi selalu diabaikan mentah-mentah dengan dengusan dingin yang menusuk.Hari ini, t

  • Petani Terkuat   124 Kecurigaan Dina

    Kabut tipis sisa fajar perlahan-lahan terangkat saat semburat cahaya keemasan matahari pagi mulai menyinari hamparan perbukitan hijau di pinggir desa. Angin sejuk pegunungan berhembus lembut melintasi petak-petak tanah gembur, membawa aroma tanah basah yang segar serta wangi khas dedaunan hijau yang bermandikan butiran embun berkilau laksana intan.Setelah perhelatan reuni sekolah usai, Jaka kembali ke keseharian biasa yang tenang dan damai di pedesaan.Setiap fajar menyingsing sebelum kokok ayam jantan reda terdengar, pemuda itu sudah melangkah turun ke ladang dengan pakaian kerja sederhana dan sepasang sepatu bot karet. Ritme hidupnya kembali berputar secara teratur: menebar bibit sayur pilihan ke dalam tanah yang gembur, menyiram ladang dengan air campuran energi spiritual murni, merawat tunas-tunas hijau yang bermunculan di sepanjang bedengan, memanen hasil ladang yang tumbuh luar biasa subur serta sarat nutrisi alami, dan menjual seluruh hasil panen bermutu tinggi kepada Andini

  • Petani Terkuat   123 Bayangan Dendam

    Lampu kristal gantung di langit-langit aula membiaskan kilau keemasan yang jatuh menimpa lantai marmer berpelitur licin. Alunan melodi instrumental mengalun pelan di latar belakang, berpadu dengan aroma wewangian para alumni yang mulai beranjak meninggalkan ruangan satu per satu. Di sudut aula yang mulai lengang, Jaka berdiri tegak sembari menatap dua sosok wanita di hadapannya dengan sepasang alis terangkat heran."Apa kalian memang sedekat ini?" Jaka bertanya heran melihat kedekatan Andini dan Hina Yulia yang duduk bersisian secara akrab.Andini tertawa kecil, nada tawanya terdengar merdu bagai denting lonceng kaca di tengah keheningan. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan sangat anggun seraya menyandarkan bobot tubuhnya santai. "Ufufu~ kami sudah berdiskusi, mulai sekarang dia akan bekerja padaku.""Benarkah?" Jaka menatap Hina Yulia, mencari kepastian langsung dari wanita itu. Gadis cantik berambut hitam legam yang terurai lurus itu sempat menundukkan pandangann

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status