Home / Pendekar / Petani Terkuat / 088 Hukuman Kecil

Share

088 Hukuman Kecil

Author: AgamYupi02
last update publish date: 2026-07-28 21:00:35

Lima hari berlalu. Setelah menyelesaikan panen harian, sore itu, Jaka baru saja merebahkan punggungnya di sofa ketika ponselnya bergetar hebat. Layar menampilkan nama 'Andini'.

Tanpa pikir panjang, ia menjawab, "Halo?"

"Apa lusa kamu luang?" Suara dari seberang sana terdengar sangat jernih, mendarat di telinga Jaka memecah keheningan sore tanpa basa-basi sedikit pun.

"Lusa?" Jaka memperbaiki posisi duduknya menjadi lebih tegap. "Kebetulan mulai besok kami libur panen selama beberapa hari. Jadi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Petani Terkuat   088 Hukuman Kecil

    Lima hari berlalu. Setelah menyelesaikan panen harian, sore itu, Jaka baru saja merebahkan punggungnya di sofa ketika ponselnya bergetar hebat. Layar menampilkan nama 'Andini'.Tanpa pikir panjang, ia menjawab, "Halo?""Apa lusa kamu luang?" Suara dari seberang sana terdengar sangat jernih, mendarat di telinga Jaka memecah keheningan sore tanpa basa-basi sedikit pun."Lusa?" Jaka memperbaiki posisi duduknya menjadi lebih tegap. "Kebetulan mulai besok kami libur panen selama beberapa hari. Jadi lumayan banyak waktu luang.""Bagus." Balasan Andini meluncur cepat, seolah ia sudah bisa menebak jawaban tersebut. "Luangkan waktumu besok lusa. Aku ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat."Alis Jaka bertaut. "Tidak masalah, tapi ke mana?""Nantikan saja," balas Andini, suaranya mengalun sedikit nakal, memicu firasat ganjil di benak Jaka tanpa alasan yang jelas.Jeda canggung menggantung sebelum Andini bertanya lagi, "Ngomong-ngomong, apa kamu kebetulan punya hubungan romantis khusus dengan Jea

  • Petani Terkuat   087 Riak di Balik Keheningan Malam

    Layar ponsel memancarkan pendar kebiruan yang menerangi separuh wajah Andini di tengah gelapnya kamar. Di dalam layar enam inci itu, sebuah klip video berdurasi lima belas detik berputar tanpa henti. Jaka tampak berdiri pasrah di tengah hamparan ladang, dikelilingi oleh Jeanne, Rosa, dan Selia yang merangkulnya erat dari berbagai sisi diiringi tawa lepas.Pantulan cahaya layar bergoyang tenang di kornea mata Andini. Sorot matanya yang semula teduh perlahan meredup, berubah menjadi pusaran kekosongan pekat yang seolah sanggup melahap habis segala jenis emosi di sekitarnya. Suhu di dalam ruangan terasa anjlok seketika. Tidak ada amarah yang meledak, tidak ada tangisan, atau bantingan barang. Ia hanya terdiam layaknya sebuah makhluk hidup yang kehilangan jiwanya.Bibirnya sedikit terbuka, mengembuskan napas tipis yang nyaris tidak terdengar di tengah keheningan. Jemarinya yang lentik mengetuk pelan pinggiran ponsel berbahan logam tersebut, menciptakan ritme monoton yang memecah kesunyi

  • Petani Terkuat   086 Terobosan

    Bum!Permukaan tanah di bawah pijakan sepatu Jeanne seketika meledak. Gumpalan tanah terlempar ke udara, mengiringi daya luncur mengerikan wanita pirang itu untuk memperpendek jarak. Lapisan udara di sekelilingnya seakan terbelah, menghasilkan suara dengungan tajam akibat gesekan pada kecepatan ekstrem.Di mata orang awam, pergerakan tubuh ramping Jeanne terlalu mustahil untuk ditangkap oleh retina. Ia layaknya sekelebat bayangan buram. Namun, persepsi Jaka menyerap lintasan serang itu dengan cara yang sama sekali berbeda. Dimensi waktu di kepalanya seakan mengalami distorsi, melambat secara dramatis hingga menyisakan rentetan bingkai gerakan yang sangat jernih.Wush! Duar!Tinju Jeanne menghantam ruang kosong. Pukulan sarat energi spiritual itu memicu ledakan udara, tepat setelah Jaka sekadar memiringkan kepala untuk menghindar.Sebelum lawannya menyadari serangan tersebut meleset total, telapak tangan Jaka melesat maju. Jari-jarinya menjepit pergelangan tangan Jeanne bagaikan ragu

  • Petani Terkuat   085 Tantangan

    Aroma tanah gembur bercampur sisa tanaman yang baru dipanen menguar pekat di udara sore. Angin berhembus pelan, membawa hawa sejuk yang menyapu peluh di kening Jaka. Pemuda itu berdiri santai di tepi ladang, membagikan tiga botol kecil cairan spiritual kepada tiga wanita cantik di hadapannya. "Boleh aku bicara sebentar?" Suara Jeanne memecah ritme keheningan sore itu.Langkah Jaka yang baru saja hendak berbalik haluan, otomatis terhenti. Ia memutar lehernya, mendapati wanita berambut pirang itu menatapnya dengan intensitas yang tidak biasa. Cahaya matahari memantul di ujung helai rambutnya, membuat siluet tubuhnya tampak semakin tegas dan mendominasi."Tentu saja boleh," jawab Jaka tenang, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kainnya. "Ada apa?"Alih-alih langsung merespons pertanyaan itu, Jeanne menarik napas panjang. Dadanya terangkat perlahan. Ekor matanya melirik ke sisi kanan dan kiri, bertukar pandang penuh makna dengan Rosa dan Selia. Sebuah anggukan nyaris tak ka

  • Petani Terkuat   084 Raungan Hitam

    Suara lengkingan tajam berpadu dengan raungan knalpot memecah ketenangan udara pagi. Deru mesin Kawasaki H2 itu menggelegar hebat, menarik nyaris semua tatapan pejalan kaki di sekitar perempatan jalan. Di antara lautan kendaraan biasa, keberadaan motor sport berwarna hitam berkilau itu sontak membekukan waktu. Semua mata refleks menoleh, terpaku pada siluet tajam kuda besi tersebut. "Ha ha ha! Kakak, kita jadi pusat perhatian, tahu!" seru Dina riang. Gadis itu membonceng di belakang, mencoba bersaing dengan suara mesin seribu cc yang menderu keren. Lengannya melingkar erat di pinggang Jaka, sementara senyumnya merekah di balik kaca helm yang setengah terbuka. Jaka hanya tersenyum tipis. Ia bisa merasakan getaran tenaga yang merambat naik dari jok motornya. Tatapannya lurus ke depan, mengawasi lampu lalu lintas yang perlahan berubah dari merah ke warna hijau. Tanpa membuang waktu, jemarinya memutar selongsong gas, memacu motor barunya meninggalkan perempatan itu dengan

  • Petani Terkuat   083 Laba, Ambisi, dan Setetes Keajaiban

    Cahaya kebiruan dari layar tablet memantul pada lensa kacamata Andini, memperlihatkan deretan grafik yang terus merangkak naik tanpa henti. Udara pendingin ruangan terasa menggigit kulit, namun hawa dingin itu tak sedikit pun meredam denyut antusiasme di dadanya. Sukses besar. Hanya dua kata itu yang paling pantas mendeskripsikan ledakan fenomenal dari hasil kerja samanya dengan Jaka.Di atas meja kerja berbahan kayu mahoni miliknya, berserakan tumpukan laporan keuangan dari berbagai cabang. Kerajaan bisnis yang Andini bangun kini tengah bertransformasi menjadi buah bibir tak berujung di pusaran masyarakat kelas atas. Andini menyandarkan punggungnya, memijat pelan pangkal hidungnya. Aroma kopi hitam yang mulai mendingin di sudut meja perlahan memudar, kalah oleh kuatnya ingatan akan manisnya aroma buah spiritual yang kini menguasai lidah para konglomerat.'Orang-orang itu benar-benar sudah gila,' batinnya, menggeleng pelan seraya tersenyum tipis.Bagaimana tidak? Antrean reservas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status